Jumat, 05 September 2014

About Him

Seorang lelaki yang dapat memiliki ke kaguman dari gw, seorang lelaki yang mempunyai kelebihan lebih dari gw. Seseorang yang hanya mampu gw miliki sebatas kelebihannya.

Dia lelaki yang mempunyai kelebihan dari gw, dia bisa melakukan apapun yang gw sendiri blom tentu bisa melakukannya.

Dia hobbi banget main futsal mungkin baginya bola adalah kekasihnya. Dia lelaki yang tak mau ribet, sepenglihatan gw sih dia lelaki yang ga pernah punya masalah, mikirin cewe aja kayanya
Gak pernah, simple.

Dia mempunyai kelebihan, kepintarannya dalam pengetahuan umum salah satu kekaguman gw buat dia. Bahkan lebih dari itu hal yang gw bisa dia pun bisa melakukannya bahkan lebih dari gw.

Dia terlihat... Dengan kamera itu. Kemampuannya dalam hal pemotretan salah satu tambahan plus buatnya.

Kalo lagi ngomongin 'kagum sama seseorang' jadi inget film RECTOVERSO tentang 'Bahasa Isarat' mereka saling kenal, berada di tempat yang sama.. Sang Gadis menyukai lelaki blasteran itu dan mengaguminya Namun ada satu hal yang sangat membuat sang gadis penasaran..

Warna apa bola matanya ?? Hijau kah? Coklat muda kah? Atau Hitam kah?

Pertanyaan itu membuat gw bertanya ke diri gw sendiri
Dan munculah sebuah pertanyaan

"apa yah warna bola matanya?"

Kembali ke rectoverso, tak lama sang gadis mengetahuinya dari sebuah permainan yang membuat sang gadis sangat berada dekat dengan lelaki itu dan dapat memperhatikan wajahnya dengan jarak yang begitu sangat dekat. Ia pun tersenyum karna telah mengetahui jawaban atas pertanyaannya namun... Sang lelaki tak mencari apapun dalam berkelananya, bukan keluarga, teman, sahabat, kekasih atau pun Cinta tetapi ia hanya mencari ke Abadian dan ketenangan. Jawaban yang mampu membuat sang gadis berdiam tak bergeming.

Kembali lagi ke gw, pertanyaan yang terucap oleh gw akan gw cari tahu jawabannya tapi butuh waktu kan semuanya butuh proses mie instan aja perlu di masak biar matang.

Perasaan yang gw punya buat dia hanya sekedar kekaguman gak lebih dan hanya sekedar itu.

Seseorang yang hanya dapat gw kirimi pesan lewat udara, Awan dan hembusan angin.

Oh yah gw lupa memberitahukan namanya, dia bernama Muhammad Dafano putra irwansya

Kamis, 04 September 2014

Dont Leave Me 4 (ketika cinta pergi)

Kenapa lo terlalu bodoh sih ka untuk tidak memperdulikan ini semua" ucap deva, air matanya kini mulai mengalir dengan sendirinya, ia sudah mencoba untuk menahannya namun sekuat apapun ia menahannya air matanya tetap akan menetes jika harus berhubungan dengan kondisi kakanya saat ini.

Lima jam telah berlalu sejak kemoterapi di lakukan. Kini ia mulai membuka kedua matanyanya menjulurkan pandangannya ke seisi penjuru ruangan dan setelah ia mengetahui dimana ia kini berada Rio hanya memejamkan matanya sejenak dan menghembuskan nafas, terdengar begitu berat. Tak lama pintu ruangan terbuka terlihat sosok laki-laki di depannya.

"udah bangun lo ka?" tanya deva menghampiri sang kaka.

"berapa jam gw tertidur?" tanya Rio ke arah sang adik.

"Gak lama ko, cuma 5 jam" sahut deva enteng.

"What 5jam? Lama bener yah?" ujar rio.

"Tau luh!, nyenyak banget sih lo tidur" ucap deva.

"hhehe tadi gw mimpi merried sama ify trus bulan madu dulu deh berdua" Ujar rio mulai dengan candaannya.

"Stress lo!!" sahut deva yg mulai duduk di sofa. Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu ruangan dan masuklah sosok perempuan, bukan bunda melainkan...

"siang,," ucap gadis itu. Sontak membuat Rio kaget atas kedatangannya.

***

"Halo"

"iyah ada apa?"

"hari ini aku ga masuk"

"kenapa?"

"ada keperluan"

"kamu bohong"

"aku serius"
Tiba-tiba sunyi sejenak tak ada suara hanya hembusan nafas satu sama lain yang terdengar di ponsel masing-masing.

"kamu bohong!"

"beneran aku seri.."

"Gprs kamu, menunjukan ke rumah sakit"

Skak mat tiba-tiba saja seperti ada batu yang menghantam kepalanya. Ia lupa atau mungkin terlalu bodoh untuk berfikir bahwa kekasihnya orang yang cekatan dan sulit untuk di tebak apa yg akan di kerjakannya.

"Aku kesana!".

***

"safira," panggil guru di hadapannya.

"iyah bu, ada apa?" sahut ify.

"ada apa lagi. Kamu ngerasa ada yang kurang ga?" tanya guru piket.

"ah engga deh bu kayanya, kecantikan saya pas ko ga kurang" ucap ify sembari memberikan senyuman termanisnya.

"ikat pinggang kamu kemana, kaos kaki kamu kemana, kamu tau peraturan gak sih kalo rok itu harus panjang bukannya cingkrang kaya kamu!"

"bu banyak banget sih pertanyaannya, saya jadi mules mau jawabnya"

"ah banyak alasan kamu! Buruan pakai kaos kaki dan ikat pinggang kamu!!"

"iya-iya bu,"

***

'aku ada di taman' sebuah masaage masuk ke ponselnya dan tak lama ia pun beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke taman. Tak lama sosok gadis yg ia tunggu sudah duduk manis di bangku taman yg sudah di sediakan.

"Hai" ucapnya.

"sepertinya aku akan terkena introgasi kamu" sahut lelaki ini.

"siapa yang sakit dev," tanya gadis di hadapannya.

"Kario" ucap deva datar.

"kario? Sakit apa?"

"kanker otak stadium 3" ucap deva. Gadis di hadapannya hanya mampu Membungkamkan mulutnya, rasa kaget mampu menjulurkan darahnya mengalir begitu deras ke seluruh tubuhnya, tak pernah ia sangka sosok yg begtu ceria dan friendly mampu menutupi semua nya.

"Aku gatau harus ngelakuin apa lagi, disaat dia sibuk dengan pekerjaannya dan mulai tak memperdulikan kondisinya." ucap deva menundukkan kepalanya.

"kamu hanya perlu memberikanya suport" ucap gadis di sampingnya dengan mengusap pundaknya mencoba memberi kekuatan kepada kekasihnya.

***

Rio menatap ke arah deva dan di balas tatapan datar oleh sang empunya.

"gimana kondisi kaka?" tanya gadis ini menghampiri nya.

"yah begini" ucap rio canggung.

"deva udah certa semuanya ke aku, aku yakin ka rio pasti bisa menjalani ini semua, kaka hanya perlu berdoa, semangat, dan yakin, kalo kaka pasti bisa sembuh dan melewati ini semua. Kaka gak boleh putus asa karna ada kita semua di belakang kaka" ucap gadis ini.

"Makasih yah cha" ucap rio membalas senyuman acha yah ternyata kekasih deva yng telah datang.

"oh yah cha jangan.."

"iyah, kaka tenang aja" balas acha sebelum rio menyelesaikan ucapannya karna acha sudah tau apa yg dimaksd oleh rio.

"thanks" balas Rio.

***

Hari ini seharusnya rio masih di rawat di rumah sakit namun bukan rio namanya jika harus dengan mudah menerima pernyataan sang dokter ia bersikeras untuk tetap pulang dan akhirnya sang dokter pun tak bisa apa-apa.

"Ka, lo serius hari ini lo mau sekolah? " tanya deva yg berada di depan pintu kamar Rio.

"iyah, kenapa? Lo mau ngelarang gw juga?" tanyanya

"yah sekuat apa pun gw ngelarang lo, lo pasti bakal tetep sekolah" ucap deva melipat kedua tangannya.

"anak pintar" sahut rio yg mulai menghampiri deva dan mengusap kepala deva dengan memberikan senyuman ke arah adiknya itu. Sedangkan deva hanya diam. Dan masih diam di tempat melihat kepergian sang kaka

"devaaaaa.... Ayo buruan nanti gw telaaatttt" teriak Rio dari lantai bawah

"iyah-iyah bentar."
Sesampainya di dalam mobil deva hanya berdiam diri sesekali memperhatikan sang kaka yg asik bergumam mengucapkan beberapa bait lirik mengikuti lagu yang mengalun indah dari siaran radio.

"demen banget sih ka dengerin radio" ucap deva

"Karna biasanya nih yah ify tuh sering ikut kirim-kirim salam di..."

"dimana?" tanya deva.

"yah di chanel ini!" sahut rio. Deva pun hanya mengangkat sebelah alisnya mendengar keraguan yg di ucapkan oleh kakanya

"chanel? Di kira tv keles" sahut deva. Sedangkan rio hanya cengir saja. Sesampainya di parkiran deva mengingatkan rio agar tak terlalu cape.

"ka, gw mohon banget sama lo. Kalo lo emang masih mau buat gw sama bunda ga khawatir lagi please jaga kondisi lo" ucap deva pelan namun ngena di hati rio. Rio pun hanya bisa senyum getir sebelum ia membalas perkataan adiknya itu deva sudah keburu keluar dari mobil ini...

***

"hai cinta" sapa Rio di meja ify. Ify hanya diam dan celingak celinguk ke depan belakang siapa tau lelaki di hadapannya bukan berbicara dengan nya. Rio hanya mengeryitkan keningnya melihat tingkah ify.

"gw?" tanya ify.

"yaiyalah lo, emang siapa lagi" sahut rio yg duduk di depan hadapan ify.

"oh" sahut ify singkat yg membuat rio mampu membulatkan mulutnya.

"etdah fy, kita pacaran kayanya udah lebih dari sehari dah" sahut rio

"yah trus? Lo minta Pj?" sahut ify yg mulai ngelantur.

"Lo kenapa sih? Salah makan sarapan? Demam, rindu sama gw?" ucap rio sambil menempelkan telapak tangannya ke kening ify.

"ew, pede bingitzz" ucap ify

"nih anak kenapa sih? Wah stress udah ga waras" sahut rio. Tiba2 saja ada yg menepuk pundak rio.

"yo, yang stress tuh lo, udah tau orang lagi telphonan di ajak ngomong. Gila lo?" sahut dani salah satu teman kelasnya. Dan ketika rio memperhatikan kekasihnya ternyata benar ada eirphone yang nyantol di telinga ify.

"Nasib pagi-pagi" ucap Rio yg menuju mejanya dan meninggalkan tempat duduk ify.

Bersambung....
Makasih udah mau mampir baca
See u next time guys. Enjoyed..

Dont Leave me 3 (ketika cinta pergi)


"Ka, gw tau mungkin gw emang ga sepintar lo, atau bahkan ga se cerdas lo. Tapi setidaknya gw juga ada hak dong di dalam pngurusan perusahaan ayah. Gw juga kan anaknya" ucap Deva yang mulai mendekati sang kaka. Rio masih diam memasang muka bingung.

"Ayolah ka, lo bisa berbagi sama gw. Gw juga bisa ko. Gw ga bego-bego bangeett"

"ssstttt. Ga usah banyak bacot luh. Gausah berbelit-belit. Bilang aja lo mau bantuin gw. Dari tadi ke!. Cape gw ngerjain itu semua. Stress gw" ujar Rio lalu beranjak dari kasurnya. Ia tau bahwa adik nya tak beda jauh dari dirinya ia percaya kalo deva bisa meng handle ini semua. Sedangkan deva hanya memasang wajah bingung.

"Lo mau kemana ka?" tanya deva yang sadar akan kepergian sang kaka.

"Bikin minum. Aus gw. Seret ngeliatin kertas-kertas semua. Kalo ngeliatin cewe cantik sih ayo aja" ucap Rio sembari berjalan membelakangi deva.

"Sterss luh!!" sahut deva yang langsung menghampiri tempat tidur sang kaka dan mulai memahami, dan membaca kertas proposal itu satu persatu. Kini fikirannya terfokus oleh data-data semua di hadapannya kini.

Setelah Rio melewati pintu kamarnya ia tersenyum perasaannya sedikit lega setidaknya ada yang mengurus dan bertanggung jawab atas perusahaan sang ayah jika ia harus pergi meninggalkannya. Satu masalahnya telah terpecahkan namun bagaimana dengan masalah selanjutnya. Giman dengan deva dan Bunda apa ia tega untuk meninggalkan mereka dan ify.... Bagaimana dengan gadis itu, perempuan yang sangat ia sayangi setelah sang bunda. Tega kah ia melukai perasaan gadis tersebut.

"Acha!"ucap rio saat menuruni anak tangga ia melihat acha sedang bersama sang bunda di ruang tamu.

"eh ka Rio" ucap acha tersenyum ke arah Rio.

"wah kayanya deva nya lagi ga bisa di ganggu tuh. Lagi pacaran sama kertas2 dulu" ujar Rio nyengir.

"Acha kesini ga buat nemuin deva ko. Acha ke sini cuma mau nganter kue dari mama." ucap acha tersenyum ke rio lalu ke bunda Rio.
Acha pacar deva. Dan kebetulan mamah acha pun sahabat bunda. Rio pun tersenym akhirnya acha lah jawaban selanjutnya. Acha sangat mencintai deva dan sangat menyayangi bunda itu artinya ada yang merawat deva dan bunda. Acha bisa menjadi anak bunda sekaligus kekasih deva. Masalah ini selasai. Tinggal.... Ify.
Gadis itu yah, semoga ada jalan keluar yg terbaik.

"ka Rio mau keman?" tanya acha.

"oh, mau ngambil minum cha" ujar rio.

"gausah repot-repot ka"

"jeh siapa juga yg mau ngambilin buat situ wle" ucap rio lalu menuju ke dapur sedangkan acha hanya tertawa melihat ekspresi muka ka rio. Sebenarnya ia hanya meledeki ka rio saja hhaha.

Hanya Suara dentingan antar dua kubu yg kini mengalun sempurna di dapur dengan sedikit senyap-senyap tawa bunda dan acha. Pikirannya masih saja tak bisa ia kontrol. Penyakit itu telah mendominasi isi semua pemikirannya. Tak ada sedikit cela untuk memikirkan bahwa ia akan sembuh karna ia tau pasti penyakit yg kini ada di dalam tubuhnya akan betah berlama-lama di dalam tubuhnya dan mungkin gak akan pergi dengan begtu saja sebelum ia merelekan tubuhnya untuk pergi meninggalka orang-orang yang ia sayangi semuanya. Ada rasa takut,, takut untuk menjalani ini semua namun ini adalah takdir hidup nya yang mau tak mau ia harus kuat untuk menjalaninya. Esok tepat dua minggu setelah ia mengalami muntah-muntah yang membuat perutnya mual tak ketulangan dan nafsu makannya hilang seketika, ia harus menghadapi kembali sinar-sinar yang sebernya ia sendiri muak untuk terus menjalaninya. Tak lama lamunan itu pun menghilang dan mengingatkan nya akan teh yang di buatnya, ia pun lalu meminum teh tersebut masih dengan tatapan kosong. Dan....

"pprrrttttttsss"

"hhahahaha" terdengar tawa acha yang sepertinya dekat di sekitarnya.

"Gila! Asin banget nih teh," ucap rio sambil mengusap bibirnya sedangkan acha ia hanya tertawa melihat mimik wajah ka Rio.

"yaiyalah asin orang ka rio masukinnya garam bukan gula hhahaha, mangkannya jangan bengong mulu ka entar ke sambet loh. Mikirin ka ify mulu sih" tutur acha masih tertawa sampai-sampai keluar sedikit air mata sangking bahagianya menertawakan ka rio. Rio pun hanya mengerucutkan bibirnya.

"nih buat acha aja deh" ucap rio sambil memberikan cangkir teh yg ia buat ke tangan acha dan pergi meninggalkan acha di dapur.

"gak mau bikin lagi ka?" tanya acha sedikit meninggikan volume suaranya, karna rio sudah sedikit menjauh.

"udah gadlv" ucap rio smbil  berjalan membelakangi acha

"Ha?" tanya acha bingung.

"Eh maksdnya udah gamood" ujar Rio membalikan tubuhnya ke arah acha dan memperlihatkan deretan giginya yang rapi sambil menggaruk kepalanya yg tak gatal.

***

alyssa safira umari, yang biasa di sapa ify, ia kekasih Rio setelah rio memutuskan Nia sebagai kekasihnya. Kalo di bilang ify cinta pertamnya atau bukan. Yah jawabannya pasti bukan, karna apa,, karna mantan Rio itu banyak sangking banyaknya gak bisa di hitung pake tangan. Wajar ajalah orang tengil kaya dia punya banyak mantan. Sedangkan ia sendiri boro-boro punya mantan, karna rio adalah pacar pertamanya ia juga berharap kalo rio adalah cinta sejatinya. Seperti yg pernah di ceritakan oleh iel. Ify adalah pacar terlama rio, kenapa bisa begtu, karna hampir dua tahun ia menjalani hubungan ini dengan Rio, waktu yang cukup lama bahkan bisa di bilang sangat lama ketimbang mantan-mantan Rio. Karna seperti yang pernah di ceritakan iel lagi kalo Rio menjalin hubungan selalu saja kurang dari seminggu paling lama setahun, nah yang setahun itu sama Nia kaka kelasnya dulu yang sekarang sudah kuliah. Rio dan Nia berbeda jarak dua tahun saat kami baru masuk sma ini Nia atau biar lebih sopannya kania kelas tiga. Dan mereka putus karna Rio tidak mau menjalin hubungan dengan orang yang jauh dri dirinya. Alasannya psti banyak masalah yg akan terjadi. Dia gk tau pasti kan apa yg terjadi sama Kania di kampusnya atau sebaliknya karna sulit untuk membuat kepercayaan satu sama lain, akhirnya Rio pun memutuskan Kania. Awalnya memang hanya satu pihak namun kemudian ka Nia menerima alasan Rio untuk memutuskan hubungan mereka. Dan akhirnya aku lah saat ini yg menggantikan posisi kaNia.

"Doorrr!"

"Apaan sih lo iel, dateng2 ngaggetin orang aja, untung gw ga punya penyakit jantung!" ucap ify sambil mengusap2 dadanya mencoba menstabilkan detak jantungnya.

"Maap,maap. Lagi lo bengong aja! Kesambet luh!" sahut iel yang kini sudah duduk dihadapannya smbil membawa minuman kaleng di tangannya.

"Rio gak masuk kan?" tanya iel

"Iyah, ko lo tau?" tanya ify, karna masalahnya Rio dan Ify tak sekelas dengan Iel.

"Iyah tadi dia sms gw katanya lagi ada meeting sama klien bokapnya" ucap iel sesekali meminum, minumannya yg ia bawa.

"ooh, kasian juga yah kalo di pikir-pikir, padahalkan Rio belom lulus tapi dia udah punya tanggung jawab sebesar itu. Kdang gw salut sama tuh bocah. Pemikirannya terlalu cerdas walaupun di bagi ke mana-mana" ucap ify.

"yah mau gimana lagi fy, takdir! Siapa lagi kalau bukan dia yang handle" balas iel.

"padahalkan masih ada deva"

"yahelah fy, deva kan baru lulus smp kemaren" sahut iel.

"iyah sih tapi kan apa salahnya di coba. Lagi kan deva juga ga kalah cerdas sama Rio" ucap ify.

"Rio juga prnah bilang gitu sih, Cuman Dia blom percaya sepenuhnya sama deva, masalahnya yg sedang lagi di hadapi itu persaingan ketat apa lagi kalau kita gak pintar-pintar mencari peluang bakal bisa bangkrt tuh perusahaan. Rio juga bilang katanya dia blom tega nerjunin deva ke bidang bisnis takut gakuat nantinya jadi stres kaya dia hhaha" balas iel.

***

"Gimana dok ke adaan ka rio?" tanya deva.

"sebenernya kita sudah terlampau telat untuk menjalani kemoterapi ini, harusnya sudah dari awal kita menjalani ini namun rio tetap kekeh dan akhirnya sedikit sulit" sahut sang dokter.

"maksd dokter?" tanya deva.

"perkembangannya lambat, sedangkan kita baru menjalani 4 kali kemo yang seharusnya sudah dua kali lipatnya." ujar sang dokter.

"Itulah kario dok, ia selalu saja meremah kan penyakitnya itu, dok apa ka rio akan mengalami seperti ayah?" ada nada yang melemah di akhir kalimat yg deva ucapkan.

"saya gak bisa menjnjikan apa-apa dev, kita hanya perlu banyak berdoa, Semoga rio dapat menjalankan dan melewati ini semua." sahut dokter. "saya permisi" lanjutnya dan pergi meninggalkan deva dan Rio di ruangan ini.

sejak selesai kemo sampai saat ini kaRio tak sadarkan diri. Doker sengaja memberikan obat tidur kepada sang kakanya karna sang dokter yakin sekuat apapun ia menyuruh pasiennya untuk istirahat, sekuat itu juga rio akan membantahnya.

"elo terlalu bodoh ka, untuk bermimpi memasa bodohkan dan mencoba tak peduli dengan kondisi lo saat ini, mau sampai kapan ka lo menyiksa diri lo sendiri. Lo masih punya gw dan bunda Apa lo tega meninggalkan gw sama bunda. Kenpa lo gak pernah peduli sama kondisi lo ka, kenapa lo selalu masa bodo sama keadaan lo. Hrusnya lo denger kata dokter dan bunda untuk menjalani kemo dari awal saat penyakit lo itu mulai ada di tubuh lo bukannya menampung nya lebih lama sehingga sulit untuk membasminya..

Bersambung...

See u next time

Dont Leave me 2 (ketika cinta pergi)

Rio jalan dengan gaya so cool nya kedua tangannya ia masukan kedalam saku celananya, tak heran kalo cowok satu ini di gemari banyak kaum hawa apalagi jika melihat statusnya di sekolah ini, ketua osis di tambah kapten basket yang mampu membuat dirinya makin di gemari. Di ujung lorong ia melihat seorang gadis yang sedang berjalan membelakanginya. Ia sudah bisa menebak kalo gadis itu adalah pujaan hatinya, status ini juga lah yang mampu membuat semua siswa seantero merasa iri dan patah hati namun banyak juga yang mengaggumi hubungan mereka. Mereka merupakan sepasang kekasih yang sangat serasi. Rio pun segera mempercepat langkah kakinya untuk menyamai sang kekasih.

"cewe, sendirian aja?" goda Rio saat ia sampai di samping gadis ini. Gadis yang berada di sampingnya tak menengok ke arah rio ia tetap saja berjalan seolah tak ada orang di sampignya.

"ehem, pacarnya kemana neng? Bisa kali jalan ama abang" ucap rio sembari menggoda gadis ini kembali saat ia sadar ucapannya tak di gubrisnya.

"maaf yah bang, saya bukan cabe-cabean lagian saya udah punya kekasih yg lebih ganteng dari abang. Mario! " balas gadis ini dengan tampang wajah yang tak kalah seperti rio. Rio hanya bisa mengangkat sebelah alisnya.

"gw dong " ujar Rio sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah gadis di hadapannya.

"ngarep." ucapnya dan melanjutkan langkahnya.

"fy, fy tungguin gw dong" ucap rio saat sang gadis beranjak meninggalkannya. Yah gadis itu adalah ify. Ify tetap pura2 tak mendengarnya.

"lo kenapa sih?" tanya Rio. Ify hanya menatapnya datar lalu berjalan kembali.

"fy tunggu!" kali ini rio memberhentikan ify dengan sedikit jegatan lengan rio. Posisinya membuat ify skak. Masalahnya ia tak bisa menghindar. punggung ify sudah nempel ke tembok. Lengan Rio juga telah menghalanginya di sebelah kiri pundak ify. jarak nya kini bisa di hitung beberpa cm. Ia hanya bisa speechless kalo rio sudah seperti ini.

"lo kenapa?" tanya Rio

"masih nanya gw kenapa?. Kemana lo kemren! Gaada kabar sama sekli di telfonin ga diangkat bbm gaaktif sms gak di bls" ucap ify, tangannya ia lipat di depan dada pandangannya ia buang dari hadapan rio. Sedangkan rio ia hanya tersenyum ia paling senang melihat wajah gadisnya bila sedang marah seperti ini mempunyai kharismatik tersendiri.

"gausah senyum-senyum deh! Gaada yg lucu! Udah tau salah." ujar ify kembali.

"iyah iyah aku minta maaf, kmren itu aku lagi ada acara. Hp aku juga ketinggalan di kamar jadi gabisa ngasih kabar ke kamu" balas Rio dengan posisi yg masih sama. Ify tetap bungkam.

"sebagai permintaan maaf kita ngedate deh" ucap rio yang mampu membuat ify mengeryitkan dahi nya.

"tapi jangan malem ini, kelamaan. Sepulang sekolah gimana sekalian kita ke taman baca udah lama kita ga kesana" usul rio sdngkan ify ia hanya memasang wajah seperti sedang menimbang-nimbang ke inginan Rio.

"gimana?" tanya Rio.

"gimana yah" ucap ify sambil menggit-gigit kecil jarinya.

"jorok ih" ucap rio yg melihat sang kekasih mengigit-gigit jarinya itu.

"biarin. Yang penting kamu cinta aku wle"

***

Entah mengapa rio terlihat begitu beda kali ini. Ia lebih sering diam dan terlihat tatapannya kosong. Sesekali ify menengok ke arah bangku rio namun rio masih tetap terlihat melamun, kenapa kekasihnya itu. Wajahnya terlihat pucat. Sadar bila ia sedang di perhatikan Rio pun menengok ke arah ify benar saja kekasihnya itu sedang memperhatikannya dengan tatapan yang penuh pertanyaan, ia pun membalas tatapan ify dengan senyuman mencoba menjelaskan bahwa ia tak apa-apa dan kekasihnya pun kembali memperhatikan pelajaran di depan tapi tidak dengan rio pikirannya kini melayang-layang entah dimana, banyak pertanyaan yang harus ia cari tau jawabannya. Perusahaan, deva, Bunda, dan... Ify yah semua itu apa yg akan terjadi bila ia... Bila ia harus meninggalkan semuanya. Apa yang harus ia lakukan sanggup kah itu semua ia tinggalkan.
Tak ada yang masuk pelajarannya saat ini otaknya sudah terlalu penuh untuk bisa di masuki teori-teori yang di berikan oleh sang guru.

"Rio..." sang guru pun mulai memprhatikan rio yg tak mengubris mata pelajarannya.

"Rio!!" tak ada jawaban kembali dari rio.

"Mario!!" ucap sang guru sekali lagi namun kali ini rio pun mulai tersadar.

"Kamu tidak memperhatikan peljaran ibu yah!"

"Ah ibu bisa aja saya tuh dari tadi sibuk perhatiin ibu, sampe lupa mana yg harus sya perhatiin tulisan ibu apa ibunya" sontak membuat seisi kelas tertawa atas ucapannya itu yg membuat sang guru geram.

"Jelas-Jelas kamu ibu panggil tak mendengar gimana kamu mau perhatikan pelajaran ibu"

"Saya bukannya gak denger bu, saya cuman terpesona sama kecantikan ibu" ucap Rio yang kembali mampu mencair kan suasana.

"kalo emang kamu denger dan memperhatikan dari tadi. Apa yang di maksud esai?" tanya sang guru. Sontak seisi kelas pun mulai membeku kembali.

"esai adalah karangan prosa yang membahas sesuatu masalah secara sepintas dari sudut pandang pribadi penulisnya" sahut rio menjelas kan apa yg di tanyakan oleh sang guru. Semuasa temannya hanya diam yang mereka tau esai itu soal isi-isian yang biasa ada di Uts. Itulah salah satu  kelebihan Rio walaupun sebenarnya ia tak memperhatikan guru di hadapannya bahkan tak tau apa yg sedang ia jelaskan nmun rio mampu menjawab setiap pertanyaan yg di lontarkan untuknya.

"Oke, kali ini kamu selamat!" ucap sang guru lalu melanjutkan menulis di papan tulis. Ia pun tersenyum khusunya tersenyum ke arah sang kekasih. Itu juga salah satu yang di banggakan oleh sang kekasih Rio terlalu pintar dan tampan untuk ia lepaskan.
Setelah kejadian itu Rio mencoba untuk memperhatikan yang di jelaskan oleh sang guru dan mencoba melupakan pemikirannya sejenak. Ia akan cari jalan keluarnya, dan semoga ia mendapat jalan yang terbaik untuknya bahkan bukan hanya untuknya namun untuk semuanya.

***

"Lo keliatan beda"

"beda gimana? Tambah ganteng yah?" ujarnya sembari memperlihatkan deretan giginya yg bersih. Sang kekasih pun hanya membalas dengan cibiran.

"Lo kenapa?"

"kenapa apanya?"

"Pleas deh yo, lo ga usah bohongin gw! Gaada gunanya tau gak Lagi ada yang lo sembunyiin kan dari gw.

"Gaada" ucapnya santai

"Bohong!" ujar ify menatap rio dengan tatapan tajam.

"kalo iyah kenapa?"

"Tuh kan bener"

"Lo tau gak, kalo sebenernya gw itu punya penyakit" ujar rio memblas tatapan Ify.

"Ha? L..oo sa.. Kitt?" tanya ify terbata. Yg dibalas anggukan oleh rio. "Sakit apa?" tanya ify kembali dengan menggigit sedikit bibir bawahnya.

"Gw sakit... Sakit kalo jauh dari lo" seketika wajah rio yg datar berubah menjadi senyuman dan tertawa, sedangkan ify ia sudah dongkol dengan kekasihnya tersebut.

"iiiihhhhh Rio. Rese yah lo, gw udah serius2 juga" ucap ify sambil mencubiti pinggang rio.

"hhahaha lo tau ga fy, mimik muka lo tuh tadi lucu banget tau gak" ujar Rio tertawa.

"Bodo!! Gak lucu tau gak" ucap ify memasang wajah badmood.

"Bagi gw lucu"

"Rese tau gak"
Mereka tertawa, Bercanda, berguraw bahkan tanpa mereka sadari kebahagian itu mulai tampak di wajah mereka. Namun ada sesuatu yang tak mereka sadari bahkan mungkin hanya ify, waktu! Waktu mereka mulai berkurang.

***

Rio mulai berkutik dengan kertas-kertas yang berserakan di kasurnya. Pala nya mulai terasa pening. Penglihatannya mulai sedikit berkunang-kunang namun pekerjaan ini tak urung membuat nya sedikit waktu luang saja untuk beristirahat meninggalkannya. Perusahaan sang ayah yang tanpa di sengaja jatuh ketangannya kini membuat rio harus bekerja lebih ekstra dan bahkan harus meluangkan waktu istirahatnya untuk mengurus dokumen-dokumen itu pasalnya mau tak mau Itu semua telah menjadi tanggung jawabnya saat ini. Rio masih terduduk manis di atas kasurnya dengan tangan yang memegang beberapa kertas proposal. Ia harus membaca dokumen2 tersebut sebelum ia harus menandatanganinya.

"perasaan gw juga anak ayah deh" ucap seseorang yng tiba-tiba saja muncul di depan pintu sembari menyandarkan tubuhnya di penyangga pintu. Rio hanya diam sembari mengangkat sebelah alisnya.

Bersambung.....

Kira-kira gimana yah kelanjutannya, thanks yah udah mau baca. See u next time... Enjoy

Bunga terakhir

Alyssa Saufika Umari, seorang gadis yang mempunyai paras wajah cantik. Bukan hanya itu dia gadis yang baik, ramah, idaman semua para kaum adam. Aku sangat beruntung karna bisa mendapatkan hatinya, dapat memilikinya.

Dia gadis yang selalu ceria, dia yang membuat ku berubah delapan puluh derajat sekaligus, dia yang membuat ku ikut ceria karenanya, dia yang mengajarkan ku bagaimana berorganisasi. Dan dia orang yang membuat es itu mencair.

2tahun bukan lah sebentar, namun hubungan kami masih tetap abadi sampai saat ini. Aku sangat menyayanginya bahkan aku sangat mencintainya.

Dia sangat menyukai bunga, khusunya bunga mawar putih. Baginya mawar adalah bunga yang sangat istimewa dan mempunyai kharismatik tersendiri.

"Rio..."

"Apasih sih fy!"

"Iih kamu mah marah-marah mulu"

"Iya..iya apa..?"

"Aku mau bunga itu"

"Mawar?"

"Heem.. Mawar Putih"

"Buat apa? Aku gak suka bau bunga"

"Ga bau, malah wangi tau"

"Tapi aku gak suka"

"Rio..." ucap ify merengek.

"Engga"

"Ayolah... Beliin"

"Engga"

"Yaudah kalo gitu, Aku marah sama kamu"

"fy...?" sapa rio namun ify tak menjawab. Wajahnya seperti di tekuk-tekuk, kedua tangannya ia lipat di depan dada.

"Dih benaran marah!" ucap rio kembali.

"Bodo"

"Jelek ah kalo lagi marah"

"Biarin, yang penting kamu cinta aku"

"wwkwk" terdengar tawa rio.

"Nih buat kamu" ucap rio dengan memberikan sesuatu ke Ify. Senyum merona pun terpancar di bibir ify.

"Kapan kamu belinya?"

"Tanpa kamu minta aku udah beliin buat kamu"

"Trus tadi kenapa pura-pura ga mau beliin"

"Gapapa mau liat muka jelek kamu aja soalnya bosen ngeliat kamu cantik mulu"

"iihh rese...!"

Sepenggal kenangan yang selama ini masih ku ingat bersama mu tentang bunga kesukaanmu. Begitu manis dan tak mungkin akan aku lupakan.

Hari ini aku sudah siap untuk mengunjungi mu. Mawar putih yang ada di tangan ku siap ku berikan untuk mu. Aku pun sudah rapi dengan menyesuaikan warna baju ku seperti warna mawar yang di tangan ku ini. Tunggu aku.

Setelah semuanya rapi, aku pun segera berangkat menuju rumahnya. Di sepanjang perjalanan rasanya dada ini sesak namun aku harus bisa menahannya aku gak mau bersedih karenanya.

Setelah sampai aku pun segera turun dari mobil ku dan mulai memasuki perkarangan ini.

Aku tersenyum namun entahlah senyuman ini hambar seperti ada yang hilang.

"Hy fy,.. Apa kabar? Aku bawa sesuatu buat kamu, mawar putih kesukaan kamu" ucap Rio lalu menaruh bunga itu di tumpukan tanah ini lalu iya memegang batu nisan itu. Tertulis nama Alyssa Saufika Umari, tanggal lahir dan beserta... Tanggal wafat. Ini yang ku bilang sesak.

"Fy, aku kangen sama kamu, kamu lagi apa di sana? aku tak menyangka bahwa mawar putih itu adalah mawar terakhir yang ku berikan untuk mu fy, tapi Tenang lah fy, mawar putih yang ku berikan di malam itu tidak akan menjadi yang terakhir karna aku akan memberikan mu mawar putih lainnya walaupun kali ini berbeda.."

"Aku taruh di sini yah. Kamu baik-baik, aku tinggal dulu. Aku mencintai mu"

Ucap rio lalu beranjak menjauh ia tak bisa berlama-lama di pemakaman ify karna rasanya terlalu sesak nafas ini, aku gak mau ify melihat ini semua aku akan berjanji kalo aku akan bisa menjalani ini semua walaupun tanpa dia, biarlah dia bahagia disana.

Begitu kencang hembusan angin, terasa dingin sampai ke tulang rusuk, daun mulai bergugur. Angin menerpa wajah ku dengan lembut dan seperti ada yang berbisik ketelingaku, yang membuat ku tersenyum karenanya.

"Aku juga mencintai mu"

Lalu aku pun menengok ke belakang melihat makam ify terlihat seorang gadis cantik dengan gaun putihnya. Ify, dia sangat cantik dia tersenyum ke arah ku, senyuman termanis namun wajah nya pucat. Dan bayangan itu pun menghilang. Lalu aku pun pergi meninggalkan itu semua..

Selasa, 02 September 2014

Dont leave me 1 (ketika cinta pergi)


"aaaawwww" rintih Rio tubuhnya tak bisa diam, balik sana balik sini suara rintihan nya pun mampu membuat sang bunda khawatir mendengarnya namun beberapa menit kemudian semuanya telah seperti semula.

" Gimana dok, keadaan rio?" tanya Rio ke dokter yg berada di hadapannya dengan tampang sok gantengnya.

"saya salut Rio sama kamu, tapi jangan kamu anggap enteng, penyakit kamu ini berbahaya kamu juga harus kurangin aktifitas kamu supaya kamu bisa lebih banyak waktu istirahatnya."
Ujar sang dokter.

"istirahat dok? Salut ka rio mau istirahat, pecicilan gitu mau istirahat" ujar deva adik laki-lakinya yang berada di belakang rio sambil mencibir kakanya itu.

"eh kunyuk siapa yg pecicilan. Udah deh diem. ngalah ama orang ganteng." ucap rio menengok ke arah adiknya itu. Sedang kan deva hanya menjulurkan lidahnya ke arah kakanya tersebut.

"husst kalian ini. Berantem mulu. Malu tuh ama dokter" sahut sang bunda sedangkan sang dokter hanya menggeleng2 kan kepala sja melihat dua orang saudara ini ia tak heran atas sikap mereka berdua karna ia sudah mengenal kluarga rio sejak lama.

"Rio ini adalah kemo kedua kamu, saya harap kamu tetap semangat menjalaninya" ucap sang dokter.

"gimana mau semangat dok, sakit banget" ujar Rio sesekali merasakan ngilu di tubuhnya.

"emang sakit yah ka? Ah begaya luh, pas kemo pertama lo bilang gpp" ucap deva.

"mungkin karna yg pertama saya memberikan obat bius kepada Rio jadi dia tidak merasakan apa-apa." sahut dokter menjelaskan smuanya.

"tuh denger anak manis, mau tau dev rasanya gimana? Rasanya tuh kaya kelempar dari monas trus ke injek mobil pariwisata ampe tulang lo patah dan bergesekan ke tulang lo yang lain sampai mengeluarkan bunyi yg gak pengen lo denger." ujar Rio menjelaskan apa yg ia rasakan kepada adiknya itu

"Sakit yah ka," sahut Deva dengan mimik wajah yang ngeri.

"Kaga! Pake nanya" sahut Rio geram.

"oh yah Rio saya udah menjelaskan sebelumnya di pertemuan kemo pertama efek samping dri penggunaan kemo ini sendiri lumayan akan membuat kamu drop, tapi semoga kamu akan bisa menerima dan menjalani ini semua"

"oh yah dok apa tentang rambut yg akan menipis di karenakan rontok itu apa benar?" tanya sang adik.

"yah itu benar, seiring jalannya waktu. Kemoterapi dapat membuat rambut di kepala kita rontok sedikit demi sedikit" penjelasan sang dokter.

"tenang aja dev, kaka lo ini bakal tetep ganteng ko. Dan jangan harap lo bisa nyaingin ke gantengan gw okeh " ucap Rio menyombongkan diri.

"Pd bnget sih lo ka, lo ama gw juga gantengan gw " balas deva. " gw juga yakin ka ify bakal bilang hal yg sama kaya gw, kalo gw lebih ganteng dri pada lo karna kan biasanya anak pertama itu percobaan jadi yah gimana gitu." sambungnya dengan gaya sok2an di dpan kakanya sedangkan Rio hanya memasang wajh mencekam ke arah deva.

Setelah bebrapa lama berdebat dan mendengarkan cermah sang dokter, dan bunda yg menanya2 kan hal2 mengenai apa yg harus di lakukan slma kemo ini berlngsung dan mencoba menjadi suster yg baik untk Rio

***
"hhuuueeekkk, wllleee."

"devvaaaaaaa buruan mana minyak anginnya" teriak sang bunda yang sibuk memegang tengkuk anak pertamanya semenjak pulang dri rumah sakit tadi pagi Rio sulit untuk makan seketika nafsu makannya hilang dan sering muntah2, bunda pun mulai khawatir, tak lama deva yang membawa minyak angin pun datang menghampiri sang bunda dn kakanya. perasaannya tak kalah khawatir dari bunda.

"nih nih nih bunda" ucap deva memberi minyak angin yg di bwanya.

"gimana Rio, udah enakan?" tanya sang bunda.

"Lumayn bun, tapi perut Rio masih mual" ucap Rio lemas, deva pun mulai memopong kakanya itu menuju tempat tidur

"apa ini salah satu efek samping dri kemo itu?" tanya bunda

"yg deva baca sih katanya setelah kemo emang ga bisa masuk makanan bun" jawab deva sambil membringkan kakanya di kasur.

"Yaudah Rio kamu istirahat aja dlu" ucap sang bunda sambil menyelimuti Rio dan tak lama Rio pun tertidur. Bunda pun segera keluar namun tidak dengan deva, ia masih berada di sisi pinggir tempat tidur sang kaka ia menatap wajah sang kaka wajah yg begtu terlihat tenang seperti tak ada masalah ataupun beban sedikitpun ada rasa takut yg terbesit di pikiran deva ia takut, takut akan suatu hari kehilangan sang kaka seperti ia kehilangan sang ayah. Sosk Rio yg mampu menghilangkan rasa rindu nya kpda sang ayah, sosk rio yg selalu tegar dan sosok kaka yg selalu ia bangga kan. Ia tak ingin kakanya pergi meninggLkan ia dan bunda.

***

"Fy, Rio kemana?" tanya iel yg tiba2 muncul di hadapan ify.

"gw juga ga tau iel, gak ada
kabar gw telfonin dari tdi ga di angkat2." jawab ify dengan tampang frustasi masalahnya ia sudah menghubungi kekasihnya itu berpuluh2 kali tapi tetap saja tak ada respon sama sekali.

"kemana yah tuh anak, gak biasanya alpa" ucap iel begaya menerawang.

"gw denger juga katanya si deva juga ga masuk" sambun iel, reflek ify pun menengok ke arah iel.

"gak biasanya tuh adik kaka ga masuk barengan. Apa mungkin ada urusan keluarga yah?" fikir iel.

"gw juga udah nyoba ngubungin deva tapi sama gak di angkat2" balas ify.

"gimana sama acha mugkin aja dia tau deva sama rio kmna " tanya iel.

"oh iyah iyah kenapa gak ke fikiran acha siapa tau acha tau kenapa rio sama deva gak masuk. Bentar2 " ify pun segera mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak acha.

"hallo cha" ucap ify saat sang lawan bicara telah tersambung.

"kamu tau ga si deva sama rio kemana?, ko rio ga masuk yah?" tanya ify.

"oh gitu yah, yaudah deh makasih yah cha, bye" blas ify dan mematikan panggilannya.

"gimana fy," tanya iel yg penasaran.

"sama aja iel, acha juga gak tau, si deva blom ngasih kabar ke dia" ucap ify ada nada yg pasrah yg ia ucapkan. Iel juga hnya bisa diem.
' yo, kamu kemana sih ' batin ify.

***

Deva pun membaringkan tubuhnya di kasur kesayangannya pandangannya lurus ke langit2 dinding kamarnya. Seketika bayangan sang kekasih muncul oh iyah dia lupa untuk memberi kabar ke acha kalo hari ini ia tak bisa masuk sekolah iyah segera mengambil ponselnya yg berada di atas meja

Dia hanya bisa diam melihat layar ponselnya yang kini di penuhi beberapa missedcall dan beberapa massage. Ia pun segera mencari tau siapa yg menelponnya dan ternyata dia tak begtu kaget setelah mengetahui siapa yg menelponnya. Sang kekasih dan kaka ipar, satu lagi ka iel. Mungkin mereka ingin menanyakan kenapa ia dan sang kaka gak masuk.

"Hallo.." ucap deva saat sanglawan bicara telah mengangkat teleponnya.

"maaf yah aku baru ngasih kabar sama kamu.. Soalnya tadi aku buru2 ada urusan mendadak sama bunda dan ka rio" ucap Deva dengan lembut dan ia hanya tersenyum saat ia mendengar oceh2an acha menurutnya hal itu lah yg mampu membuat ia tersenyum saat ini sayangnya ia tak bisa melihat secara langsung ekspresi kekasihnya itu pasti menggemaskan.

"iyah iyah aku minta maaf, yaudah yah aku mau istirahat dulu. Nite beib, mimpiin aku yah. Besok pagi aku jemput love u" ujar deva lalu mematikan ponselnya dan menaruh di atas kasur. Ia baringkan kembali tubuhnya seperti semula.

Lagi lagi rasa itu muncul. Ia segera beranjak dan menuju balkon kamarnya, udara malem ini sangat dingin seraya menembus tulang2 rusuknya. Ia duduk di amben sembari mengangkat kedua lututnya lalu ia bukamkan wajahnya terdengar isakan tangis ia tak peduli dengan status nya saat ini yg penting ia hanya ingin menangis saat ini juga. Ia takut, takut akan semua pemikirannya menjadi kenyataan.

"Kenapa Bro?" ucap seorang lelaki sambil mengusap kepala deva, setelah deva sadar ia pun segera mengangkat wajahnya dan mengapus air matanya.

"Gw takut, gw takut kalo lo nantinya bakl kaya ayah" ucap deva.

"Lo apa2an sih! Gw masih disini. Lo tenang aja gw bakal sembuh! Dan gw bakal jaga bunda sama lo. Santai aja kali. Ini blom seberapa" ucap Rio tenang tak peduli tatapan deva kini yg mulai geram.

"mau ampe kapan sih ka lo bersikap gini terus, selalu meremehkan penyakit lo itu. Lo tau kan ayah pergi karna penyakit sialan itu.lo bisa tenang lo bisa santai seolah ga terjadi apa2 tapi gw?.. Gw gabisa ka, kaya lo yg pura2tegar di depan gw sama bunda pdhal lo menyimpen rasa sakitkan. Keluarin ka keluarin di depan gw" ucap deva sesekali menggunakan nada  tinggi. Sedangkan rio hanya diam menatap lurus ke luar balkon.

"keluarin? Di depan lo? Lo tau kenapa gw ga ngeluarin itu semua di depan lo dan bunda? Karna gw ga mau kalian ngerasain apa yg gw rasain dev, cukup gw. Gak lo gak juga bunda" balas rio dengan nada tak kalah tinggi namun nada suaranya seketika melemah saat kalimat terakhir terucap di depan hadapan deva.

"gw cuma takut kehilangan lo ka" ucap deva dengan nada frustasi.

"gw akan berusaha ngejagain lo sama bunda sebisa gw dan gw bakal menyingkirkan penyakit ini dari tubuh gw" balas rio sambil memeluk sang adik.

' bukan cuma lo dev, jujur gw juga takut dengan apa yg sedang gw alamin sekarang dan gw gayakin apa gw masih bisa sembuh buat ngejagain lo dan bunda dengan waktu yg lama ' batin Rio


bersambung......

lanjutannya nanti aja yah... makasih udah mau baca :)