Rio jalan dengan gaya so cool nya kedua tangannya ia masukan kedalam saku celananya, tak heran kalo cowok satu ini di gemari banyak kaum hawa apalagi jika melihat statusnya di sekolah ini, ketua osis di tambah kapten basket yang mampu membuat dirinya makin di gemari. Di ujung lorong ia melihat seorang gadis yang sedang berjalan membelakanginya. Ia sudah bisa menebak kalo gadis itu adalah pujaan hatinya, status ini juga lah yang mampu membuat semua siswa seantero merasa iri dan patah hati namun banyak juga yang mengaggumi hubungan mereka. Mereka merupakan sepasang kekasih yang sangat serasi. Rio pun segera mempercepat langkah kakinya untuk menyamai sang kekasih.
"cewe, sendirian aja?" goda Rio saat ia sampai di samping gadis ini. Gadis yang berada di sampingnya tak menengok ke arah rio ia tetap saja berjalan seolah tak ada orang di sampignya.
"ehem, pacarnya kemana neng? Bisa kali jalan ama abang" ucap rio sembari menggoda gadis ini kembali saat ia sadar ucapannya tak di gubrisnya.
"maaf yah bang, saya bukan cabe-cabean lagian saya udah punya kekasih yg lebih ganteng dari abang. Mario! " balas gadis ini dengan tampang wajah yang tak kalah seperti rio. Rio hanya bisa mengangkat sebelah alisnya.
"gw dong " ujar Rio sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah gadis di hadapannya.
"ngarep." ucapnya dan melanjutkan langkahnya.
"fy, fy tungguin gw dong" ucap rio saat sang gadis beranjak meninggalkannya. Yah gadis itu adalah ify. Ify tetap pura2 tak mendengarnya.
"lo kenapa sih?" tanya Rio. Ify hanya menatapnya datar lalu berjalan kembali.
"fy tunggu!" kali ini rio memberhentikan ify dengan sedikit jegatan lengan rio. Posisinya membuat ify skak. Masalahnya ia tak bisa menghindar. punggung ify sudah nempel ke tembok. Lengan Rio juga telah menghalanginya di sebelah kiri pundak ify. jarak nya kini bisa di hitung beberpa cm. Ia hanya bisa speechless kalo rio sudah seperti ini.
"lo kenapa?" tanya Rio
"masih nanya gw kenapa?. Kemana lo kemren! Gaada kabar sama sekli di telfonin ga diangkat bbm gaaktif sms gak di bls" ucap ify, tangannya ia lipat di depan dada pandangannya ia buang dari hadapan rio. Sedangkan rio ia hanya tersenyum ia paling senang melihat wajah gadisnya bila sedang marah seperti ini mempunyai kharismatik tersendiri.
"gausah senyum-senyum deh! Gaada yg lucu! Udah tau salah." ujar ify kembali.
"iyah iyah aku minta maaf, kmren itu aku lagi ada acara. Hp aku juga ketinggalan di kamar jadi gabisa ngasih kabar ke kamu" balas Rio dengan posisi yg masih sama. Ify tetap bungkam.
"sebagai permintaan maaf kita ngedate deh" ucap rio yang mampu membuat ify mengeryitkan dahi nya.
"tapi jangan malem ini, kelamaan. Sepulang sekolah gimana sekalian kita ke taman baca udah lama kita ga kesana" usul rio sdngkan ify ia hanya memasang wajah seperti sedang menimbang-nimbang ke inginan Rio.
"gimana?" tanya Rio.
"gimana yah" ucap ify sambil menggit-gigit kecil jarinya.
"jorok ih" ucap rio yg melihat sang kekasih mengigit-gigit jarinya itu.
"biarin. Yang penting kamu cinta aku wle"
***
Entah mengapa rio terlihat begitu beda kali ini. Ia lebih sering diam dan terlihat tatapannya kosong. Sesekali ify menengok ke arah bangku rio namun rio masih tetap terlihat melamun, kenapa kekasihnya itu. Wajahnya terlihat pucat. Sadar bila ia sedang di perhatikan Rio pun menengok ke arah ify benar saja kekasihnya itu sedang memperhatikannya dengan tatapan yang penuh pertanyaan, ia pun membalas tatapan ify dengan senyuman mencoba menjelaskan bahwa ia tak apa-apa dan kekasihnya pun kembali memperhatikan pelajaran di depan tapi tidak dengan rio pikirannya kini melayang-layang entah dimana, banyak pertanyaan yang harus ia cari tau jawabannya. Perusahaan, deva, Bunda, dan... Ify yah semua itu apa yg akan terjadi bila ia... Bila ia harus meninggalkan semuanya. Apa yang harus ia lakukan sanggup kah itu semua ia tinggalkan.
Tak ada yang masuk pelajarannya saat ini otaknya sudah terlalu penuh untuk bisa di masuki teori-teori yang di berikan oleh sang guru.
"Rio..." sang guru pun mulai memprhatikan rio yg tak mengubris mata pelajarannya.
"Rio!!" tak ada jawaban kembali dari rio.
"Mario!!" ucap sang guru sekali lagi namun kali ini rio pun mulai tersadar.
"Kamu tidak memperhatikan peljaran ibu yah!"
"Ah ibu bisa aja saya tuh dari tadi sibuk perhatiin ibu, sampe lupa mana yg harus sya perhatiin tulisan ibu apa ibunya" sontak membuat seisi kelas tertawa atas ucapannya itu yg membuat sang guru geram.
"Jelas-Jelas kamu ibu panggil tak mendengar gimana kamu mau perhatikan pelajaran ibu"
"Saya bukannya gak denger bu, saya cuman terpesona sama kecantikan ibu" ucap Rio yang kembali mampu mencair kan suasana.
"kalo emang kamu denger dan memperhatikan dari tadi. Apa yang di maksud esai?" tanya sang guru. Sontak seisi kelas pun mulai membeku kembali.
"esai adalah karangan prosa yang membahas sesuatu masalah secara sepintas dari sudut pandang pribadi penulisnya" sahut rio menjelas kan apa yg di tanyakan oleh sang guru. Semuasa temannya hanya diam yang mereka tau esai itu soal isi-isian yang biasa ada di Uts. Itulah salah satu kelebihan Rio walaupun sebenarnya ia tak memperhatikan guru di hadapannya bahkan tak tau apa yg sedang ia jelaskan nmun rio mampu menjawab setiap pertanyaan yg di lontarkan untuknya.
"Oke, kali ini kamu selamat!" ucap sang guru lalu melanjutkan menulis di papan tulis. Ia pun tersenyum khusunya tersenyum ke arah sang kekasih. Itu juga salah satu yang di banggakan oleh sang kekasih Rio terlalu pintar dan tampan untuk ia lepaskan.
Setelah kejadian itu Rio mencoba untuk memperhatikan yang di jelaskan oleh sang guru dan mencoba melupakan pemikirannya sejenak. Ia akan cari jalan keluarnya, dan semoga ia mendapat jalan yang terbaik untuknya bahkan bukan hanya untuknya namun untuk semuanya.
***
"Lo keliatan beda"
"beda gimana? Tambah ganteng yah?" ujarnya sembari memperlihatkan deretan giginya yg bersih. Sang kekasih pun hanya membalas dengan cibiran.
"Lo kenapa?"
"kenapa apanya?"
"Pleas deh yo, lo ga usah bohongin gw! Gaada gunanya tau gak Lagi ada yang lo sembunyiin kan dari gw.
"Gaada" ucapnya santai
"Bohong!" ujar ify menatap rio dengan tatapan tajam.
"kalo iyah kenapa?"
"Tuh kan bener"
"Lo tau gak, kalo sebenernya gw itu punya penyakit" ujar rio memblas tatapan Ify.
"Ha? L..oo sa.. Kitt?" tanya ify terbata. Yg dibalas anggukan oleh rio. "Sakit apa?" tanya ify kembali dengan menggigit sedikit bibir bawahnya.
"Gw sakit... Sakit kalo jauh dari lo" seketika wajah rio yg datar berubah menjadi senyuman dan tertawa, sedangkan ify ia sudah dongkol dengan kekasihnya tersebut.
"iiiihhhhh Rio. Rese yah lo, gw udah serius2 juga" ucap ify sambil mencubiti pinggang rio.
"hhahaha lo tau ga fy, mimik muka lo tuh tadi lucu banget tau gak" ujar Rio tertawa.
"Bodo!! Gak lucu tau gak" ucap ify memasang wajah badmood.
"Bagi gw lucu"
"Rese tau gak"
Mereka tertawa, Bercanda, berguraw bahkan tanpa mereka sadari kebahagian itu mulai tampak di wajah mereka. Namun ada sesuatu yang tak mereka sadari bahkan mungkin hanya ify, waktu! Waktu mereka mulai berkurang.
***
Rio mulai berkutik dengan kertas-kertas yang berserakan di kasurnya. Pala nya mulai terasa pening. Penglihatannya mulai sedikit berkunang-kunang namun pekerjaan ini tak urung membuat nya sedikit waktu luang saja untuk beristirahat meninggalkannya. Perusahaan sang ayah yang tanpa di sengaja jatuh ketangannya kini membuat rio harus bekerja lebih ekstra dan bahkan harus meluangkan waktu istirahatnya untuk mengurus dokumen-dokumen itu pasalnya mau tak mau Itu semua telah menjadi tanggung jawabnya saat ini. Rio masih terduduk manis di atas kasurnya dengan tangan yang memegang beberapa kertas proposal. Ia harus membaca dokumen2 tersebut sebelum ia harus menandatanganinya.
"perasaan gw juga anak ayah deh" ucap seseorang yng tiba-tiba saja muncul di depan pintu sembari menyandarkan tubuhnya di penyangga pintu. Rio hanya diam sembari mengangkat sebelah alisnya.
Bersambung.....
Kira-kira gimana yah kelanjutannya, thanks yah udah mau baca. See u next time... Enjoy
Tidak ada komentar:
Posting Komentar