Cinta terkadang memang tak masuk akal, jauh dari kata logika, dan itu yang sedang kini ku alami. Awalnya Aku tak mengenalnya, aku pun tak pernah bertemu dengannya, tapi mengapa rasa ini tumbuh, rasa nyaman yang pertama kali muncul telah membawa rasa yang lebih dalam, ke dalam perasaan ku. Sudah hampir 3 tahun aku mengenalnya. Ketika dia masih semasa SMA, ketika dia menjalani Try Out, ketika dia menjalani UN, ketika dia lulus-lulusan, ketika dia menunggu untuk bisa masuk PTN, dan akhirnya dia pun bisa masuk di salah satu universitas ternama, ketika dia semasa kuliah dan akhirnya wisuda pada bulan oktober kemarin, dan kini dia telah lulus TKD untuk melamar bekerja.
Aku mengenalnya dari dunia sosmed, dia lelaki yang baik, menurut ku. Tak ada satu pemikiran pun yang terlintas di benakku jika ia tak baik seperti yang ku pikirkan selama ini. Tapi.. kalimat itu selalu terngiang dan membuat ku bimbang akan pemikiran ku selama ini.
"Eh Wi, gatau kenapa gaada satu pun pemikiran gw yang bilang kalo dia itu laki-laki ga baik. Udah cakep, pinter, baik, trus taat banget deh kayanya ama agama"
"Trus lu suka sama dia?" sahutnya.
"Gausah ditanya, gue mah emang udah suka sejak lama kali sama dia, gatau kenapa walaupun gue ga pernah ngeliat orangnya langsung, gue udah kesem-sem sama tuh cowo. Dan gue yakin kalo dia itu cowo baik-baik. Dan gue juga yakin kalo suatu hari nanti gue bakal ketemu sama dia." ucap ku membayangkannya yah walaupun aku ngga pernah ngeliat langsung setidaknya aku pernah ngeliat dia lewat fotonya. Aneh.
"Key, kalo cewenya yang Non Islam, itu mungkin masih bisa buat terjadi malahan yang cowonya bisa dapet pahala tapi kalo cowonya yang Non Islam itu ga boleh, masalahnya kan dia itu pemimpin kita nantinya, iya kan? Udah lah lagian dia jauh gini dan lu juga ga pernah ketemu dia." sahut Miftha.
"Bener tuh Key, lagian lu juga belom bisa mastiin kan dia sebaik apa kalo ternyata dia ga sebaik yang lu pikirin gimana? Toh gaada yang ga mungkin juga kan apa lagi dianya jauh, siapa tau disono dia udah punya cewe atau ga sebaik yang lu bilang tadi. Lu cuma kenal dia dari jauh doang Key blom tau aslinya kan" kali ini Dwi membuka suaranya.
Mendengar ucapan mereka berdua, membuat ku berfikir kembali. Benar yang di bilang Miftha, aku ngga bisa mempungkiri kalau aku dan dia berbeda. Tapi kami saling menghormati ko. Dan yang di bilang sama Dwi, ada benarnya juga sih, aku kan gatau apa yang terjadi sama dia disana, aku hanya mengenal dia dan tau dia dari jarak yang jauh. Gatau disana dia orangnya seperti apa. Aku hanya bisa diam. Seperti apa akhiran kisah ini ya Allah.
Beberapa hari yang lalu dia membuat status yang isinya kalau dia akan pergi ke Senayan yang artinya Jakarta. Bibir ini seketika membuat seulas senyuman. Aku pun segera meng-chat nya.
"Ka..?"
"Iya, kenapa de?"
"Lu mau ke Jakarta?"
"Iyah nih, perkumpulan yang kemarin lolos TKD"
"Oh yah? Kapan?"
"Pertengahan Januari de"
"Bentar lagi dong, Kira-kira apa mungkin bisa ketemu._. ?"
"Iya nih lusa de, Ga ada yang ga mungkin. Lu percaya kan?
"Iyah tapi kan ini dunia nyata bukan fiksi yang kapan aja gampang di pertemuin, mau beda alam sekalipun juga bisa di fiksi mah.
"Hahah, Lu ga percaya keajaiban de? Didunia nyata juga ada ko"
Dari chatan diatas dia membuat aku yakin kembali dengan perasaan ku, membuat ku percaya kembali dengan kalimat "Suatu hari kita pasti ketemu" membuat ku bertahan akan perasaan ku. Tapi apa dia juga nenyukai ku? Sepertinya tidak, mungkin dia hanya menganggap aku seperti adiknya berbeda dengan perasaan yang sedang menjulur di tubuh ku saat ini. Aku juga pernah bertanya sesuatu kepadanya, seperti ini
"Ko kita bisa saling kenal yah ka, menurut lu sengaja atau ga sengaja kita bisa kenal kaya gini?"
"Didunia ini gaada yang namanya sengaja atau ngga sengaja, semuanya udah ada yang ngatur. Takdir."
Takdir yah kata itu juga hadir dalam kisah ini, kisah kami atau mungkin kisa ku saja.
"De, gue lagi dijalan nih mau ke jakarta" tiba-tiba saja hp ku berbunyi dan ada suatu pesan yang tertera di ponsel ku.
"Oh yah, udah sampe mana ka?" tanya ku.
"Masih di kereta sih, sekitar jam 9 gue sampe stasiun jakarta kota"
Aku pun segera melirik jam yang melingkar di lengan ku, masih ada waktu setengah jam lagi. Aku pun segera berganti pakaian dan bergegas menuju stasiun jakarta kota. Jika ini memang takdir yang di tuliskan untuk kami, aku akan bertemu dengannya.
Jalanan begitu sangat macet membuat ku semakin gerah untuk segera sampai di stasiun itu, padahal bentar lagi hampir sampai tapi taxi yang ku tumpangi tak kunjung bergerak sedikit pun. Aku pun memutuskan untuk turun saja.
"Pak, saya turun disini saja, kembaliannya buat bapak saja" setelah aku memberikan beberapa lembar uang aku pun segera turun dan berlari menuju stasiun. Begitu ramai sekali di tempat ini bagaimana caa untuk aku bisa menemukan satu dari ratusan orang disini, apa mungkin aku bisa menemukannya. Aku melirik kembali jam yang berada di lengan ku, kini tepat pukul 9, kereta mana yang di tumpanginya. Apa aku akan bertemu dengannya hari ini, tapi seandainya kami ga bertemu... Lagi-lagi aku percaya takdir.
Aku pun mengeluarkan ponsel ku dan segera menanyakan keberadaannya namun ku urungkan niat ku. Aku akan menguji keberuntungan ku dan takdir ku. Jika kami bertemu itu artinya takdir kami bertemu tapi jika tidak berarti belum takdirnya bertemu. Untung saja aku tau seperti apa orangnya yah walaupun ngga liat langsung. Tak lama ada satu kereta yang baru saja tiba, ku harap itu keretanya.
Mata ku mencoba memfokuskan, pandangan ku menjulur keseisi ruangan. Sampai ketika...
Aku melihatnya, melihat sosok dirinya percis seperti yang kulihat di foto, dia memakai kemeja, dengan celana jeans, membawa sebuah koper yang tak begitu besar berwarna hitam yang baru saja turun dari kereta. Lelaki itu lebih tampan dari foto yang selama ini kulihat, postur tubuhnya sekitar kurang lebih 170 dengan berat tak terlalu gemuk namun berisi, Bibir ini mengulas sebuah senyuman, jantung ku bedetak lebih dari biasanya kaki ini seakan bergerak sendiri menuju ke arahnya. Ini lah jawabannya hal yang ku yakini kini benar-benar terwujud di depan mata. Aku bertemu dengannya.
Tapi tunggu. Tiba-tiba langkah ini terhenti. Dia menggandeng lengan seseorang, seorang perempuan yang begitu cantik parasnya. Dan dia turun bersama yang lain, sepertinya ia keJakarta bersama kawan-kawannya yang lain. Tapi yang aku fokuskan siapa perempuan yang di sampingnya. Wajahnya begitu ceria setelah turun dari kereta itu. Mereka begitu bahagia, Dan lihat dia menggenggam jemari perempuan sembari berjalan dan tertawa dengan kawan-kawannya yang lain. Entahlah apa yang saat ini aku rasakan, entah apa yang harus aku lakukan saat ini. Tapi yang sedang aku rasakan saat ini. Mata ku perih dan panas. Aku hanya bisa menatapnya, lebih lama dari selamanya lebih dalam, lebih sabar dari pada sabar.
Tak lama dia pun menatap ku, menengok ke arah ku. Aku pun masih melakukan hal yang sama, entahlah apa yang sedang ia fikirkan ketika ia menatap ku. Namun setelah itu aku pun pergi berlari, meninggalkan stasiun ini. Mereka benar dia tidak sebaik yang aku fikirkan atau mungkin aku yang terlalu bodoh menyukainya.
Dulu aku pernah berucap lebih baik mencintai orang yang ganyata dalam arti seperti aku menyukainya, ketimbang menyukai lelaki yang berada di sekitar kita. Kenapa? Karna kita taakan pernah sakit jika mencinta orang yang ngga ada di hadapan kita karna sebenarnya kita pun tau itu gamungkin. Tapi... Ternyata aku salah, ini pun sakit..