"Ka, gw tau mungkin gw emang ga sepintar lo, atau bahkan ga se cerdas lo. Tapi setidaknya gw juga ada hak dong di dalam pngurusan perusahaan ayah. Gw juga kan anaknya" ucap Deva yang mulai mendekati sang kaka. Rio masih diam memasang muka bingung.
"Ayolah ka, lo bisa berbagi sama gw. Gw juga bisa ko. Gw ga bego-bego bangeett"
"ssstttt. Ga usah banyak bacot luh. Gausah berbelit-belit. Bilang aja lo mau bantuin gw. Dari tadi ke!. Cape gw ngerjain itu semua. Stress gw" ujar Rio lalu beranjak dari kasurnya. Ia tau bahwa adik nya tak beda jauh dari dirinya ia percaya kalo deva bisa meng handle ini semua. Sedangkan deva hanya memasang wajah bingung.
"Lo mau kemana ka?" tanya deva yang sadar akan kepergian sang kaka.
"Bikin minum. Aus gw. Seret ngeliatin kertas-kertas semua. Kalo ngeliatin cewe cantik sih ayo aja" ucap Rio sembari berjalan membelakangi deva.
"Sterss luh!!" sahut deva yang langsung menghampiri tempat tidur sang kaka dan mulai memahami, dan membaca kertas proposal itu satu persatu. Kini fikirannya terfokus oleh data-data semua di hadapannya kini.
Setelah Rio melewati pintu kamarnya ia tersenyum perasaannya sedikit lega setidaknya ada yang mengurus dan bertanggung jawab atas perusahaan sang ayah jika ia harus pergi meninggalkannya. Satu masalahnya telah terpecahkan namun bagaimana dengan masalah selanjutnya. Giman dengan deva dan Bunda apa ia tega untuk meninggalkan mereka dan ify.... Bagaimana dengan gadis itu, perempuan yang sangat ia sayangi setelah sang bunda. Tega kah ia melukai perasaan gadis tersebut.
"Acha!"ucap rio saat menuruni anak tangga ia melihat acha sedang bersama sang bunda di ruang tamu.
"eh ka Rio" ucap acha tersenyum ke arah Rio.
"wah kayanya deva nya lagi ga bisa di ganggu tuh. Lagi pacaran sama kertas2 dulu" ujar Rio nyengir.
"Acha kesini ga buat nemuin deva ko. Acha ke sini cuma mau nganter kue dari mama." ucap acha tersenyum ke rio lalu ke bunda Rio.
Acha pacar deva. Dan kebetulan mamah acha pun sahabat bunda. Rio pun tersenym akhirnya acha lah jawaban selanjutnya. Acha sangat mencintai deva dan sangat menyayangi bunda itu artinya ada yang merawat deva dan bunda. Acha bisa menjadi anak bunda sekaligus kekasih deva. Masalah ini selasai. Tinggal.... Ify.
Gadis itu yah, semoga ada jalan keluar yg terbaik.
"ka Rio mau keman?" tanya acha.
"oh, mau ngambil minum cha" ujar rio.
"gausah repot-repot ka"
"jeh siapa juga yg mau ngambilin buat situ wle" ucap rio lalu menuju ke dapur sedangkan acha hanya tertawa melihat ekspresi muka ka rio. Sebenarnya ia hanya meledeki ka rio saja hhaha.
Hanya Suara dentingan antar dua kubu yg kini mengalun sempurna di dapur dengan sedikit senyap-senyap tawa bunda dan acha. Pikirannya masih saja tak bisa ia kontrol. Penyakit itu telah mendominasi isi semua pemikirannya. Tak ada sedikit cela untuk memikirkan bahwa ia akan sembuh karna ia tau pasti penyakit yg kini ada di dalam tubuhnya akan betah berlama-lama di dalam tubuhnya dan mungkin gak akan pergi dengan begtu saja sebelum ia merelekan tubuhnya untuk pergi meninggalka orang-orang yang ia sayangi semuanya. Ada rasa takut,, takut untuk menjalani ini semua namun ini adalah takdir hidup nya yang mau tak mau ia harus kuat untuk menjalaninya. Esok tepat dua minggu setelah ia mengalami muntah-muntah yang membuat perutnya mual tak ketulangan dan nafsu makannya hilang seketika, ia harus menghadapi kembali sinar-sinar yang sebernya ia sendiri muak untuk terus menjalaninya. Tak lama lamunan itu pun menghilang dan mengingatkan nya akan teh yang di buatnya, ia pun lalu meminum teh tersebut masih dengan tatapan kosong. Dan....
"pprrrttttttsss"
"hhahahaha" terdengar tawa acha yang sepertinya dekat di sekitarnya.
"Gila! Asin banget nih teh," ucap rio sambil mengusap bibirnya sedangkan acha ia hanya tertawa melihat mimik wajah ka Rio.
"yaiyalah asin orang ka rio masukinnya garam bukan gula hhahaha, mangkannya jangan bengong mulu ka entar ke sambet loh. Mikirin ka ify mulu sih" tutur acha masih tertawa sampai-sampai keluar sedikit air mata sangking bahagianya menertawakan ka rio. Rio pun hanya mengerucutkan bibirnya.
"nih buat acha aja deh" ucap rio sambil memberikan cangkir teh yg ia buat ke tangan acha dan pergi meninggalkan acha di dapur.
"gak mau bikin lagi ka?" tanya acha sedikit meninggikan volume suaranya, karna rio sudah sedikit menjauh.
"udah gadlv" ucap rio smbil berjalan membelakangi acha
"Ha?" tanya acha bingung.
"Eh maksdnya udah gamood" ujar Rio membalikan tubuhnya ke arah acha dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi sambil menggaruk kepalanya yg tak gatal.
***
alyssa safira umari, yang biasa di sapa ify, ia kekasih Rio setelah rio memutuskan Nia sebagai kekasihnya. Kalo di bilang ify cinta pertamnya atau bukan. Yah jawabannya pasti bukan, karna apa,, karna mantan Rio itu banyak sangking banyaknya gak bisa di hitung pake tangan. Wajar ajalah orang tengil kaya dia punya banyak mantan. Sedangkan ia sendiri boro-boro punya mantan, karna rio adalah pacar pertamanya ia juga berharap kalo rio adalah cinta sejatinya. Seperti yg pernah di ceritakan oleh iel. Ify adalah pacar terlama rio, kenapa bisa begtu, karna hampir dua tahun ia menjalani hubungan ini dengan Rio, waktu yang cukup lama bahkan bisa di bilang sangat lama ketimbang mantan-mantan Rio. Karna seperti yang pernah di ceritakan iel lagi kalo Rio menjalin hubungan selalu saja kurang dari seminggu paling lama setahun, nah yang setahun itu sama Nia kaka kelasnya dulu yang sekarang sudah kuliah. Rio dan Nia berbeda jarak dua tahun saat kami baru masuk sma ini Nia atau biar lebih sopannya kania kelas tiga. Dan mereka putus karna Rio tidak mau menjalin hubungan dengan orang yang jauh dri dirinya. Alasannya psti banyak masalah yg akan terjadi. Dia gk tau pasti kan apa yg terjadi sama Kania di kampusnya atau sebaliknya karna sulit untuk membuat kepercayaan satu sama lain, akhirnya Rio pun memutuskan Kania. Awalnya memang hanya satu pihak namun kemudian ka Nia menerima alasan Rio untuk memutuskan hubungan mereka. Dan akhirnya aku lah saat ini yg menggantikan posisi kaNia.
"Doorrr!"
"Apaan sih lo iel, dateng2 ngaggetin orang aja, untung gw ga punya penyakit jantung!" ucap ify sambil mengusap2 dadanya mencoba menstabilkan detak jantungnya.
"Maap,maap. Lagi lo bengong aja! Kesambet luh!" sahut iel yang kini sudah duduk dihadapannya smbil membawa minuman kaleng di tangannya.
"Rio gak masuk kan?" tanya iel
"Iyah, ko lo tau?" tanya ify, karna masalahnya Rio dan Ify tak sekelas dengan Iel.
"Iyah tadi dia sms gw katanya lagi ada meeting sama klien bokapnya" ucap iel sesekali meminum, minumannya yg ia bawa.
"ooh, kasian juga yah kalo di pikir-pikir, padahalkan Rio belom lulus tapi dia udah punya tanggung jawab sebesar itu. Kdang gw salut sama tuh bocah. Pemikirannya terlalu cerdas walaupun di bagi ke mana-mana" ucap ify.
"yah mau gimana lagi fy, takdir! Siapa lagi kalau bukan dia yang handle" balas iel.
"padahalkan masih ada deva"
"yahelah fy, deva kan baru lulus smp kemaren" sahut iel.
"iyah sih tapi kan apa salahnya di coba. Lagi kan deva juga ga kalah cerdas sama Rio" ucap ify.
"Rio juga prnah bilang gitu sih, Cuman Dia blom percaya sepenuhnya sama deva, masalahnya yg sedang lagi di hadapi itu persaingan ketat apa lagi kalau kita gak pintar-pintar mencari peluang bakal bisa bangkrt tuh perusahaan. Rio juga bilang katanya dia blom tega nerjunin deva ke bidang bisnis takut gakuat nantinya jadi stres kaya dia hhaha" balas iel.
***
"Gimana dok ke adaan ka rio?" tanya deva.
"sebenernya kita sudah terlampau telat untuk menjalani kemoterapi ini, harusnya sudah dari awal kita menjalani ini namun rio tetap kekeh dan akhirnya sedikit sulit" sahut sang dokter.
"maksd dokter?" tanya deva.
"perkembangannya lambat, sedangkan kita baru menjalani 4 kali kemo yang seharusnya sudah dua kali lipatnya." ujar sang dokter.
"Itulah kario dok, ia selalu saja meremah kan penyakitnya itu, dok apa ka rio akan mengalami seperti ayah?" ada nada yang melemah di akhir kalimat yg deva ucapkan.
"saya gak bisa menjnjikan apa-apa dev, kita hanya perlu banyak berdoa, Semoga rio dapat menjalankan dan melewati ini semua." sahut dokter. "saya permisi" lanjutnya dan pergi meninggalkan deva dan Rio di ruangan ini.
sejak selesai kemo sampai saat ini kaRio tak sadarkan diri. Doker sengaja memberikan obat tidur kepada sang kakanya karna sang dokter yakin sekuat apapun ia menyuruh pasiennya untuk istirahat, sekuat itu juga rio akan membantahnya.
"elo terlalu bodoh ka, untuk bermimpi memasa bodohkan dan mencoba tak peduli dengan kondisi lo saat ini, mau sampai kapan ka lo menyiksa diri lo sendiri. Lo masih punya gw dan bunda Apa lo tega meninggalkan gw sama bunda. Kenpa lo gak pernah peduli sama kondisi lo ka, kenapa lo selalu masa bodo sama keadaan lo. Hrusnya lo denger kata dokter dan bunda untuk menjalani kemo dari awal saat penyakit lo itu mulai ada di tubuh lo bukannya menampung nya lebih lama sehingga sulit untuk membasminya..
Bersambung...
See u next time
Tidak ada komentar:
Posting Komentar