Kenapa lo terlalu bodoh sih ka untuk tidak memperdulikan ini semua" ucap deva, air matanya kini mulai mengalir dengan sendirinya, ia sudah mencoba untuk menahannya namun sekuat apapun ia menahannya air matanya tetap akan menetes jika harus berhubungan dengan kondisi kakanya saat ini.
Lima jam telah berlalu sejak kemoterapi di lakukan. Kini ia mulai membuka kedua matanyanya menjulurkan pandangannya ke seisi penjuru ruangan dan setelah ia mengetahui dimana ia kini berada Rio hanya memejamkan matanya sejenak dan menghembuskan nafas, terdengar begitu berat. Tak lama pintu ruangan terbuka terlihat sosok laki-laki di depannya.
"udah bangun lo ka?" tanya deva menghampiri sang kaka.
"berapa jam gw tertidur?" tanya Rio ke arah sang adik.
"Gak lama ko, cuma 5 jam" sahut deva enteng.
"What 5jam? Lama bener yah?" ujar rio.
"Tau luh!, nyenyak banget sih lo tidur" ucap deva.
"hhehe tadi gw mimpi merried sama ify trus bulan madu dulu deh berdua" Ujar rio mulai dengan candaannya.
"Stress lo!!" sahut deva yg mulai duduk di sofa. Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu ruangan dan masuklah sosok perempuan, bukan bunda melainkan...
"siang,," ucap gadis itu. Sontak membuat Rio kaget atas kedatangannya.
***
"Halo"
"iyah ada apa?"
"hari ini aku ga masuk"
"kenapa?"
"ada keperluan"
"kamu bohong"
"aku serius"
Tiba-tiba sunyi sejenak tak ada suara hanya hembusan nafas satu sama lain yang terdengar di ponsel masing-masing.
"kamu bohong!"
"beneran aku seri.."
"Gprs kamu, menunjukan ke rumah sakit"
Skak mat tiba-tiba saja seperti ada batu yang menghantam kepalanya. Ia lupa atau mungkin terlalu bodoh untuk berfikir bahwa kekasihnya orang yang cekatan dan sulit untuk di tebak apa yg akan di kerjakannya.
"Aku kesana!".
***
"safira," panggil guru di hadapannya.
"iyah bu, ada apa?" sahut ify.
"ada apa lagi. Kamu ngerasa ada yang kurang ga?" tanya guru piket.
"ah engga deh bu kayanya, kecantikan saya pas ko ga kurang" ucap ify sembari memberikan senyuman termanisnya.
"ikat pinggang kamu kemana, kaos kaki kamu kemana, kamu tau peraturan gak sih kalo rok itu harus panjang bukannya cingkrang kaya kamu!"
"bu banyak banget sih pertanyaannya, saya jadi mules mau jawabnya"
"ah banyak alasan kamu! Buruan pakai kaos kaki dan ikat pinggang kamu!!"
"iya-iya bu,"
***
'aku ada di taman' sebuah masaage masuk ke ponselnya dan tak lama ia pun beranjak dari tempat duduknya dan menuju ke taman. Tak lama sosok gadis yg ia tunggu sudah duduk manis di bangku taman yg sudah di sediakan.
"Hai" ucapnya.
"sepertinya aku akan terkena introgasi kamu" sahut lelaki ini.
"siapa yang sakit dev," tanya gadis di hadapannya.
"Kario" ucap deva datar.
"kario? Sakit apa?"
"kanker otak stadium 3" ucap deva. Gadis di hadapannya hanya mampu Membungkamkan mulutnya, rasa kaget mampu menjulurkan darahnya mengalir begitu deras ke seluruh tubuhnya, tak pernah ia sangka sosok yg begtu ceria dan friendly mampu menutupi semua nya.
"Aku gatau harus ngelakuin apa lagi, disaat dia sibuk dengan pekerjaannya dan mulai tak memperdulikan kondisinya." ucap deva menundukkan kepalanya.
"kamu hanya perlu memberikanya suport" ucap gadis di sampingnya dengan mengusap pundaknya mencoba memberi kekuatan kepada kekasihnya.
***
Rio menatap ke arah deva dan di balas tatapan datar oleh sang empunya.
"gimana kondisi kaka?" tanya gadis ini menghampiri nya.
"yah begini" ucap rio canggung.
"deva udah certa semuanya ke aku, aku yakin ka rio pasti bisa menjalani ini semua, kaka hanya perlu berdoa, semangat, dan yakin, kalo kaka pasti bisa sembuh dan melewati ini semua. Kaka gak boleh putus asa karna ada kita semua di belakang kaka" ucap gadis ini.
"Makasih yah cha" ucap rio membalas senyuman acha yah ternyata kekasih deva yng telah datang.
"oh yah cha jangan.."
"iyah, kaka tenang aja" balas acha sebelum rio menyelesaikan ucapannya karna acha sudah tau apa yg dimaksd oleh rio.
"thanks" balas Rio.
***
Hari ini seharusnya rio masih di rawat di rumah sakit namun bukan rio namanya jika harus dengan mudah menerima pernyataan sang dokter ia bersikeras untuk tetap pulang dan akhirnya sang dokter pun tak bisa apa-apa.
"Ka, lo serius hari ini lo mau sekolah? " tanya deva yg berada di depan pintu kamar Rio.
"iyah, kenapa? Lo mau ngelarang gw juga?" tanyanya
"yah sekuat apa pun gw ngelarang lo, lo pasti bakal tetep sekolah" ucap deva melipat kedua tangannya.
"anak pintar" sahut rio yg mulai menghampiri deva dan mengusap kepala deva dengan memberikan senyuman ke arah adiknya itu. Sedangkan deva hanya diam. Dan masih diam di tempat melihat kepergian sang kaka
"devaaaaa.... Ayo buruan nanti gw telaaatttt" teriak Rio dari lantai bawah
"iyah-iyah bentar."
Sesampainya di dalam mobil deva hanya berdiam diri sesekali memperhatikan sang kaka yg asik bergumam mengucapkan beberapa bait lirik mengikuti lagu yang mengalun indah dari siaran radio.
"demen banget sih ka dengerin radio" ucap deva
"Karna biasanya nih yah ify tuh sering ikut kirim-kirim salam di..."
"dimana?" tanya deva.
"yah di chanel ini!" sahut rio. Deva pun hanya mengangkat sebelah alisnya mendengar keraguan yg di ucapkan oleh kakanya
"chanel? Di kira tv keles" sahut deva. Sedangkan rio hanya cengir saja. Sesampainya di parkiran deva mengingatkan rio agar tak terlalu cape.
"ka, gw mohon banget sama lo. Kalo lo emang masih mau buat gw sama bunda ga khawatir lagi please jaga kondisi lo" ucap deva pelan namun ngena di hati rio. Rio pun hanya bisa senyum getir sebelum ia membalas perkataan adiknya itu deva sudah keburu keluar dari mobil ini...
***
"hai cinta" sapa Rio di meja ify. Ify hanya diam dan celingak celinguk ke depan belakang siapa tau lelaki di hadapannya bukan berbicara dengan nya. Rio hanya mengeryitkan keningnya melihat tingkah ify.
"gw?" tanya ify.
"yaiyalah lo, emang siapa lagi" sahut rio yg duduk di depan hadapan ify.
"oh" sahut ify singkat yg membuat rio mampu membulatkan mulutnya.
"etdah fy, kita pacaran kayanya udah lebih dari sehari dah" sahut rio
"yah trus? Lo minta Pj?" sahut ify yg mulai ngelantur.
"Lo kenapa sih? Salah makan sarapan? Demam, rindu sama gw?" ucap rio sambil menempelkan telapak tangannya ke kening ify.
"ew, pede bingitzz" ucap ify
"nih anak kenapa sih? Wah stress udah ga waras" sahut rio. Tiba2 saja ada yg menepuk pundak rio.
"yo, yang stress tuh lo, udah tau orang lagi telphonan di ajak ngomong. Gila lo?" sahut dani salah satu teman kelasnya. Dan ketika rio memperhatikan kekasihnya ternyata benar ada eirphone yang nyantol di telinga ify.
"Nasib pagi-pagi" ucap Rio yg menuju mejanya dan meninggalkan tempat duduk ify.
Bersambung....
Makasih udah mau mampir baca
See u next time guys. Enjoyed..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar