Jumat, 05 Agustus 2016

kisah klasik series


“Pak.. Pak..Pak.. jangan di tutup dulu dong pa gerbangnya.” Ujar seorang lelaki kepada pa satpam.
“Kalian ini gimana, baru aja hari pertama masuk, masih anak baru juga tapi sudah terlambat” sahut pak satpam tersebut.
“Maaf deh pak, sebenarnya tidak mau telat tapi yah mau gimana lagi namanya juga Jakarta pa, macet” ujar seorang gadis dengan wajah yang seperti malaikat.
“Duh kamu ini mau ngibulin saya yah, mana ada Jakarta macet subuh-subuh, kecuali kalian ini kesiangan baru kena macet” ujar pak satpam masih dengan tak mau membukakan gerbang tersebut.
            Namun tiba-tiba saja seorang lelaki menabrak pak satpam tersebut.
“Matiurip” latah pak satpam sembari memegang perutnya, untung saja ia sampai tak jatuh, pak satpam tersebut segera berbalik arah dan akan segera mengomeli orang yang telah menabraknya dan membuatnya latah sehingga dua orang yang di depannya ini sampai menertawakannya.
“Maaf pak, maaf saya tak sengaja, suwer, saya benar-benar tidak bisa mengerem pak” ujar orang tersebut, dandanannya benar-benar berantakan, rambut yang tak rapi, baju seragam yang di keluarkan, tas selempang yang telah berubah tempat dan topi yang telah berubah bentuk dari yang sebelumnya. Namun entah mengapa, seberantakan apapun lelaki ini tetap saja wajahnya begitu tampan dan.. manis.
“Dasar kamu yah, kamu ini anak pelajar apa bukan sih? Lihat penampilan kamu! Benar-benar berantakan. Saya aja malu jadi satpam penjaga sekolah yang punya murid kaya kamu.” Tutur pak satpam ini dengan membenarkan tali pinggang yang telah berubah bentuk karna kejadian tabrakan tadi.
“Yaampun pak, maafkan saya, kan tadi saya sudah bilang tak sengaja, lagian saya kaya gini itu, karna kesiangan pak, kalau saya ga kesiangan juga pasti penampilan saya rapih ko, gak kalah gantengnya sama si tuh..” ujar lelaki ini sembari mengarahkan dagunya kearah lelaki yang tak jauh di sebrangnya, memang tampang lelaki tersebut lebih tampan darinya, lebih rapih juga dan lebih terlihat cool, berbeda jauh dengannya namun tetap saja baginya dirinya tetap lelaki tertampan nomor satu.
"Alah kamu ini banyak alasan. Kalian bertiga itu sama. Sama-sama ga disiplin. Hari pertama masuk saja sudah terlambat, bagaimana dengan esok, esok, dan esoknya" ujar pa satpam mencoba menceramahi semuanya. Gadis ini dan lelaki yang berada di sampingnya hanya diam dan menundukan kepalanya, namun berbeda dengan lelaki yang satu ini. Ia hanya memanfaatkan ceramah itu sebagai sedikit waktu yang ia gunakan untuk membenarkan tali sepatunya. 

"Ada apa ini yah pa?" Tiba-tiba seorang lelaki dengan seragam yang komplit dan rapi menjelaskan bahwa ia adalah siswa dari sekolah tersebut datang dan menghampiri pak satpam dan tiga orang tersebut. 

Pak satpam yang merasa ada seseorang yang bicara dengannya, ia pun menengok ke suara tersebut, bahkan bukan hanya pak satpam namun dengan tiga orang itu juga.

"Ini loh mereka telat" ujar pa satpam sembari menengok ke arah tiga orang tersebut. 

"Oh, yaudah pa biarkan mereka masuk" ujar lelaki ini dan tersenyum ke pada pak satpam itu. 

"Oh yaudah kalau begitu" pak satpam pun segera membuka gerbangnya dan memberikan jalan untuk mereka masuk.

"Untung kalian tidak di pulangkan" ujarnya kembali. Gadis yang paling cantik diantara mereka bertiga lah yang masuk duluan, kemudian di susul dengan lelaki yang tampan dan rapih penampilannya, ketiga lelaki yang begitu sangat berantakan, dan terakhir di susul oleh lelaki yang .memberikan izin agar mereka bertiga bisa masuk. 

"Hey kamu!" Lelaki ini pun menyentuh pundak lelaki ketika, sontak lelaki itu pun menengok ke belakang. 

"Iya ka?" Dia pun memanggil lelaki yang di berada di belakangnya dengan sebutan kaka. Karna ia tahu bahwa lelaki yang telah membantunya untuk masuk ini pasti kaka kelas. Mungkin kelas 11 atau mungkin kelas 12. 

"Nama kamu siapa?"ucap nya sembari mencoba memperhatikan lelaki yang memanggilnya dengan sebutan kaka ini.

"Dodit ka, dodit muhammad septian" sahutnya. 

"Rapikan dulu seragam kamu" ujar lelaki di hadapannya kembali. Dan lelaki yang bernama dodit ini pun segera membenarkan seragamnya. 

"Kamu" kali ini lelaki ini menunjuk satu-satunya gadis yang berada di antara mereka. 

"Nama saya Maura ka" ucapnya. 

"Saya tidak nanya nama kamu, mana topi kamu? Dan kenapa tidak mengikuti aturan yang telah di buat untuk MOS" ucap lelaki ini yang mampu membuat lelaki di sampingnya mengetawainya. Sedangkan perasaan yang dirasakan oleh gadis ini sekarang adalah dongkol. 

Gadis ini pun segera membuka tasnya dan mencoba mengeluarkan topi yang telah ia buat kemarin malam, namun tiba-tiba..kenapa tak ada di tasnya.

"Mana?" Tanya lelaki ini yang ternyata akan menjadi kaka kelasnya kelak. 

"Sebentar ka lagi di cari" ucap gadis jni dengan sedikit panik, masalahnya ia buat kemarin semalaman namun sepertinya topi itu tidak masuk ke dalam tasnya. 

"Alasan, bilang saja tidak buat" ucap kaka kelas ini.

"Saya buat ko ka, beneran deh, suwer, kemarin malam saya sudah buat tapi sepertinya ketinggalan" ujar gadis ini mencoba membela diri. 

"Banyak alasan, so bela diri" ujar kaka kelas ini. Batin si gadis benad-benar mengutuk kaka kelas yang berada di hadapannya saat ini. Awalnya ia kagum dan terpikat oleh kaka kelas ini, selain tampan, karna kaka kelas ini lah ia bisa masuk dan tak di kunciin di luar gerbang sekolah , namun ternyata kaka kelas di hadapannya ini tak beda jauh dengan se-seorang yang menyebalkan. 

"Kamu!" Kali ini kaka kelas ini menunjuk lelaki yang berada di samping kiri gadis yang awal. 

"Kaos kaki kamu mana? " tanya nya dengan gaya memasukan satu tangannya ke saku celananya. 

"Ini.." sahut lelaki ini sembari menunjuk ke bawah menunjukan kaos kakinya, namun kenapa tiba-tiba kaos kaki ini tidak terpasang cantik di kakinya. 

"Mana?" Tanya nya dengan nada melecehkan. 

"Sepertinya tertinggal dirumah" sahutnya dengan nada pelan. Ia merasa malu apa lagi dengan dua orang yang berada di sekitarnya. Dalam hati ia merutuk dirinya sendiri , mengapa ia sampai lupa memakai kaos kaki, pasti ini gara-gara ia berburu-buru makannya ia sampai lupa memakai kaos kaki. 

"Ayo kalian ikut saya. Sudah telat, pakaian seragam tak lengkap, dan tidak ikut upacara di hari pertama masuk SMA sini" ujar lelaki itu seraya berjalan terlebih dulu mendahului mereka bertiga dan ikuti dari belakang oleh mereka. 

Tak lama mereka ber-empat tiba di sebuah lapangan yang cukup luas, semua siswa-siswi duduk di lapangan tersebut dengan pakaian dan penampilan yang tak enak di lihat, semacam orang aneh yang rela untuk di tertawakan.

Kaka kelas yang membawa mereka ke pinggir lapangan ini sedang berbisik dengan temannya, entahlah apa yang mereka bisikan, namun sepertinya perasaan mereka bertiga benar-benar sudah tidak aman, sepertinya akan terjadi sesuatu yang memalukan. 

Kemudian teman kaka kelas ini berjalan kearah tengah lapangan dan  berbicara dengan micnya. 

"Hallo adik-adik, minta perhatiannya sebentar yah, ini ada kawan kita yang datang telat dan tidak memakai seragam yang lengkap. Sepertinya mereka akan menyumbangkam lagu untuk menghibur kita" ujar lelaki yang berada di tengah lapangan tersebut yang mampu membuat mereka bertiga membulatkan matanya. 

"Ayo kalian sini ketengah lapangan" panggil si kaka kelas yang berada di tengah lapangan, mau tak mau mereka pun berjalan ke tengah lapangan .Lelaki yang awal berjalan, berjalan dengan santai di susul dengan gadis yang bernama Maura, ia pun berjalan dengan santai dan tak menundukan pandangannya. Dan yang berjalan terakhir bernama Dodit, jalan dengan memasukan tangannya kedalam saku celananya.

Lelaki yang pertama berjalan bernama Mario atau yang biasa di sapa Rio, banyak yang memperhatikan lelaki satu ini, tak sedikit dari kaum wanita yang berbisik tampan, ganteng, dan cool, serta manis bahkan ada yang sudah tau namanya dan berbisik 'dia sekolah disini juga' 'itu Rio kan? Yaampun tambah ganteng aja' bahkan yang lelaki pun banyak yang berbisik namun dengan kalimat yang berneda dan berfariasi. 

Yang kedua adalah seorang gadis, ia adalah Maura. Kali ini para lelaki yang mengagumkan akan kecantikannya. Banyak lelaki yang siul-siul dan meneriaki namanya bagi yang telah mengetahuinya, dan Maura pun hanya senyum membalasnya. 'Gila cantik banget tuh cewe' 'Yaampun kayangan ada yang keilangan bidadari' 'Itu sih bidadari gw' bahkan para wanita pun banyak yang ikut mengagumi akan kecantikannya.

Dan yang terakhir disusul oleh lelaki bernama Dodit, jalan dengan santainya dengan rambut yang sedikit gondrong dan berantakan. Kali ini banyak yang kaget karna lelaki ini dapat masuk sekolah ini. 'Itu Dodit? Masuk sini juga dia' 'asik si Dodit masuk sini brother, regu bola kita ga bakal kehilangan andalan' tak sedikit juga yang memuji akan penampilannya karna untungnya ia juga memiliki wajah yang bisa di bilang tampan.  'Yaampun malaikat dari mana itu, ga kalah ganteng sama yang lelaki awal' 'yang ini ganteng weh ganteng' dan sebagainya yang mereka katakan. 

Kini mereka pun telah berada di tengah lapangan, tak merasa takut, risih dan sebagainya. Malahan mereka memberikan senyum terbaik mereka, seolah-olah mereka adalah seorang juara yang telah memenangkan sebuah perlombaan dari banyak peserta.

"Silahkan kalian bernyanyi" ujar salah satu kaka kelas. Mereka bertiga saling menengok, mencoba menanyakan lagu apa yang akan mereka nyanyikan bersama.

"Nyanyi apa kita?" Tanya Rio. 

"Kita" ujar Dodit.

"Kita?" Tanya Rio

"Iya bener. Kita" kali ini Maura yang mengeluarkan suaranya.

"SheilaOn7" sahut mereka berbarengan. 

"Suka SheilaOn7 juga?" Tanya Rio dan serentak Maura dan juga Dodit pun mengangguk. 

"Oke, kita nyanyi kita" ujar maura.

Dan mereka pun bernyanyi bersasama.

di saat kita bersama, di waktu kita tertawa
menangis merenung oleh cinta
kau coba hapuskan rasa
rasa dimana engkau melayang jauh dari jiwaku juga mimpiku
biarlah biarlah, hariku dan harimu
terbelenggu satu lewat ucapan janjimu
dan kau bisikkan kata cinta
engkau telah percikkan rasa sayang
pastikan kita seirama
walau terikat rasa hina
sekilas kau tampak layu
jika kau rindukan gelak tawa yang warnai lembar jalan kita
reguk dan teguklah mimpiku dan mimpimu
terbelenggu satu lewat ucapan janjimu
Dan kau bisikan kata cinta
kau telah percikan rasa sayang
pastikan kita seirama
walau terikat rasa hina
Dan kau bisikan kata cinta
kau telah percikan rasa sayang
pastikan kita seirama
walau terikat rasa hina

Selasa, 02 Agustus 2016

Kisah Klasik Series

Gadis ini terus saja memoles wajahnya dengan sedikit bedak yang tertata rapih di atas meja riasnya, baginya setelat apapun ia harus tetap tampil menawan di hari pertama sekolahnya. SMA.. iam ready yippiiii!

"Mampus gue harus cepetan nih" gadis ini pun mengambil ransel nya dan segera turun menuju meja  makan yang ia tahu pasti Papihnya telah pergi terlebih dahulu meninggalkannya.

Gadis ini bernama Maura Maharani Adriana Putri, atau yang biasa di sapa Maura. Maura gadis yang cantik, tubuhnya terlihat skinny dengan rambut yang sepunggung membuatnya terlihat lebih menarik dan menawan, gadis yang populer di sekolahnya dulu. Sejak masa-masa SMP dulu jangan ditanya berapa lelaki yang menyatakan cinta kepadanya, jangan ditanya pula berapa mantan yang pernah singgah di hatinya. Kepintarannya juga yang menambah kharisma di dalam dirinya, begitu banyak perlombaan yang ia menangkan nama sekolah pun menjadi alasan salah satunya untuk membuatnya terus semangat memenangkan perlombaan yang ia ikuti. Baginya itu sudah kewajiban bahkan persembahan yang layak ia berikan kepada tempat yang telah membuatnya terus bertambah pengetahuan di setiap harinya.

kepintaran, Kecantikan, popularitas tak membuatnya  menjadi gadis yang sombong yang begitu di segani oleh banyak orang, bahkan ia malah menjadi seseorang yang begitu banyak memiliki teman di antero sekolahnya. Baik, rendah hati, pintar, cantik, siapa yang tak menyukainya. Namun jika sudah berada dirumah sifatnya pun mulai berubah, menjadi gadis yang manja, cerewet, bawel layaknya seperti gadis pada umumnya namun itu hanya bisa di lihat oleh orang-orang terdekatnya.

Berbeda dengan lelaki yang satu ini, ia begitu tergesa-gesa merapikan barang-barang yang harus ia bawa untuk MOS. setelah ia telah merasa bahwa semua perlengkapannya telah ia bawa ia pun segera kelur kamar, namun ada sesuatu hal yang membuatnya semakin dongkol untuk hari ini.

"Bu... ko sepi banget sih nih meja makan?" sahutnya duduk dan meminum segelas susu yang  hanya tinggal segelas di meja makan tersebut.

"Yah gimana ga mau sepi, orang rumah semuanya sudah berangkat, tinggal kamu doang yang masih di rumah. cepat gih sana kamu berangkat sebelum makin terlambat kamu tiba ke sekolah" ujar sang ibu sembari mengupas sebuah apel di tangannya. Lelaki ini pun segera berangkat ke sekolah, Namun ketika ia melihat ke garasi..

"Bu..... ko motor Dodit engga ada?" tanya lelaki ini sedikit berteriak ketika melihat motor ninja berwarna merahnya tak berada di tempat yang sudah di sediakan. tak lama seorang ibu dengan wajah yang belum terlihat tua itu walaupun telah memiliki 3 orang anak yang telah beranjak dewasa datang menghampiri anak lelakinya itu.

"Hey, kamu lupa yah?" tanya sang ibu yang telah berdiri di depan pintu, Sang anak pun hanya memasang wajah bingung.

"Motor kamu kan masih di gadein ke ibu" sahut sang Ibu dengan santainya sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

"Iya bu, Dodit tau, tapi kan dodit cuma mau minjam buat ke sekolah, masalahnya Dodit udah kesiangan banget ini." ujarnya prustasi. yah sebelumnya ia telah mengadaikan motor kesayangannya itu kepada sang ibu, awalnya ia ingin mengadaikan nya dengan teman satu sekolahnya namun sang ibu tak mengizinkannya dan akhirnya sang ibu lah yang membeli motornya, dan jika ia telah memiliki uang yang cukup ia akan menebus kembali motor kesayangannya itu. Lelaki itu pun tak pernah memberi tahu siapapun mengapa ia mengadaikan motor kesayangannya itu dan ketika waktu itu tiba semua orang rumah pun tau ternyata uang gadai motor tersebut di belikan untuk sebuah perhiasaan yang begitu cantik nan indah yang ia persembahkan untuk sang ibu ketika ulang tahun ibunya.

"Kamu telat sih bangunnya, motor mu itu sudah di bawa sama kakamu ke kampus" ujar sang ibu.

"Apa? memangnya motor ka Mawar kemana?" lelaki ini pun mulai kesal mendengarnya, masalahnya ia benar-benar butuh transportasi saat ini. Dan ia pun kesal dengan kakanya satu itu, susah sih kalau punya kaka perempuan tapi jiwanya seperti laki-laki, Cantik tapi tomboy yah gitu lah.

"Katanya sih masuk bengkel, kamu masih mau bertanya apa mau berangkat? waktunya makin nipis loh" ujar sang ibu mengingatkan anak lelakinya itu yang telihat mulai kesal.

"Oh iya, Dodit berangkat bu..." lelaki ini pun segera berlari menuju gerbang rumahnya, yah mau gimana lagi tak ada transportasi yang bisa ia gunakan saat ini selain ia harus berlari sekencang-kencangnya berharap masih memiliki waktu dan dewi fortune pun masih mau berpihak kepadanya.

jangan ditanya kenapa tak naik kendaraan umum, karna itu akan memakan waktu yang lumayan banyak belum lagi beberapa angkot yang harus me-ngetem untuk mendapatkan penumpang yang memenuhi angkotnya. karna kebetulan tak begitu jauh antara rumah lelaki ini dengan jarak sekolah jika ia lewat jalan pasar dan sedikit gang yang hanya berjarak tiga orang saja jika di jajarkan, maka ia memilih untuk berlari, dan karna kebetulan ia telah sering melakukan hal ini jika posisi keadaannya seperti tadi pagi ditambah kesiangan seperti ini.

"Heyyy, anak kutukuprettt, lari gak liat-liat. pakai mata mangkannnya" ujar seorang laki-laki yang mengarahkan telunjuk tangannya kearah orang yang menabraknya.

Namanya Dodit muhammad septian. lelaki yang begitu sangat sulit untuk bangun pagi. Lelaki yang selalu saja kesiangan dan lelaki yang selalu saja mendapatkan sayuran dari abang tukang sayur yang telah ia tabrak. Lelaki yang begitu badung, nakal, iseng, dan tak pernah terlihat rapih walaupun sebenarnya, sifatnya begitu lembut dan begitu menyayangi keluarga terlebih sang ibu. Lelaki yang sering membawa sang ibu ke sekolah karna kesalahan dan kegaduhan yang ia buat. Namun jangan ditanyakan bagaimana rupa lelaki ini, karna lelaki yang memiliki nama lengkap Dodit Muhamad Septian ini memiliki wajah yang begitu tampan, manis dan juga.. berantakan. Yah walaupun berantakan tak sedikit wanita yang menghampirinya, begitu banyak wanita yang ingin menjadi kekasihnya namun tak ada satupun yang mampu memikat hatinya, maksudnya yang benar-benar mampu memikat hatinya. Memang sudah ada beberapa wanita yang ia kenalkan ke ibunya namun yah sekedar kenlkan saja, mungkin bagi para wanita itu menganggap dodit itu serius atau benar-benar menyukai mereka atau menganggap mereka adalah kekasihnya namun bagi dodit sendiri tidak. Dodit hanya menganggap mereka teman biasa tak lebih, jika mereka menganggapnya lebih yasudahlah itu hak mereka, selama itu bisa membuat mereka bahagia kenapa engga.

"Bang... baaang.... awas baangg" dodit terus berlari sembari memberikan isyarat kepada bapak-bapak paruhbaya dengan tangannya agar segera menyingkir, karna ia tidak memungkin untuk memberhentikan larinya yang telah kencang. Dan akhirnya pun.

Bruuuk...

"Dasaaaaarr bocah sableng.. kebiasaan selalu nabrak gerobak ku ini" ujar bapak-bapak tersebut sembari melempar sebuah mentimun ke arah dodit. Dodit yang kebetulan hanya menyenggol gerobak sang bapak hanya nyengir mengengok kearah belakang sembari memberikan gaya meminta maaf dan sekaligus menangkap mentimun yang bapak tersebut lempar.

"Maaf pak, terima kasih yah pa timunnya" ujarnya dan berlari kembali sembari memakan mentimun tersebut. 'Lumayan buat itung-itung sarapan temennya susu' sahutnya dalam hati.

Berbeda dimeja makan tempat lain. Sang adik melihat heran kepada kakanya, perasaan baru 10menit yang lalu ia kekamar sang kaka, kenapa sekarang kakanya sudah rapih dan tiba di meja makannya.

"Iiiiii dasar ka Rio joroook" ujar seorang anak perempuan yang memiliki nama lengkap Nova Dwiputri cahya Wangsih.

"Gausah bawel" sahut lelaki yang di panggil kaka ini sembari memakan roti yang telah ia buat. Ia memiliki nama lengkap Rio Raditya Putra Manik. Anak pertama dari tuan dan nyonya Sean. Sebenarnya ia bukanlah tipikal lelaki yang jorok, hanya saja waktu yang kurang tepat yang membuatnya memilih jalan untuk -tak mandi- saat ini. Namun walaupun lelaki yang memiliki wajah tampan ini tak mandi, ia tetap terlihat tampan bahkan ketampanannya sulit untuk di lunturkan.

Wajahnya yang tampan, postur tubuh yang atletis, tata rambut yang pas membuatnya makin terlihat tampan. Jangan salah banyak yang telah mengantri untuk menjadi kekasihnya, namun entahlah sampai saat ini ia masih saja belum membuka pendaftaran untuk mencari kekasih. Tak ada satu orang pun wanita yang ia bawa sekaligus di perkenalkan kepada orang tuanya. Bahkan ia merasa itu belum saatnya, belum ada wanita yang benar-benar mampu menggeserkan pikiran yang tak sinkron dengan hatinya. Dan perkataan adiknya yang semalam itu lah yang membuatnya kesiangan saat ini. Lelaki yang hobby bermain basket ini telah mengantongi banyak piala yang telah ia persembahkan untuk sekolahnya dulu, jabatan ketua osis pun menambah ia begitu banyak di kenali oleh seantero sekolah dan kepintarannya juga yang membuat ia makin di kagumi oleh para kaum hawa, namun entahlah lelaki ini masih saja sendiri. Tapi tentunya ia bukanlah lelaki yang 'homo' ia hanya saja belum menemukan yang pas, lagi pula pemikirannya masih begitu panjang, ini adalah awal memasuki SMA, masih begitu panjang untuk menemukan satu wanita apalagi dengan ketampanan dan kepintarannya ia pasti akan menemukan wanita itu. Yah pasti.