Aku
sudah bilang bukan bahwa aku adalah manusia yang mudah suka sama orang, mudah
sekali untuk menjatuhkan hati hanya dengan diberikan sebuah kenyamanan, aku
rasa kau pun mengetahui hal itu, tapi mengapa kau membuat aku layaknya
seseorang yang bodoh, menjadi seseorang yang jatuh kembali dengan luka yang
sama, dan dengan alasan yang sama. Aku telah memberitahukan mu bahwa aku tak
ingin bermain api yang nantinya hanya akan membuat ku repot sendiri, sudah
cukup aku menyakiti diriku sendiri dengan alasan sama seperti ini. Tapi mengapa
kau tak pernah mengerti, mengapa kau terus memberikan aku sebuah senyuman kecil
yang terukir karena mu, mengapa kau terus membuat ku betah berlama-lama untuk
menatap gadget ku.
Kau
meyakinkan ku untuk melakukan semua ini, untuk betah berlama-lama di jalur yang telah di mulai,
tanpa kau beritahu aku, bahwa kau telah lebih dulu keluar dari jalur tersebut.
Kini, tinggalah aku sendiri yang berada di jalur tersebut, mencoba mencari
jalan keluar yang aku sendiri bingung jalan mana yang harus aku lalui.
Aku menyukai mu, aku
menyayangi mu, aku nyaman bersama mu kalimat-kalimat
itu yang terus saja berteriak di dalam benak ku, yang selalu di bantah oleh
akal pikiran ku. Mengapa aku harus mengenal dirimu, mengapa tuhan mengizinkan aku untuk dapat mengenalmu, mengapa
hanya singgah tidak menetap. Aku ingin bertemu dengan seseorang yang menganggap
ku rumah pula tanpa ada sebuah penghalang.
Kini
aku telah menyadari bahwa masa itu telah habis, masa mu, kehadiran mu, semua
tentang mu. Benar apa yang telah aku katakan. Apa yang di mulai akan mengalami
akhir, dimana ada pertemuan akan ada perpisahan, sekuat apapun kau mengelaknya
semua itu akan terjadi. Layaknya seperti ini.