Ketika suatu masa membuat mu terluka.. Ketika masa membuat mu tersakiti karna dia orng yang kau cintai menjauhi mu... Dan saat itu kau merasa asa telah menghujatmu. Dapatkah kita menghakiminya.
"Yase sama siapa?" tanya perempuan yang baru saja keluar dari mobil pariwisata
"Nanti Dia ama Fano, naik motor. lagi kan udah gaada tempat lagi" ucap lelaki yang sibuk dengan buku yang bertulisan nama2 temannya.
"serius?, cieeeee" ucap yang lain.
"apaan sih, gajelas lu pada" ucap yase yang baru saja tiba dengan jaket yang ia bawa di tangannya dan ransel yg terpakai cantik di punggung belakangnya.
Semua motor sudah tertata rapi cuman motor Fano dan sang empu yang belum tiba di tempat, semua sudah mulai sibuk mencarinya. Tak lama dia pun datang dengan mengendarai motor ninjanya. Tumbenan biasanya dia bawanya motor metik.
"Anak2 mana?" tanyanya sambil membuka helm. Dia terlihat... Dengan celana jeans dan jaket drysurt yang biasa ia pakai.
"Mobil udah berangkat tinggal kita doang. Nungguin lo nih" ucap reno
"Maaf"
"Ko lu bawa motor ginian sih. Gw kan gabisa bawanya" ucap Yase masalahnya semua dengan pasangan yang bisa di ajak gantian mengendarai motor ini kan jarak jauh pasti cape bnget kalo ga ganti-gantian.
"Gausah gw aja yang bawa" ucapnya. Semua sudah menaiki motornya masing-masing sedangkan Yase hanya diam dia bingung masalahnya si fano bawa tas caril dia mau naik gimana. Tiba-tiba dia membuka tasnya.
"Mana tas lo? Sini masukin aja ke tas gw! Jadiin satu!" ucapnya. Gw pun memberikan tas gw ke dia dan memasukannya ke dalam tas carilnya dia. Setelah itu gw pun langsung naik ke motornya. Sedangkan tas carilnya gw yang menggendongnya.
Entah kenapa jantung gw ga berfungsi seperti biasanya, lebih cepat bekerja. Deg deg gan banget... Dia.. Dia lelaki yang selama ini gw kagumin dan gw ga nyangka kalo sekarang, Saat ini gw lagi sama dia dalam jarak yg deket. Di belakangnya. Tanpa gw sadari gw tersemyum di balik kaca helm yg gw pakai.
Muhammad Dafano Putra Irwansyah. Biasa di sapa Fano ini adalah orang yang gw kagumi, karna kelebihannya yang gak gw bisa lakuin. Dia lelaki yang pintar bila ia mau selalu di asah. Namun ada rasa yang gw takuti, gw takut rasa kagum itu berubah menjadi sesuatu hal yang tanpa gw sadari telah menjulur ke kehidupan gw.
Tiba-tiba...
Gaada yg bisa menebak cuaca selain BMKG kayanya tadi pas mau berangkat cerah-cerah aja deh kenapa sekarang hujan deras gini.
Tiba-tiba motor Fano meminggir dari kerumunan entahlah dia mau ngapain, apa mau neduh? Tapi nanti ketinggalan rombongan yang lain.
"Kita mau ngapain?" tanya gw. Gw pun turun dari motornya ketika dia telah memberhentikan motornya.
"Nih pake " dia pun menyodorkan sebuah jas ujan berwarna biru ke arah gw. Gw pun memakainya. Tanpa bertanya lagian sepertinya hujan tambah deras gak mau ngambil resiko juga.
"Celananya gausah deh udah kepalang basah!" ucap gw sembari memakai baju jas ujan itu. "Lo?" tanya gw saat dia menutup kembali jok motornya tanpa memakai apa yang sedang gw pakai.
"Gausah jaket gw drysrut ko" ucapnya dan menaruh jaket gw ke jok nya katanya sih biar aga keringan soalnya kan joknya panas. Dia juga memasangkan jas ujan ke tas caril nya.
Dan kita pun mulai melanjutkan perjalanan. Hujan yg deras membuat jalanan yg licin dan harus ekstra hati-hati bila tak mau tergelincir.
"Pelan-pelan aja woy ngendarainnya. Bawa anak orang tuh!" ucap Reno dari sebrang yg di bonceng oleh Nino. Fano hanya menongok ke arah reno begitupun dengan gw.
"kita istirahat bentar di depan. Berhenti di depan spanduk gede itu!" ucap Reno kembali. Dan Fano pun mengecangkan laju motornya mungkin biar cepat sampai ke tempat deket logo tersebut.
Setelah sampai di tempat warung yang sedikit besar tempatnya. kami pun langsung meneduh. Sudah lumayan banyak yg sampai di tempat ini mungkin gw sama Fano yang terakhir sampai. Gw membuka jas ujan Fano dan menaruhnya di motornya. Gw pun mengambil teh anget yg lebih dulu telah di pesan oleh nino. Gw mengambil dua gelas satu untuk gw satunya sengaja gw ambil untuk Fano.
"Nih" ucap gw sambil menyodorkan ke arahnya. Dia hanya diam tak bergeming namun mengambil gelas yg gw sodorkan.
"Cieee yase... Perhatian" ucap yg lain.
"Apaan sih. Gaje deh" sahut gw dan pergi menjauh suasana yang dingin membuat gw gak bisa berkutik seperti biasanya. Kaos lengan pendek yang gw pakai sedikit basah karna terkena hujan sebelum gw memakai jas ujan Fano, sedangkan celana jeans gw udah gausah di tanya lagi kaya kucing kecebur basah banget, sepatu yang gw pakai juga basah banget.
"Nih!" ucap seseorang menyodorkan sebuah jaket ke arah gw.
"Lo, nya?" tanya gw
"Kayanya lo lebih butuh" ucap dia, dan gw pun mengambil jaketnya dari pada kedinginan lagian juga jaket gw masih basah jadi yaudah gw nerima jaket yang dia kasih. "Thanks yah Fan" dia pun mengangguk tanpa mengucapkan sesuatu dan pergi meninggalkan gw.
"Ciee... Jaketnya Fano tuh kayanya, ciie jadi anget tuh. Serasa di peluk sama yang punyanya. Ciiee..." ucap Nino yang tiba-tiba saja berada di samping gw, ingin rasanya gw tersenyum mendengar ucapan Nino tapi gak boleh itu semua gak boleh terjadi.
"apaan sih lo No, rese luh. Sono-sono ah" balas gw sambil mendorong-dorong pundaknya menyuruhnya untuk pergi menjauhi gw. Dan akhirnya dia pun pergi menghampiri Fano dan sepertinya dia juga mengeceng-ngecengkan Fano karna setelah itu Fano menengok ke arah gw dengan tatapan datar. Gw hanya bisa diam.
Hari pun mulai larut yang lain memutuskan untuk memejamkan mata sejenak sebelum kembali mengarungi jalan raya yang sepertinya akan banyak genangan air dan jalanan yang licin.
Semua sudah terlelap. Gw pun sedikit terlelap namun ada yang menoel lengan gw. Gw tarik jaket gw yang menutupi wajah gw terlihat sosok fano di samping gw.
"Ikut gw yuk bentar!" ucapnya menarik tangan gw.
"Kemana?"
"Ikut aja. Bentar" ucapnya gw pun mengikutinya dari belakang.
Duduk di sebuah bangku yg di sediakan sang warung. Hujan pun masih mengguyur jalanan dengan aroma yang khas, suasana yang dingin menjulur ke tulang rusuk gw.
"Nih pake jaket!" ucapnya menjulurkan jaketnya kearah gw kebetulan jaket yang gw pakai buat nutupin wajah gw tadi gak gw bawa, karna gw langsung mengikuti Fano dari belakang. Tapi gw bingung deh sama dia, kayanya banyak banget gitu jaketnya. Nawarin gw jaket mulu coba aja dia nawarin hatinya buat gw miliki hehehe...
"Gausah, makasih!" ucap gw. Sembari mengusap-usap lengan kecil gw mencoba menghangatkan dengan usapan-usapan itu
Ada rasa deg-degan juga saat gw berada di dekat dia. Entahlah apa rasa kagum itu mulai berubah atau belom tapi yang gw tau rasa itu telah berubah menjadi perasaan suka antara ke lawan jenis. Itu artinya gw...
"Gw hargain perasaan lo ke gw!" ucapnya dengan pandangan lurus. Gw hanya diam menengok ke arahnya jantung pun bergerak dengan begtu cepatnya apa jangan-jangan dia ingin nembak gw?... Atau jangan-jangan dia tau kalau gw kagum sama dia oh atau dia udah tau lagi kalau ternyata gw suka sama dia. Duh trus gw harus gimana?, apa yang harus gw lakuin nih.
"Gw ngerasa risih sama mereka dan ceng-cengan mereka ke antara kita. Gw harap lo ngerti.!" dan diapun pergi meninggalkan gw sendiri ucapan yang tak begitu panjang tapi rasanya menyusuk ke hati gw gw hanya bisa diam tak bergeming rasanya sakit.
Ternyata benar apa yang gw fikirkan selama ini dia ilfil sama gw, ilfil sama kelakuan gw ke dia, gw emang bodoh. Udara dingin yang menjulur ke tulang-tulang gw rasanya udah mati rasa kalah sama sakitnya hati gw saat ini. Tiba-tiba setetes air menjulur jatuh ke pipi gw namun gw segera menghapusnya. Gw gaboleh nangis, gw harus kuat. Dan harusnya gw sadar dari dulu-dulu kalo gw emang cuma bikin dia risih atas gosip-gosip itu.
Gw pun kembali ketempat gw, sejenak melirik ke arah Fano yang sepertinya sudah terlelap. Dan gw pun mencoba untuk memejamkan kembali mata gw untuk beristirahat sejenak dan khusunya men-istirahatkan hati gw.
Rasanya baru saja gw memejamkan mata ini dan lagi-lagi harus terbangun kembali karna perjalanan harus di lanjutkan kebetulan hujannya juga sudah berhenti. Gw melirik jam yang melingkar cantik di lengan kiri gw. Jam menunjukan pukul 2 pagi. Berarti tadi gw tidur cuma sejam doang. Parah!.
"yas ayo,!" panggil Reno yang sudah siap dengan jaket dan helm nya.
"iyah, iyah!" ucap gw menghampiri mereka.
"oh yah Ren, gw ama Nino aja yah. Lo ama Fano" ucap gw sambil memakai jaket.
"kenapa emang?" tanyanya.
"yah kan kasian Fano, kalo harus dia terus yang bawa. Kalo ama Lo kan bisa gantian biar gw gantian sama Nino lagian kan gw emang bisanya motor metik." ucap gw menjelaskan dan di balas anggukan oleh Reno memberitahu bahwa ia setuju. Dan gw pun tersenyum. Sebelum gw menaiki motor Nino, gw menengok terlebih dulu ke arah Fano dan kebetulan dia juga sedang menengok ke arah gw dan dengan cepat gw langsung membuang muka dari hadapannya....
Bersambung...