Sabtu, 20 November 2021

Surat 2

20 Nov 2021

Menjadi dewasa sangat lah membingungkan. Entah harus dijelaskan darimana, aku hanya ingin bercerita. Aku yakin takan ada satu orang pun yang akan membaca tulisan ini. Tak apa, aku hanya sedang Ingin bercerita. 

Uang, uang, uang 
Mengapa benda satu itu selalu membuat ku pusing. Aku seolah menjadi perempuan yang matre karna benda itu. 

Uang selalu menjadi permasalahan buat ku, buat diriku sendiri. Padahal bisa saja ku buat santai, tetapi rasanya sulit sekali. 

Mengapa aku selalu mengejar uang. Kemarilah akan kuceritakan. 

Semua orang pasti memiliki ceritanya masing-masing. Begitu pun dengan aku yang mungkin sama seperti kalian. Aku bukan orang dari kalangan yang berada. Rumah ku dulu selalu banjir karna hujan besar. Aku cape selalu nauin banjir di kala orang lain biasa saja lewat depan rumah ku dengan santainya. 

Dari kecil sampai aku sudah kerja banjir itu tetap menjadi langganan datang kerumah ku. Bagi ku itu adalah hal yang melelahkan. Dulu sewaktu aku SD mama berjualan di sekolahan. Dan uangnya menjadi dana darurat yang di simpen bertahun tahun oleh mama. 

2 tahun yang lalu rumah ini di Uruk, sehingga aku bisa merasakan tidak banjir lagi. Alhamdulilah. 

Aku dua bersaudara. Aku adalah anak pertama dimana aku sendiri menjadikan diriku seorang budak untuk diriku sendiri. 

Buat ku membahagiakan mama bapak dan ade ku adalah hal yang wajib buat ku. Kenapa? Kalau bukan aku siapa lagi. Jawaban yang sangat simple. 

Untuk di bilang balas budi rasanya masih kurang dan tidak pernah bisa dibilang seperti itu. Aku hanya menjadikan diriku untuk selalu ada buat mereka. 

Aku pernah melihat mereka menangis karena suatu kondisi. Itu salah satu hal yang membuat ku menjadi seseorang seperti ini yang haus akan uang. 

Mungkin kalian akan bilang "gausah di paksa kalau tidak ada" Tapi buat ku "aku akan berusaha selalu AdA untuk mereka"
Mungkin terdengar seperti egois. Tapi mungkin kalian akan berfikir yang sama jika bertukar posisi dengan diriku. 

Aku seorang staff di sebuah office baru baru ini aku mendapat kenaikan gaji. Saat ini gajiku 4.810.000 

Angka yang lumayan kan untuk 1bulan. Tapi tau ga. Di angka itu banyak hal, benda, dan makanan yang aku tahan padahal aku pinginin. Gapapa. Aku melakukan nya untuk orang orang yang aku sayang. 

Jika mama tau. Dia pasti marah. Dia selalu dan akan membelikan apapun itu yang aku mau. Makanan benda apapun itu. Dia akan berikan. Tapi cukuplah hal yang aku tahan itu cukup diriku yang tau. 

Aku mau beli tas, aku mau beli baju, aku mau beli sepatu, aku mau makan kue, aku suka sekali cake, kaya kue ulang tahun gitu, tapi jika aku beli harganya lumayan dari pada aku beli itu mending uangnya aku simpen buat belanja ke hari hari bareng sama mama. 

Kalau mama tau pasti mama marah. Tapi lagi lagi aku cuma mau selalu ada buat mereka. 

Aku bahagia tiap selesai belanja sama mama. Nanti kalo ada uang lebihan aku mau beli cake buat aku sendiri. 

4.810.000 angka yang besar tapi tidak ada apa apanya. Aku memberikan 1jt tiap bulannya untuk mama. Karna kalo bukan dari aku dari siapa lagi. Bapak sudah ga kerja. Hanya kerja samping sampingan yang pendapatannya ga nentu. Dan mungkin 1jt kurang untuk menghidupi 4kepala. Walaupun mungkin ada pendapatan dari lain. Tapi aku sebagai anak harus melakukan itu. 

Orang berpikir mungkin Ku berlebihan. Tapi entahlah bagi aku itu hal yang wajib. 

800rb untuk bayar rumah. Nnti kan rumahnya buat aku juga jadi ya aku harus bayar. Walaupun mama sering bilang mama aja yang bayar. Tapi masa sih udah besar seperti ini masih harus orng tua yang bayarin yang jelas jelas rumahnya nanti aku yang nempatin. 

Bayar listrik dan air. Ini ga seberapa. Total 400rb kurang lebih. Sebenernya mama mampu buat bayar sendiri. Lagi lagi untuk apa aku di besarin sampai sekarang kalau gabisa ngebantu perekonomian keluarga. Lagian kalo bayar rumah dan listrik mama yang bayar. Apa cukup 1juta yang aku kasih buat makan juga? 

Belanja bulanan. Aku memang selalu ada untuk kebutuhan rumah ke hari hari dan superindo aku usahain aku yang selalu bayar. Walaupun mama bawa uang. Setidaknya aku ada gunanya sebagai anak. 

Tiap bapak punya uang dari hasil sampingannya. Dia selalu nanya "punya uang ga" Aku selalu jawab "banyak uang aku mah" Walaupun kenyataannya uang aku mungkin ga cukup untuk akhir bulan. 

Gapapa lagian kan aku ga jajan ini, kerja bawa bekel. Berngkt dan pulang kerja jalan atau ga di anter bareng ade. 

Oiya ade udah kerja. Penghasilannya ga besar. Tadinya mau patungan bayar listrik air karna uang ku gabsa di kumpulin buat bayar rumah juga. Tapi di pikir pikir rumah kan emang tanggung jawab aku. Dan listrik air kan ga seberapa masa mau patungan dengan ade yang penghasilannya ga seberapa. 

Dear calon suami, aku bekerja sudah lama. Terkadang ada rasa cape, wajar kan karna aku perempuan. Mungkin semuanya akan mudah jika aku bercerita atau orang rumah tau. Tapi bukan kah itu tidak penting karna jika bukan aku siapa lagi. 

Dear sayang, jika sudah menikah nanti aku akan tetap bekerja. Aku bekerja membantu mu. Ketahuilah jika sudah menikah suami adalah tanggung jawab penuh dalam suatu keluarga. Tapi aku bekerja untuk bisa tetep mandiri dan tidak bergantung kepadamu. 

Sayang, yang aku tau uang suami adalah milik istri dan uang istri adalah milik istri. Tapi mungkin bagimu tidak seperti itu. Aku harus selalu mengerti keadaan kita. Iya kan. 

Aku berjanji untuk tidak akan menyusahkan mu. Hal yang aku lakukan sekarang akan tetap aku lakukan saat kita menikah nanti (aku tidak akan meminta dan membeli suatu hal, benda, makanan yang menurut ku bisa di nanti yang hanya kepengenan sesaat. Aku bisa tahan) 

Tapi, aku mohon izin kan aku tetap melakukan 2 hal. Memberikan uang kepada mama dan membelanjakan kebutuhan seperti yang sudah kulakukan saat ini. Tidak akan meminta uang dari mu. Dari uang ku sendiri hasil kerja ku. Aku mohon izinkan. Aku hanya perlu mendengar jawaban "iya" Bukan jawaban jika uangnya cukup kamu boleh lakukan. 

Ku mohon izinkan ya, aku janji tidak akan boros dan meminta untuk beli apapun. Tetapi izinkan 2 hal itu. 

Terima kasih 

Rabu, 17 November 2021

Surat

Dear Sayang, 

Ga tau harus mulai darimana, harus cerita darimana, karna aku ingat sekali aku selalu menceritakannya kepadamu. 

Sayang, kau bilang menjalin hubungan itu tidak perlu takut, ga boleh ragu. Kalau takut dan ragu udahan saja. Kalimat yang sering kau ucapkan. 

Sayang, aku menyayangimu, selalu. Dan selalu begitu. Jujur, memang iya ada beberapa hal yang sedang menyangkut dalam pikiran ku akhir-akhir ini. Tidak mungkin kalau kau tidak mengetahuinya. Aku selalu menceritakannya dengan mu. Selalu, jika kau menolak mengatakan iya kau pasti tidak ingat. 

Sayang, aku cemburu entah dengan siapa pun itu. Aku gelisah, dan selalu pemikiran buruk yang ada di pikiran ku. Ya memang itu semua ada di aku permasalahannya. Kau lelah dan cape untuk menjelaskannya berulang ulang kali kalau hanya ada aku satu satunya. Tapi maaf ingin sekali aku mempercayai hal itu tetapi tidak bisa. Entahlah ada pemikiran bahwa, aku akan selalu menjadi sebagian kecil dari hati kamu. Hanya sebagian kecil.

Sayang, bukankah di awal sudah ku ceritakan kalau ragu sudahi saja. Aku tidak bisa. Aku masih menunggu kamu untuk meyakinkan aku. Selalu, aku selalu menunggu kamu. 

Kenapa? Kenapa selalu hal seperti itu yang ada di pikiran ku? Bukan hanya dirimu saja yang lelah, aku tau kau pasti bosan dengan alasan semua yang ku ceritakan. Aku pun cape, dan selalu bertanya tanya, kenapa hal ini lagi dan hal ini lagi. 

Tentang lemahnya aku, pemikiran aku yang selalu menyatakan kau pasti punya yang lebih asik daripada aku. Tentang kekurangannya aku dan segala hal yang tak bisa ku lakukan untuk mu. Tetapi itu semua beralasan. Sebab dan akibat yang pernah ku ceritakan kepadamu pasti kau lupa atau bahkan tak pernah kau baca sedikitpun. 

Sayang, kau pasti jenuh dan bosan dengan omongan konyol ku yang membuat mu geram. Aku hanyalah satu satunya, katamu. Tapi aku belum bisa melihat itu. Ku sakit, ku kecewa, ku cemburu, itu saja tak pernah bisa kau lihat. Aku bukan robot yang selalu baik. Aku juga bisa seperti mu. 

Bukannya aku tak mempercayaimu dan meyakinkan mu, hanya saja itu yang sedang aku rasakan saat ini. Tak ingin pergi. Aku ingin bersama mu. Hanya saja, saat ini aku sedang membiasakan perasaan ku. Menerima  Gelisah ini sendirian. Kau tak perlu tau, kau tak perlu merasakan hal yang asing biarin aja aku sendiri yang menyelesaikannya. Walau jujur terkadang sakit rasanya, aku memiliki kamu, tapi aku merasa sendirian. 

Jika kau menyangkal bahwa aku tak pernah menceritakannya. Sudah ku jelaskan berulang kali. Coba lah ingat berapa kali aku chat dengan kalimat yang sangat panjang, aku tak yakin apakah kau membacanya ku rasa tidak, kau seakan lupa dan merasa semua baik baik saja. Kau sesekali hanya mengucap, "Aku ngerasa beda" Saat itu lah aku takut. Sangat takut. Kau tau apa yang ku takuti. 

Ku takut kau jenuh, bosan dengan masalah yang ini ini terus, lalu mencari hal yang lain, hubungan kita akan berantem terus dan akhirnya kau akan mendiamiku untuk beberapa hari. Aku terima, mungkin aku yang salah karna tak bisa menahan perasaan sakit ini sendirian, sehingga membuat hubungan kita menjadi cekcok terus. 

Ku takut kau akan nyerah, dengan sikap kekanak kanakan ku. Aku cuma perempuan biasa, yang baru pacaran sekali, dan memiliki hati yang sempit. 

Jika kau tanya apa yang kurasakan saat ini. Sedih, kesepian, sakit, kecewa, sendirian, hampa, hambar, ragu, tetapi kau perlu tau satu hal. Selama kau merasa baik baik saja dengan ku, cara kita mengobrol baik baik saja dan kau merasa tak ada apa apa disitu lah aku bahagia. 

Kau kebahagian ku sayang, 

Sayang, terkadang aku berpikir, apa kurang ku? Aku tak begitu jelek jika di lihat, aku pintar, aku baik, aku penyayang, aku mandiri, aku tak banyak minta hal dari mu. Kecuali merubahmu menjadi lebih baik. Aku Terima kamu apa adanya. Tetapi kalimat itu semua seakan runtuh dengan pemikiran... 

Aku tak bisa apa apa, tak bisa memberikan yang kamu mau, tak bisa menemanimu begadang, tak bisa menemani mu nongkrong, tak bisa menemanimu menyanyi, tak bisa menemani mu jalan jalan. Dan aku hanyalah perempuan rendah di banding mereka semua yang ajak ngobrol kamu. 

Bukan aku berarti mengekangmu, tidak. Hanya saja mungkin jujur menjadi solusi untuk kita saat ini. Aku tidak melihat kejujuran di kamu. Pasti sakit membacanya bukan? . Aku tau apa yang ada di pikiran mu saat ini. 

"Aku udah yakin sama kamu. Emak juga udah suka. Ga mungkin kalo aku tidak serius sama kamu, masa keseriusan aku kaya gini gabisa kamu liat sih. Aku kerja buat kamu" 

Kamu pasti akan berbicara seperti itu. 

Pacar kamu perempuan dengan hati yang lemah sayang. Perasaan aku berantakan rasanya, entah bagaimana cara memperbaikinya, aku juga bingung tapi aku akan coba menyelesaikannya sendiri. Aku bisa. 

Kau tak perlu merespon apa apa tentang ini. Cukup pura pura tak tau membuatku merasa lebih baik. Karna aku tau. Ketika ini ku berikan ke padamu, respon mu akan berubah. 

Hubungan kita akan semakin cekcok dan kita akan merasa asing satu sama lain. Aku tidak mau seperti itu, aku takut. Selalu takut. Anggap saja ini semua adalah dongeng pendek yang ku ceritakan kepadamu tentang pasangan lain. 

Aku tak bisa menceritakannya langsung di hadapan mu, karna mungkin aku akan menangis. Kau tau kan, perempuan mu ini hatinya lemah, dan cengeng. Aku lebih baik chat dari pada harus ngomong ke kamu. Aku gabisa hehehe. Mungkin suatu hari kamu akan ngerti soal aku, tanpa perlu aku menjelaskannya seperti ini. 

Rasa sayang aku tidak pernah berubah. Sama sekali tidak. Semua aku yang salah, biar aku memperbaikinya dan membiasakan perasaan aku yang seperti ini. 

Sayang Seperti yang pernah sering ku bilang. 

Kau tak perlu khawatir, aku disini. Sama kamu, nemenin kamu selalu. 

Tiyas.