Aku sengaja mengambil tempat duduk di gerbong belakang karna permintaan teman-temannku yang meminta agar kelas kita menempati gerbong itu, sesampainya aku memilih tempat di dekat jendela, entah lah lagi kepengen menyendiri, seharusnya aku bersenang-senang bersama yang lain.
Sungguh nyaman tempat yang kini ku duduki, anginnya sepay-sepoy kebetulan jendela kereta di tempat ku terbuka, udaranya masih sejuk karna kebetulan kami berangkat pagi dan tujuan kami ke daerah jawa barat yah lumayan lah cuci mata dengan pemandangan kebun teh nya.
Sesekali aku ikut tertawa mendengar lelucon yang dibuat oleh teman-teman ku, sungguh sangat terasa kebersamaan ini tapi kenapa kita mengetahuinya ketika kita akan berpisah dalam jarak waktu yang sebentar lagi.
Hhhufftt.... Gak kerasa bentar lagi mau UN dan yang artinya bentar lagi bakal... Jadi keinget tingkah laku mereka di kelas..
"Yase, gw boleh duduk disini ga?" ucap Tara, yang berada di sampingku
"Duduk ajah geh!" ucap ku.
"Ketua, diam aja nih?!!" ucap salah satu temen ku yang sedari tadi mampu membuat ku tertawa mendengar celotehnya.
"Lagi menata hati dulu nih" sahut ku sembarang.
"Buat Fano yah hhahaha" ucapnya
"Ciie Ciee ngodein mele, yang cowo belom peka-peka nih!" ucap Reno sembari melirik Fano.
"Apaan sih bercanda-bercanda" sahut ku.
"Beneran juga gapapa" ucap Nila, teman ku.
"Hhahaa..." ucap ku, entah mengapa pandangan ku menuju kearah Fano tak ada ekspresi hanya datar sembari melihat-lihat hasil jepretannya di kamera yang di pegangnya. Cuek.
Aku pun kembali ke posisi ku menikmati setiap gerakan yang di hasilkan oleh sang kereta dengan relnya. Suara deringan rel yang beradu dengan roda-roda kereta mempunyai ciri khas tersendiri.
"Yase, di blog lo banyak cerita yang menyangkut tentang Fano" ucap Tara di sebelah ku.
"Kenapa?" sahutku.
"Gapapa sih, cuman kayanya ceritanya berakhir tentang si cowo yang memperjelas bahwa dia gak bisa lebih buat lo bahkan dia nyuruh lo ngejauh, emang iya dia ngomong gitu ke lo" ucapnya kearah ku.
"Engga" balas ku.
"Loh trus? Jangan-jangan cerita itu emang ga pernah terjadi yang sengaja lo buat sendiri" tanyanya.
"Iyah" sahutku tersenyum kearah nya.
"Buat apa?" tanya ya kembali.
"Gw takut kalo nantinya gw masuk ke zona itu, gw sendiri pun bosen mengatakan zona itu terus menerus dan cerita itu yang nantinya akan meyakinkan gw kalo gw emang gaboleh masik kezona tersebut yang nantinya akan berujung sakit sendiri"
"Oh maksud lo buat suggest diri lo sendiri?"
"Yaps bener banget!"
"Biar lo ga suka dan gak kepikiran dia terus?" tanya Tara.
"Ha?" tanya ku bingung. Maksdu Tara apa.
"Tanpa lo sadari lo udah memasukinya Yase!" ucapnya menjelaskan.
"..." aku pun hanya bisa memasang image bingung ke arahnya.
"Lo ngebuat cerita-cerita itu di blog lo biar lo nantinya gak seperti 'Yase' di cerita yang lo bikin, biar lo sadar kalo Fano gak penting buat lo masukin ke dalam fikiran lo dengan waktu yang lama agar lo gak sakit hati seperti tokoh utama di cerita lo. Tapi tanpa lo sadari, dengan cara lo bikin cerita itu semua lo malah akan terus menerus memikirkannya Yase karna apa? Karna lo nantinya akan masuk ke zona itu tanpa lo sadari. Lo malah mengizinkan dia masuk ke dalam lamunan lo kalo cara lo gini terus"
"Yas, gw tau lo punya kelebihan atau potensi di diri lo sendiri tapi jangan gunain potensi lo untuk pelampiasaan. Karna nantinya dia lah yang akan membantu lo masuk ke zona gak aman lo itu."
"Coba sekarang gw tanya ke lo, apa setelah lo buat cerita itu lo gak kepikiran dia lagi?, rasa itu apa masih tetap Bercanda?, enggakan? Yang ada lo kepikiran dia terus."
Ucap Tara mencoba menjelaskan semuanya kepadaku, aku hanya diam sambil menatap kearahnya. Dalam hati, aku membenarkan semua ucapan yang terlontar dari mulut Tara.
"Trus, what should i do?"
"Apa gw harus kaya biasa, meledekinya? Atau kembali seperti awal saat semuanya belum pernah terjadi?" tanya ku.
"Jangan tanya gw yas, tapi tanya dengan diri lo sendiri! Karna kunci semuanya ada di hati lo sendiri, gw cuman gak mau lo kembali kaya dulu dimana saat hati lo benar-benar rapuh seperti bukan Yase yang gw kenal" ucap ya tersenyum kearah ku.
"udah ah gw mau tidur dulu, bogornya masih jauh kan?" ucapnya yang ku balas dengan anggukan kecil dan dia pun mulai memejam kan matanya.
Setelah Tara tidur di sampigku, kata-katanya masih teringat jelas di pikiran ku, benar katanya cara yang kulakukan hanya membuat ku semakin bodoh seperti yang ku lakukan saat ini. Entah mengapa aku pun mengikuti Tara untuk memejamkan kedua mataku dengan di temani musik di salah satu telingaku yang kupakaikan henset.
Selang beberapa waktu, aku mendengar seseorang yang mengatakan bahwa kita telah sampai di stasiun terakhir. Aku pun membuka kedua mataku. Sempat ku rasakan bahwa Tara yang di sampigku menoelku dan mengatakan "Bangun-bangun udah sampai". Dan aku pun bergegas turun sebelum tertinggal dengan yang lain.
Saat aku telah keluar gerbong tiba-tiba saja aku mendengar ada seseorang yang memanggil nama ku.
"Yase, Yase.. Jaket lu nih ketinggalan!" ucapnya menyerah kan jaket kelas ku
"Oh yah lupa" sahut ku. Dan mengambil jaket ku dari tangannya.
"Makasih" tambahku.
"iyah" ucapnya, Dia Fano.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar