Sabtu, 20 September 2014

Obrolan Kecil

Aku sengaja mengambil tempat duduk di gerbong belakang karna permintaan teman-temannku yang meminta agar kelas kita menempati gerbong itu, sesampainya aku memilih tempat di dekat jendela, entah lah lagi kepengen menyendiri, seharusnya aku bersenang-senang bersama yang lain.

Sungguh nyaman tempat yang kini ku duduki, anginnya sepay-sepoy kebetulan jendela kereta di tempat ku terbuka, udaranya masih sejuk karna kebetulan kami berangkat pagi dan tujuan kami ke daerah jawa barat yah lumayan lah cuci mata dengan pemandangan kebun teh nya.

Sesekali aku ikut tertawa mendengar lelucon yang dibuat oleh teman-teman ku, sungguh sangat terasa kebersamaan ini tapi kenapa kita mengetahuinya ketika kita akan berpisah dalam jarak waktu yang sebentar lagi.

Hhhufftt.... Gak kerasa bentar lagi mau UN dan yang artinya bentar lagi bakal... Jadi keinget tingkah laku mereka di kelas..

"Yase, gw boleh duduk disini ga?" ucap Tara, yang berada di sampingku

"Duduk ajah geh!" ucap ku.

"Ketua, diam aja nih?!!" ucap salah satu temen ku yang sedari tadi mampu membuat ku tertawa mendengar celotehnya.

"Lagi menata hati dulu nih" sahut ku sembarang.

"Buat Fano yah hhahaha" ucapnya

"Ciie Ciee ngodein mele, yang cowo belom peka-peka nih!" ucap Reno sembari melirik Fano.

"Apaan sih bercanda-bercanda" sahut ku.

"Beneran juga gapapa" ucap Nila, teman ku.

"Hhahaa..." ucap ku, entah mengapa pandangan ku menuju kearah Fano tak ada ekspresi hanya datar sembari melihat-lihat hasil jepretannya di kamera yang di pegangnya. Cuek.

Aku pun kembali ke posisi ku menikmati setiap gerakan yang di hasilkan oleh sang kereta dengan relnya. Suara deringan rel yang beradu dengan roda-roda kereta mempunyai ciri khas tersendiri.

"Yase, di blog lo banyak cerita yang menyangkut tentang Fano" ucap Tara di sebelah ku.

"Kenapa?" sahutku.

"Gapapa sih, cuman kayanya ceritanya berakhir tentang si cowo yang memperjelas bahwa dia gak bisa lebih buat lo bahkan dia nyuruh lo ngejauh, emang iya dia ngomong gitu ke lo" ucapnya kearah ku.

"Engga" balas ku.

"Loh trus? Jangan-jangan cerita itu emang ga pernah terjadi yang sengaja  lo buat sendiri" tanyanya.

"Iyah" sahutku tersenyum kearah nya.

"Buat apa?" tanya ya kembali.

"Gw takut kalo nantinya gw masuk ke zona itu, gw sendiri pun bosen mengatakan zona itu terus menerus dan cerita itu yang nantinya akan meyakinkan gw kalo gw emang gaboleh masik kezona tersebut yang nantinya akan berujung sakit sendiri"

"Oh maksud lo buat suggest diri lo sendiri?"

"Yaps bener banget!"

"Biar lo ga suka dan gak kepikiran dia terus?" tanya Tara.

"Ha?" tanya ku bingung. Maksdu Tara apa.

"Tanpa lo sadari lo udah memasukinya Yase!" ucapnya menjelaskan.

"..." aku pun hanya bisa memasang image bingung ke arahnya.

"Lo ngebuat cerita-cerita itu di blog lo biar lo nantinya gak seperti 'Yase' di cerita yang lo bikin, biar lo sadar kalo Fano gak penting buat lo masukin ke dalam fikiran lo dengan waktu yang lama agar lo gak sakit hati seperti tokoh utama di cerita lo. Tapi tanpa lo sadari, dengan cara lo bikin cerita itu semua lo malah akan terus menerus memikirkannya Yase karna apa? Karna lo nantinya akan masuk ke zona itu tanpa lo sadari. Lo malah mengizinkan dia masuk ke dalam lamunan lo kalo cara lo gini terus"

"Yas, gw tau lo punya kelebihan atau potensi di diri lo sendiri tapi jangan gunain potensi lo untuk pelampiasaan. Karna nantinya dia lah yang akan membantu lo masuk ke zona gak aman lo itu."

"Coba sekarang gw tanya ke lo, apa setelah lo buat cerita itu lo gak kepikiran dia lagi?, rasa itu apa masih tetap Bercanda?, enggakan? Yang ada lo kepikiran dia terus."

Ucap Tara mencoba menjelaskan semuanya kepadaku, aku hanya diam sambil menatap kearahnya. Dalam hati, aku membenarkan semua ucapan yang terlontar dari mulut Tara.

"Trus, what should i do?"

"Apa gw harus kaya biasa, meledekinya? Atau kembali seperti awal saat semuanya belum pernah terjadi?" tanya ku.

"Jangan tanya gw yas, tapi tanya dengan diri lo sendiri! Karna kunci semuanya ada di hati lo sendiri, gw cuman gak mau lo kembali kaya dulu dimana saat hati lo benar-benar rapuh seperti bukan Yase yang gw kenal" ucap ya tersenyum kearah ku.

"udah ah gw mau tidur dulu, bogornya masih jauh kan?" ucapnya yang ku balas dengan anggukan kecil dan dia pun mulai memejam kan matanya.

Setelah Tara tidur di sampigku, kata-katanya masih teringat jelas di pikiran ku, benar katanya cara yang kulakukan hanya membuat ku semakin bodoh seperti yang ku lakukan saat ini. Entah mengapa aku pun mengikuti Tara untuk memejamkan kedua mataku dengan di temani musik di salah satu telingaku yang kupakaikan henset.

Selang beberapa waktu, aku mendengar seseorang yang mengatakan bahwa kita telah sampai di stasiun terakhir. Aku pun membuka kedua mataku. Sempat ku rasakan bahwa Tara yang di sampigku menoelku dan mengatakan "Bangun-bangun udah sampai". Dan aku pun bergegas turun sebelum tertinggal dengan yang lain.

Saat aku telah keluar gerbong tiba-tiba saja aku mendengar ada seseorang yang memanggil nama ku.

"Yase, Yase.. Jaket lu nih ketinggalan!" ucapnya menyerah kan jaket kelas ku

"Oh yah lupa" sahut ku. Dan mengambil jaket ku dari tangannya.

"Makasih" tambahku.

"iyah" ucapnya, Dia Fano.

Jumat, 19 September 2014

Coffee di malam hari

Masih jelas dalam ingatan ku apa yang terjadi di hari ini, sudah beberapa hari ini pikiran ku selalu di penuhi hal-hal yang tak pernah ku mengerti sebelumnya, dia -Lelaki- itu terus saja tak pernah mau pergi dari tempat yang kini selalu membuat ku berfikir lebih keras. Lelaki yang kadang aku sendiri jenuh untuk selalu memikirkannya namun pikiran dan hati ini tak pernah menyatu untuk hal seperti ini sungguh menyedihkan.

Malam ini aku hanya bisa diam di temani secangkir coffee yang berwarna hitam pekat, entah sejak kapan rasa coffee ini terasa pas di lidah ku, dan menjadi salah satu minuman kesukaan ku. Mungkin rasa pahit yang membuat ku nyaman akan kehadiran rasa baru di lidah ku.

Pernah ku bertanya kepada diriku sendiri, sebuah pertanyaan yang kuambil dari sebuah film Rectoverso "Apayah warna bola matanya" ingatkah kalian akan pertanyaan itu, yah sebelumnya aku telah menuliskan tentang itu dan akan mencari tau jawabannya dan kini aku telah menemukan jawaban itu sendiri, jawaban yang sebenarnya tak ku duga jika aku akan menemukan jawaban dari pertanyaan itu.

Warna bola matanya bukan coklat muda, bukan juga coklat pekat, tetapi hitam. Lelaki itu memiliki bola mata berwarna hitam. Aku mengetahuinya saat aku berada di dekatnya dan saat aku sedang memperhatikannya sama halnya seperti di film Rectoverso, entah mengapa cerita tersebut terjadi di kisah yang ku alami saat ini.

Lelaki yang mempunyai nama lengkap Muhamad Dafano Putra Irwansyah membuat ku pusing akan keadaan ku saat ini, aku takut jika nantinya aku akan masuk kedalam zona tak aman. Zona yang dari dulu tak ingin aku memasukinya apalagi menjalaninya, karna zona ini adalah zona menyedihkan bagiku.

Aku takut jika tebing masa lalu akan terbuka kembali dan akan membuat kisah yang tak pernah ku harapkan sekalipun, dimana saat salah satu dari dua jenis insan berpegang teguh kepada keyakinan hatinya bahwa ia benar-benar sungguh menyukainya, yang pada akhirnya Tuhan mempunyai rencana yang berbeda.

Hari ini bentar lagi akan berakhir, jam menunjukan pukul 23:00 satu jam lagi akan menunjukan pukul tepat 12 malam. Tapi rasanya lama sekali menunggu walaupun satu jam, aku ingin hari ini cepat-cepat berakhir apalagi bila harus mengingat kejadian itu, yang membuat ku... Entahlah aku juga tak mengerti.. Intinya aku ingin cepat-cepat hari ini berakhir dan aku ingin mengakhirin hari ini dengan meminum secangkir coffee dan ritikan suara hujan yang ku dengar dari atas atap loteng ku.

**

"Yase Gw pengen ngomong sama lo"

"Oh yah gw juga ada yang pengen di omongin sama lo" ucap ku menghampirinya.

"Yaudah lo duluan aja!" suruhnya.

"Soal itu gw cuma bercanda, gak beneran ko, jadi gak usah di anggap serius biasa anak-anak mah emang rese" ucap ku sembari tersenyum ke arahnya, namum dia hanya diam.

"Bagus deh kalo gitu, oh yah gw cuma mau bilang dan nyuruh lo buat ngejauh dari gw, jangan pernah ngelakuin itu lagi ke gw, gw risih sama semuanya!!"

"..."

"Oh yah dan lo bilang ke semuanya dengan di perjelas kalo lo cuma bercanda!! Biar mereka ngerti!!"

"Tanpa lo suruh gw udah ngelakuin itu, oh yah ok gw bakal ngejauh dari lo tenang aja ko, dan gw gaakan ngelakuin itu LAGI di depan lo, sorry juga kalo gw ngebuat lo risih akan sikap gw ke lo!"

"Bagus deh kalo lo ngerti!!" ucapnya lalu pergi meninggalkan ku di tempat ini. Dada ini rasanya sesak, ku rasakan mata ku perih dan panas yang kuyakini sebentar lagi akan mengalirkan sebuah sungai kecil tanpa ku kehendaki sebelumnya.

Dia, Fano lelaki yang sesungguhnya telah memikat perhatian ku baru-baru ini, dengan lembut namun menyusuk ia bicara seperti itu di depan ku, tau kah kau apa yang ku bilang kepadamu barusan, tentang kalimat yang tercantum kata BERCANDA  di dalamnya, sesungguhnya itu tak benar, karna apa? Karna aku terlambat untuk mencegah diriku sendiri agar tak masuk ke Zona tak aman bagi ku dan aku telah memasukinya.

Sepertinya hujan di depan mulai deras... Semoga saja tak menyebabkan genangan air yang berlebihan di jalanan. Ku harap kalian tau maksud ku.

Tiba-tiba handphone yang berada di depan ku berdering, ku melihat ada sebuah pesan tapi dari nomor yang tak ku kenal sebelumnya.

1Massage

081657******

Kalo emang lo gak ingin menyukainya namun lo udah masuk ke Zona gak aman lo itu, mau gak mau lo cuma punya 2 pilihan. Yang pertama lo mundur dengan hati terluka, yang kedua berjuang mencoba meyakinkannya walaupun Nihil akhirannya. Itu sih terserah lo aja, karna keputusan ada di tangan lo sendiri.

Setelah sms itu ku baca, henset yang kupakai di salah satu telingaku, memutarkan musik yang sudah ku setel sebelumnya lewat handphone ku.

Aku bisa membuat mu jatuh cinta kepada ku meski kau tak cinta kepadaku.. Beri sedikit waktu.. Biar cinta datang karna telah terbiasa..

Aku diam mengamati lirik demi lirik yang di ucapkan oleh sang vokalis. Entahlah pikiran dan hati saat ini sedang tak balance. Tiba-tiba saja jemari-jemari ini mengetik sebuah abjad yang langsung di sent ke nomor itu.

To : 081657******

Gw pilih yang ke-2

Setelah ku yakin pesan ku telah terkirim aku pun meminum kembali coffee milik ku dan menikmati alunan lagu yang saat ini mungkin sedang mewakili perasaan ku.

Tunggu... Nanti kau akan tau apa yang akan ku lakukan untuk mu
Muhamad Dafano Putra Irwansyah