Rabu, 13 Juli 2016

Jatuh hati

Ketika cinta benar-benar tak mampu menaklukan perasaan mu, hati yang begitu beku atau waktu yang tak pernah memberinya kesempatan untuk merasakan indah nya jatuh hati itu. Waktu yang begitu kejam atau hati mu yang begitu beku untuk mencoba menerima ku dalam setiap dekapan detak jantung mu..

Lelaki yang begitu tegap ketika pertama kali aku melihatnya, ketika saat itu aku telah menjatuhkan hati ku kedalam sebuah jurang yang gelap. Segitu pengap kah hati mu untuk ku masuki?

Entah rencana apa yang telah Tuhan tuliskan untuk kita. Kau begitu mengabaikan ku, seolah menganggap ku tak ada di sekelilingmu, mencoba mengacuhkan ku ketika aku mencoba menaklukan hatimu.

Diam dan mencoba menerima ketika kau juga telah menjatuhkan hati, namun bukan untuk ku. Begitu berbinar ketika kau melihat dia dan aku pun berbinar ketika melihat kalian, namun dengan artian berbinar yang berbeda.

Mencoba mencintai mu dalam diam. Mencoba menjadi secret admirer mu walau ku tau bahkan semua pun tau jika aku mencintai mu, begitupun dirimu yang telah mengetahui itu semua dan mencoba diam.

Terkadang begitu lelah menunggu mu, namun bagaimana pun aku harus menerima semuanya karna lagi-lagi aku telah jatuh, menjatuhkan hati ku ke tempat yang mungkin salah. Hati mu.

Mungkin bukan diriku yang kau inginkan, namun aku menginginkan dirimu, bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?..

Telah aku jalani semuanya, 1 tahun, 2 tahun, bahkan saat ini akan menginjak 3 tahun, waktu yang begitu lama bukan? Namun reaksi apa yang telah kau berikan kepadaku? Tak ada. Yah tak ada sedikit pun. Harus kah aku menyerah?

Aku terus menjalani semuanya, mencoba mengabaikan perasaan ku, melupakan rasa sakit ku, mengabaikan mu namun tak bisa, aku selalu mencari mu dalam diam ku, ketika kau tak berada di sekeliling ku. Kemana kah dirimu? Mengapa tak masuk kelas?..

Aku selalu merindukan itu. Senyum mu, tawa mu, suara mu, tanpa sepengetahuan mu. Aku merindukan mu.. apakah kau juga? Tolonglah.. berikan aku jawaban, atau sebuah tanda jika aku harus berhenti. Berhenti melakukan semua ini dan mencoba menyelamatkan hati ku dari jatuh yang terlalu dalam.

Hingga saat itu tiba..

"Lu harus ngungkapin semua perasaan lu kedia di depan kelas sekarang.." ujar seorang perempuan dalam sebuah permainan.

"Lah apa-apaan nih, engga-engga ah udahan" sahut ku.

"Ah curang nih, ga boleh udahan. Lakuin sekarang" aku melihatnya namun tak ada balasan sedikit pun. Sanggup kah aku melakukan hal itu di depan sana, tapi bagaimana responnya nanti..

"Ayoo cepet, toh udah pada tau semua ini haha" aku pun berjalan kedepan kelas, mencoba mengumpulkan nyali ku semua. Aku harus melakukannya, mungkin ini ada baiknya untuk ku, namun apa yang harus aku katakan di depan sana.

"Gue Aulia, gue berdiri disini sekarang mau ngungkapin semua perasaan gue.." kelas pun seketika hening, tak ada suara bising sekali pun.

"Gue menyukai dia sejak pertama kali masuk sekolah ini, gue udah nyoba buat ngebuang semuanya, perasaan gue, cinta gue, rasa sayang gue, semuanya apapun itu yang menyangkut dengan dia, tapi bagaimana caranya kalau dia masih berada di sekeliling gue, masih berada di pandangan gue, disatu lingkaran lingkungan yang sama. Mungkin gue terlalu alay atau lebay sampai harus berdiri disini buat ngungkapin semuanya. Atau gue terlalu penakut buat ngungkapin semuanya sampai telah berjalan 2 tahun bahkan bentar lagi mau 3 tahun. Gue pun tau kalian ga bodoh untuk tau siapa dia tersebut, dan gue juga tau dia ga buta dan tuli untuk mengetahui semua tentang perasaan yang gue simpan buat dia. Gue berada disini bukan untuk menyatakan cinta yang harus di beri jawaban 'iya' atau pun 'tidak', gue disini cuma ingin mengungkapkan semua apa yang gue rasa ke dia"

"Andi.. gue suka lu.."

"Mungkin lu tau itu, dan seperti yang gue bilang barusan.. gue ga perlu jawaban iya ataupun tidak, lu pun ga perlu membalas perasaan gue karna gue tau lu ga mempunyai perasaan yang sama seperti gue, lu ga perlu merasa ga enak hati sama gue, jujur ini sakit buat gue tapi bagaimana pun rasa sakit ini telah berteman lama dengan gue, hahaha..."

"Sampai detik ini pun perasaan ini masih sama. Sama seperti pertama kali gue telah menuntun hati gue untuk menjatuhkan hati ke lu, namun gue ga tau kalau ternyata rasanya sesakit ini, rasanya se pengap ini, rasanya segelap ini.. dan gw terlalu bodoh untuk segera sadar dan bangun dari tempat itu.."

"Entah sampai kapan gue menetap, jujur ingin rasanya gue pergi tapi.. gue gabisa.. perasaan ini masih milik lu, sampai lu sendiri yang akan bilang.. lepasin.."

Suara meja pun terdengar dari arah pojok tempat Andi. Ia bangkit dari duduknya, dan seisi kelas pun menatap kearahnya namun tidak dengan Aulia, pandangannya terlalu takut untuk menatap ke arah Andi, hanya ubin lantai yang mampu ia tatap saat ini. Andi mulai berjalan ke arah Aulia, mendekat kearahnya dan berhenti tepat di depannya.

"Kalau gitu lepasin gue.." ujarnya pelan yang hanya mampu di dengar oleh Aulia. Aulia pun menegakkan kepalanya menatap lelaki di hadapannya. Menatap tepat di kedua matanya mencoba mencari hati yang ia cari selama ini, namun nihil. Kata-kata lelaki itu seakan telah menghancurkan semuanya.

"Gue gamau lu semakin dalam menjatuhkan hati lu, dan gue semakin dalam menyakiti perasaan lu. Kalau itu bisa membuat lu melepaskan semuanya. Lepasin gue.." dan lelaki itu pun keluar meninggalkan kelas.