Sabtu, 23 Juli 2016

Kisah klasik series

Seorang lelaki terus saja bercermin dengan berbagai gaya yang ia perlihatkan di pantulan cermin tersebut. Senyuman terus saja terukir di bibirnya. Tak pernah ia sangka ternyata ia bisa lulus juga dengan nilai yang... yah lumayan untuk masuk sekolah yang ia inginkan. Ini semua ia syukuri berkat doa ayah dan ibunya, beserta keluarga besar.

Yuhuuuu setelah sekian lama ngebayangin masa-masa SMA, akhirnya sekarang gue bakal ngerasain itu semua, gue bakal ukir masa SMA gue dengan spektakuler hahaha.

"Besok pagi gue harus jadi orang pertama yang dateng ke sekolahan itu, bahkan bila perlu sebelum gerbang sekolahan di buka gue harus sudah ada di depannya.." bayangannya di cermin begitu mencerminkan bara semangat yang telah ia tumpuk sekian lama, gumpalan tangan yang ia tunjukan, menjelaskan bahwa ia telah siap, siap menjalani masa itu.

"Alah dit.. dit.. gimana mau jadi orang pertama, bangun aja kamu paling siang diantara orang rumah ko" ujar seorang ibu yang melihat sang anak tak henti-hentinya bercermin membenarkan tatanan rambutnya sembari mengucap-ngucap hal apa saja yang akan terjadi sesuai dengan pemikirannya

"Aaaahhh... ibu gimana sih, harusnya ibu buat dodit lebih semangat dong bu, jangan malah bikin dodit down gini" sahutnya mendekati sang ibu yang telah sampai di meja makan.

"Loh siapa yang bikin kamu down toh dit, ibu kan bilang sesuai kenyataan. Dan memang itu kenyataannya kan, selama kamu masuk sekolah, apa lagi awalan tahun ajaran baru, pasti ga pernah bisa pagi bangunnya, dan ujung-ujungnya? Dapet bangku paling pertama dari belakang, benerkan" sang ibu pun berjalan ke arah dapur meninggalkan anak laki-lakinya dengan mimik muka yang mengerucutkan bagian bibirnya.

"Yah, kali ini kan ada ibu yang bakal bangunin dodit" lelaki ini pun mengejar sang ibu ke arah dapur.

"Selama ini juga kan ibu selalu bangunin kamu, kamu nya aja tidurnya kaya kebo.." huu.. fix kali ini ucapan ibu bikin bete. Lihat saja nanti.

"Nah bener tuh yang di bilang ibu, abang kan mana pernah sih bangun pagi hahaha" seorang perempuan yang begitu memiliki paras wajah cantik keluar dari sebuah kamar yang tak jauh dari tempat obrolan sang ibu dan abangnya tersebut.

"Fio, kamu itu harusnya dukung abang mu yang tampan ini. Bela abang ke sekali-sekali" ujar lelaki ini sembari menyambar ayam yang telah tersedia di atas meja makan.

"Ada uang jajannya ga bang?" Perempuan ini pun mengadahkan tangannya ke arah sang kakanya tersebut.

"Emang kamu pikir abang mu ini sudah bekerja.." ucapnya ketus.

"Huuu, ya sudah fio dukung ibu aja. Emang kenyataannya gitu ko wlee" ucapnya dan masuk kembali ke kamarnya.

"Wleee, liat aja besok pasti bangun pagi. Pasti, iya pasti. Pasti"

"Udah bang, pastinya jangan banyak-banyak" ucapnya membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali dengan di barengi oleh suara tawa yang melecehkan.

"Fioooooooo!"

Sedangkan di atap lain, seorang perempuan duduk dengan cantiknya di depan meja rias.

"Apapun situasinya, apapun kondisinya, apapun bentuknya, gw harus tampil cantik. Pokoknya target gue 'kaka kelas' dan gue harus bisa bikin seantero sekolah kenal dengan nama gue" ujar seorang perempuan dengan senyum simpul yang ia ciptakan.

"Oke sekarang waktunya gue tidur, gue gamau di hari pertama gue masuk sekolah gue harus telat" perempuan ini pun berjalan ke arah ranjang tempat tidurnya, mengambil posisi tidur dan memejamkan mata, dalam hitungan tiga ia harus segera memejamkan matanya.

"Satu.. Dua.. aaaaa Mamiiiiii" tiga pun belum sempat ia ucap namun seketika lampu kamarnya yang begitu terang menjadi gelap gulita, dan dia takut akan gelap, teriakan yang begitu nyaring pun berhasil ia ciptakan.

Seorang lelaki yang satu ini dengan paras tampan yang ia miliki masih saja berkutik dengan buku dan peralatan sekolah lainnya. Ia telah mempersiapkan apapun hal yang ia rasa butuhkan untuk esok hari. Iya akan membuat orang tuanya bangga kembali, seperti apa yang kini telah ia berikan kepada sang mamah dan papahnya, sebuah prestasi yang memuaskan yang telah ia dapatkan,  akan ia dapatkan kembali di sekolah barunya nanti.

"Ka udah siap?" Seorang perempuan tiba-tiba saja masuk dan membuyarkan semuanya.

"Udah ko" sahutnya dengan memperlihatkan tasnya.

"Bukan itu, udah siap mencari calon buat nanti di kenalin ke aku, mama dan papah?" Ucapnya kembali masih dengan berada di depan pintu kamar sang kaka. Sang kaka pun hanya diam memasang wajah bertanya.

"Astaga, intinya, jangan lupa cari pacar di sekolahan nanti" ujar sang adik dengan di barengi tutupan pintu yang membuat sang adik menghilang di baliknya. Dan seketika hening..