Selasa, 08 Agustus 2017

Like a Dandelion

Nama ku bukan Bunga, juga bukan Dandelion.
Aku senja. Senja yang merindukan Rembulan.
tapi sayangnya nama mu bukanlah rembulan,
melainkan Angkasa.

kau tau, banyak bunga yang melambangkan begitu banyak arti
kau bisa mencarinya di internet,
namun entahlah aku menyukai dandelion di antara mereka semua.

aku kira tidak ada yang namanya cinta di dunia ini
namun hampir tiap tempat memiliki seseorang yang memiliki nama cinta
bahkan bukan hanya sekedar nama, melainkan sebuah lambang cinta.

aku mencintai mu, ku rasa itu terlalu berlebihan bukan.
aku mencintai seorang Angkasa. Angkasa yang begitu luas,
angkasa yang sulit untuk di miliki, kau  begitu sempurna.

sama kah Kau Angkasa dengan Langit? tapi apakah aku pun sama dengan bumi?

mengapa aku hanya dapat di samakan dengan turunnya hujan? apa karena suasana yang kumiliki seperti ingin turun hujan, hujan yang turun ketika aku mengingat akan bayangan mu? hey aku tidak selemah itu.

Bumi dan Langit begitu sempurna, apakah aku dan Angkasa bisa sempurna pula?

kau datang, tumbuh, berkembang dan membawa sebuah kebahagiaan kedalam kehidupan ku. Lalu ketika semua itu telah tumbuh semakin lama, kau pergi bersama angin, layaknya Dandelion yang meninggalkan tangkainya lalu bersemarak dengan angin. seperti dirimu yang memilih hilang bersama dirinya.