Perjodohan yang menyatukan antara raja randana dan ratu maharani begitu mengejutkan, tak ada pengumuman ataupun pemberitahuan bahwa dua dari kerajaan tersebut akan menyatu dalam ikatan pernikahan pangeran randana dan putri maharani. Walaupun begitu, seluruh rakyat menerima penyatuan kerajaan yang akan mereka bangun. Putri maharani terkenal dengan sosoknya yang bijaksana dan rendah hati, ia juga memiliki paras yang ayu atau bisa di bilang cantik. Begitupun dengan pangeran randana, tegas dan tampan namun ada satu hal kejelekan dari pangeran randana. Ia begitu banyak memiliki kekasih.
Perjodohan yang tak tau siarannya, yang membuat para rakyat kaget terbingung-bingung. Pasalnya hanya dua hari sebelum mereka mengetahui bahwa pangeran randana dan putri maharani akan melaksakan pernikahan.
Setelah hampir 6 bulan menikah tak ada sikap ataupun perlakuan baik pangeran randana yang diberikan kepada putri maharani. Seperti orang asing yang berada di satu lingkaran yang sama. Kami saling mengetahui keberadaan satu sama lain namun bersikap acuh.
Malam itu pangeran randana yang telah menjadi seorang raja di kerajaan baterfli, meninggalkan ratu maharani seorang diri di istana. Sang raja tak pulang, entahlah apa yang sedang ia lakukan di luar sana, namun sebagai sang istri, sang ratu begitu khawatir dengan keadaan suaminya
Sampai ketika fajar mulai tiba, raja randana pun datang dan duduk di pinggir ranjang.
"Aku akan menceraikan mu" kalimat yang tak pernah ingin di dengar oleh ratu maharani.
"..."
"Aku merasa malu dengan diriku sendiri, begitupun dengan mu. Aku membuahi orang lain. Aku begitu bodoh. Aku selalu mengabaikan mu tanpa peduli perasaan mu. Kini aku akan menceraikan mu.. maaf kan aku"
"Kau tak perlu merasa bersalah, aku yang salah dari awal Seharusnya aku menolak perjodohan ini, Aku pernah berjanji, kepada diri ku sendiri, kepada orang tua ku, bahwa aku tidak akan melakukan hal yang kau ucapkan barusan" ujar ratu maharani
"Nikahilah dia, bawalah dia bersama kita, kau boleh membaginya dengan ku, aku akan menerimanya" tambah sang ratu, dan ia keluar meninggalkan raja randana seorang diri di kamar.
Tak lama raja randana pun marah dengan dirinya sendiri. Ia malu terhadap dengan ratu maharani. Ia berjanji ia akan menikahi perempuan itu dan anak dari pembuahan mereka. Namun ketika perempuan itu tinggal bersama mereka. Perempuan itu tak mempunyai hati ingin membunuh ratu maharani, untungnya raja randana melihat kejadian itu, ia menampar perempuan tersebut dan mengusirnya pergi dari istana bahka dari kerajaannya dengan membawa anak tersebut. Ia telah di beri hati oleh ratu maharani namun lihatlah perlakuan yang ia buat.
Setelah itu entahlah tak ada kabar tentangnya lagi, tak ada satupun yang mengetahui tentang kejadian itu. Kejadian raja yang mendua dan membuahi orang lain sampai kejadian sang ratu akan di bunuh, semuanya menjadi rahasia yang terjaga begitu rapat sampai saat ini. Tak lama sang ratu pun mengandung anak pertamanya.
"Seperti itulah kejadiannya sayang" ujar sang bunda. Putri edelweis menatap pilu kepada sang bunda, entah apa yang harus ia lakukan sekarang, marah, kecewa, entah dia sendiri pun tak tahu.
Putri edelweis mengusap butiran air yang ingin jatuh ke pipi sang bunda dengan ibu jarinya.
"Jika boleh jujur, begitu sangat hancur ketika itu yang bunda rasakan" ujar ratu maharani menatap putrinya.
"Bunda..." ucapnya lirih
"Mungkin saja dia memang saudara tiri mu edelweis, namun percaya lah sama bunda, dia tak baik untuk kau dekati. Bahkan dia akan berani menyakiti mu" ujar sang ratu dengan menyentuh kedua pipi edelweis.
"Engga bunda. Aku yang akan membalaskan semuanya" ujar putri edelweis.
"Pembalasan apa yang kau ingin kan putri ku, semuanya sudah berlalu. Lupakan semuanya. Tak akan selesai jika semuanya berdiri di kata pembalasan"
" pembalasan untuk hati bunda yang terluka"
"Engga edelweis, bunda tak pernah terluka"
"Bunda perempuan, dan aku pun begitu. Aku akan balas semuanya" ujar edelweis pergi meninggalkan bunda seorang diri di kamarnya.
Sedangkan di tempat lain dua orang lelaki sedang beradu argument tentang sebuah pembalasan.
"Untuk apa kau melakukan ini semua! Berhentilah. Berfikirlah positif! Itu sudah berjalan bertahun lalu lamanya. Kau tak bisa hidup di dalam bayangan pembalasan terus menerus dandelion!"
"Diam kau! Kau tak pernah merasakan pahitnya jadi ku! Kau bisa merasakan kasih ayah dan ibu tapi aku apa? ayah ku malah mengusir ku dengan ibu. Kau tak pernah merasakan itu"
"Dan sekarang saatnya, aku akan menghancurkan semuanya!" Ujarnya kembali dengan derungan nafas yang berderu. Begitu menumpuk sakit hati yang selama ini ia pendam.
"Ayah ku ayah mu juga dandelion!"
"Tutup mulut mu!"
"Jika itu tujuan mu. Aku sendiri yang akan menentang mu dandelion!"
"Persetan kau bersekutu dengannya!"
"Aku telah berjanji akan menjaganya"
HIAAAAAA SSREEETTTTT
PRAAAANGGG....PRRAAAANGGG....
"keparat kau satria..."
PRAAANGGG PRAAAANGG SREETTT SREEEEETTTT...