"aaaawwww" rintih Rio tubuhnya tak bisa diam, balik sana balik sini suara rintihan nya pun mampu membuat sang bunda khawatir mendengarnya namun beberapa menit kemudian semuanya telah seperti semula.
" Gimana dok, keadaan rio?" tanya Rio ke dokter yg berada di hadapannya dengan tampang sok gantengnya.
"saya salut Rio sama kamu, tapi jangan kamu anggap enteng, penyakit kamu ini berbahaya kamu juga harus kurangin aktifitas kamu supaya kamu bisa lebih banyak waktu istirahatnya."
Ujar sang dokter.
"istirahat dok? Salut ka rio mau istirahat, pecicilan gitu mau istirahat" ujar deva adik laki-lakinya yang berada di belakang rio sambil mencibir kakanya itu.
"eh kunyuk siapa yg pecicilan. Udah deh diem. ngalah ama orang ganteng." ucap rio menengok ke arah adiknya itu. Sedang kan deva hanya menjulurkan lidahnya ke arah kakanya tersebut.
"husst kalian ini. Berantem mulu. Malu tuh ama dokter" sahut sang bunda sedangkan sang dokter hanya menggeleng2 kan kepala sja melihat dua orang saudara ini ia tak heran atas sikap mereka berdua karna ia sudah mengenal kluarga rio sejak lama.
"Rio ini adalah kemo kedua kamu, saya harap kamu tetap semangat menjalaninya" ucap sang dokter.
"gimana mau semangat dok, sakit banget" ujar Rio sesekali merasakan ngilu di tubuhnya.
"emang sakit yah ka? Ah begaya luh, pas kemo pertama lo bilang gpp" ucap deva.
"mungkin karna yg pertama saya memberikan obat bius kepada Rio jadi dia tidak merasakan apa-apa." sahut dokter menjelaskan smuanya.
"tuh denger anak manis, mau tau dev rasanya gimana? Rasanya tuh kaya kelempar dari monas trus ke injek mobil pariwisata ampe tulang lo patah dan bergesekan ke tulang lo yang lain sampai mengeluarkan bunyi yg gak pengen lo denger." ujar Rio menjelaskan apa yg ia rasakan kepada adiknya itu
"Sakit yah ka," sahut Deva dengan mimik wajah yang ngeri.
"Kaga! Pake nanya" sahut Rio geram.
"oh yah Rio saya udah menjelaskan sebelumnya di pertemuan kemo pertama efek samping dri penggunaan kemo ini sendiri lumayan akan membuat kamu drop, tapi semoga kamu akan bisa menerima dan menjalani ini semua"
"oh yah dok apa tentang rambut yg akan menipis di karenakan rontok itu apa benar?" tanya sang adik.
"yah itu benar, seiring jalannya waktu. Kemoterapi dapat membuat rambut di kepala kita rontok sedikit demi sedikit" penjelasan sang dokter.
"tenang aja dev, kaka lo ini bakal tetep ganteng ko. Dan jangan harap lo bisa nyaingin ke gantengan gw okeh " ucap Rio menyombongkan diri.
"Pd bnget sih lo ka, lo ama gw juga gantengan gw " balas deva. " gw juga yakin ka ify bakal bilang hal yg sama kaya gw, kalo gw lebih ganteng dri pada lo karna kan biasanya anak pertama itu percobaan jadi yah gimana gitu." sambungnya dengan gaya sok2an di dpan kakanya sedangkan Rio hanya memasang wajh mencekam ke arah deva.
Setelah bebrapa lama berdebat dan mendengarkan cermah sang dokter, dan bunda yg menanya2 kan hal2 mengenai apa yg harus di lakukan slma kemo ini berlngsung dan mencoba menjadi suster yg baik untk Rio
***
"hhuuueeekkk, wllleee."
"devvaaaaaaa buruan mana minyak anginnya" teriak sang bunda yang sibuk memegang tengkuk anak pertamanya semenjak pulang dri rumah sakit tadi pagi Rio sulit untuk makan seketika nafsu makannya hilang dan sering muntah2, bunda pun mulai khawatir, tak lama deva yang membawa minyak angin pun datang menghampiri sang bunda dn kakanya. perasaannya tak kalah khawatir dari bunda.
"nih nih nih bunda" ucap deva memberi minyak angin yg di bwanya.
"gimana Rio, udah enakan?" tanya sang bunda.
"Lumayn bun, tapi perut Rio masih mual" ucap Rio lemas, deva pun mulai memopong kakanya itu menuju tempat tidur
"apa ini salah satu efek samping dri kemo itu?" tanya bunda
"yg deva baca sih katanya setelah kemo emang ga bisa masuk makanan bun" jawab deva sambil membringkan kakanya di kasur.
"Yaudah Rio kamu istirahat aja dlu" ucap sang bunda sambil menyelimuti Rio dan tak lama Rio pun tertidur. Bunda pun segera keluar namun tidak dengan deva, ia masih berada di sisi pinggir tempat tidur sang kaka ia menatap wajah sang kaka wajah yg begtu terlihat tenang seperti tak ada masalah ataupun beban sedikitpun ada rasa takut yg terbesit di pikiran deva ia takut, takut akan suatu hari kehilangan sang kaka seperti ia kehilangan sang ayah. Sosk Rio yg mampu menghilangkan rasa rindu nya kpda sang ayah, sosk rio yg selalu tegar dan sosok kaka yg selalu ia bangga kan. Ia tak ingin kakanya pergi meninggLkan ia dan bunda.
***
"Fy, Rio kemana?" tanya iel yg tiba2 muncul di hadapan ify.
"gw juga ga tau iel, gak ada
kabar gw telfonin dari tdi ga di angkat2." jawab ify dengan tampang frustasi masalahnya ia sudah menghubungi kekasihnya itu berpuluh2 kali tapi tetap saja tak ada respon sama sekali.
"kemana yah tuh anak, gak biasanya alpa" ucap iel begaya menerawang.
"gw denger juga katanya si deva juga ga masuk" sambun iel, reflek ify pun menengok ke arah iel.
"gak biasanya tuh adik kaka ga masuk barengan. Apa mungkin ada urusan keluarga yah?" fikir iel.
"gw juga udah nyoba ngubungin deva tapi sama gak di angkat2" balas ify.
"gimana sama acha mugkin aja dia tau deva sama rio kmna " tanya iel.
"oh iyah iyah kenapa gak ke fikiran acha siapa tau acha tau kenapa rio sama deva gak masuk. Bentar2 " ify pun segera mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak acha.
"hallo cha" ucap ify saat sang lawan bicara telah tersambung.
"kamu tau ga si deva sama rio kemana?, ko rio ga masuk yah?" tanya ify.
"oh gitu yah, yaudah deh makasih yah cha, bye" blas ify dan mematikan panggilannya.
"gimana fy," tanya iel yg penasaran.
"sama aja iel, acha juga gak tau, si deva blom ngasih kabar ke dia" ucap ify ada nada yg pasrah yg ia ucapkan. Iel juga hnya bisa diem.
' yo, kamu kemana sih ' batin ify.
***
Deva pun membaringkan tubuhnya di kasur kesayangannya pandangannya lurus ke langit2 dinding kamarnya. Seketika bayangan sang kekasih muncul oh iyah dia lupa untuk memberi kabar ke acha kalo hari ini ia tak bisa masuk sekolah iyah segera mengambil ponselnya yg berada di atas meja
Dia hanya bisa diam melihat layar ponselnya yang kini di penuhi beberapa missedcall dan beberapa massage. Ia pun segera mencari tau siapa yg menelponnya dan ternyata dia tak begtu kaget setelah mengetahui siapa yg menelponnya. Sang kekasih dan kaka ipar, satu lagi ka iel. Mungkin mereka ingin menanyakan kenapa ia dan sang kaka gak masuk.
"Hallo.." ucap deva saat sanglawan bicara telah mengangkat teleponnya.
"maaf yah aku baru ngasih kabar sama kamu.. Soalnya tadi aku buru2 ada urusan mendadak sama bunda dan ka rio" ucap Deva dengan lembut dan ia hanya tersenyum saat ia mendengar oceh2an acha menurutnya hal itu lah yg mampu membuat ia tersenyum saat ini sayangnya ia tak bisa melihat secara langsung ekspresi kekasihnya itu pasti menggemaskan.
"iyah iyah aku minta maaf, yaudah yah aku mau istirahat dulu. Nite beib, mimpiin aku yah. Besok pagi aku jemput love u" ujar deva lalu mematikan ponselnya dan menaruh di atas kasur. Ia baringkan kembali tubuhnya seperti semula.
Lagi lagi rasa itu muncul. Ia segera beranjak dan menuju balkon kamarnya, udara malem ini sangat dingin seraya menembus tulang2 rusuknya. Ia duduk di amben sembari mengangkat kedua lututnya lalu ia bukamkan wajahnya terdengar isakan tangis ia tak peduli dengan status nya saat ini yg penting ia hanya ingin menangis saat ini juga. Ia takut, takut akan semua pemikirannya menjadi kenyataan.
"Kenapa Bro?" ucap seorang lelaki sambil mengusap kepala deva, setelah deva sadar ia pun segera mengangkat wajahnya dan mengapus air matanya.
"Gw takut, gw takut kalo lo nantinya bakl kaya ayah" ucap deva.
"Lo apa2an sih! Gw masih disini. Lo tenang aja gw bakal sembuh! Dan gw bakal jaga bunda sama lo. Santai aja kali. Ini blom seberapa" ucap Rio tenang tak peduli tatapan deva kini yg mulai geram.
"mau ampe kapan sih ka lo bersikap gini terus, selalu meremehkan penyakit lo itu. Lo tau kan ayah pergi karna penyakit sialan itu.lo bisa tenang lo bisa santai seolah ga terjadi apa2 tapi gw?.. Gw gabisa ka, kaya lo yg pura2tegar di depan gw sama bunda pdhal lo menyimpen rasa sakitkan. Keluarin ka keluarin di depan gw" ucap deva sesekali menggunakan nada tinggi. Sedangkan rio hanya diam menatap lurus ke luar balkon.
"keluarin? Di depan lo? Lo tau kenapa gw ga ngeluarin itu semua di depan lo dan bunda? Karna gw ga mau kalian ngerasain apa yg gw rasain dev, cukup gw. Gak lo gak juga bunda" balas rio dengan nada tak kalah tinggi namun nada suaranya seketika melemah saat kalimat terakhir terucap di depan hadapan deva.
"gw cuma takut kehilangan lo ka" ucap deva dengan nada frustasi.
"gw akan berusaha ngejagain lo sama bunda sebisa gw dan gw bakal menyingkirkan penyakit ini dari tubuh gw" balas rio sambil memeluk sang adik.
' bukan cuma lo dev, jujur gw juga takut dengan apa yg sedang gw alamin sekarang dan gw gayakin apa gw masih bisa sembuh buat ngejagain lo dan bunda dengan waktu yg lama ' batin Rio
bersambung......
lanjutannya nanti aja yah... makasih udah mau baca :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar