Menjadi dewasa sangat lah membingungkan. Entah harus dijelaskan darimana, aku hanya ingin bercerita. Aku yakin takan ada satu orang pun yang akan membaca tulisan ini. Tak apa, aku hanya sedang Ingin bercerita.
Uang, uang, uang
Mengapa benda satu itu selalu membuat ku pusing. Aku seolah menjadi perempuan yang matre karna benda itu.
Uang selalu menjadi permasalahan buat ku, buat diriku sendiri. Padahal bisa saja ku buat santai, tetapi rasanya sulit sekali.
Mengapa aku selalu mengejar uang. Kemarilah akan kuceritakan.
Semua orang pasti memiliki ceritanya masing-masing. Begitu pun dengan aku yang mungkin sama seperti kalian. Aku bukan orang dari kalangan yang berada. Rumah ku dulu selalu banjir karna hujan besar. Aku cape selalu nauin banjir di kala orang lain biasa saja lewat depan rumah ku dengan santainya.
Dari kecil sampai aku sudah kerja banjir itu tetap menjadi langganan datang kerumah ku. Bagi ku itu adalah hal yang melelahkan. Dulu sewaktu aku SD mama berjualan di sekolahan. Dan uangnya menjadi dana darurat yang di simpen bertahun tahun oleh mama.
2 tahun yang lalu rumah ini di Uruk, sehingga aku bisa merasakan tidak banjir lagi. Alhamdulilah.
Aku dua bersaudara. Aku adalah anak pertama dimana aku sendiri menjadikan diriku seorang budak untuk diriku sendiri.
Buat ku membahagiakan mama bapak dan ade ku adalah hal yang wajib buat ku. Kenapa? Kalau bukan aku siapa lagi. Jawaban yang sangat simple.
Untuk di bilang balas budi rasanya masih kurang dan tidak pernah bisa dibilang seperti itu. Aku hanya menjadikan diriku untuk selalu ada buat mereka.
Aku pernah melihat mereka menangis karena suatu kondisi. Itu salah satu hal yang membuat ku menjadi seseorang seperti ini yang haus akan uang.
Mungkin kalian akan bilang "gausah di paksa kalau tidak ada" Tapi buat ku "aku akan berusaha selalu AdA untuk mereka"
Mungkin terdengar seperti egois. Tapi mungkin kalian akan berfikir yang sama jika bertukar posisi dengan diriku.
Aku seorang staff di sebuah office baru baru ini aku mendapat kenaikan gaji. Saat ini gajiku 4.810.000
Angka yang lumayan kan untuk 1bulan. Tapi tau ga. Di angka itu banyak hal, benda, dan makanan yang aku tahan padahal aku pinginin. Gapapa. Aku melakukan nya untuk orang orang yang aku sayang.
Jika mama tau. Dia pasti marah. Dia selalu dan akan membelikan apapun itu yang aku mau. Makanan benda apapun itu. Dia akan berikan. Tapi cukuplah hal yang aku tahan itu cukup diriku yang tau.
Aku mau beli tas, aku mau beli baju, aku mau beli sepatu, aku mau makan kue, aku suka sekali cake, kaya kue ulang tahun gitu, tapi jika aku beli harganya lumayan dari pada aku beli itu mending uangnya aku simpen buat belanja ke hari hari bareng sama mama.
Kalau mama tau pasti mama marah. Tapi lagi lagi aku cuma mau selalu ada buat mereka.
Aku bahagia tiap selesai belanja sama mama. Nanti kalo ada uang lebihan aku mau beli cake buat aku sendiri.
4.810.000 angka yang besar tapi tidak ada apa apanya. Aku memberikan 1jt tiap bulannya untuk mama. Karna kalo bukan dari aku dari siapa lagi. Bapak sudah ga kerja. Hanya kerja samping sampingan yang pendapatannya ga nentu. Dan mungkin 1jt kurang untuk menghidupi 4kepala. Walaupun mungkin ada pendapatan dari lain. Tapi aku sebagai anak harus melakukan itu.
Orang berpikir mungkin Ku berlebihan. Tapi entahlah bagi aku itu hal yang wajib.
800rb untuk bayar rumah. Nnti kan rumahnya buat aku juga jadi ya aku harus bayar. Walaupun mama sering bilang mama aja yang bayar. Tapi masa sih udah besar seperti ini masih harus orng tua yang bayarin yang jelas jelas rumahnya nanti aku yang nempatin.
Bayar listrik dan air. Ini ga seberapa. Total 400rb kurang lebih. Sebenernya mama mampu buat bayar sendiri. Lagi lagi untuk apa aku di besarin sampai sekarang kalau gabisa ngebantu perekonomian keluarga. Lagian kalo bayar rumah dan listrik mama yang bayar. Apa cukup 1juta yang aku kasih buat makan juga?
Belanja bulanan. Aku memang selalu ada untuk kebutuhan rumah ke hari hari dan superindo aku usahain aku yang selalu bayar. Walaupun mama bawa uang. Setidaknya aku ada gunanya sebagai anak.
Tiap bapak punya uang dari hasil sampingannya. Dia selalu nanya "punya uang ga" Aku selalu jawab "banyak uang aku mah" Walaupun kenyataannya uang aku mungkin ga cukup untuk akhir bulan.
Gapapa lagian kan aku ga jajan ini, kerja bawa bekel. Berngkt dan pulang kerja jalan atau ga di anter bareng ade.
Oiya ade udah kerja. Penghasilannya ga besar. Tadinya mau patungan bayar listrik air karna uang ku gabsa di kumpulin buat bayar rumah juga. Tapi di pikir pikir rumah kan emang tanggung jawab aku. Dan listrik air kan ga seberapa masa mau patungan dengan ade yang penghasilannya ga seberapa.
Dear calon suami, aku bekerja sudah lama. Terkadang ada rasa cape, wajar kan karna aku perempuan. Mungkin semuanya akan mudah jika aku bercerita atau orang rumah tau. Tapi bukan kah itu tidak penting karna jika bukan aku siapa lagi.
Dear sayang, jika sudah menikah nanti aku akan tetap bekerja. Aku bekerja membantu mu. Ketahuilah jika sudah menikah suami adalah tanggung jawab penuh dalam suatu keluarga. Tapi aku bekerja untuk bisa tetep mandiri dan tidak bergantung kepadamu.
Sayang, yang aku tau uang suami adalah milik istri dan uang istri adalah milik istri. Tapi mungkin bagimu tidak seperti itu. Aku harus selalu mengerti keadaan kita. Iya kan.
Aku berjanji untuk tidak akan menyusahkan mu. Hal yang aku lakukan sekarang akan tetap aku lakukan saat kita menikah nanti (aku tidak akan meminta dan membeli suatu hal, benda, makanan yang menurut ku bisa di nanti yang hanya kepengenan sesaat. Aku bisa tahan)
Tapi, aku mohon izin kan aku tetap melakukan 2 hal. Memberikan uang kepada mama dan membelanjakan kebutuhan seperti yang sudah kulakukan saat ini. Tidak akan meminta uang dari mu. Dari uang ku sendiri hasil kerja ku. Aku mohon izinkan. Aku hanya perlu mendengar jawaban "iya" Bukan jawaban jika uangnya cukup kamu boleh lakukan.
Ku mohon izinkan ya, aku janji tidak akan boros dan meminta untuk beli apapun. Tetapi izinkan 2 hal itu.
Terima kasih