“Pak..
Pak..Pak.. jangan di tutup dulu dong pa gerbangnya.” Ujar seorang lelaki kepada
pa satpam.
“Kalian
ini gimana, baru aja hari pertama masuk, masih anak baru juga tapi sudah
terlambat” sahut pak satpam tersebut.
“Maaf
deh pak, sebenarnya tidak mau telat tapi yah mau gimana lagi namanya juga
Jakarta pa, macet” ujar seorang gadis dengan wajah yang seperti malaikat.
“Duh
kamu ini mau ngibulin saya yah, mana ada Jakarta macet subuh-subuh, kecuali
kalian ini kesiangan baru kena macet” ujar pak satpam masih dengan tak mau
membukakan gerbang tersebut.
Namun
tiba-tiba saja seorang lelaki menabrak pak satpam tersebut.
“Matiurip”
latah pak satpam sembari memegang perutnya, untung saja ia sampai tak jatuh, pak
satpam tersebut segera berbalik arah dan akan segera mengomeli orang yang telah
menabraknya dan membuatnya latah sehingga dua orang yang di depannya ini sampai
menertawakannya.
“Maaf
pak, maaf saya tak sengaja, suwer, saya benar-benar tidak bisa mengerem pak”
ujar orang tersebut, dandanannya benar-benar berantakan, rambut yang tak rapi,
baju seragam yang di keluarkan, tas selempang yang telah berubah tempat dan
topi yang telah berubah bentuk dari yang sebelumnya. Namun entah mengapa,
seberantakan apapun lelaki ini tetap saja wajahnya begitu tampan dan.. manis.
“Dasar
kamu yah, kamu ini anak pelajar apa bukan sih? Lihat penampilan kamu!
Benar-benar berantakan. Saya aja malu jadi satpam penjaga sekolah yang punya
murid kaya kamu.” Tutur pak satpam ini dengan membenarkan tali pinggang yang
telah berubah bentuk karna kejadian tabrakan tadi.
“Yaampun
pak, maafkan saya, kan tadi saya sudah bilang tak sengaja, lagian saya kaya
gini itu, karna kesiangan pak, kalau saya ga kesiangan juga pasti penampilan
saya rapih ko, gak kalah gantengnya sama si tuh..” ujar lelaki ini sembari
mengarahkan dagunya kearah lelaki yang tak jauh di sebrangnya, memang tampang
lelaki tersebut lebih tampan darinya, lebih rapih juga dan lebih terlihat cool,
berbeda jauh dengannya namun tetap saja baginya dirinya tetap lelaki tertampan
nomor satu.
"Alah kamu ini banyak alasan. Kalian bertiga itu sama. Sama-sama ga disiplin. Hari pertama masuk saja sudah terlambat, bagaimana dengan esok, esok, dan esoknya" ujar pa satpam mencoba menceramahi semuanya. Gadis ini dan lelaki yang berada di sampingnya hanya diam dan menundukan kepalanya, namun berbeda dengan lelaki yang satu ini. Ia hanya memanfaatkan ceramah itu sebagai sedikit waktu yang ia gunakan untuk membenarkan tali sepatunya.
"Ada apa ini yah pa?" Tiba-tiba seorang lelaki dengan seragam yang komplit dan rapi menjelaskan bahwa ia adalah siswa dari sekolah tersebut datang dan menghampiri pak satpam dan tiga orang tersebut.
Pak satpam yang merasa ada seseorang yang bicara dengannya, ia pun menengok ke suara tersebut, bahkan bukan hanya pak satpam namun dengan tiga orang itu juga.
"Ini loh mereka telat" ujar pa satpam sembari menengok ke arah tiga orang tersebut.
"Oh, yaudah pa biarkan mereka masuk" ujar lelaki ini dan tersenyum ke pada pak satpam itu.
"Oh yaudah kalau begitu" pak satpam pun segera membuka gerbangnya dan memberikan jalan untuk mereka masuk.
"Untung kalian tidak di pulangkan" ujarnya kembali. Gadis yang paling cantik diantara mereka bertiga lah yang masuk duluan, kemudian di susul dengan lelaki yang tampan dan rapih penampilannya, ketiga lelaki yang begitu sangat berantakan, dan terakhir di susul oleh lelaki yang .memberikan izin agar mereka bertiga bisa masuk.
"Hey kamu!" Lelaki ini pun menyentuh pundak lelaki ketika, sontak lelaki itu pun menengok ke belakang.
"Iya ka?" Dia pun memanggil lelaki yang di berada di belakangnya dengan sebutan kaka. Karna ia tahu bahwa lelaki yang telah membantunya untuk masuk ini pasti kaka kelas. Mungkin kelas 11 atau mungkin kelas 12.
"Nama kamu siapa?"ucap nya sembari mencoba memperhatikan lelaki yang memanggilnya dengan sebutan kaka ini.
"Dodit ka, dodit muhammad septian" sahutnya.
"Rapikan dulu seragam kamu" ujar lelaki di hadapannya kembali. Dan lelaki yang bernama dodit ini pun segera membenarkan seragamnya.
"Kamu" kali ini lelaki ini menunjuk satu-satunya gadis yang berada di antara mereka.
"Nama saya Maura ka" ucapnya.
"Saya tidak nanya nama kamu, mana topi kamu? Dan kenapa tidak mengikuti aturan yang telah di buat untuk MOS" ucap lelaki ini yang mampu membuat lelaki di sampingnya mengetawainya. Sedangkan perasaan yang dirasakan oleh gadis ini sekarang adalah dongkol.
Gadis ini pun segera membuka tasnya dan mencoba mengeluarkan topi yang telah ia buat kemarin malam, namun tiba-tiba..kenapa tak ada di tasnya.
"Mana?" Tanya lelaki ini yang ternyata akan menjadi kaka kelasnya kelak.
"Sebentar ka lagi di cari" ucap gadis jni dengan sedikit panik, masalahnya ia buat kemarin semalaman namun sepertinya topi itu tidak masuk ke dalam tasnya.
"Alasan, bilang saja tidak buat" ucap kaka kelas ini.
"Saya buat ko ka, beneran deh, suwer, kemarin malam saya sudah buat tapi sepertinya ketinggalan" ujar gadis ini mencoba membela diri.
"Banyak alasan, so bela diri" ujar kaka kelas ini. Batin si gadis benad-benar mengutuk kaka kelas yang berada di hadapannya saat ini. Awalnya ia kagum dan terpikat oleh kaka kelas ini, selain tampan, karna kaka kelas ini lah ia bisa masuk dan tak di kunciin di luar gerbang sekolah , namun ternyata kaka kelas di hadapannya ini tak beda jauh dengan se-seorang yang menyebalkan.
"Kamu!" Kali ini kaka kelas ini menunjuk lelaki yang berada di samping kiri gadis yang awal.
"Kaos kaki kamu mana? " tanya nya dengan gaya memasukan satu tangannya ke saku celananya.
"Ini.." sahut lelaki ini sembari menunjuk ke bawah menunjukan kaos kakinya, namun kenapa tiba-tiba kaos kaki ini tidak terpasang cantik di kakinya.
"Mana?" Tanya nya dengan nada melecehkan.
"Sepertinya tertinggal dirumah" sahutnya dengan nada pelan. Ia merasa malu apa lagi dengan dua orang yang berada di sekitarnya. Dalam hati ia merutuk dirinya sendiri , mengapa ia sampai lupa memakai kaos kaki, pasti ini gara-gara ia berburu-buru makannya ia sampai lupa memakai kaos kaki.
"Ayo kalian ikut saya. Sudah telat, pakaian seragam tak lengkap, dan tidak ikut upacara di hari pertama masuk SMA sini" ujar lelaki itu seraya berjalan terlebih dulu mendahului mereka bertiga dan ikuti dari belakang oleh mereka.
Tak lama mereka ber-empat tiba di sebuah lapangan yang cukup luas, semua siswa-siswi duduk di lapangan tersebut dengan pakaian dan penampilan yang tak enak di lihat, semacam orang aneh yang rela untuk di tertawakan.
Kaka kelas yang membawa mereka ke pinggir lapangan ini sedang berbisik dengan temannya, entahlah apa yang mereka bisikan, namun sepertinya perasaan mereka bertiga benar-benar sudah tidak aman, sepertinya akan terjadi sesuatu yang memalukan.
Kemudian teman kaka kelas ini berjalan kearah tengah lapangan dan berbicara dengan micnya.
"Hallo adik-adik, minta perhatiannya sebentar yah, ini ada kawan kita yang datang telat dan tidak memakai seragam yang lengkap. Sepertinya mereka akan menyumbangkam lagu untuk menghibur kita" ujar lelaki yang berada di tengah lapangan tersebut yang mampu membuat mereka bertiga membulatkan matanya.
"Ayo kalian sini ketengah lapangan" panggil si kaka kelas yang berada di tengah lapangan, mau tak mau mereka pun berjalan ke tengah lapangan .Lelaki yang awal berjalan, berjalan dengan santai di susul dengan gadis yang bernama Maura, ia pun berjalan dengan santai dan tak menundukan pandangannya. Dan yang berjalan terakhir bernama Dodit, jalan dengan memasukan tangannya kedalam saku celananya.
Lelaki yang pertama berjalan bernama Mario atau yang biasa di sapa Rio, banyak yang memperhatikan lelaki satu ini, tak sedikit dari kaum wanita yang berbisik tampan, ganteng, dan cool, serta manis bahkan ada yang sudah tau namanya dan berbisik 'dia sekolah disini juga' 'itu Rio kan? Yaampun tambah ganteng aja' bahkan yang lelaki pun banyak yang berbisik namun dengan kalimat yang berneda dan berfariasi.
Yang kedua adalah seorang gadis, ia adalah Maura. Kali ini para lelaki yang mengagumkan akan kecantikannya. Banyak lelaki yang siul-siul dan meneriaki namanya bagi yang telah mengetahuinya, dan Maura pun hanya senyum membalasnya. 'Gila cantik banget tuh cewe' 'Yaampun kayangan ada yang keilangan bidadari' 'Itu sih bidadari gw' bahkan para wanita pun banyak yang ikut mengagumi akan kecantikannya.
Dan yang terakhir disusul oleh lelaki bernama Dodit, jalan dengan santainya dengan rambut yang sedikit gondrong dan berantakan. Kali ini banyak yang kaget karna lelaki ini dapat masuk sekolah ini. 'Itu Dodit? Masuk sini juga dia' 'asik si Dodit masuk sini brother, regu bola kita ga bakal kehilangan andalan' tak sedikit juga yang memuji akan penampilannya karna untungnya ia juga memiliki wajah yang bisa di bilang tampan. 'Yaampun malaikat dari mana itu, ga kalah ganteng sama yang lelaki awal' 'yang ini ganteng weh ganteng' dan sebagainya yang mereka katakan.
Kini mereka pun telah berada di tengah lapangan, tak merasa takut, risih dan sebagainya. Malahan mereka memberikan senyum terbaik mereka, seolah-olah mereka adalah seorang juara yang telah memenangkan sebuah perlombaan dari banyak peserta.
"Silahkan kalian bernyanyi" ujar salah satu kaka kelas. Mereka bertiga saling menengok, mencoba menanyakan lagu apa yang akan mereka nyanyikan bersama.
"Nyanyi apa kita?" Tanya Rio.
"Kita" ujar Dodit.
"Kita?" Tanya Rio
"Iya bener. Kita" kali ini Maura yang mengeluarkan suaranya.
"SheilaOn7" sahut mereka berbarengan.
"Suka SheilaOn7 juga?" Tanya Rio dan serentak Maura dan juga Dodit pun mengangguk.
"Oke, kita nyanyi kita" ujar maura.
Dan mereka pun bernyanyi bersasama.
di saat kita bersama, di waktu kita tertawa
menangis merenung oleh cinta
kau coba hapuskan rasa
rasa dimana engkau melayang jauh dari jiwaku juga mimpiku
biarlah biarlah, hariku dan harimu
terbelenggu satu lewat ucapan janjimu
dan kau bisikkan kata cinta
engkau telah percikkan rasa sayang
pastikan kita seirama
walau terikat rasa hina
sekilas kau tampak layu
jika kau rindukan gelak tawa yang warnai lembar jalan kita
reguk dan teguklah mimpiku dan mimpimu
terbelenggu satu lewat ucapan janjimu
Dan kau bisikan kata cinta
kau telah percikan rasa sayang
pastikan kita seirama
walau terikat rasa hina
Dan kau bisikan kata cinta
kau telah percikan rasa sayang
pastikan kita seirama
walau terikat rasa hina