Dia unik, tapi tunggu. Dia bukanlah sebuah benda, atau barang pada masa lampau. Dia pengisi hati ku saat ini, dia yang akhir-akhir ini melayang-layang di depan penglihatan ku, dia yang berlari-lari di pikiran ku, dia seperti udara yang aku butuh kan, dia nama yang selalu ingin ku ucap, dia.. ah sudahlah dia terlalu istimewa untuk ku.
Entah mengapa aku suka memperhatikannya. Tau kah kalian, aku suka ketika melihat dia sedang berbincang dengan yang lainnya, aku terpikat melihat tawanya, senyumnya bagaikan obat penat untuk ku, kerutan di keningnya membuat aku tersenyum ketika dia terlihat bingung dengan sesuatu hal, tangannya begitu lihai memainkan pena di antara jemari-jemari tangannya lalu tak lama akan ia selipkan di sela telinganya. Oh iya tunggu terkadang ia juga sering memukul-mukul kecil pena tersebut ke keningnya dan membuat ku tak bisa berpaling dari pandangannya. Ah lagi-lagi sudahlah terlalu banyak yang ku ucap kan jika harus ku ceritakan satu persatu.
Dia memiliki separuh hati ku, tapi bagaimana dengan hatinya? Hei kalian jangan berfikiran bahwa dia kekasih ku. Bukan. Dia hanya teman ku. Teman yang memiliki hati ku lebih dari yang lainnya.
Aku tak tau darimana asal ini semua. Semuanya mengalir seperti air dan mungkin akan hilang begitu saja seperti badai.
Bagaimana mungkin aku mendapatkannya, jika dia saja memiliki teman perempuan yang banyak, terlebih mungkin aku bukan tipe yang dia inginkan. Menjadi secret admirer mungkin itu yang lebih tepat.
Sampai suatu hari, aku benar-benar tidak bisa melepaskan hati ku untuk yang lain. Ruang hati milik ku sudah terlalu sesak dan pengap diisi olehnya.
Dia mengajarkan ku tentang hal menunggu. Dan aku pun baru merasakan dan mengetahuinya bahwa ternyata menunggu itu melelahkan. Kita harus punya hati yang baja untuk melawan semuanya. Terlebih sakit lagi jika kita menunggu untuk orang yang tidak seharusnya di tunggu.
Hey.. kau, iya dirimu. Pantas kah kau ku tunggu? Hahaha pertanyaan konyol.
Sampai kapan aku kan menanti, oh tuhan tolong kuatkan hati ini... hanya dia nafas ku, kembali kan pada ku, karna ... terlalu lelah jiwa ku menunggu..
Sepenggal lagu yang tak sengaja begitu saja keluar dari mulut ku ketika baru saja aku mendengar liriknya dari telinga ku, tiba-tiba ada yang menyentuh pundak ku. Aku pun melepas earphone ku.
"Iya?"
"Bisa bicara sebentar?" Ujar nya, aku pun mengangguk dan keluar dari kelas mengikuti dirinya.
"Gw tau apa yang lu lakuin selama ini ke gw" ujarnya memulai pembicaraan. Jantung ini serasa lomba maraton. Ia berdetak lebih dari biasanya dan udara, dimana udara yang selama ini bebas untuk di hirup oleh siapa saja? Ia seperti menghilang untuk ku sesaat.
"..."
"Gw seneng apa yang lu lakuin ke gw" kini dia menatap ku.
"Lu tau kenapa? " seketika aku pun menggelengkan kepala ku ketika dia bertanya seperti itu.
"Karna itu tandanya gw terlalu sayang untuk di lepas. Iya kan?" Ujarnya kembali, kali ini di selingi tawa. Aku hanya bisa mengerutkan kening ku.
"Gw cuma mau bilang, rasa lu bukan hanya sepihak, rasa lu bukan hanya lu yang punya, khususnya perasaan lu ke gw. Lu ga sendirian, perasaa yang lu punya, gw pun punya" ujarnya. Aku pun hanya bisa diam menatapnya. Tak percaya dengan apa yang ia bicarakan namun tatapannya begitu meyakinkan dan teduh, damai.
Semua orang pun keluar dari kelas masing-masing dengan menggendong tas masing-masing jam pulang telah menjemput. Tapi... kenapa harus sekarang.
Dia tersenyum kepada ku, senyuman yang begitu manis dan sejuk, senyuman yang ingin sekali aku miliki. Lalu dia pergi meninggalkan ku, kembali kelelas dan masuk ke dalam kerimunan orang berlalu lalang.
Tunggu.. apa yang ia bicarakan tadi? Dia menyukai ku juga? Benarkah? Oh astaga mimpikah ini? Aawwww.. sepertinya tidak. Tapi... mengapa ia tak menjadikan ku kekasih nya.. akan ku tanya esok.
Sehari..
Dua hari..
Tiga hari..
Kata izin selalu aku dengar ketika dosen menyebutkan namanya. Kemana dia, apa ia hanya mempermainkan hati ku saja? Ah seharusnya aku tak usah bertinggi hati setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Akan aku pastikan.
"Eh ada yang tau rumahnya Langit? Ko dia izin terus yah" ujar seorang anak. Kebetulan sekali ada yang menanyakan alamatnya.
"Jl. Merdeka barat no. 25 komplek Mawar" jawab seorang teman ku. Aku pun segera mencatatnya. Aku harus kesana, sebelum mereka yang mendatangi rumah Langit. Atau jangan-jangan dia malu tak masuk kelas karna telah berbicara seperti itu kepada ku beberapa hari yang lalu.
Singkat cerita aku pun menemukan alamat rumahnya, terlihat begitu sepi namun ada seorang ibu-ibu paruh baya sedang menyiram sebuah tanaman.
"Permisi"
"Iya, Nyari siapa ya de?"
"Maaf bu, saya Niar, apa benar ini rumahnya Langit?"
"..."
"Saya teman sekampusnya"
"Silahkan masuk dulu de"
"Sebentar saya ambil kan minum dulu" ujarnya lalu masuk kedapur membuatkan sebuah minuman.
Aku melihat-lihat ruang tamu ini. Ternyata aku tak salah rumah, ini memang rumahnya Langit. Ada sebuah foto keluarga berukuran besar ada dua orang perempuan dan dua orang laki-laki. Salah satunya adalah Langit.
"Silahkan diminum de" aku pun meminum air yang dibawa oleh ibu tersebut, sepertinya ia pembantu di rumah ini.
"Adik ada perlu apa yah mencari den Langit?" Tanyanya.
"Kenapa Langit tak masuk akhir-akhir ini ya?"
"Den langit sedang ke luar negri bersama ibu dan bapak" ujar bibi tersebut.
"Ada acara keluargakah?" Tanya ku.
"Tidak bukan itu. Besok sepertinya mereja akan tiba di jakarta. Dan akan menguburkan jenazah den Langit di jakarta" ujar bibi ini lagi yang sontak langsung menatap ke arahnya. Mata ini seketika perih rasanya.
"Apa?" Tanyaku meyakinkan.
"Den Langit sejak kecil memiliki riwayat penyakit kanker, tapi dia termasuk lelaki yang hebat hingga bisa melawan sampai ia berumur saat ini. Namun hanya baru akhir-akhir ini saja den Langit ingin melakukan operasi. Ia bilang dia ingin segera di operasi karna ada seseorang yang sedang menunggunya, itu sebabnya mereka pergi ke malaysia buat melaksanakan operasi tersebut. Namun... pesawat yang di tumpangi den Langit mengalami kecelakaan.." ujar bibi tersebut menahan isak tangisnya.
Tiba-tiba terputar kembali siaran Tv yang belum lama ini aku lihat, sebuah pesawat jatuh tidak sempurna dan mengalami ledakan di bagian sayang baru-baru ini, tak ada korban yang selamat bahkan pilot pun tak selamat dan aku tidak tahu ternyata pemilik hati ku juga tak selamat...
"Lalu ibu dan bapak kesana menjemput den Langit untuk mengidentifikasi jenazah den Langit. Dan den Langit akan di kuburkan di jakarta" ujarnya kembali.
Aku benar-benar tak bisa berfikir jernih. Gelas yang di tangan ku tiba-tiba saja jatuh dan pecah berbarengan dengan air yang begitu saja mengalir melewati pipi ku.
Harus kah aku kehilangannya...
Virgoun- Surat cinta Untuk Starla