Minggu, 11 September 2016

Kisah Klasik Series

"Bisa sopan dikit ga kamu!" Seorang lelaki yang berdiri di belakang perempuan ini pun mulai melangkah maju namun di tahan oleh perempuan ini.
"Tenang Far" ucapnya.
"Saya rasa kamu tidak cacat. Tangan kamu juga masih bisa di gunakan" ujarnya lagi dengan memasang mimik wajah membalas sinis.
"Yah.. kaka cantik benar" sahutnya, Ia pun segera memasukan seragamnya dengan sedikit di sela-sela, namun pandangannya tak lepas dari wajah kaka kelas di depannya ini. lalu Dodit pun berbalik menuju tempat duduknya.
"Baiklah.. Surat akan dikumpulkan besok pagi, terimakasih" ucap perempuan ini.
"Dan tak ada kata tertinggal, apa lagi tidak membuat" tambah lelaki bernama Fardi ini. Diam-diam ada perempuan yang sedang mengutuk nya dalam hati.
Setelah para kaka kelas keluar meninggalkan kelas, mereka pun mulai ramai tentang tragedi yang baru saja terjadi. Namun sang empu yang di bicarakan tak peduli, sekalipun namanya menjadi topik terheboh setelah ini.
Tak lama kemudian, bel istirahat pun berbunyi. Entah mengapa seketika kantin adalah tempat tujuan yang memiliki pemikat paling banyak, kedua lapangan dan ketiga adalah Toilet.
Tiga orang ini memilih untuk ke kantin, memesan sebuah minuman dan makanan, dan duduk didalam satu meja.
"Parah!" Ucap Rio membuka pembicaraan, sembari mengaduk-ngaduk ice tea nya.
"Siapa yang sakit?" Tanya Dodit menengok ke arah Rio sembari menyendokan nasi goreng yang telah Ia pesan.
"Lu lah! Waras ga sih lu? Nama lu itu menjadi bahan gosip sekarang" kini giliran seorang gadis yang baru saja tiba dengan sebotol air mineral di tangannya yang berucap. Namun lelaki ini seolah tak mendengar ucapan temannya ini, ia malah asik menghabiskan makanan di hadapannya.
"Ko bisa-bisanya lu ngomong gitu sih Dit?" Tambahnya.
"Namanya juga Dodit" sahut Rio, membalas pertanyaan Maura.
"Nah tuh Rio aja tau, lagian gw itu kesel sama dia. Kalian liat ga sih dia narik baju gw ampe gw mau jatuh nyungsruk gitu. Kalo bukan cewe udah gw bales tuh pasti" ucap Dodit mengingat kejadian barusan. Rio hanya tertawa mendengar ucapan Dodit sedangkan Maura hanya geleng-geleng kepala.
"Oh yah gw gabiasa nulis surat cinta nih" ucap Maura sambil mengaduk-ngaduk sedotan yang berada di botol mineralnya.
Dodit yang mendengar ucapan Maura tersendak dan batuk seketika memberhentikan makannya dan mengambil minum yang di berikan oleh Rio.
"Cewe se-populer lu waktu SMP gabisa buat surat cinta? Hahahahaha" Dodit pun tertawa dan tak lama di susul oleh Rio namun tak sekencang Dodit.
"Ssttt! Berisik banget sih lu" sahut Maura dengan satu telunjuk yang di taruh di dekat mulutnya.
"Emang tadi kaka kelas itu semua nyuruh apa aja sih?" Tanya Dodit yang mulai memakan lagi makannya.
"Jadi tuh gini, kita disuruh buat surat cinta, tapi tidak di peruntukan untuk kaka kelas. Hanya untuk satu angkatan" ujar Rio menjelaskan kepada Dodit. Jelas saja Dodit tidak tau, dia saja baru tiba ketika kaka kelas telah usai meberitahukan pengumuman tersebut.
"Oh jadi gitu" sahutnya.
"Lu minta ajarin aja sama kaka lu" ucap Dodit memberi solusi.
"Gw anak tunggal" sahut Maura.
"Kalo gitu minta ajarin aja sama Nyokap lu, pastikan Nyokap lu bisa bantu. Siapa tau dulu Nyokap lu sama Bokap lu saling balas-balasan surat" kini giliran Rio memberikan solusi. Maura hanya diam, ia sedang memikirkan apa iya Dia harus meminta bantuan sama Maminya, tapi ah sepertinya itu sangat memalukan.
"Namanya Tiara Bro" ucap Dodit tiba-tiba. Maura yang mendengar ucapan Dodit hanya memasang wajah bingung. Sedangkan ia masih berusaha menghabiskan makanannya tanpa perduli pandangan teman-temannya. Rio pun segera menengok kearah Dodit ketika temannya itu menyebut kan sebuah nama.
Setelah Ia merasa bahwa teman-temannya begitu memperhatikannya ia pun segera mengangkat pandangannya menuju lurus ke jam duabelas, sedikit menyipitkan matanya menuju ke arah seorang gadis. Maura pun mengikuti arah pandangan Dodit, sedangkan Rio masih memandang Dodit dan mencerna kata-katanya setelah itu mengikuti pandangan Dodit.
"Kayanya dia kelas X-3 deh, dia temen gw dulu waktu SMP" Ucap Dodit lagi dan melanjutkan makannya.
"Lu mau nulis surat buat dia?" Tanya Maura.
"Bukan gw, tapi temen kita yang satu ini" sahut Dodit mengarahkan dagunya ke arah Rio. Sedangkan Rio masih memandangi gadis di ujung sana yang sedang berdiri memesan sebuah makanan sembari mengobrol dengan teman lainnya.
"Bener Yo lu mau nulis surat buat dia?" Tanya Maura kearah Rio.
"Ha?" Tanya Rio yang tiba-tiba saja mendapat pandangan aneh dari Maura.
"Apa?" Tanya Rio yang tak mengerti maksud pandangannya itu.
"Astaga" ucap Dodit sambil menepuk jidatnya.
"Dia cewe yang bakal lu tuju?" Kini giliran Dodit yang bertanya.
"Kayanya sih gitu" sahutnya. Maura berbalik badan mencoba memastikan lagi siapa gadis itu yang sebenarnya ia belum tau pasti. Masalahnya tujuan pandangan Dodit kemana-mana tadi.
"Yang mana sih orangnya" tanya Maura masih sambil berbalik badan.
"Jadi lu belum nemu yang mana orangnya?" Tanya Dodit yang di balas gelengan kepala olehnya.
"Liat ke arah jam sembilan" ucap Dodit.
"Sialan luh!" Sahut Maura sambil meninju lengan Dodit masalahnya yang Ia temukan malahan Ibu kantin yang sedang membawa nampan sebuah makanan. Dibalas tawa oleh Dodit sembari mengusap-usap lengannya yang di tinju oleh Maura.
"Itu loh yang di ujung sana, arah tepat jam duabelas" kini giliran Rio yang berucap.
"Mana sih?" Maura pun masih mencari gadis bernama Tiara yang di arahkan oleh Rio.
"Ra lu katarak yah? Pake sedotan makannya liatnya. Hahaha" ucap Dodit yang lagi-lagi mendapat tinjuan oleh Maura.
"Yeee namanya juga rame gimana sih lu, wajarlah kalo gw belum bisa liat ke arah tuh cewe" sahut Maura membela diri.
"Hahaha itu loh yang megang teh botol" ucap Rio kembali.
"Ooh itu" kini Maura telah menemukan siapa gadis yang dimaksud.
"Kalo lu mau nanti gw temenin cari kelas nya deh gimana?" Dodit pun menawarkan diri untuk membantu temannya ini.
"Kata lu barusan dia kelas X-3" tanya Rio bingung.
"Ya itu kan gw cuma mengira-ngira, buat mastiinnya kita cari tau" ucap Dodit.
"Okelah" balas Rio.
Setelah pembicaraan di kantin semuanya berjalan dengan lancar. Guru selang berganti masuk ke kelas mereka, memang tak lama, hanya sekitar 20menit setelah itu ganti guru baru. Ketika pergantian guru Dodit pun berjalan menuju tempat Rio.
"Ayo Yo" ucap Dodit.
"Kemana?" Tanya Rio.
"Nyari kelasnya Tiara" sahut Dodit.
"Nanti aja deh, sepulang sekolah" ucap Rio.
"Kelamaan Yo, nanti malahan ga ketemu. Waktunya mepet, lu harus tau kelasnya dia sekarang. Lagian kan suratnya besok udah di kumpulin" ucap Dodit. Mau tak mau Rio pun beranjak dari tempat duduknya.
"Mau ikut ga Ra?" Tanya Dodit yang melewati tempat Maura.
"Ga deh kalian aja" sahut Maura yang sedang asik mengobrol dengan teman sebangkunya. Lalu Dodit dan Rio pun berjalan ke arah luar dan hilang di pandangan Maura di balik pintu.
Dodit maupun Rio berjalan di koridor. Tak ada satu pun murid di koridor ini terkecuali mereka berdua. Pertama-tama mereka berjalan kearah X-2 yang berada di sebelah kelas nya. Dodit dan Rio mengintip lewat jendela namun mereka berdua tidak menemukan Tiara disana.
"Bukan disini Bro" ucap Dodit.
"Kayanya sih di X-3" ucapnya kembali.
"Lu kata siapa?" Tanya Rio.
"Kayanya waktu itu gw pernah liat dia masuk ke kelas X-3. Coba yu kita liat aja" ucap Dodit dan mulai kembali berjalan ke arah kelas di sebelahnya lagi, dan di susul oleh Rio.
Kali ini mereka lihat lewat sela pintu soalnya pintu kelas X-3 sedikit terbuka.
"Tuh kan Yo gw bilang juga apa" ucap Dodit yang menemukan Tiara sedang duduk manis di tempatnya.
"Coba mana?" Tanya Rio yang ikutan mengintip, namun tiba-tiba.
Bruuukk...
Tak Dodit maupun Rio nyungsruk ke dalam kelas. Dan seketika semua mata murid pun menengok ke arah mereka. Sang guru yang sedang menjelaskan sebuah materi ke semua murid pun ikut menengok ke arah mereka berdua.
"Mampus" ucap Dodit.
"Mati lu" ucap Rio.