Senin, 22 Desember 2014

Selamat Hari Ibu

Tanggal 22 Desember selalu identik dengan "Hari Ibu" nya dimana semua anak berlomba-lomba menangis di depan sang bunda sembari mengalunkan sebuah kalimat yang menurutnya mungkin tak seberapa dengan pengorbanan sang bunda. Begitupun dengan ku saat ini, tak ada benda ataupun kalimat istimewa yang aku ucapkan hanya sebatas kalimat "Selamat Hari Ibu Mah" yang ku lontarkan kepada mama ku yah hanya itu saja.

Aku punya sebuah cerita seorang ibu dan anaknya yang mampu membuat ku kagum melihatnya. Setiap aku berangkat sekolah aku selalu melihat mereka di jalan, tidak mereka tidak sedang mengamen mereka juga tidak sedang berjualan koran. Yang aku lihat adalah seorang ibu paruh baya yang memboncengi anaknya sambil mengayuh sebuah sepedah. Anaknya bukan berumur 5tahun ataupun sepuluh tahun tapi dia berumur 17tahun yah sekitar kelas 3SMA ataupun 3SMK. Tak ada rasa malu atau pun risih yang anak itu rasakan tak peduli motor, mobil itu berjalan melewati dengan lebih cepat dari sepedanya bahkan ia malah tersenyum sambil memeluk pinggang sang ibunya. Begitupun dengan sang ibu tak ada mimik wajah lelah, cape, atau pun kesal untuk sekedar mengantar anaknya kesekolah, ia malah tersenyum dan sesekali mengelap keluh yang berada di keningnya yang terlihat mulai sedikit keriput. Jika ditanya beratkah? Iyah mungkin berat tapi tidak bagi untuk mengantarkan anaknya menjadi anak yang berhasil. Kenapa tidak sepeda motor? Jika mampu mereka pun akan membelinya tapi adahal yang lebih mereka butuhkan di setiap harinya ketimbang mereka membeli sepeda motor.

***
'Seminggu lagi adalah hari ibu, aku memang tak bisa membelikan benda yang mewah untuk ibu tapi setidaknya uang jajan hasil kumpulan ku cukup untuk memberikan ibu sesuatu'. Guman gadis ini, ia bernama Tiara. Gadis yang pintar dan di sayangi oleh teman-temannya. Sifatnya yang baik dan dan sopan membuat ia memiliki banyak teman. Ia hanya tinggal bersama ibunya, ayahnya telah lama meninggal ketika sedang berlayar menuju provinsi Aceh yang saat itu sedang terjadi tsunami besar disana dan kini hanya ibu yang ia miliki satu-satunya

Minggu, 21 Desember 2014

Untuk mu yang Datang lalu Pergi

Dear someone...

Awalnya hidup ku masih sama seperti kemarin-kemarin. Berharap bahagia dan lebih baik dari sebelumnya. Perasaan ku? Masih sama, menunggunya!  bahkan berharap ada sedikit respon yang ia berikan kepadaku. Setiap hari selalu begitu. Bosan? Jenuh? Mungkin iyah, tapi aku menjalani itu semua dengan kebahagiaan. Tapi mengapa ada kata bosan dan jenuh bila sudah ada kata bahagia. Aku bosan dan jenuh karna harus melakukan aktivitas yang sama di setiap harinya dari bulan ketemu bulan dari minggu ketemu minggu dan dari pagi ketemu pagi.

Cinta? Entah mengapa sampai detik ini aku tak percaya dengan kata satu itu. Kata yang mampu membuat orang menjadi gila, galau bahkan merasakan sakit yang sulit untuk di sembuhkan. Aku tak mengharapkan ia datang di kehidupan ku. Dan aku lebih menyukai synonim nya "Suka". Sering aku mengalami kata kedua itu namun hanya sekedar itu dan sulit untuk mengartikan lebih lanjut. Sampai dia datang, entahlah aku tak mengenalnya siapa dia. Sampai suatu hari perkenalan itu berjalan lebih jauh sebelum kami bertemu. Sifatnya kadang membuat aku ilfill terhadapnya. Kepedulian yang ku anggap berlebihan yang mungkin bagi "Mereka" itu wajar.

Sampai suatu ketika dia menyampaikan hal itu bukan hanya sekali. Tapi sulit bagi ku untuk mempercayainya aku belum siap untuk menerimanya. Menerima status yang nantinya akan ku jalani. Dia belum mengenal ku lebih jauh dan aku belum mengenalnya, mungkin itu alasannya. Dan aku tidak ingin merasakan sakit lagi untuk kali ini. Dia membuat ku nyaman walaupun aku tak pernah memberitahukannya. Mungkin perhatiannya itu yang membuat ku nyaman. Dan aku menyebut dia dengan sebutan "BONUS" , yah bonus yang diberikan Allah untuk membuat ku bahagia tanpa melupakan bahwa bonus itu akan habis bila sudah masanya.

Dan kini kau pergi, aku tak melarang mu karna aku tau saat itu akan tiba, dan kini sudah saatnya. Terimakasih untuk semuanya. Untuk ucapan selamat pagi yang selalu kau berikan padaku. Terimakasih kau telah membuat ku nyaman dan terimakasih untuk senyuman dan kebahagiaan yang kau ciptakan sampai detik ini. Untuk mu yang datang lalu pergi....

Apa kabar? Baik, yang berujung kerinduan.