Selasa, 30 Desember 2014

If I Think...

Hidup penuh paradoks! Sial! Kenapa sih dia kayanya seneng banget mengganggu kita dengan cara-caranya yang menyebalkan. Masih untung gw nerima hidup ini eh dia malah ngasih gw masalah kegini. Gatau apah kalo gw lagi stress rumah udah kaya neraka. Umpat dari seorang pria yang asik dengan asap-asap yang di keluarkannya dari mulutnya menuju udara bebas. Iyah terus saja mengepus batang-batang kecil itu yang berukuran kurang lebih 6cm tanpa berhenti, jika benda yang di apit oleh jari tengah dan manisnya itu mulai mengecil ia pun membuangnya dan lalu mengambilnya yang lain. 

"Sudah habis berapa batang?" tanya seorang gadis yang baru saja tiba dan mulai duduk memposisikan dirinya di samping lelaki muda itu.

"Tidak banyak, baru satu bungkus!" jawabnya singkat tanpa memperdulikan ekspresi gadis di sampingnya yang mulai kesal dan gerah akan sikap pecandunya itu.

"Susah yah ngomong sama pecandu mah! Mau mati cepet luh!" tanya gadis itu dengan nada kesal.

"Mati yah tinggal di kubur!" ucapnya masa bodo, kali ini bungkus rokok yang berada di sampingnya sudah habis tak ada satu pun batang yang tersisa. 'shit' umpatnya lalu dia pun membuang bungkus tersebut dan mengambil bungkus lain di kantong saku jaketnya. Ia pun membuka bungkus rokok tersebut dan mengambil sebatang dari bungkus tersebut dan menaruhnya di sela bibirnya, tangan kanannya mengambil korek yang berada di saku celananya dan menyalakannya di ujung batang tersebut.

"Lo tega ninggalin gw sendirian? Tega lo nyakitin diri lo sendiri!" ucap gadis tersebut tanpa menengok ke arah lawan bicara.

"Lo gaakan ngerti, ini tuh namanya hidup. Saat lo jenuh lo bakal ngelakuin hal yang sama seperti gw
!" sahutnya sembari mengapit benda kecil itu di sela jarinya dan mengepus asap kearah atas sembari ia melihatnya, melihahat asapnya sampai hilang bersatu dengan udara bebas.

"Tapi engga dengan benda itu!" gadis itu mulai muak dengan lelaki pecandu di sampingnya ini dengan geram dia pun merebut bungkus rokok yang di pegang oleh lelaki muda itu dan membuangnya sejauh mungkin. Setelah itu gadis ini tak peduli dengan tatapan tajam yang di berikan oleh lelaki di sampingnya ini.

"Gw gamau mati hanya gara2 jadi perokok pasif!" ucap gadis ini tersenyum ke arahnya. "Kalo emang lo lagi ada masalah lo punya gw, gw akan selalu ada buat lo, gw bakal selalu dengerin cerita lo, lo anggap gw apa sih ha? Apa gw lebih rendah ketimbang benda kesayangan lo itu!"

"Lo gak ngerti!"

"Iyah gw emang ga ngerti sama jalan hidup lo, sama jalan fikiran lo. Gw bisa menerima lo seburuk apapun lo, tapi buat apa ada gw kalo gw gabisa ngerubah sifat buruk lo itu" ucap gadis ini lalu pergi meninggalkan lelaki muda ini.

Aarrgghh.. Masalah apalagi sih yang lo kasih ke gw, sekarang lo ngebuat dia marah sama gw trus apa lagi kejutan yang bakal lo kasih ke gw ha! Apa lagi!. Ucapnya sembari membungkamkan kepalanya di kedua lututnya yang ia rengkuh. Setelah ia sadar ia pun segera beranjak dan mengejar gadis kesayangannya. Ia sedikit berlati untuk agar sampai mengejarnya namun langkah itu berubah menjadi perlahan dan bahkan hampir terlihat seperti berhenti sejenak.

"Hay kamu kalo udah besar mau jadi apa?"

"Aku mau jadi pramugari dong"

"Iih emangnya kamu mau meninggalnya di udara"

"Ko di udara?"

"Iyah kalo pesawat ilangkan berarti kamu meninggal di udara"

"Kamu jangan doain seperti itu dong, lagian kan ada kamu yang jadi pilotnya iya kan?"

"Kata siapa aku mau jadi pilot?"

"Loh kan kamu sendiri yang bilang kalo kamu akan selalu ada di samping aku, akan selalu jagain aku. Nah kalo aku jadi pramugari itu artinya kamu jadi pilotnya"

"Iyah sih, tapi kan menjaga seseorang bukan berarti selalu ada di sampingnya setiap saat"

"Emang kamu mau jadi apa?"

"Aku mau jadi orang kaya!"

"Orang kaya?"

"Iyah orang kaya, nanti kalo aku udah jadi orang kaya aku bakal bebas mau makan apa aja tanpa perlu memikirkan besok dan seterusnya akan makan apa, aku bakal jalan-jalan kemanapun yang aku mau sama bapa dan ibu, aku akan beli mainan yang banyak, baju yang bagus, beli eskrim, kumpul nonton tv bareng bapak sama ibu. pokoknya semuanya deh. Jadi orang kaya itu kan enak pasti menyenangkan. Ga kaya gini tiap hari harus nyari botol bekas panas-panas, mana dapet uangnya cuma cukul buat hari ini makan."

"Udah-udah kamu harus tetep bersyukur setidaknya kamu masih di beri nafas sama pencipta mu. Ayo kita jalan lagi sebelum siang mulai menghakimi kita kebih ganas"

Dua anak kecil itu pun lalu beranjak pergi dengan membawa karung yang mereka pikul di belakang punggungnya oleh tangan kirinya sedangkan tangan kanannya membawa sebuah tongkat yang lancip di ujugnya untuk mengambil botol-botol yang berserakan.

Mereka tak tau bahwa terkadang menjadi orang kaya itu menyebalkan. Tak ada toleransin di dalam kekeluargaan yang ada hanya kekerasan dan keegoisan. Bahkan aku akan memilih bertukar posisi dengan anak itu bila aku dapat bahagia dengan keluarga ku tak seperti saat ini. Gumam lelaki muda ini.

"Oh yah? Harusnya lo bersyukur lo di beri kenikmatan yang orang lain belum tentu bisa menikmatinya tinggal bagaimana cara lo menghidupkan itu semua!"

"Loh ko lu ada disini?" tanya lelaki ini yangbtiba-tiba saja gadis yang ingin di kejarnya berada tepat di sebelahnya.

"Lagi lo lama ngejar gw nya yaudah gw balik lagi, eh ternyata malah diem disini!" ucap gadis itu tanpa memperdulikan raut wajah lelaki kesayangannya yang mungkin akan menggodanya.

"Gw emang lelaki pecandu benda brengsek itu, sulit bagi gw buat meninggalkan mereka. Tapi gw janji gw bakal berusaha ngejauhinnya walaupun dengan waktu yang cukup lama Asalkan lo masih akan tetap bersama gw, di samping gw, membantu gw buat jadi yang lebih baik." ucapnya ke arah gadis di hadapannya. Pandangannya begitu tukus dan damai lalu di balas dengan senyuman oleh gadis di hadapannya ini.

"Peganglah janji mu lelaki kesayangan ku" balasnya.

Tamat~

Senin, 29 Desember 2014

Kenangan kita

Teman..
Disinilah semuanya dimulai, ketika dendam berubah menjadi cinta, ketika musuh menjadi sahabat, ketika kekompakan mulai muncul, ketika tawa mulai hadir, ketika canda mulai terbiasa dan ketika rasa takut kehilangan mulai mencengkam yang berujung perpisahan.

Teman..
Sudah lebih dari seribu hari kita bersama, sudah lebih dari seribu hari kita melewati semuanya suka dan duka kita jalani bersama-sama.

Teman..
Aku... Kamu... Kami... Kita... Dia... Dan Mereka... Yang akan tak terasa menjadi sebuah keluarga.

Teman..
Terimakasih atas keluarga kecil yang kalian ciptakan, terimakasih karna selama ini telah menerima ku apa adanya. Terimakasih karna telah mengizinkan ku untuk masuk kedalam kisah kalian.

Teman..
Canda dan tawa yang telah tercipta di sekeliling kita taakan pernah aku lupakan walaupun hanya sedikit dari rintikan hujan.

Teman..
Kisah-kisah yang kalian buat membuat ku mempunyai pengalaman yang terbaik di masa-masa ini, kisah dimana semuanya dimulai yang berujung kesatuan persahabatan.

Teman..
Kekonyolan yang memalukan adalah salah satu kenangan yang akan terus aku ingat ketika semuanya berakhir. Bermain, tertawa lepas, bercanda, bergalau ria, bernostalgia, semua yang pernah kita lakukan bersama taakan pernah aku lupakan.

Teman..
Cerita kita, kisah kita, canda kita, tawa kita, pengalaman kita, sedih kita, suasana kelas kita, akan selalu ada didalam memory ku, memory kita.

Teman..
Ingat lah selalu apa yang pernah kita lewati bersama, kerusuhan kelas, remedi, dikejar nilai, dikejar waktu, dan jangan pernah lupakan permainan TOD itu.

Teman..
Tak terasa beberapa bulan lagi adalah hari dimana yang nantinya akan Memisahkan kita dengan sekejap, dimana saat kebersamaan itu mulai terpancar dan mulai tergantikan dengan perpisahan tapi jangan khawatir teman kita akan melawati hari akhir itu dengan kebahagiaan.

Teman..
Aku tak yakin apakah aku dapat menemukan teman seperti kalian lagi suatu hari nanti. Aku pasti akan merindukan kalian.

Teman..
Jangan lupakan aku karna aku taakan pernah lupakan kalian. Kita berjuang bersama-sama dengan tekad yang sama untuk mencapai suatu keberhasilan yang sama.

Teman..
Kalian adalah anugrah terindah yang hadir dalam kehidupan ku yang membantu mewarnai hidup ku menjadi lebih berwarna

Teman..
Selamat tinggal teman, percayalah kita akan bertemu kembali dan mengulang kembali tawa yang pernah hadir di kehidupan kita bersama dalam suasana kelas yang kita rindukan.



(sound semua tentang kita - peterpan)

Senin, 22 Desember 2014

Selamat Hari Ibu

Tanggal 22 Desember selalu identik dengan "Hari Ibu" nya dimana semua anak berlomba-lomba menangis di depan sang bunda sembari mengalunkan sebuah kalimat yang menurutnya mungkin tak seberapa dengan pengorbanan sang bunda. Begitupun dengan ku saat ini, tak ada benda ataupun kalimat istimewa yang aku ucapkan hanya sebatas kalimat "Selamat Hari Ibu Mah" yang ku lontarkan kepada mama ku yah hanya itu saja.

Aku punya sebuah cerita seorang ibu dan anaknya yang mampu membuat ku kagum melihatnya. Setiap aku berangkat sekolah aku selalu melihat mereka di jalan, tidak mereka tidak sedang mengamen mereka juga tidak sedang berjualan koran. Yang aku lihat adalah seorang ibu paruh baya yang memboncengi anaknya sambil mengayuh sebuah sepedah. Anaknya bukan berumur 5tahun ataupun sepuluh tahun tapi dia berumur 17tahun yah sekitar kelas 3SMA ataupun 3SMK. Tak ada rasa malu atau pun risih yang anak itu rasakan tak peduli motor, mobil itu berjalan melewati dengan lebih cepat dari sepedanya bahkan ia malah tersenyum sambil memeluk pinggang sang ibunya. Begitupun dengan sang ibu tak ada mimik wajah lelah, cape, atau pun kesal untuk sekedar mengantar anaknya kesekolah, ia malah tersenyum dan sesekali mengelap keluh yang berada di keningnya yang terlihat mulai sedikit keriput. Jika ditanya beratkah? Iyah mungkin berat tapi tidak bagi untuk mengantarkan anaknya menjadi anak yang berhasil. Kenapa tidak sepeda motor? Jika mampu mereka pun akan membelinya tapi adahal yang lebih mereka butuhkan di setiap harinya ketimbang mereka membeli sepeda motor.

***
'Seminggu lagi adalah hari ibu, aku memang tak bisa membelikan benda yang mewah untuk ibu tapi setidaknya uang jajan hasil kumpulan ku cukup untuk memberikan ibu sesuatu'. Guman gadis ini, ia bernama Tiara. Gadis yang pintar dan di sayangi oleh teman-temannya. Sifatnya yang baik dan dan sopan membuat ia memiliki banyak teman. Ia hanya tinggal bersama ibunya, ayahnya telah lama meninggal ketika sedang berlayar menuju provinsi Aceh yang saat itu sedang terjadi tsunami besar disana dan kini hanya ibu yang ia miliki satu-satunya

Minggu, 21 Desember 2014

Untuk mu yang Datang lalu Pergi

Dear someone...

Awalnya hidup ku masih sama seperti kemarin-kemarin. Berharap bahagia dan lebih baik dari sebelumnya. Perasaan ku? Masih sama, menunggunya!  bahkan berharap ada sedikit respon yang ia berikan kepadaku. Setiap hari selalu begitu. Bosan? Jenuh? Mungkin iyah, tapi aku menjalani itu semua dengan kebahagiaan. Tapi mengapa ada kata bosan dan jenuh bila sudah ada kata bahagia. Aku bosan dan jenuh karna harus melakukan aktivitas yang sama di setiap harinya dari bulan ketemu bulan dari minggu ketemu minggu dan dari pagi ketemu pagi.

Cinta? Entah mengapa sampai detik ini aku tak percaya dengan kata satu itu. Kata yang mampu membuat orang menjadi gila, galau bahkan merasakan sakit yang sulit untuk di sembuhkan. Aku tak mengharapkan ia datang di kehidupan ku. Dan aku lebih menyukai synonim nya "Suka". Sering aku mengalami kata kedua itu namun hanya sekedar itu dan sulit untuk mengartikan lebih lanjut. Sampai dia datang, entahlah aku tak mengenalnya siapa dia. Sampai suatu hari perkenalan itu berjalan lebih jauh sebelum kami bertemu. Sifatnya kadang membuat aku ilfill terhadapnya. Kepedulian yang ku anggap berlebihan yang mungkin bagi "Mereka" itu wajar.

Sampai suatu ketika dia menyampaikan hal itu bukan hanya sekali. Tapi sulit bagi ku untuk mempercayainya aku belum siap untuk menerimanya. Menerima status yang nantinya akan ku jalani. Dia belum mengenal ku lebih jauh dan aku belum mengenalnya, mungkin itu alasannya. Dan aku tidak ingin merasakan sakit lagi untuk kali ini. Dia membuat ku nyaman walaupun aku tak pernah memberitahukannya. Mungkin perhatiannya itu yang membuat ku nyaman. Dan aku menyebut dia dengan sebutan "BONUS" , yah bonus yang diberikan Allah untuk membuat ku bahagia tanpa melupakan bahwa bonus itu akan habis bila sudah masanya.

Dan kini kau pergi, aku tak melarang mu karna aku tau saat itu akan tiba, dan kini sudah saatnya. Terimakasih untuk semuanya. Untuk ucapan selamat pagi yang selalu kau berikan padaku. Terimakasih kau telah membuat ku nyaman dan terimakasih untuk senyuman dan kebahagiaan yang kau ciptakan sampai detik ini. Untuk mu yang datang lalu pergi....

Apa kabar? Baik, yang berujung kerinduan.

Jumat, 31 Oktober 2014

Entah

Pelajaran ini benar-benar menguras tenaga bukan hanya itu saja tapi ini otak udah ngebul bener-bener ngebul kaya orang lagi nyate. Rumus yang lebih dari saru harus di gabung menjadi satu walaupun yang di cari hanyalah angka 0 namun yah mau gimana lagi masih mending nemu angka 0 dari pada nilai yang dapat 0.

Ulangan kali ini benar-benar rumit, namun syukur lah semua telah lewaat yah walaupun banyak rumus yang harus di pakai setidaknya semuanya berjalan dengan lancar semoga saja nilainya dapat menggantikan usaha yang udah di perbuat walaupun ga seberapa setidaknya nilai 9 bisa aku kantongin.

"Yase, sini deh?" panggil Reno salah satu teman kelas ku.

"Ada apa?" Tanya ku dari tempat duduk ku.

"Bantuin gw ngerjain ini dong!" ucapnya sembari mengangkat buku yang bertulisan mata pelajaran  yang akan di mulai setelah istirahat. Hufftt... Harus bener-bener ekstra semangat nih masalahnya abis ini ulangan Harian lagi dan materinya itung-itungan lagi-__-

"Emang lo blom ngerti yang ini?" tanya gw saat berada di tempat duduknya.

"Engga, gimana sih?"

"Yaelah, kemana aja lau!" ucap ku sembari mencibirnya.

Kelas mulai sepi hanya ada beberapa itupun dapat di hitung dengan jemari dan tempatnya pun menclak menclok ada yang disana dan ada yang disini.

Kebetelun di tempatnya Reno hanya ada aku, dia dan Fano, yah sepertinya lelaki itu juga sedang mencoret-coret angka-angka yang tertera di lembaran kertas berbungkus sampul buku bermata pelajaran sama seperti yang sedang di pelajari oleh Reno. Aku pun mengajari Reno dengan perlahan sampai dia benar- benar mengerti apa yang aku ajari kepadanya. Setelah selesai aku pun kembali ke tempat duduk ku namun ada yang memanggil nama ku sebelum aku benar-benar sampai kemeja ku.

"Yase..." aku pun menengok kearah sumber suara yang memanggil namaku.

"Apa?" tanya ku dan mulai menghampirinya. Dia pun mulai menanya apa yang dia tak mengerti dengan soal-soal yang tertera di buku tersebut, sedangkan aku hanya memperjelas dan membantunya untuk dapat mengerti rumus-rumus apa saja yang di gunakan agar hasilnya dapat seperti itu. Setelah selesai aku pun beranjak kembali.

"Lo beneran suka sama gw?" pertanyaan yang mampu membuat ku berhenti melangkahkan kaki ini untuk menuju mejaku, pertanyaanya sangat pelan namun masih bisa terdengar oleh telingaku karna jarak kita belum terlalu jauh. Aku hanya tertawa saat mendengar ucapan itu yang keluar dari mulutnya.

"Hhahaha, yah engga lah, gw cuma bercanda, buat seru-seruan aja lagi gausah di anggap serius juga kali! Kenapa?" ucap ku sembari tertawa di hadapannya sedangkan dia hanya diam memperhatikan ku.

"Kalau gitu jauhin gw! Jangan ngecengin gw lagi!!" ucapnya dengan tatapan datar suaranya pun pelan namun masih dapat terdengar mungkin karna sedikitnya orang yang berada di ruangan ini.

"Kenapa? Lo ilfill yah?" tanya ku.

"Gw cuma gamau aja nantinya bakal masuk ke dalam permainan lo!" ucapnya lalu beranjak dari tempatnya dan pergi gitu aja masih dengan tatapan seperti itu datar tak bisa di baca ekspresi yang keluar dari mimik wajahnya. Aku hanya memperhatikannya dari belakang sampai dia akhirnya menghilang dari balik pintu.

"..."

"Woi Reno tunggu gw!" senyap-senyap suara yang ku dengar di luar setelah dia menghilang di hadapan ku.

"Gece Daf.." sahut Reno, menjawab ucapan lelaki itu. Lelaki yang tadi mengucapkan kalimat yang aku saja masih mencerna apa maksudnya.

Perbincangan di bus

"Hai ka.."  ucap lelaki berparas tampan duduk di sebelah ku. Sedangkan aku hanya membalasnya dengan senyuman.

"Kenapa ka?" tanyanya lagi ke arah ku.

"Pusing.." jawab ku singkat sembari mengipas-ngipas dengan telapak tangan ku.

"Nih..." ucap lelaki ini memberikan sebotol air mineral ke padaku. Tau saja kalau aku lagi haus. Aku pun mengambilnya dari tangannya, jika di lihat lelaki ini sangat tampan parasnya, dia juga begitu manis, dia tak berkulit putih namun berkulit sawo matang namun senyumannya sangatlah meneduhkan. Tatapannya juga seperti air yang mengalir. Damai.

"Nih makasih yah.." ucap ku memberikan kembali air mineralnya.

"Gausah buat ka senja aja!" sahutnya sembari tersenyum ke arah ku.

"Lo tau nama gw?" tanya ku. Dia tak menjawab hanya tersenyum ke arah ku.

"Galih..!" Tiba-tiba saja ada seorang lelaki yang masuk ke dalam bus memanggil sebuah nama 'Galih' yah kurang lebih nama itu lah yang ku dengar. Dan lelaki berparas tampan di sampingku ini melambaikan tangan ke arah lelaki itu. Sontak membuat ku menengok ke arahnya. Sadar bahwa sedang di perhatikan ia pun menengok ke arah ku dan tersenyum sebelum ia beranjak pergi meninggalkan ku dan botol mineral yang ia berikan.

"Oh namanya Galih" gumam ku dan meminum kembali air yang di berikannya saat ku tahu kalau botol yang ku pegang tak ada isinya aku pun langsung membuangnya dan kembali merasakan rasa pusing yang tiba-tiba muncul kembali.

Sabtu, 04 Oktober 2014

Malaikat juga tau

Aku masih terduduk manis di tempat ini. Melihat pemandangan yang tak begitu asing di memory ku, pemandangan yang sering muncul bersama orang itu tapatnya dengan lelaki itu. Lelaki yang sering ku panggil dengan sebutan sahabat. Namun akhir-akhir ini tak jarang kami bertemu lagi mugkin dia terlalu sibuk dengan kekasih barunya itu masih teringat jelas ketika dia kena tamparan panas oleh seorang gadis karna melihat kami duduk berduaan di tempat ini dan dengan posisi kepalanya jatuh tepat di pundak ku. Gadis itu kira aku selingkuhannya. Maklum lah lelaki ini sedikit playboy.

"Aku benci tau gak sama kamu!"

PLAAAKKKK!!!

Begitu terdengar keras bahkan aku sendiri mampu merasakan pedasnya tamparan itu walaupun bukan untuk ku tamparan itu di tunjukan.

"Hey, kamu kenapa?" tanya lelaki di samping ku sembari memegangi pipinya yang terlihat sedikit ada ceplakan jemari tangan gadis itu.

"Kenapa? Kamu masih tanya kenapa? Dia siapa? Selingkuhan kamu kan?" ucap gadis ini dengan nada tinggi dan menunjuk kearah ku. Aku hanya dapat memasang wajah bingung. Aku? Kekasihnya? Mana mungkin,  hey aku ini hanya sahabat nya bukan seligkuhannya.

"Dia bukan selingkuhan aku!"

PLAAAKKKK!

kali ini gadis ini menampar pipi lelaki sebelahnya dan lelaki di sampingku kini memegang kedua pipinya.

"Aku minta putus ! Kita putus!!" ucap gadis ini dan pergi menjauh dari tempat kami. Lelaki di sampingku berdiri dari duduknya dan berkata...

"Oke kita putus!!" Ucapnya dan duduk kembali di sebelahku
Sembari memasang wajah masam. Aku geram dengan lelaki di samping ku bukannya kejar gadis itu tapi malah diam saja dan menerima ucapannya aku sendiri menjadi tak enak hati.

"Rio! kamu gimana sih, kejar dong cewe itu!" ucap ku mendorong-dorong pundaknya.

"Buat apa? Orang dia udah minta putus!" ucapnya enteng.

"Kamu gimana sih jadi cowok. Pantes mantan kamu banyak! Cewe itu pengennya di perjuangin bukannya di lepasin gitu aja" omel ku kepadanya.

"Mending aku dong punya mantan banyak dari pada kamu gak punya mantan" ledeknya ke arah ku.

"Yeh dari mana kata mendingnya buat kamu! Peleceh cinta itu namanya. Mendingan juga aku dong" balas ku.

"Mangkannya lepasin Cinta kamu!"

"Gw benci cinta!"

"Yaudah Mangkannya cari pacar dong" cibirnya.

"Engga ah entar di bikin sakit hati lagi sama cowok semacam kamu!"

"Yeh cinta gak kaya gitu tau

Sabtu, 20 September 2014

Obrolan Kecil

Aku sengaja mengambil tempat duduk di gerbong belakang karna permintaan teman-temannku yang meminta agar kelas kita menempati gerbong itu, sesampainya aku memilih tempat di dekat jendela, entah lah lagi kepengen menyendiri, seharusnya aku bersenang-senang bersama yang lain.

Sungguh nyaman tempat yang kini ku duduki, anginnya sepay-sepoy kebetulan jendela kereta di tempat ku terbuka, udaranya masih sejuk karna kebetulan kami berangkat pagi dan tujuan kami ke daerah jawa barat yah lumayan lah cuci mata dengan pemandangan kebun teh nya.

Sesekali aku ikut tertawa mendengar lelucon yang dibuat oleh teman-teman ku, sungguh sangat terasa kebersamaan ini tapi kenapa kita mengetahuinya ketika kita akan berpisah dalam jarak waktu yang sebentar lagi.

Hhhufftt.... Gak kerasa bentar lagi mau UN dan yang artinya bentar lagi bakal... Jadi keinget tingkah laku mereka di kelas..

"Yase, gw boleh duduk disini ga?" ucap Tara, yang berada di sampingku

"Duduk ajah geh!" ucap ku.

"Ketua, diam aja nih?!!" ucap salah satu temen ku yang sedari tadi mampu membuat ku tertawa mendengar celotehnya.

"Lagi menata hati dulu nih" sahut ku sembarang.

"Buat Fano yah hhahaha" ucapnya

"Ciie Ciee ngodein mele, yang cowo belom peka-peka nih!" ucap Reno sembari melirik Fano.

"Apaan sih bercanda-bercanda" sahut ku.

"Beneran juga gapapa" ucap Nila, teman ku.

"Hhahaa..." ucap ku, entah mengapa pandangan ku menuju kearah Fano tak ada ekspresi hanya datar sembari melihat-lihat hasil jepretannya di kamera yang di pegangnya. Cuek.

Aku pun kembali ke posisi ku menikmati setiap gerakan yang di hasilkan oleh sang kereta dengan relnya. Suara deringan rel yang beradu dengan roda-roda kereta mempunyai ciri khas tersendiri.

"Yase, di blog lo banyak cerita yang menyangkut tentang Fano" ucap Tara di sebelah ku.

"Kenapa?" sahutku.

"Gapapa sih, cuman kayanya ceritanya berakhir tentang si cowo yang memperjelas bahwa dia gak bisa lebih buat lo bahkan dia nyuruh lo ngejauh, emang iya dia ngomong gitu ke lo" ucapnya kearah ku.

"Engga" balas ku.

"Loh trus? Jangan-jangan cerita itu emang ga pernah terjadi yang sengaja  lo buat sendiri" tanyanya.

"Iyah" sahutku tersenyum kearah nya.

"Buat apa?" tanya ya kembali.

"Gw takut kalo nantinya gw masuk ke zona itu, gw sendiri pun bosen mengatakan zona itu terus menerus dan cerita itu yang nantinya akan meyakinkan gw kalo gw emang gaboleh masik kezona tersebut yang nantinya akan berujung sakit sendiri"

"Oh maksud lo buat suggest diri lo sendiri?"

"Yaps bener banget!"

"Biar lo ga suka dan gak kepikiran dia terus?" tanya Tara.

"Ha?" tanya ku bingung. Maksdu Tara apa.

"Tanpa lo sadari lo udah memasukinya Yase!" ucapnya menjelaskan.

"..." aku pun hanya bisa memasang image bingung ke arahnya.

"Lo ngebuat cerita-cerita itu di blog lo biar lo nantinya gak seperti 'Yase' di cerita yang lo bikin, biar lo sadar kalo Fano gak penting buat lo masukin ke dalam fikiran lo dengan waktu yang lama agar lo gak sakit hati seperti tokoh utama di cerita lo. Tapi tanpa lo sadari, dengan cara lo bikin cerita itu semua lo malah akan terus menerus memikirkannya Yase karna apa? Karna lo nantinya akan masuk ke zona itu tanpa lo sadari. Lo malah mengizinkan dia masuk ke dalam lamunan lo kalo cara lo gini terus"

"Yas, gw tau lo punya kelebihan atau potensi di diri lo sendiri tapi jangan gunain potensi lo untuk pelampiasaan. Karna nantinya dia lah yang akan membantu lo masuk ke zona gak aman lo itu."

"Coba sekarang gw tanya ke lo, apa setelah lo buat cerita itu lo gak kepikiran dia lagi?, rasa itu apa masih tetap Bercanda?, enggakan? Yang ada lo kepikiran dia terus."

Ucap Tara mencoba menjelaskan semuanya kepadaku, aku hanya diam sambil menatap kearahnya. Dalam hati, aku membenarkan semua ucapan yang terlontar dari mulut Tara.

"Trus, what should i do?"

"Apa gw harus kaya biasa, meledekinya? Atau kembali seperti awal saat semuanya belum pernah terjadi?" tanya ku.

"Jangan tanya gw yas, tapi tanya dengan diri lo sendiri! Karna kunci semuanya ada di hati lo sendiri, gw cuman gak mau lo kembali kaya dulu dimana saat hati lo benar-benar rapuh seperti bukan Yase yang gw kenal" ucap ya tersenyum kearah ku.

"udah ah gw mau tidur dulu, bogornya masih jauh kan?" ucapnya yang ku balas dengan anggukan kecil dan dia pun mulai memejam kan matanya.

Setelah Tara tidur di sampigku, kata-katanya masih teringat jelas di pikiran ku, benar katanya cara yang kulakukan hanya membuat ku semakin bodoh seperti yang ku lakukan saat ini. Entah mengapa aku pun mengikuti Tara untuk memejamkan kedua mataku dengan di temani musik di salah satu telingaku yang kupakaikan henset.

Selang beberapa waktu, aku mendengar seseorang yang mengatakan bahwa kita telah sampai di stasiun terakhir. Aku pun membuka kedua mataku. Sempat ku rasakan bahwa Tara yang di sampigku menoelku dan mengatakan "Bangun-bangun udah sampai". Dan aku pun bergegas turun sebelum tertinggal dengan yang lain.

Saat aku telah keluar gerbong tiba-tiba saja aku mendengar ada seseorang yang memanggil nama ku.

"Yase, Yase.. Jaket lu nih ketinggalan!" ucapnya menyerah kan jaket kelas ku

"Oh yah lupa" sahut ku. Dan mengambil jaket ku dari tangannya.

"Makasih" tambahku.

"iyah" ucapnya, Dia Fano.

Jumat, 19 September 2014

Coffee di malam hari

Masih jelas dalam ingatan ku apa yang terjadi di hari ini, sudah beberapa hari ini pikiran ku selalu di penuhi hal-hal yang tak pernah ku mengerti sebelumnya, dia -Lelaki- itu terus saja tak pernah mau pergi dari tempat yang kini selalu membuat ku berfikir lebih keras. Lelaki yang kadang aku sendiri jenuh untuk selalu memikirkannya namun pikiran dan hati ini tak pernah menyatu untuk hal seperti ini sungguh menyedihkan.

Malam ini aku hanya bisa diam di temani secangkir coffee yang berwarna hitam pekat, entah sejak kapan rasa coffee ini terasa pas di lidah ku, dan menjadi salah satu minuman kesukaan ku. Mungkin rasa pahit yang membuat ku nyaman akan kehadiran rasa baru di lidah ku.

Pernah ku bertanya kepada diriku sendiri, sebuah pertanyaan yang kuambil dari sebuah film Rectoverso "Apayah warna bola matanya" ingatkah kalian akan pertanyaan itu, yah sebelumnya aku telah menuliskan tentang itu dan akan mencari tau jawabannya dan kini aku telah menemukan jawaban itu sendiri, jawaban yang sebenarnya tak ku duga jika aku akan menemukan jawaban dari pertanyaan itu.

Warna bola matanya bukan coklat muda, bukan juga coklat pekat, tetapi hitam. Lelaki itu memiliki bola mata berwarna hitam. Aku mengetahuinya saat aku berada di dekatnya dan saat aku sedang memperhatikannya sama halnya seperti di film Rectoverso, entah mengapa cerita tersebut terjadi di kisah yang ku alami saat ini.

Lelaki yang mempunyai nama lengkap Muhamad Dafano Putra Irwansyah membuat ku pusing akan keadaan ku saat ini, aku takut jika nantinya aku akan masuk kedalam zona tak aman. Zona yang dari dulu tak ingin aku memasukinya apalagi menjalaninya, karna zona ini adalah zona menyedihkan bagiku.

Aku takut jika tebing masa lalu akan terbuka kembali dan akan membuat kisah yang tak pernah ku harapkan sekalipun, dimana saat salah satu dari dua jenis insan berpegang teguh kepada keyakinan hatinya bahwa ia benar-benar sungguh menyukainya, yang pada akhirnya Tuhan mempunyai rencana yang berbeda.

Hari ini bentar lagi akan berakhir, jam menunjukan pukul 23:00 satu jam lagi akan menunjukan pukul tepat 12 malam. Tapi rasanya lama sekali menunggu walaupun satu jam, aku ingin hari ini cepat-cepat berakhir apalagi bila harus mengingat kejadian itu, yang membuat ku... Entahlah aku juga tak mengerti.. Intinya aku ingin cepat-cepat hari ini berakhir dan aku ingin mengakhirin hari ini dengan meminum secangkir coffee dan ritikan suara hujan yang ku dengar dari atas atap loteng ku.

**

"Yase Gw pengen ngomong sama lo"

"Oh yah gw juga ada yang pengen di omongin sama lo" ucap ku menghampirinya.

"Yaudah lo duluan aja!" suruhnya.

"Soal itu gw cuma bercanda, gak beneran ko, jadi gak usah di anggap serius biasa anak-anak mah emang rese" ucap ku sembari tersenyum ke arahnya, namum dia hanya diam.

"Bagus deh kalo gitu, oh yah gw cuma mau bilang dan nyuruh lo buat ngejauh dari gw, jangan pernah ngelakuin itu lagi ke gw, gw risih sama semuanya!!"

"..."

"Oh yah dan lo bilang ke semuanya dengan di perjelas kalo lo cuma bercanda!! Biar mereka ngerti!!"

"Tanpa lo suruh gw udah ngelakuin itu, oh yah ok gw bakal ngejauh dari lo tenang aja ko, dan gw gaakan ngelakuin itu LAGI di depan lo, sorry juga kalo gw ngebuat lo risih akan sikap gw ke lo!"

"Bagus deh kalo lo ngerti!!" ucapnya lalu pergi meninggalkan ku di tempat ini. Dada ini rasanya sesak, ku rasakan mata ku perih dan panas yang kuyakini sebentar lagi akan mengalirkan sebuah sungai kecil tanpa ku kehendaki sebelumnya.

Dia, Fano lelaki yang sesungguhnya telah memikat perhatian ku baru-baru ini, dengan lembut namun menyusuk ia bicara seperti itu di depan ku, tau kah kau apa yang ku bilang kepadamu barusan, tentang kalimat yang tercantum kata BERCANDA  di dalamnya, sesungguhnya itu tak benar, karna apa? Karna aku terlambat untuk mencegah diriku sendiri agar tak masuk ke Zona tak aman bagi ku dan aku telah memasukinya.

Sepertinya hujan di depan mulai deras... Semoga saja tak menyebabkan genangan air yang berlebihan di jalanan. Ku harap kalian tau maksud ku.

Tiba-tiba handphone yang berada di depan ku berdering, ku melihat ada sebuah pesan tapi dari nomor yang tak ku kenal sebelumnya.

1Massage

081657******

Kalo emang lo gak ingin menyukainya namun lo udah masuk ke Zona gak aman lo itu, mau gak mau lo cuma punya 2 pilihan. Yang pertama lo mundur dengan hati terluka, yang kedua berjuang mencoba meyakinkannya walaupun Nihil akhirannya. Itu sih terserah lo aja, karna keputusan ada di tangan lo sendiri.

Setelah sms itu ku baca, henset yang kupakai di salah satu telingaku, memutarkan musik yang sudah ku setel sebelumnya lewat handphone ku.

Aku bisa membuat mu jatuh cinta kepada ku meski kau tak cinta kepadaku.. Beri sedikit waktu.. Biar cinta datang karna telah terbiasa..

Aku diam mengamati lirik demi lirik yang di ucapkan oleh sang vokalis. Entahlah pikiran dan hati saat ini sedang tak balance. Tiba-tiba saja jemari-jemari ini mengetik sebuah abjad yang langsung di sent ke nomor itu.

To : 081657******

Gw pilih yang ke-2

Setelah ku yakin pesan ku telah terkirim aku pun meminum kembali coffee milik ku dan menikmati alunan lagu yang saat ini mungkin sedang mewakili perasaan ku.

Tunggu... Nanti kau akan tau apa yang akan ku lakukan untuk mu
Muhamad Dafano Putra Irwansyah

Jumat, 05 September 2014

About Him

Seorang lelaki yang dapat memiliki ke kaguman dari gw, seorang lelaki yang mempunyai kelebihan lebih dari gw. Seseorang yang hanya mampu gw miliki sebatas kelebihannya.

Dia lelaki yang mempunyai kelebihan dari gw, dia bisa melakukan apapun yang gw sendiri blom tentu bisa melakukannya.

Dia hobbi banget main futsal mungkin baginya bola adalah kekasihnya. Dia lelaki yang tak mau ribet, sepenglihatan gw sih dia lelaki yang ga pernah punya masalah, mikirin cewe aja kayanya
Gak pernah, simple.

Dia mempunyai kelebihan, kepintarannya dalam pengetahuan umum salah satu kekaguman gw buat dia. Bahkan lebih dari itu hal yang gw bisa dia pun bisa melakukannya bahkan lebih dari gw.

Dia terlihat... Dengan kamera itu. Kemampuannya dalam hal pemotretan salah satu tambahan plus buatnya.

Kalo lagi ngomongin 'kagum sama seseorang' jadi inget film RECTOVERSO tentang 'Bahasa Isarat' mereka saling kenal, berada di tempat yang sama.. Sang Gadis menyukai lelaki blasteran itu dan mengaguminya Namun ada satu hal yang sangat membuat sang gadis penasaran..

Warna apa bola matanya ?? Hijau kah? Coklat muda kah? Atau Hitam kah?

Pertanyaan itu membuat gw bertanya ke diri gw sendiri
Dan munculah sebuah pertanyaan

"apa yah warna bola matanya?"

Kembali ke rectoverso, tak lama sang gadis mengetahuinya dari sebuah permainan yang membuat sang gadis sangat berada dekat dengan lelaki itu dan dapat memperhatikan wajahnya dengan jarak yang begitu sangat dekat. Ia pun tersenyum karna telah mengetahui jawaban atas pertanyaannya namun... Sang lelaki tak mencari apapun dalam berkelananya, bukan keluarga, teman, sahabat, kekasih atau pun Cinta tetapi ia hanya mencari ke Abadian dan ketenangan. Jawaban yang mampu membuat sang gadis berdiam tak bergeming.

Kembali lagi ke gw, pertanyaan yang terucap oleh gw akan gw cari tahu jawabannya tapi butuh waktu kan semuanya butuh proses mie instan aja perlu di masak biar matang.

Perasaan yang gw punya buat dia hanya sekedar kekaguman gak lebih dan hanya sekedar itu.

Seseorang yang hanya dapat gw kirimi pesan lewat udara, Awan dan hembusan angin.

Oh yah gw lupa memberitahukan namanya, dia bernama Muhammad Dafano putra irwansya

Kamis, 04 September 2014

Dont Leave Me 4 (ketika cinta pergi)

Kenapa lo terlalu bodoh sih ka untuk tidak memperdulikan ini semua" ucap deva, air matanya kini mulai mengalir dengan sendirinya, ia sudah mencoba untuk menahannya namun sekuat apapun ia menahannya air matanya tetap akan menetes jika harus berhubungan dengan kondisi kakanya saat ini.

Lima jam telah berlalu sejak kemoterapi di lakukan. Kini ia mulai membuka kedua matanyanya menjulurkan pandangannya ke seisi penjuru ruangan dan setelah ia mengetahui dimana ia kini berada Rio hanya memejamkan matanya sejenak dan menghembuskan nafas, terdengar begitu berat. Tak lama pintu ruangan terbuka terlihat sosok laki-laki di depannya.

"udah bangun lo ka?" tanya deva menghampiri sang kaka.

"berapa jam gw tertidur?" tanya Rio ke arah sang adik.

"Gak lama ko, cuma 5 jam" sahut deva enteng.

"What 5jam? Lama bener yah?" ujar rio.

"Tau luh!, nyenyak banget sih lo tidur" ucap deva.

"hhehe tadi gw mimpi merried sama ify trus bulan madu dulu deh berdua" Ujar rio mulai dengan candaannya.

"Stress lo!!" sahut deva yg mulai duduk di sofa. Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu ruangan dan masuklah sosok perempuan, bukan bunda melainkan...

"siang,," ucap gadis itu. Sontak membuat Rio kaget atas kedatangannya.

***

"Halo"

"iyah ada apa?"

"hari ini aku ga masuk"

"kenapa?"

"ada keperluan"

"kamu bohong"

"aku serius"
Tiba-tiba sunyi sejenak tak ada suara hanya hembusan nafas satu sama lain yang terdengar di ponsel masing-masing.

"kamu bohong!"

"beneran aku seri.."

"Gprs kamu, menunjukan ke rumah sakit"

Skak mat tiba-tiba saja seperti ada batu yang menghantam kepalanya. Ia lupa atau mungkin terlalu bodoh untuk berfikir bahwa kekasihnya orang yang cekatan dan sulit untuk di tebak apa yg akan di kerjakannya.

"Aku kesana!".

***

"safira," panggil guru di hadapannya.

"iyah bu, ada apa?" sahut ify.

"ada apa lagi. Kamu ngerasa ada yang kurang ga?" tanya guru piket.

"ah engga deh bu kayanya, kecantikan saya pas ko ga kurang" ucap ify sembari memberikan senyuman termanisnya.

"ikat pinggang kamu kemana, kaos kaki kamu kemana, kamu tau peraturan gak sih kalo rok itu harus panjang bukannya cingkrang kaya kamu!"

"bu banyak banget sih pertanyaannya, saya jadi mules mau jawabnya"

"ah banyak alasan kamu! Buruan pakai kaos kaki dan ikat pinggang kamu!!"

"iya-iya bu,"

***

'aku ada di taman' sebuah masaage masuk ke ponselnya dan tak lama ia pun beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke taman. Tak lama sosok gadis yg ia tunggu sudah duduk manis di bangku taman yg sudah di sediakan.

"Hai" ucapnya.

"sepertinya aku akan terkena introgasi kamu" sahut lelaki ini.

"siapa yang sakit dev," tanya gadis di hadapannya.

"Kario" ucap deva datar.

"kario? Sakit apa?"

"kanker otak stadium 3" ucap deva. Gadis di hadapannya hanya mampu Membungkamkan mulutnya, rasa kaget mampu menjulurkan darahnya mengalir begitu deras ke seluruh tubuhnya, tak pernah ia sangka sosok yg begtu ceria dan friendly mampu menutupi semua nya.

"Aku gatau harus ngelakuin apa lagi, disaat dia sibuk dengan pekerjaannya dan mulai tak memperdulikan kondisinya." ucap deva menundukkan kepalanya.

"kamu hanya perlu memberikanya suport" ucap gadis di sampingnya dengan mengusap pundaknya mencoba memberi kekuatan kepada kekasihnya.

***

Rio menatap ke arah deva dan di balas tatapan datar oleh sang empunya.

"gimana kondisi kaka?" tanya gadis ini menghampiri nya.

"yah begini" ucap rio canggung.

"deva udah certa semuanya ke aku, aku yakin ka rio pasti bisa menjalani ini semua, kaka hanya perlu berdoa, semangat, dan yakin, kalo kaka pasti bisa sembuh dan melewati ini semua. Kaka gak boleh putus asa karna ada kita semua di belakang kaka" ucap gadis ini.

"Makasih yah cha" ucap rio membalas senyuman acha yah ternyata kekasih deva yng telah datang.

"oh yah cha jangan.."

"iyah, kaka tenang aja" balas acha sebelum rio menyelesaikan ucapannya karna acha sudah tau apa yg dimaksd oleh rio.

"thanks" balas Rio.

***

Hari ini seharusnya rio masih di rawat di rumah sakit namun bukan rio namanya jika harus dengan mudah menerima pernyataan sang dokter ia bersikeras untuk tetap pulang dan akhirnya sang dokter pun tak bisa apa-apa.

"Ka, lo serius hari ini lo mau sekolah? " tanya deva yg berada di depan pintu kamar Rio.

"iyah, kenapa? Lo mau ngelarang gw juga?" tanyanya

"yah sekuat apa pun gw ngelarang lo, lo pasti bakal tetep sekolah" ucap deva melipat kedua tangannya.

"anak pintar" sahut rio yg mulai menghampiri deva dan mengusap kepala deva dengan memberikan senyuman ke arah adiknya itu. Sedangkan deva hanya diam. Dan masih diam di tempat melihat kepergian sang kaka

"devaaaaa.... Ayo buruan nanti gw telaaatttt" teriak Rio dari lantai bawah

"iyah-iyah bentar."
Sesampainya di dalam mobil deva hanya berdiam diri sesekali memperhatikan sang kaka yg asik bergumam mengucapkan beberapa bait lirik mengikuti lagu yang mengalun indah dari siaran radio.

"demen banget sih ka dengerin radio" ucap deva

"Karna biasanya nih yah ify tuh sering ikut kirim-kirim salam di..."

"dimana?" tanya deva.

"yah di chanel ini!" sahut rio. Deva pun hanya mengangkat sebelah alisnya mendengar keraguan yg di ucapkan oleh kakanya

"chanel? Di kira tv keles" sahut deva. Sedangkan rio hanya cengir saja. Sesampainya di parkiran deva mengingatkan rio agar tak terlalu cape.

"ka, gw mohon banget sama lo. Kalo lo emang masih mau buat gw sama bunda ga khawatir lagi please jaga kondisi lo" ucap deva pelan namun ngena di hati rio. Rio pun hanya bisa senyum getir sebelum ia membalas perkataan adiknya itu deva sudah keburu keluar dari mobil ini...

***

"hai cinta" sapa Rio di meja ify. Ify hanya diam dan celingak celinguk ke depan belakang siapa tau lelaki di hadapannya bukan berbicara dengan nya. Rio hanya mengeryitkan keningnya melihat tingkah ify.

"gw?" tanya ify.

"yaiyalah lo, emang siapa lagi" sahut rio yg duduk di depan hadapan ify.

"oh" sahut ify singkat yg membuat rio mampu membulatkan mulutnya.

"etdah fy, kita pacaran kayanya udah lebih dari sehari dah" sahut rio

"yah trus? Lo minta Pj?" sahut ify yg mulai ngelantur.

"Lo kenapa sih? Salah makan sarapan? Demam, rindu sama gw?" ucap rio sambil menempelkan telapak tangannya ke kening ify.

"ew, pede bingitzz" ucap ify

"nih anak kenapa sih? Wah stress udah ga waras" sahut rio. Tiba2 saja ada yg menepuk pundak rio.

"yo, yang stress tuh lo, udah tau orang lagi telphonan di ajak ngomong. Gila lo?" sahut dani salah satu teman kelasnya. Dan ketika rio memperhatikan kekasihnya ternyata benar ada eirphone yang nyantol di telinga ify.

"Nasib pagi-pagi" ucap Rio yg menuju mejanya dan meninggalkan tempat duduk ify.

Bersambung....
Makasih udah mau mampir baca
See u next time guys. Enjoyed..

Dont Leave me 3 (ketika cinta pergi)


"Ka, gw tau mungkin gw emang ga sepintar lo, atau bahkan ga se cerdas lo. Tapi setidaknya gw juga ada hak dong di dalam pngurusan perusahaan ayah. Gw juga kan anaknya" ucap Deva yang mulai mendekati sang kaka. Rio masih diam memasang muka bingung.

"Ayolah ka, lo bisa berbagi sama gw. Gw juga bisa ko. Gw ga bego-bego bangeett"

"ssstttt. Ga usah banyak bacot luh. Gausah berbelit-belit. Bilang aja lo mau bantuin gw. Dari tadi ke!. Cape gw ngerjain itu semua. Stress gw" ujar Rio lalu beranjak dari kasurnya. Ia tau bahwa adik nya tak beda jauh dari dirinya ia percaya kalo deva bisa meng handle ini semua. Sedangkan deva hanya memasang wajah bingung.

"Lo mau kemana ka?" tanya deva yang sadar akan kepergian sang kaka.

"Bikin minum. Aus gw. Seret ngeliatin kertas-kertas semua. Kalo ngeliatin cewe cantik sih ayo aja" ucap Rio sembari berjalan membelakangi deva.

"Sterss luh!!" sahut deva yang langsung menghampiri tempat tidur sang kaka dan mulai memahami, dan membaca kertas proposal itu satu persatu. Kini fikirannya terfokus oleh data-data semua di hadapannya kini.

Setelah Rio melewati pintu kamarnya ia tersenyum perasaannya sedikit lega setidaknya ada yang mengurus dan bertanggung jawab atas perusahaan sang ayah jika ia harus pergi meninggalkannya. Satu masalahnya telah terpecahkan namun bagaimana dengan masalah selanjutnya. Giman dengan deva dan Bunda apa ia tega untuk meninggalkan mereka dan ify.... Bagaimana dengan gadis itu, perempuan yang sangat ia sayangi setelah sang bunda. Tega kah ia melukai perasaan gadis tersebut.

"Acha!"ucap rio saat menuruni anak tangga ia melihat acha sedang bersama sang bunda di ruang tamu.

"eh ka Rio" ucap acha tersenyum ke arah Rio.

"wah kayanya deva nya lagi ga bisa di ganggu tuh. Lagi pacaran sama kertas2 dulu" ujar Rio nyengir.

"Acha kesini ga buat nemuin deva ko. Acha ke sini cuma mau nganter kue dari mama." ucap acha tersenyum ke rio lalu ke bunda Rio.
Acha pacar deva. Dan kebetulan mamah acha pun sahabat bunda. Rio pun tersenym akhirnya acha lah jawaban selanjutnya. Acha sangat mencintai deva dan sangat menyayangi bunda itu artinya ada yang merawat deva dan bunda. Acha bisa menjadi anak bunda sekaligus kekasih deva. Masalah ini selasai. Tinggal.... Ify.
Gadis itu yah, semoga ada jalan keluar yg terbaik.

"ka Rio mau keman?" tanya acha.

"oh, mau ngambil minum cha" ujar rio.

"gausah repot-repot ka"

"jeh siapa juga yg mau ngambilin buat situ wle" ucap rio lalu menuju ke dapur sedangkan acha hanya tertawa melihat ekspresi muka ka rio. Sebenarnya ia hanya meledeki ka rio saja hhaha.

Hanya Suara dentingan antar dua kubu yg kini mengalun sempurna di dapur dengan sedikit senyap-senyap tawa bunda dan acha. Pikirannya masih saja tak bisa ia kontrol. Penyakit itu telah mendominasi isi semua pemikirannya. Tak ada sedikit cela untuk memikirkan bahwa ia akan sembuh karna ia tau pasti penyakit yg kini ada di dalam tubuhnya akan betah berlama-lama di dalam tubuhnya dan mungkin gak akan pergi dengan begtu saja sebelum ia merelekan tubuhnya untuk pergi meninggalka orang-orang yang ia sayangi semuanya. Ada rasa takut,, takut untuk menjalani ini semua namun ini adalah takdir hidup nya yang mau tak mau ia harus kuat untuk menjalaninya. Esok tepat dua minggu setelah ia mengalami muntah-muntah yang membuat perutnya mual tak ketulangan dan nafsu makannya hilang seketika, ia harus menghadapi kembali sinar-sinar yang sebernya ia sendiri muak untuk terus menjalaninya. Tak lama lamunan itu pun menghilang dan mengingatkan nya akan teh yang di buatnya, ia pun lalu meminum teh tersebut masih dengan tatapan kosong. Dan....

"pprrrttttttsss"

"hhahahaha" terdengar tawa acha yang sepertinya dekat di sekitarnya.

"Gila! Asin banget nih teh," ucap rio sambil mengusap bibirnya sedangkan acha ia hanya tertawa melihat mimik wajah ka Rio.

"yaiyalah asin orang ka rio masukinnya garam bukan gula hhahaha, mangkannya jangan bengong mulu ka entar ke sambet loh. Mikirin ka ify mulu sih" tutur acha masih tertawa sampai-sampai keluar sedikit air mata sangking bahagianya menertawakan ka rio. Rio pun hanya mengerucutkan bibirnya.

"nih buat acha aja deh" ucap rio sambil memberikan cangkir teh yg ia buat ke tangan acha dan pergi meninggalkan acha di dapur.

"gak mau bikin lagi ka?" tanya acha sedikit meninggikan volume suaranya, karna rio sudah sedikit menjauh.

"udah gadlv" ucap rio smbil  berjalan membelakangi acha

"Ha?" tanya acha bingung.

"Eh maksdnya udah gamood" ujar Rio membalikan tubuhnya ke arah acha dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi sambil menggaruk kepalanya yg tak gatal.

***

alyssa safira umari, yang biasa di sapa ify, ia kekasih Rio setelah rio memutuskan Nia sebagai kekasihnya. Kalo di bilang ify cinta pertamnya atau bukan. Yah jawabannya pasti bukan, karna apa,, karna mantan Rio itu banyak sangking banyaknya gak bisa di hitung pake tangan. Wajar ajalah orang tengil kaya dia punya banyak mantan. Sedangkan ia sendiri boro-boro punya mantan, karna rio adalah pacar pertamanya ia juga berharap kalo rio adalah cinta sejatinya. Seperti yg pernah di ceritakan oleh iel. Ify adalah pacar terlama rio, kenapa bisa begtu, karna hampir dua tahun ia menjalani hubungan ini dengan Rio, waktu yang cukup lama bahkan bisa di bilang sangat lama ketimbang mantan-mantan Rio. Karna seperti yang pernah di ceritakan iel lagi kalo Rio menjalin hubungan selalu saja kurang dari seminggu paling lama setahun, nah yang setahun itu sama Nia kaka kelasnya dulu yang sekarang sudah kuliah. Rio dan Nia berbeda jarak dua tahun saat kami baru masuk sma ini Nia atau biar lebih sopannya kania kelas tiga. Dan mereka putus karna Rio tidak mau menjalin hubungan dengan orang yang jauh dri dirinya. Alasannya psti banyak masalah yg akan terjadi. Dia gk tau pasti kan apa yg terjadi sama Kania di kampusnya atau sebaliknya karna sulit untuk membuat kepercayaan satu sama lain, akhirnya Rio pun memutuskan Kania. Awalnya memang hanya satu pihak namun kemudian ka Nia menerima alasan Rio untuk memutuskan hubungan mereka. Dan akhirnya aku lah saat ini yg menggantikan posisi kaNia.

"Doorrr!"

"Apaan sih lo iel, dateng2 ngaggetin orang aja, untung gw ga punya penyakit jantung!" ucap ify sambil mengusap2 dadanya mencoba menstabilkan detak jantungnya.

"Maap,maap. Lagi lo bengong aja! Kesambet luh!" sahut iel yang kini sudah duduk dihadapannya smbil membawa minuman kaleng di tangannya.

"Rio gak masuk kan?" tanya iel

"Iyah, ko lo tau?" tanya ify, karna masalahnya Rio dan Ify tak sekelas dengan Iel.

"Iyah tadi dia sms gw katanya lagi ada meeting sama klien bokapnya" ucap iel sesekali meminum, minumannya yg ia bawa.

"ooh, kasian juga yah kalo di pikir-pikir, padahalkan Rio belom lulus tapi dia udah punya tanggung jawab sebesar itu. Kdang gw salut sama tuh bocah. Pemikirannya terlalu cerdas walaupun di bagi ke mana-mana" ucap ify.

"yah mau gimana lagi fy, takdir! Siapa lagi kalau bukan dia yang handle" balas iel.

"padahalkan masih ada deva"

"yahelah fy, deva kan baru lulus smp kemaren" sahut iel.

"iyah sih tapi kan apa salahnya di coba. Lagi kan deva juga ga kalah cerdas sama Rio" ucap ify.

"Rio juga prnah bilang gitu sih, Cuman Dia blom percaya sepenuhnya sama deva, masalahnya yg sedang lagi di hadapi itu persaingan ketat apa lagi kalau kita gak pintar-pintar mencari peluang bakal bisa bangkrt tuh perusahaan. Rio juga bilang katanya dia blom tega nerjunin deva ke bidang bisnis takut gakuat nantinya jadi stres kaya dia hhaha" balas iel.

***

"Gimana dok ke adaan ka rio?" tanya deva.

"sebenernya kita sudah terlampau telat untuk menjalani kemoterapi ini, harusnya sudah dari awal kita menjalani ini namun rio tetap kekeh dan akhirnya sedikit sulit" sahut sang dokter.

"maksd dokter?" tanya deva.

"perkembangannya lambat, sedangkan kita baru menjalani 4 kali kemo yang seharusnya sudah dua kali lipatnya." ujar sang dokter.

"Itulah kario dok, ia selalu saja meremah kan penyakitnya itu, dok apa ka rio akan mengalami seperti ayah?" ada nada yang melemah di akhir kalimat yg deva ucapkan.

"saya gak bisa menjnjikan apa-apa dev, kita hanya perlu banyak berdoa, Semoga rio dapat menjalankan dan melewati ini semua." sahut dokter. "saya permisi" lanjutnya dan pergi meninggalkan deva dan Rio di ruangan ini.

sejak selesai kemo sampai saat ini kaRio tak sadarkan diri. Doker sengaja memberikan obat tidur kepada sang kakanya karna sang dokter yakin sekuat apapun ia menyuruh pasiennya untuk istirahat, sekuat itu juga rio akan membantahnya.

"elo terlalu bodoh ka, untuk bermimpi memasa bodohkan dan mencoba tak peduli dengan kondisi lo saat ini, mau sampai kapan ka lo menyiksa diri lo sendiri. Lo masih punya gw dan bunda Apa lo tega meninggalkan gw sama bunda. Kenpa lo gak pernah peduli sama kondisi lo ka, kenapa lo selalu masa bodo sama keadaan lo. Hrusnya lo denger kata dokter dan bunda untuk menjalani kemo dari awal saat penyakit lo itu mulai ada di tubuh lo bukannya menampung nya lebih lama sehingga sulit untuk membasminya..

Bersambung...

See u next time

Dont Leave me 2 (ketika cinta pergi)

Rio jalan dengan gaya so cool nya kedua tangannya ia masukan kedalam saku celananya, tak heran kalo cowok satu ini di gemari banyak kaum hawa apalagi jika melihat statusnya di sekolah ini, ketua osis di tambah kapten basket yang mampu membuat dirinya makin di gemari. Di ujung lorong ia melihat seorang gadis yang sedang berjalan membelakanginya. Ia sudah bisa menebak kalo gadis itu adalah pujaan hatinya, status ini juga lah yang mampu membuat semua siswa seantero merasa iri dan patah hati namun banyak juga yang mengaggumi hubungan mereka. Mereka merupakan sepasang kekasih yang sangat serasi. Rio pun segera mempercepat langkah kakinya untuk menyamai sang kekasih.

"cewe, sendirian aja?" goda Rio saat ia sampai di samping gadis ini. Gadis yang berada di sampingnya tak menengok ke arah rio ia tetap saja berjalan seolah tak ada orang di sampignya.

"ehem, pacarnya kemana neng? Bisa kali jalan ama abang" ucap rio sembari menggoda gadis ini kembali saat ia sadar ucapannya tak di gubrisnya.

"maaf yah bang, saya bukan cabe-cabean lagian saya udah punya kekasih yg lebih ganteng dari abang. Mario! " balas gadis ini dengan tampang wajah yang tak kalah seperti rio. Rio hanya bisa mengangkat sebelah alisnya.

"gw dong " ujar Rio sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah gadis di hadapannya.

"ngarep." ucapnya dan melanjutkan langkahnya.

"fy, fy tungguin gw dong" ucap rio saat sang gadis beranjak meninggalkannya. Yah gadis itu adalah ify. Ify tetap pura2 tak mendengarnya.

"lo kenapa sih?" tanya Rio. Ify hanya menatapnya datar lalu berjalan kembali.

"fy tunggu!" kali ini rio memberhentikan ify dengan sedikit jegatan lengan rio. Posisinya membuat ify skak. Masalahnya ia tak bisa menghindar. punggung ify sudah nempel ke tembok. Lengan Rio juga telah menghalanginya di sebelah kiri pundak ify. jarak nya kini bisa di hitung beberpa cm. Ia hanya bisa speechless kalo rio sudah seperti ini.

"lo kenapa?" tanya Rio

"masih nanya gw kenapa?. Kemana lo kemren! Gaada kabar sama sekli di telfonin ga diangkat bbm gaaktif sms gak di bls" ucap ify, tangannya ia lipat di depan dada pandangannya ia buang dari hadapan rio. Sedangkan rio ia hanya tersenyum ia paling senang melihat wajah gadisnya bila sedang marah seperti ini mempunyai kharismatik tersendiri.

"gausah senyum-senyum deh! Gaada yg lucu! Udah tau salah." ujar ify kembali.

"iyah iyah aku minta maaf, kmren itu aku lagi ada acara. Hp aku juga ketinggalan di kamar jadi gabisa ngasih kabar ke kamu" balas Rio dengan posisi yg masih sama. Ify tetap bungkam.

"sebagai permintaan maaf kita ngedate deh" ucap rio yang mampu membuat ify mengeryitkan dahi nya.

"tapi jangan malem ini, kelamaan. Sepulang sekolah gimana sekalian kita ke taman baca udah lama kita ga kesana" usul rio sdngkan ify ia hanya memasang wajah seperti sedang menimbang-nimbang ke inginan Rio.

"gimana?" tanya Rio.

"gimana yah" ucap ify sambil menggit-gigit kecil jarinya.

"jorok ih" ucap rio yg melihat sang kekasih mengigit-gigit jarinya itu.

"biarin. Yang penting kamu cinta aku wle"

***

Entah mengapa rio terlihat begitu beda kali ini. Ia lebih sering diam dan terlihat tatapannya kosong. Sesekali ify menengok ke arah bangku rio namun rio masih tetap terlihat melamun, kenapa kekasihnya itu. Wajahnya terlihat pucat. Sadar bila ia sedang di perhatikan Rio pun menengok ke arah ify benar saja kekasihnya itu sedang memperhatikannya dengan tatapan yang penuh pertanyaan, ia pun membalas tatapan ify dengan senyuman mencoba menjelaskan bahwa ia tak apa-apa dan kekasihnya pun kembali memperhatikan pelajaran di depan tapi tidak dengan rio pikirannya kini melayang-layang entah dimana, banyak pertanyaan yang harus ia cari tau jawabannya. Perusahaan, deva, Bunda, dan... Ify yah semua itu apa yg akan terjadi bila ia... Bila ia harus meninggalkan semuanya. Apa yang harus ia lakukan sanggup kah itu semua ia tinggalkan.
Tak ada yang masuk pelajarannya saat ini otaknya sudah terlalu penuh untuk bisa di masuki teori-teori yang di berikan oleh sang guru.

"Rio..." sang guru pun mulai memprhatikan rio yg tak mengubris mata pelajarannya.

"Rio!!" tak ada jawaban kembali dari rio.

"Mario!!" ucap sang guru sekali lagi namun kali ini rio pun mulai tersadar.

"Kamu tidak memperhatikan peljaran ibu yah!"

"Ah ibu bisa aja saya tuh dari tadi sibuk perhatiin ibu, sampe lupa mana yg harus sya perhatiin tulisan ibu apa ibunya" sontak membuat seisi kelas tertawa atas ucapannya itu yg membuat sang guru geram.

"Jelas-Jelas kamu ibu panggil tak mendengar gimana kamu mau perhatikan pelajaran ibu"

"Saya bukannya gak denger bu, saya cuman terpesona sama kecantikan ibu" ucap Rio yang kembali mampu mencair kan suasana.

"kalo emang kamu denger dan memperhatikan dari tadi. Apa yang di maksud esai?" tanya sang guru. Sontak seisi kelas pun mulai membeku kembali.

"esai adalah karangan prosa yang membahas sesuatu masalah secara sepintas dari sudut pandang pribadi penulisnya" sahut rio menjelas kan apa yg di tanyakan oleh sang guru. Semuasa temannya hanya diam yang mereka tau esai itu soal isi-isian yang biasa ada di Uts. Itulah salah satu  kelebihan Rio walaupun sebenarnya ia tak memperhatikan guru di hadapannya bahkan tak tau apa yg sedang ia jelaskan nmun rio mampu menjawab setiap pertanyaan yg di lontarkan untuknya.

"Oke, kali ini kamu selamat!" ucap sang guru lalu melanjutkan menulis di papan tulis. Ia pun tersenyum khusunya tersenyum ke arah sang kekasih. Itu juga salah satu yang di banggakan oleh sang kekasih Rio terlalu pintar dan tampan untuk ia lepaskan.
Setelah kejadian itu Rio mencoba untuk memperhatikan yang di jelaskan oleh sang guru dan mencoba melupakan pemikirannya sejenak. Ia akan cari jalan keluarnya, dan semoga ia mendapat jalan yang terbaik untuknya bahkan bukan hanya untuknya namun untuk semuanya.

***

"Lo keliatan beda"

"beda gimana? Tambah ganteng yah?" ujarnya sembari memperlihatkan deretan giginya yg bersih. Sang kekasih pun hanya membalas dengan cibiran.

"Lo kenapa?"

"kenapa apanya?"

"Pleas deh yo, lo ga usah bohongin gw! Gaada gunanya tau gak Lagi ada yang lo sembunyiin kan dari gw.

"Gaada" ucapnya santai

"Bohong!" ujar ify menatap rio dengan tatapan tajam.

"kalo iyah kenapa?"

"Tuh kan bener"

"Lo tau gak, kalo sebenernya gw itu punya penyakit" ujar rio memblas tatapan Ify.

"Ha? L..oo sa.. Kitt?" tanya ify terbata. Yg dibalas anggukan oleh rio. "Sakit apa?" tanya ify kembali dengan menggigit sedikit bibir bawahnya.

"Gw sakit... Sakit kalo jauh dari lo" seketika wajah rio yg datar berubah menjadi senyuman dan tertawa, sedangkan ify ia sudah dongkol dengan kekasihnya tersebut.

"iiiihhhhh Rio. Rese yah lo, gw udah serius2 juga" ucap ify sambil mencubiti pinggang rio.

"hhahaha lo tau ga fy, mimik muka lo tuh tadi lucu banget tau gak" ujar Rio tertawa.

"Bodo!! Gak lucu tau gak" ucap ify memasang wajah badmood.

"Bagi gw lucu"

"Rese tau gak"
Mereka tertawa, Bercanda, berguraw bahkan tanpa mereka sadari kebahagian itu mulai tampak di wajah mereka. Namun ada sesuatu yang tak mereka sadari bahkan mungkin hanya ify, waktu! Waktu mereka mulai berkurang.

***

Rio mulai berkutik dengan kertas-kertas yang berserakan di kasurnya. Pala nya mulai terasa pening. Penglihatannya mulai sedikit berkunang-kunang namun pekerjaan ini tak urung membuat nya sedikit waktu luang saja untuk beristirahat meninggalkannya. Perusahaan sang ayah yang tanpa di sengaja jatuh ketangannya kini membuat rio harus bekerja lebih ekstra dan bahkan harus meluangkan waktu istirahatnya untuk mengurus dokumen-dokumen itu pasalnya mau tak mau Itu semua telah menjadi tanggung jawabnya saat ini. Rio masih terduduk manis di atas kasurnya dengan tangan yang memegang beberapa kertas proposal. Ia harus membaca dokumen2 tersebut sebelum ia harus menandatanganinya.

"perasaan gw juga anak ayah deh" ucap seseorang yng tiba-tiba saja muncul di depan pintu sembari menyandarkan tubuhnya di penyangga pintu. Rio hanya diam sembari mengangkat sebelah alisnya.

Bersambung.....

Kira-kira gimana yah kelanjutannya, thanks yah udah mau baca. See u next time... Enjoy

Bunga terakhir

Alyssa Saufika Umari, seorang gadis yang mempunyai paras wajah cantik. Bukan hanya itu dia gadis yang baik, ramah, idaman semua para kaum adam. Aku sangat beruntung karna bisa mendapatkan hatinya, dapat memilikinya.

Dia gadis yang selalu ceria, dia yang membuat ku berubah delapan puluh derajat sekaligus, dia yang membuat ku ikut ceria karenanya, dia yang mengajarkan ku bagaimana berorganisasi. Dan dia orang yang membuat es itu mencair.

2tahun bukan lah sebentar, namun hubungan kami masih tetap abadi sampai saat ini. Aku sangat menyayanginya bahkan aku sangat mencintainya.

Dia sangat menyukai bunga, khusunya bunga mawar putih. Baginya mawar adalah bunga yang sangat istimewa dan mempunyai kharismatik tersendiri.

"Rio..."

"Apasih sih fy!"

"Iih kamu mah marah-marah mulu"

"Iya..iya apa..?"

"Aku mau bunga itu"

"Mawar?"

"Heem.. Mawar Putih"

"Buat apa? Aku gak suka bau bunga"

"Ga bau, malah wangi tau"

"Tapi aku gak suka"

"Rio..." ucap ify merengek.

"Engga"

"Ayolah... Beliin"

"Engga"

"Yaudah kalo gitu, Aku marah sama kamu"

"fy...?" sapa rio namun ify tak menjawab. Wajahnya seperti di tekuk-tekuk, kedua tangannya ia lipat di depan dada.

"Dih benaran marah!" ucap rio kembali.

"Bodo"

"Jelek ah kalo lagi marah"

"Biarin, yang penting kamu cinta aku"

"wwkwk" terdengar tawa rio.

"Nih buat kamu" ucap rio dengan memberikan sesuatu ke Ify. Senyum merona pun terpancar di bibir ify.

"Kapan kamu belinya?"

"Tanpa kamu minta aku udah beliin buat kamu"

"Trus tadi kenapa pura-pura ga mau beliin"

"Gapapa mau liat muka jelek kamu aja soalnya bosen ngeliat kamu cantik mulu"

"iihh rese...!"

Sepenggal kenangan yang selama ini masih ku ingat bersama mu tentang bunga kesukaanmu. Begitu manis dan tak mungkin akan aku lupakan.

Hari ini aku sudah siap untuk mengunjungi mu. Mawar putih yang ada di tangan ku siap ku berikan untuk mu. Aku pun sudah rapi dengan menyesuaikan warna baju ku seperti warna mawar yang di tangan ku ini. Tunggu aku.

Setelah semuanya rapi, aku pun segera berangkat menuju rumahnya. Di sepanjang perjalanan rasanya dada ini sesak namun aku harus bisa menahannya aku gak mau bersedih karenanya.

Setelah sampai aku pun segera turun dari mobil ku dan mulai memasuki perkarangan ini.

Aku tersenyum namun entahlah senyuman ini hambar seperti ada yang hilang.

"Hy fy,.. Apa kabar? Aku bawa sesuatu buat kamu, mawar putih kesukaan kamu" ucap Rio lalu menaruh bunga itu di tumpukan tanah ini lalu iya memegang batu nisan itu. Tertulis nama Alyssa Saufika Umari, tanggal lahir dan beserta... Tanggal wafat. Ini yang ku bilang sesak.

"Fy, aku kangen sama kamu, kamu lagi apa di sana? aku tak menyangka bahwa mawar putih itu adalah mawar terakhir yang ku berikan untuk mu fy, tapi Tenang lah fy, mawar putih yang ku berikan di malam itu tidak akan menjadi yang terakhir karna aku akan memberikan mu mawar putih lainnya walaupun kali ini berbeda.."

"Aku taruh di sini yah. Kamu baik-baik, aku tinggal dulu. Aku mencintai mu"

Ucap rio lalu beranjak menjauh ia tak bisa berlama-lama di pemakaman ify karna rasanya terlalu sesak nafas ini, aku gak mau ify melihat ini semua aku akan berjanji kalo aku akan bisa menjalani ini semua walaupun tanpa dia, biarlah dia bahagia disana.

Begitu kencang hembusan angin, terasa dingin sampai ke tulang rusuk, daun mulai bergugur. Angin menerpa wajah ku dengan lembut dan seperti ada yang berbisik ketelingaku, yang membuat ku tersenyum karenanya.

"Aku juga mencintai mu"

Lalu aku pun menengok ke belakang melihat makam ify terlihat seorang gadis cantik dengan gaun putihnya. Ify, dia sangat cantik dia tersenyum ke arah ku, senyuman termanis namun wajah nya pucat. Dan bayangan itu pun menghilang. Lalu aku pun pergi meninggalkan itu semua..

Selasa, 02 September 2014

Dont leave me 1 (ketika cinta pergi)


"aaaawwww" rintih Rio tubuhnya tak bisa diam, balik sana balik sini suara rintihan nya pun mampu membuat sang bunda khawatir mendengarnya namun beberapa menit kemudian semuanya telah seperti semula.

" Gimana dok, keadaan rio?" tanya Rio ke dokter yg berada di hadapannya dengan tampang sok gantengnya.

"saya salut Rio sama kamu, tapi jangan kamu anggap enteng, penyakit kamu ini berbahaya kamu juga harus kurangin aktifitas kamu supaya kamu bisa lebih banyak waktu istirahatnya."
Ujar sang dokter.

"istirahat dok? Salut ka rio mau istirahat, pecicilan gitu mau istirahat" ujar deva adik laki-lakinya yang berada di belakang rio sambil mencibir kakanya itu.

"eh kunyuk siapa yg pecicilan. Udah deh diem. ngalah ama orang ganteng." ucap rio menengok ke arah adiknya itu. Sedang kan deva hanya menjulurkan lidahnya ke arah kakanya tersebut.

"husst kalian ini. Berantem mulu. Malu tuh ama dokter" sahut sang bunda sedangkan sang dokter hanya menggeleng2 kan kepala sja melihat dua orang saudara ini ia tak heran atas sikap mereka berdua karna ia sudah mengenal kluarga rio sejak lama.

"Rio ini adalah kemo kedua kamu, saya harap kamu tetap semangat menjalaninya" ucap sang dokter.

"gimana mau semangat dok, sakit banget" ujar Rio sesekali merasakan ngilu di tubuhnya.

"emang sakit yah ka? Ah begaya luh, pas kemo pertama lo bilang gpp" ucap deva.

"mungkin karna yg pertama saya memberikan obat bius kepada Rio jadi dia tidak merasakan apa-apa." sahut dokter menjelaskan smuanya.

"tuh denger anak manis, mau tau dev rasanya gimana? Rasanya tuh kaya kelempar dari monas trus ke injek mobil pariwisata ampe tulang lo patah dan bergesekan ke tulang lo yang lain sampai mengeluarkan bunyi yg gak pengen lo denger." ujar Rio menjelaskan apa yg ia rasakan kepada adiknya itu

"Sakit yah ka," sahut Deva dengan mimik wajah yang ngeri.

"Kaga! Pake nanya" sahut Rio geram.

"oh yah Rio saya udah menjelaskan sebelumnya di pertemuan kemo pertama efek samping dri penggunaan kemo ini sendiri lumayan akan membuat kamu drop, tapi semoga kamu akan bisa menerima dan menjalani ini semua"

"oh yah dok apa tentang rambut yg akan menipis di karenakan rontok itu apa benar?" tanya sang adik.

"yah itu benar, seiring jalannya waktu. Kemoterapi dapat membuat rambut di kepala kita rontok sedikit demi sedikit" penjelasan sang dokter.

"tenang aja dev, kaka lo ini bakal tetep ganteng ko. Dan jangan harap lo bisa nyaingin ke gantengan gw okeh " ucap Rio menyombongkan diri.

"Pd bnget sih lo ka, lo ama gw juga gantengan gw " balas deva. " gw juga yakin ka ify bakal bilang hal yg sama kaya gw, kalo gw lebih ganteng dri pada lo karna kan biasanya anak pertama itu percobaan jadi yah gimana gitu." sambungnya dengan gaya sok2an di dpan kakanya sedangkan Rio hanya memasang wajh mencekam ke arah deva.

Setelah bebrapa lama berdebat dan mendengarkan cermah sang dokter, dan bunda yg menanya2 kan hal2 mengenai apa yg harus di lakukan slma kemo ini berlngsung dan mencoba menjadi suster yg baik untk Rio

***
"hhuuueeekkk, wllleee."

"devvaaaaaaa buruan mana minyak anginnya" teriak sang bunda yang sibuk memegang tengkuk anak pertamanya semenjak pulang dri rumah sakit tadi pagi Rio sulit untuk makan seketika nafsu makannya hilang dan sering muntah2, bunda pun mulai khawatir, tak lama deva yang membawa minyak angin pun datang menghampiri sang bunda dn kakanya. perasaannya tak kalah khawatir dari bunda.

"nih nih nih bunda" ucap deva memberi minyak angin yg di bwanya.

"gimana Rio, udah enakan?" tanya sang bunda.

"Lumayn bun, tapi perut Rio masih mual" ucap Rio lemas, deva pun mulai memopong kakanya itu menuju tempat tidur

"apa ini salah satu efek samping dri kemo itu?" tanya bunda

"yg deva baca sih katanya setelah kemo emang ga bisa masuk makanan bun" jawab deva sambil membringkan kakanya di kasur.

"Yaudah Rio kamu istirahat aja dlu" ucap sang bunda sambil menyelimuti Rio dan tak lama Rio pun tertidur. Bunda pun segera keluar namun tidak dengan deva, ia masih berada di sisi pinggir tempat tidur sang kaka ia menatap wajah sang kaka wajah yg begtu terlihat tenang seperti tak ada masalah ataupun beban sedikitpun ada rasa takut yg terbesit di pikiran deva ia takut, takut akan suatu hari kehilangan sang kaka seperti ia kehilangan sang ayah. Sosk Rio yg mampu menghilangkan rasa rindu nya kpda sang ayah, sosk rio yg selalu tegar dan sosok kaka yg selalu ia bangga kan. Ia tak ingin kakanya pergi meninggLkan ia dan bunda.

***

"Fy, Rio kemana?" tanya iel yg tiba2 muncul di hadapan ify.

"gw juga ga tau iel, gak ada
kabar gw telfonin dari tdi ga di angkat2." jawab ify dengan tampang frustasi masalahnya ia sudah menghubungi kekasihnya itu berpuluh2 kali tapi tetap saja tak ada respon sama sekali.

"kemana yah tuh anak, gak biasanya alpa" ucap iel begaya menerawang.

"gw denger juga katanya si deva juga ga masuk" sambun iel, reflek ify pun menengok ke arah iel.

"gak biasanya tuh adik kaka ga masuk barengan. Apa mungkin ada urusan keluarga yah?" fikir iel.

"gw juga udah nyoba ngubungin deva tapi sama gak di angkat2" balas ify.

"gimana sama acha mugkin aja dia tau deva sama rio kmna " tanya iel.

"oh iyah iyah kenapa gak ke fikiran acha siapa tau acha tau kenapa rio sama deva gak masuk. Bentar2 " ify pun segera mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak acha.

"hallo cha" ucap ify saat sang lawan bicara telah tersambung.

"kamu tau ga si deva sama rio kemana?, ko rio ga masuk yah?" tanya ify.

"oh gitu yah, yaudah deh makasih yah cha, bye" blas ify dan mematikan panggilannya.

"gimana fy," tanya iel yg penasaran.

"sama aja iel, acha juga gak tau, si deva blom ngasih kabar ke dia" ucap ify ada nada yg pasrah yg ia ucapkan. Iel juga hnya bisa diem.
' yo, kamu kemana sih ' batin ify.

***

Deva pun membaringkan tubuhnya di kasur kesayangannya pandangannya lurus ke langit2 dinding kamarnya. Seketika bayangan sang kekasih muncul oh iyah dia lupa untuk memberi kabar ke acha kalo hari ini ia tak bisa masuk sekolah iyah segera mengambil ponselnya yg berada di atas meja

Dia hanya bisa diam melihat layar ponselnya yang kini di penuhi beberapa missedcall dan beberapa massage. Ia pun segera mencari tau siapa yg menelponnya dan ternyata dia tak begtu kaget setelah mengetahui siapa yg menelponnya. Sang kekasih dan kaka ipar, satu lagi ka iel. Mungkin mereka ingin menanyakan kenapa ia dan sang kaka gak masuk.

"Hallo.." ucap deva saat sanglawan bicara telah mengangkat teleponnya.

"maaf yah aku baru ngasih kabar sama kamu.. Soalnya tadi aku buru2 ada urusan mendadak sama bunda dan ka rio" ucap Deva dengan lembut dan ia hanya tersenyum saat ia mendengar oceh2an acha menurutnya hal itu lah yg mampu membuat ia tersenyum saat ini sayangnya ia tak bisa melihat secara langsung ekspresi kekasihnya itu pasti menggemaskan.

"iyah iyah aku minta maaf, yaudah yah aku mau istirahat dulu. Nite beib, mimpiin aku yah. Besok pagi aku jemput love u" ujar deva lalu mematikan ponselnya dan menaruh di atas kasur. Ia baringkan kembali tubuhnya seperti semula.

Lagi lagi rasa itu muncul. Ia segera beranjak dan menuju balkon kamarnya, udara malem ini sangat dingin seraya menembus tulang2 rusuknya. Ia duduk di amben sembari mengangkat kedua lututnya lalu ia bukamkan wajahnya terdengar isakan tangis ia tak peduli dengan status nya saat ini yg penting ia hanya ingin menangis saat ini juga. Ia takut, takut akan semua pemikirannya menjadi kenyataan.

"Kenapa Bro?" ucap seorang lelaki sambil mengusap kepala deva, setelah deva sadar ia pun segera mengangkat wajahnya dan mengapus air matanya.

"Gw takut, gw takut kalo lo nantinya bakl kaya ayah" ucap deva.

"Lo apa2an sih! Gw masih disini. Lo tenang aja gw bakal sembuh! Dan gw bakal jaga bunda sama lo. Santai aja kali. Ini blom seberapa" ucap Rio tenang tak peduli tatapan deva kini yg mulai geram.

"mau ampe kapan sih ka lo bersikap gini terus, selalu meremehkan penyakit lo itu. Lo tau kan ayah pergi karna penyakit sialan itu.lo bisa tenang lo bisa santai seolah ga terjadi apa2 tapi gw?.. Gw gabisa ka, kaya lo yg pura2tegar di depan gw sama bunda pdhal lo menyimpen rasa sakitkan. Keluarin ka keluarin di depan gw" ucap deva sesekali menggunakan nada  tinggi. Sedangkan rio hanya diam menatap lurus ke luar balkon.

"keluarin? Di depan lo? Lo tau kenapa gw ga ngeluarin itu semua di depan lo dan bunda? Karna gw ga mau kalian ngerasain apa yg gw rasain dev, cukup gw. Gak lo gak juga bunda" balas rio dengan nada tak kalah tinggi namun nada suaranya seketika melemah saat kalimat terakhir terucap di depan hadapan deva.

"gw cuma takut kehilangan lo ka" ucap deva dengan nada frustasi.

"gw akan berusaha ngejagain lo sama bunda sebisa gw dan gw bakal menyingkirkan penyakit ini dari tubuh gw" balas rio sambil memeluk sang adik.

' bukan cuma lo dev, jujur gw juga takut dengan apa yg sedang gw alamin sekarang dan gw gayakin apa gw masih bisa sembuh buat ngejagain lo dan bunda dengan waktu yg lama ' batin Rio


bersambung......

lanjutannya nanti aja yah... makasih udah mau baca :)

Jumat, 22 Agustus 2014

Ayah, ku merindukan mu...

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayang ku untuknya ku trus berjanji takan khianati pintanya..
Ayah dengarlah bertapa sesungguhnya ku mencintai mu kan ku buktikan ku mampu penuhi mau mu...

Senandung lagu dari gitaguta feat ada band ini membuat ku teringat akan ayah tersayang. Aku sangat dekat dengannya dia adalah malaikat di dalam hidup ku, dia adalah contoh dan seorang ayah yang sangat ku kagumi sosoknya. Tak kenal lelah, baginya mencari nafkah adalah tugasnya. Seberat apapun itu pekerjaannya, tak mengenal waktu, maupun panasnya terikmatahari. Berangkat senja hingga pulang larut malam hanya untuk menghidupi keluarga kecilnya. Ya Allah maafkan ayah hamba karna ia kadang meninggalkan perintahmu hanya untuk mencari uang untuk membiayai sekolah hamba, ampunilah dia.

Aku sangaaaaaatttt sekali menyayanginya karna aku lebih dekat dengan ayah ku, berbeda dengan kaka ku dia lebih dekat dengan ibu. Setiap aku berangkat sekolah ayah selalu mengantarku dan terkadang jika memang ada waktu ia selalu menjemput ku.

Jika besar nanti aku mau mencari pasangan hidup seperti ayah, yang sangat menyayangi keluarganya, bertanggung jawab dan bisa menjadi contoh untuk anak-anaknya.

Hari ini tepat 100 hari ayah meninggalkan ku, kaka dan ibu. Tepat nanti malam kejadian itu terjadi saat ayah mengalami kecelakaan di jalan. Hhhfffftttt..... Begitu sesak rasanya bila mengingat kejadian itu, aku juga tak percaya bila aku bisa menjalani ini semua sampai hari ini. Rasanya begitu cepat ayah pergi meninggalkan kami, aku baru SMA bentar lagi aku lulus tapi ayah malah meninggalkan ku, kaka juga sedang hamil, yah... Apa ayah gak mau ilat aku lulus, apa ayah gak mau liat kaka lahiran, apa ayah gak mau liat cucu pertama ayah. Kenapa ayah meninggalkan aku... Aku sangat kehilangan ayah..

"Ayah jahat..."

"Ayah gak sayang sama aku"

"Ayah kenapa ninggalin aku.."

"Ayah, aku mohon bangun yah.. Bangun.."

"Aku mohon yah... Pleasee bangun.. Aku mohon..."

"Gimana aku gak mau nangis, aku gak punya ayah lagi..."

"Yah...."

"Ayah.... Aku mohon...."

Seperti itu, kalimat demi kalimat aku tuturkan, sekuat apapun aku memohon agar ayah bangun sekuat itu juga ayah taakan pernah bangun. Sekarang gaada lagi yang anter sekolah aku, gaada lagi yang bercanda sama aku, gaada lagi yang bawa baso saat ia pulang. Dan yang terpenting gaada lagi sosok ayah di sini, di rumah ini...

Masih jelas di memori ku yah, semuanya... Semuanya yang pernah kita kerjakan bersama-sama aku merindukan mu yah, aku merindukan sosok dirimu di rumah ini. Ayah... Aku merindukan mu...

Tuhan aku titip salam untuknya, jaga dia, taruh dia di tempat yang terindah. Bilang padanya aku, kaka dan ibu baik-baik saja. Aku akan menjaga ibu dan tolong beritahu kepadanya aku akan berjanji untuk menepati pintanya :) aku akan banggain ayah disana aku percaya ayah selalu menjaga ku di tempat istimewahnya.

Teringat masa kecilku kau peluk dan kau manja indahnya saat itu buat ku melambung disisi mu terngiang hangat nafas serta harum tubuhmu kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapan mu

Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagi mu patuhi perintah mu jauhkan godaan yang mungkin ku lakukan dalam waktu ku beranjak dewasa jangan sampai membuat mu terbelengguh jatuh dan terinjak

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayang ku untuknya ku trus berjanji takan khianati pintanya ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintai mu kan ku buktikan ku mampu penuhi mau mu

Andaikan detik itu kan bergulir kembali ku rindukan suasana basuh jiwa ku membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayang mu tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati

Tuhan tologlah sampaikan sejuta sayang ku untuknya ku trus berjanji takan khianati pintanya ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu kan ku buktikan ku mampu penuhi mau mu

Jumat, 15 Agustus 2014

Lihat lah, Aku disini !!

Aku hanya mampu melihat mu dari jauh, menatap setiap lekuk wajahmu berharap apa yang ku lihat dapat ku ingat dalam waktu yang lama...
Ketika hati ingin memilikinya aku pun menolaknya, karna aku tau tak akan mungkin sang gunung memiliki langit yang begitu luasnya..
Sadarkah kau jika ada seseorang  yang selalu memperhatikan mu.. Berharap engkau pun membelasnya walau hanya sedetik saja tak masalah bagi ku.
Sempurna, itu kah panggilan yang pas untuk mu?
Tau kah kau saat aku menulis kan ini semua, selalu terbayang lekuk wajah mu di bayangan ku, tawa mu, senyum mu, semuanya. Tapi aku tau itu semua tak akan ku dapatkan dan tersimpan di ingatan ku dalam waktu yang lama. Hingga semuanya hilang, pergi meninggalkan semuanya...
2tahun waktu yang kupunya untuk menikmati wajah tampan mu sebelum semuanya benar-benar berakhir pergi dengan sendirinya. Bukan hal yang menyenangkan memperhatikan seseorang tanpa orang tersebut mengetahuinya, memang sungguh sangat tak sopan memperhatikan orang dengan terus menerus di setiap harinya. Namun ada kemenarikan tersendiri yang ku dapatkan.. Tak masalah bagi ku sampai kapan kau tak mengetahui ini semua tapi percayalah aku masih di tempat yang sama jika kau mencari ku, atau ingin menanyakan sesuatu hal kepada ku. Aku akan mengenang mu, disini...

Salam

Secret admirer

Saat Kehilangan "Last"

Gimana gw mau nembak dia kalo dia aja maafin gwnya mau-mau enggak-enggak. Gak kerasa tau-tau udah hari ke 6 aja gw  disini kayanya baru aja kemarin gw nyampe, baru aja kemarin istirahat ngelurusin otot-otot tapi tau-tau besok harus balik lagi ke jakarta. Itu sebabnya gw mau nyoba nembak dia disini, dimalam terakhir ini, sebelum semuanya hilang.

Di Malam terakhir ini kita ngadain acara api unggun niatnya sih gw mau gede-gedean acara nembak ke dianya cuman ini kan gw pertama kali jadi berdua aja cukup deh.

"Yas tunggu bentar" ucap gw memegang lengannya saat semua orang telah masuk ke dalam ruangan.

"Ada apa Fan?" tanyanya gw sengaja ngajak dia duduk lagi di depan api unggun yah berharap semoga dia gak kedinginan karna kelamaan gw nyusun kata-katanya.

"Gw mau ngomong sesuatu sama lo yas" ucap gw, gw tau saat ini dia pasti lagi merhatiin gw itu sebabnya gw sengaja memandang lurus kedepan

"Apa? Lo ngerasa risih lagi?" tanya nya to the poin.

"Bukan gitu, sorry atas perkataan yang pernah gw ucap ke lo, gw gatau kenapa saat lo jauh dari gw dan gak ada lagi ceng-cengan gw ngerasa ada yang hilang. Gw... Gw suka sama lo yas" ucap gw kali ini gw berani natap matanya dan dia hanya membalas dengan tatapan datar, entahlah apa yang ada di fikarannya saat ini tapi yang pasti jantung gw deg, degan banget.

"Makasih. Gw hargain perasaan lo ke gw Fan, tapi gw gabisa. Jujur gw emang suka sama lo tepatnya pernah suka sama lo. Tapi semuanya udah hilang, gw harap lo ngerti!" ucapnya, tak ada kemarahan. Pelan tapi sakit banget. Ini adalah pertama kalinya gw nembak cewe dan dia nolak gw dengan menggunakan kalimat yang pernah gw ucapin ke dia. Dan lagi-lagi dia pergi meninggalkan gw sendirian. Gw bodoh... Gw emang bodoh gak seharusnya waktu itu gw ngucapin klimat itu ke yase.

Sorry...

***

Gw gatau apa yang udah terjadi sama lo, metamorfosis dan fotosintesis lo terlalu cepat di pandangan gw. Gw kaget saat lo narik tangan gw. Masih teringat jelas ucapan yang lo ucapin ke gw malem itu membuat gw kehilangan adrenalin gw sendiri. Gw ngerasa terpojokan sama lo. Susah payah buat gw ngelupain lo khususnya ngelupain semua perasaan gw ke lo dan gw kaget begitu sangat kaget dengan apa yang lo ucapkan ke gw

"Makasih. Gw hargain perasaan lo ke gw Fan. Tapi gw gabisa. Jujur gw emang suka sama lo tepatnya pernah suka sama lo. Tapi semuanya udah hilang, gw harap lo ngerti!" cuma itu yah cuma itu yang mampu gw ucapkan di depan lo, sorry mungkin gw membuat hati lo sakit tapi bukan maksud gw bales dendam atau apapun itu ke lo, gw cuma mengikuti apa yang pernah lo ucapkan ke gw. Gw pernah bertahan buat lo, gw pernah menunggu buat lo tapi apa? Lo malah nyuruh gw buat melupakan lo dan berhenti berharap banyak ke lo, jadi sorry cuma itu yang bisa gw lakuin.

***

Dear Fano..

Muhammad Dafano Putra Irwansyah, atau biasa di panggil Fano dia lelaki yang gw kagumi. Dia bisa melakukan hal yang gw sendiri gak bisa melakukannya. Dia lelaki yang pintar bila mau di asah, dia terlihat berbeda dengan orang lain saat sedang memegang kamera itu.

Fan... Sorry atas semuanya, sorry gw nolak lo. Bukannya gw egois atau apapun itu gw cuma mau menjadi cewe yang konsekuen dengan apa yang pernah gw ucapkan. Setelah lo mengucapkan kalimat itu ke gw, gw pun memutuskan untuk memberhentikan semuanya temasuk perasaan gw ke lo. Ini bukan hal karma atau sebagainya. Gw pernah menunggu buat lo, gw pernah suka sama lo, gw pernah kagum sama lo, gw pernah berharap sama lo, tapi lo nyuruh gw buat berhenti berharap, berhenti menunggu, berhenti menyukai lo, dan gw tau kalo lo ilfil sama gw. Sorry. Tapi lo tenang aja gw akan masih tetap mengagumi lo.

Gak ada yang tau kapan cinta itu akan datang Fan, tanpa kita sadari sifat kita dan kelakuan yang kita lakukan tanpa sengaja telah melukai cinta kita itu. Lo harus belajar dari ini semua Fan, memang ada kesempatan kedua tapi buat apa kalo kesempatan pertama lo sia-siain gitu aja. Makasih Fan gw cuma bisa bilang Makasih karna lo bisa menyukai gw, walaupun kita ga bisa bareng setidaknya perasaan gw ga bertepuk sebelah tangan walaupun itu semua telat kita sadari khusunya lo sadari, iya kan.

Jangan melakukan hal yang sama, kepada orang yang lu cintai setelah ini, cukup ke gw yah.

Dari orang yang pernah mencintaimu...

Yase

Begitulah surat yang gw terima tadi setelah sampai di jakarta, dia memberikan surat ke gw dengan senyuman yang nantinya bakal gw kangenin. Gw kecewa, kecewa ke diri gw sendiri kenapa gw bisa ngelepasin lo gitu aja. Ngelepasin perasaan suka yang tulus dari hati lo, ngelepasin orang yang mempunyai hati baik kaya lo. Gw yang salah memang dari awal gw yang salah..

Semoga lo dapet lelaki yang lebih baik dari gw, yang lebih bisa ngehargain perasaan lo. Sorry yas...

Dan mulai saat ini gw kehilangan lo....

Saat kehilangan -1

Kagum, Lalu menyukai, Mencintai dan akhirnya... Puzzle-puzzle itu berurutan menjadi satu kesatuan yang utuh hingga akhirnya menjadi sebuah kisah yang harus kita jalani.

Awal dari kekaguman gw yang berujung dengan kekecewaan menjadi bukti kalau cinta memang membuat kita menjadi dilema. Dilema apa yang nantinya kita akan menjadi seseorang yang bodoh di muka bumi ini.

Setelah kejadian itu gw berusaha menjaga jarak dengannya tak ada lagi kalimat dan kata 'Cie' yang keluar dari mulut gw, terkadang gw lebih sering melamun dan lebih nyaman menyendiri. Seharusnya gw senang-senang sekarang setelah apa yang udah gw lewati kemarin-kemarin . Ujian udah gw lewatin, Nem juga udah keluar, Tes pun udah selesai. Sengaja kita jalan-jalan seperti ini saat semuanya telah usai karna apa? Karna kita dapat bersenang-senang tanpa perlu memikirkan beban karna kita disini ingin bersenang-senang bersama. Tapi apa... Gw saat ini malah..

Gw akui sulit, sangat sulit membuang perasaan itu. Gak mudah sangat ga mudah apa lagi peran utamanya berada di sekitar gw. Mana mungkin kita, khususnya gw dengan mudah buang perasaan gw salama ini dengan cuma bilang. 'Oke gw jauhin lo!' listen,! It's Not easy guys. Gw perjelas yah. Not easy!!!.

Melihat Lo dengan kamera itu membuat gw tersenyum. Tersenyum dan kembali bertanya kepada diri gw sendiri. Bisa gak gw dapetin lo? Yang padahal jelas-jelas gw sendiri udah tau jawabannya apa.

Oke akan gw coba...

***

Nama gw Muhammad Dafano Putra Irwansyah, gw biasa di sapa ama teman-teman gw Fano, Gw suka permainan futsal, gw juga suka basket. Pokoknya yang berbaur dengan sport gw suka. Soal memotret-motret gw diajarin sama bokap, kebetulan bokap gw hobi banget dalam sesi pemotretan jadi gw kebawa dalam DNA nya. Hasilnya sih yah gak jelek-jelek amat temen-temen gw banyak yang muji hasil pemotretan gw dan mereka bilang bagus ko.

Gw blom pernah pacaran. Bukan berarti gw ga suka sama cewe, gw cuma belum mau berfikir yang terlalu berat kalo gw punya pacar. Gw masih mau menikmati kebebasan gw dan gw ga suka di atur-atur. Hidup gw freedom tapi ada batasnya dimana ada suatu hal yang harus gw jaga jarak-in. kriminalitas? NO apalagi Drugs, jauh-jauh deh dari gw.

Oh yah ada satu cewe, gw juga gatau dia kenapa, kayanya tuh centil banget gitu sama gw. Sebagai cowo penyandang gelar  kalem gw sih ga terlalu suka sama cewe kaya dia. Coba guys lo bayangin aja dia centil sama gw otomatis anak-anak sekelas pada ngecengin gw sama dia tapi yang gw bingungin nih yah dia juga ikutan ngecengin dan ikutan bilang 'Ciee' juga, kan aneh gajelas banget tuh cewe, orang mah ngelak ke, apa ke ini malah seneng. Tapi yah gatau kenapa ada yang beda aja di dalam diri tuh cewe, sepenglihatan gw kayanya dia cewe yang baik, dia juga sedikit pinter, dia juga bisa jadi contoh dan panutan buat anak-anak yang lain kalo masalah tugas-tugas yang numpuk cuman satu yang ga ketulungan, dia cewe yang bawel. Tapi punya karismatik tersendiri.

Emang sih terkadang gw suka ilfil sama dia, dan ilfil itu yang kadang buat gw jadi males tegur-teguran sama dia gak kaya temen-temen yang lain. Dan sangking gw ngerasa ilfill nya gw nyuruh dia buat jauh-jauh sama gw biar temen-temen yang lain gak ngecengin gw lagi sama dia dan akhirnya dia pun langsung mengerjakan semua itu. Tapi ada yang beda gak tau kenapa gw ngerasa ada yang ilang.

"woy Yas, diem aja lo. Kenapa? Sakit uajan-ujanan kemarin?" ucap Desy menghampiri Yase yang berada di bawah pohon rindang. Sedangkan gw hanya memperhatikan mereka dari jarak yang tak terlalu jauh. Ada rasa penasaran juga sih gak biasanya tuh anak diam aje biasanya kan paling bawel.

"gak ko Des, gw cuma sedikit flu aja" ucap Yase.

Dan entahlah apa lagi yang mereka bicarakan yang gw denger mereka hanya tertawa dan tertawa. Gw pun kembali memfokuskan diri dengan kamera yang gw bawa.

Awalnya gw mau motret kebun teh itu, tapi entah mengapa lensa gw tertuju ke dia dan tangan gw dengan reflek memencet tombol itu, blitz pun terpancar setelah gw yakin gambar itu telah gw ambil gw pun melihatnya di kamera gw, tapi bukannya dia tadi lagi sama Desy, gw pun mencari sosok Desy dan ternyata dia lagi ama Nino. Gw pun kembali ke kamera gw dan duduk diatas rumput-rumput liar yang sedikit basah. Entah kenapa gw pun tersenyum melihat foto yang gw ambil, Natural sekali.

"Woyy!!!"

"Apaan sih lo, bikin kaget aja." ucap gw langsung membidik kembali kamera yang gw bawa, semoga aja dia gak liat foto yang tadi.

"Heheh sendirian aja luh!" ucap Reno yang tiba-tiba saja datang dan duduk di sebalah gw.

"Ada apaan?" tanya gw kearahnya.

"Gaada apa-apa sih, Fan menurut lo cinta itu apa?" tanya Rano yang tiba-tiba saja bertanya soal cinta ke gw padahal dia tau gw sama dia pinteran dia dalam hal percintaan

"Ribet!" ucap gw simple.

"Yaelah, gini nih kalo ngomong sama orang yang ga ngerti soal cinta" ucapnya melongos.

"Ya lagi udah tau pake nanya ke gw" ucap gw.

"Gw baru aja patah hati nih man, rasanya tuh hampa banget. Gabiasa-biasanya, kayanya tuh ngerasa ada yang ilang, yah mungkin karna gw udah biasa sehari-hari deket sama dia kali yah. Emang sih gw yang salah, gw yang mutusin dia tapi kan ini juga demi kebaikan bersama." ucap Reno. Tiba-tiba gw diam seolah semuanya berhenti.  Gw juga ngalamin hal yang sama seperti Reno, gw ngerasa ada yang hilang di hari-hari gw tapi gw gatau itu apa.

"Ini nih bro yang namanya cinta, kita gatau datengnya kapan tapi tanpa kita sadari dia udah ada di sekitar kita menunggu kita untuk mengakuinya" ucap Reno dan gw masih diam tak bergeming.
"Udah ah gw mau ke goldi ajah!"
"Cinta tuh namanya, awas entar nyesel" ucapnya kembali sambil menepuk pundak gw dan pergi meninggalakn gw dalam diam, otak gw bekerja dengan keras bernegosiasi dengan hati gw beradu pendapat yang saling tak singkron satu sama lain. Apa maksudnya!.

***

Udah 3 hari gw berada di sini, masih ada sisa waktu 4 hari untuk menikmati udara yang segar tanpa adanya polusi udara. Setelah kejadian 2hari yang lalu gw mulai mengakui ke diri gw sendiri bahwa ada yang berbeda dengan hidup gw saat ini. Gw mulai merasakan kehadiran dia di sekitar gw.

"No?" panggil gw.

"Apaan?" tanyanya.

"Kayanya gw jatuh cinta deh" ucap gw dan mem-pelankan nada suara gw untuk kalimat yang terakhir.

"Udah gw tebak!" ucap dia. Gw hanya melongos.

"trus gw harus apa?" tanya gw kaya orang bego yang gatau apa-apa.

"Tembak lah, jangan buat diri lo nyesel sendiri entarnya. Keburu di embat orang luh" ujarnya kembali.

"Tapi kayanya gw harus minta maaf dulu deh," sahut gw. Dan saat itu juga gw pun menceritakan kejadian malam itu.

"Wah, awas tuh nyesel entar, yaudah yah good Lck man" ujarnya dan pergi meninggalkan gw.

Tak lama gw pun melihat yase dan dia sepertinya lagi sendirian gw pun segera menghampirinya.

"Yas," sapa gw.

"Ada apa?" ucapnya datar

"Gw mau minta maaf sama lo"

"Soal?" tanyanya kembali.

"Soal malem itu, gak seharusnya gw ngomong gitu ke lo"

"Selo aja kali Fan, lagian gw juga maklumin ko," ujar yase dan dia pun pergi dengan begitu aja meninggalkan gw, kayanya suasananya kurang tepat nih.

***

Rasanya pertama kali ngerasain jatuh cinta tuh gaenak banget, galau dimana-mana padahal gw udah pernah yang namanya suka sama orang tapi tuh rasanya gak gini-gini juga. Gw ngerasa bersalah banget sama dia...

Bersambung...

Rabu, 13 Agustus 2014

Saat Kehilangan

Ketika suatu masa membuat mu terluka.. Ketika masa membuat mu tersakiti karna dia orng yang kau cintai menjauhi mu... Dan saat itu kau merasa asa telah menghujatmu. Dapatkah kita menghakiminya.

"Yase sama siapa?" tanya perempuan yang baru saja keluar dari mobil pariwisata

"Nanti Dia ama Fano, naik motor. lagi kan udah gaada tempat lagi" ucap lelaki yang sibuk dengan buku yang bertulisan nama2 temannya.

"serius?, cieeeee" ucap yang lain.

"apaan sih, gajelas lu pada" ucap yase yang baru saja tiba dengan jaket yang ia bawa di tangannya dan ransel yg terpakai cantik di punggung belakangnya.

Semua motor sudah tertata rapi cuman motor Fano dan sang empu yang belum tiba di tempat, semua sudah mulai sibuk mencarinya. Tak lama dia pun datang dengan mengendarai motor ninjanya. Tumbenan biasanya dia bawanya motor metik.

"Anak2 mana?" tanyanya sambil  membuka helm. Dia terlihat... Dengan celana jeans dan jaket drysurt yang biasa ia pakai.

"Mobil udah berangkat tinggal kita doang. Nungguin lo nih" ucap reno

"Maaf"

"Ko lu bawa motor ginian sih. Gw kan gabisa bawanya" ucap Yase masalahnya semua dengan pasangan yang bisa di ajak gantian mengendarai motor ini kan jarak jauh pasti cape bnget kalo ga ganti-gantian.

"Gausah gw aja yang bawa" ucapnya. Semua sudah menaiki motornya masing-masing sedangkan Yase hanya diam dia bingung masalahnya si fano bawa tas caril dia mau naik gimana. Tiba-tiba dia membuka tasnya.

"Mana tas lo? Sini masukin aja ke tas gw! Jadiin satu!" ucapnya. Gw pun memberikan tas gw ke dia dan memasukannya ke dalam tas carilnya dia. Setelah itu gw pun langsung naik ke motornya. Sedangkan tas carilnya gw yang menggendongnya.

Entah kenapa jantung gw ga berfungsi seperti biasanya, lebih cepat bekerja. Deg deg gan banget... Dia.. Dia lelaki yang selama ini gw kagumin dan gw ga nyangka kalo sekarang, Saat ini gw lagi sama dia dalam jarak yg deket. Di belakangnya. Tanpa gw sadari gw tersemyum di balik kaca helm yg gw pakai.

Muhammad Dafano Putra Irwansyah. Biasa di sapa Fano ini adalah orang yang gw kagumi, karna kelebihannya yang gak gw bisa lakuin. Dia lelaki yang pintar bila ia mau selalu di asah. Namun ada rasa yang gw takuti, gw takut rasa kagum itu berubah menjadi sesuatu hal yang tanpa gw sadari telah menjulur ke kehidupan gw.

Tiba-tiba...
Gaada yg bisa menebak cuaca selain BMKG kayanya tadi pas mau berangkat cerah-cerah aja deh kenapa sekarang hujan deras gini.
Tiba-tiba motor Fano meminggir dari kerumunan entahlah dia mau ngapain, apa mau neduh? Tapi nanti ketinggalan rombongan yang lain.

"Kita mau ngapain?" tanya gw. Gw pun turun dari motornya ketika dia telah memberhentikan motornya.

"Nih pake " dia pun menyodorkan sebuah jas ujan berwarna biru ke arah gw. Gw pun memakainya. Tanpa bertanya lagian sepertinya hujan tambah deras gak mau ngambil resiko juga.

"Celananya gausah deh udah kepalang basah!" ucap gw sembari memakai baju jas ujan itu. "Lo?" tanya gw saat dia menutup kembali jok motornya tanpa memakai apa yang sedang gw pakai.

"Gausah jaket gw drysrut ko" ucapnya dan menaruh jaket gw ke jok nya katanya sih biar aga keringan soalnya kan joknya panas. Dia juga memasangkan jas ujan ke tas caril nya.

Dan kita pun mulai melanjutkan perjalanan. Hujan yg deras membuat jalanan yg licin dan harus ekstra hati-hati bila tak mau tergelincir.

"Pelan-pelan aja woy ngendarainnya. Bawa anak orang tuh!" ucap Reno dari sebrang yg di bonceng oleh Nino. Fano hanya menongok ke arah reno begitupun dengan gw.

"kita istirahat bentar di depan. Berhenti di depan spanduk gede itu!" ucap Reno kembali. Dan Fano pun mengecangkan laju motornya mungkin biar cepat sampai ke tempat deket logo tersebut.

Setelah sampai di tempat warung yang sedikit besar tempatnya. kami pun langsung meneduh. Sudah lumayan banyak yg sampai di tempat ini mungkin gw sama Fano yang terakhir sampai. Gw membuka jas ujan Fano dan menaruhnya di motornya. Gw pun mengambil teh anget yg lebih dulu telah di pesan oleh nino. Gw mengambil dua gelas satu untuk gw satunya sengaja gw ambil untuk Fano.

"Nih" ucap gw sambil menyodorkan ke arahnya. Dia hanya diam tak bergeming namun mengambil gelas yg gw sodorkan.

"Cieee yase... Perhatian" ucap yg lain.

"Apaan sih. Gaje deh" sahut gw dan pergi menjauh suasana yang dingin membuat gw gak bisa berkutik seperti biasanya. Kaos lengan pendek yang gw pakai sedikit basah karna terkena hujan sebelum gw memakai jas ujan Fano, sedangkan celana jeans gw udah gausah di tanya lagi kaya kucing kecebur basah banget, sepatu yang gw pakai juga basah banget.

"Nih!" ucap seseorang menyodorkan sebuah jaket ke arah gw.

"Lo, nya?" tanya gw

"Kayanya lo lebih butuh" ucap dia, dan gw pun mengambil jaketnya dari pada kedinginan lagian juga jaket gw masih basah jadi yaudah gw nerima jaket yang dia kasih. "Thanks yah Fan" dia pun mengangguk tanpa mengucapkan sesuatu dan pergi meninggalkan gw.

"Ciee... Jaketnya Fano tuh kayanya, ciie jadi anget tuh. Serasa di peluk sama yang punyanya. Ciiee..." ucap Nino yang tiba-tiba saja berada di samping gw, ingin rasanya gw tersenyum mendengar ucapan Nino tapi gak boleh itu semua gak boleh terjadi.

"apaan sih lo No, rese luh. Sono-sono ah" balas gw sambil mendorong-dorong pundaknya menyuruhnya untuk pergi menjauhi gw. Dan akhirnya dia pun pergi menghampiri Fano dan sepertinya dia juga mengeceng-ngecengkan Fano karna setelah itu Fano menengok ke arah gw dengan tatapan datar. Gw hanya bisa diam.

Hari pun mulai larut yang lain memutuskan untuk memejamkan mata sejenak sebelum kembali mengarungi jalan raya yang sepertinya akan banyak genangan air dan jalanan yang licin.

Semua sudah terlelap. Gw pun sedikit terlelap namun ada yang menoel lengan gw. Gw tarik jaket gw yang menutupi wajah gw terlihat sosok fano di samping gw.

"Ikut gw yuk bentar!" ucapnya menarik tangan gw.

"Kemana?"

"Ikut aja. Bentar" ucapnya gw pun mengikutinya dari belakang.

Duduk di sebuah bangku yg di sediakan sang warung. Hujan pun masih mengguyur jalanan dengan aroma yang khas, suasana yang dingin menjulur ke tulang rusuk gw.

"Nih pake jaket!" ucapnya menjulurkan jaketnya kearah gw kebetulan jaket yang gw pakai buat nutupin wajah gw tadi gak gw bawa, karna gw langsung mengikuti Fano dari belakang. Tapi gw bingung deh sama dia, kayanya banyak banget gitu jaketnya. Nawarin gw jaket mulu coba aja dia nawarin hatinya buat gw miliki hehehe...

"Gausah, makasih!" ucap gw. Sembari mengusap-usap lengan kecil gw mencoba menghangatkan dengan usapan-usapan itu
Ada rasa deg-degan juga saat gw berada di dekat dia. Entahlah apa rasa kagum itu mulai berubah atau belom tapi yang gw tau rasa itu telah berubah menjadi perasaan suka antara ke lawan jenis. Itu artinya gw...

"Gw hargain perasaan lo ke gw!" ucapnya dengan pandangan lurus. Gw hanya diam menengok ke arahnya jantung pun bergerak dengan begtu cepatnya apa jangan-jangan dia ingin nembak gw?... Atau jangan-jangan dia tau kalau gw kagum sama dia oh atau dia udah tau lagi kalau ternyata gw suka sama dia. Duh trus gw harus gimana?, apa yang harus gw lakuin nih.

"Gw ngerasa risih sama mereka dan ceng-cengan mereka ke antara kita. Gw harap lo ngerti.!" dan diapun pergi meninggalkan gw sendiri ucapan yang tak begitu panjang tapi rasanya menyusuk ke hati gw gw hanya bisa diam tak bergeming rasanya sakit.

Ternyata benar apa yang gw fikirkan selama ini dia ilfil sama gw, ilfil sama kelakuan gw ke dia, gw emang bodoh. Udara dingin yang menjulur ke tulang-tulang gw rasanya udah mati rasa kalah sama sakitnya hati gw saat ini. Tiba-tiba setetes air menjulur jatuh ke pipi gw namun gw segera menghapusnya. Gw gaboleh nangis, gw harus kuat. Dan harusnya gw sadar dari dulu-dulu kalo gw emang cuma bikin dia risih atas gosip-gosip itu.

Gw pun kembali ketempat gw, sejenak melirik ke arah Fano yang sepertinya sudah terlelap. Dan gw pun mencoba untuk memejamkan kembali mata gw untuk beristirahat sejenak dan khusunya men-istirahatkan hati gw.

Rasanya baru saja gw memejamkan mata ini dan lagi-lagi harus terbangun kembali karna perjalanan harus di lanjutkan kebetulan hujannya juga sudah berhenti. Gw melirik jam yang melingkar cantik di lengan kiri gw. Jam menunjukan pukul 2 pagi. Berarti tadi gw tidur cuma sejam doang. Parah!.

"yas ayo,!" panggil Reno yang sudah siap dengan jaket dan helm nya.

"iyah, iyah!" ucap gw menghampiri mereka.

"oh yah Ren, gw ama Nino aja yah. Lo ama Fano" ucap gw sambil memakai jaket.

"kenapa emang?" tanyanya.

"yah kan kasian Fano, kalo harus dia terus yang bawa. Kalo ama Lo kan bisa gantian biar gw gantian sama Nino lagian kan gw emang bisanya motor metik." ucap gw menjelaskan dan di balas anggukan oleh Reno memberitahu bahwa ia setuju. Dan gw pun tersenyum. Sebelum  gw menaiki motor Nino, gw menengok terlebih dulu ke arah Fano dan kebetulan dia juga sedang menengok ke arah gw dan dengan cepat gw langsung membuang muka dari hadapannya....

Bersambung...

My litle friend -storyMhyfta

Persahabatan itu gak memilih, gak di dasari oleh gender, usia dan motif persahabatan yang tulus gak perlu punya alasan.

Menurut gw itu yang gw dasari dalam persahabatan gw sama dia. Kembali ke beberapa tahun yang lalu saat dimana kepolosan masih mendominasi kehidupan gw, dimana saat kejujuran masih bisa gw ucapkan tanpa adanya kebohongan yag terucap.

Gw punya sahabat dan ia berbeda dengan gw. Ada yang bilang sulit menjalani kehidupan dengan bersahabat yang berbeda lawan jenis dengan kita. Persahabatan yang di jalani oleh 2 insan yang berbeda ujung2nya pasti bakal pisah ataupun putus di tengah jalan karna sesuatu hal. Tapi gw ga percaya, gak percaya sama sekali! Karna hubungan gw sama dia dalam status sahabat berjalan dengan smooth. Sempat kake gw menyuruh gw buat berhenti untuk bermain dengan dia lagi namun...

"Udah ga usah main sama dia lagi! Dia itu anaknya bandel, Nakal!" ujar sang kake namun gw hanya diam dan menunduk ucapannya seperti lewat dengan begitu saja. gw gamau gw mau terus main sama dia.

Dia lebih tua dua tahun dari gw. Dia seperti kaka gw yang selalu ngejagain gw. Kedua orang tuanya juga baik dan care sama gw. Tapi ada yang lucu di dalam persahabatn gw sama dia, tau gak apa? Orang tuanya manggil gw dengan sebutan 'Mantu' hhahaha.

"Eh Mantu gw lewat" ucap mamanya saat gw lewat di hadapannya sedangkan gw hanya cengengesan memamerkan dereta  n gigi gw ke hadapannya sembari berjalan melewatinya

"Hhehehehe".

Kalo dibilang dia nakal apa engga yah jujur dia sih anaknya emang nakal, jail tapi menurut gw kalo lelaki nakal itu lumrah sih. Sampai suatu hari dia mogok sekolah. Dan ketika itu sang guru kebetulan kenal dengan bude gw dan tanpa sengaja gw mendengar pembicaraan mereka. Aku pun berniat untuk berbicara dengannya.

"Ih ko kamu gak sekolah sih, nanti kalo gak mau sekolah bodoh luh. Males ah temenan sama orang bodoh nanti aku ga mau temenan lagi luh sama kamu" ucap gw beberapa tahun yang lalu dengan polosnya.

Dan entah mengapa ucapan ku manjur di dengarnya keesokannya dia mulai masuk sekolah. Lucu banget deh kenangan itu.
Dan sekarang gw mulai percaya kalo bersahabat dengan lawan jenis gak pernah berjalan dengan sempurna seperti yang gw alamin saat ini, semua yang gw certain itu semua hanya kenangan entah kenapa gw juga gak tau tiba2 semua berubah. Berubah menjadi sosok yang asing. tak pernah bermain, apalagi menyapa satu sama lain. Apa karna nambahnya kita menjadi dewasa? Kalo iya gw rasanya ingin kembali ke masa lalu saat aku masih menjadi sosok lucu yang berparas polos. Gw kangen dia. Memang kedua orang tua nya masih care dan menyapa gw tapi... Ada yang beda. Gw kangen dia, Gw kangen lo. Mungkin kalo kita sampai sekarang masih bersahabat banyak yang pengen gw ceritain ke lo... Tapi... Bisa gak yah kita kaya dulu?...

Miss u my litle friend :')