Selasa, 30 Desember 2014

If I Think...

Hidup penuh paradoks! Sial! Kenapa sih dia kayanya seneng banget mengganggu kita dengan cara-caranya yang menyebalkan. Masih untung gw nerima hidup ini eh dia malah ngasih gw masalah kegini. Gatau apah kalo gw lagi stress rumah udah kaya neraka. Umpat dari seorang pria yang asik dengan asap-asap yang di keluarkannya dari mulutnya menuju udara bebas. Iyah terus saja mengepus batang-batang kecil itu yang berukuran kurang lebih 6cm tanpa berhenti, jika benda yang di apit oleh jari tengah dan manisnya itu mulai mengecil ia pun membuangnya dan lalu mengambilnya yang lain. 

"Sudah habis berapa batang?" tanya seorang gadis yang baru saja tiba dan mulai duduk memposisikan dirinya di samping lelaki muda itu.

"Tidak banyak, baru satu bungkus!" jawabnya singkat tanpa memperdulikan ekspresi gadis di sampingnya yang mulai kesal dan gerah akan sikap pecandunya itu.

"Susah yah ngomong sama pecandu mah! Mau mati cepet luh!" tanya gadis itu dengan nada kesal.

"Mati yah tinggal di kubur!" ucapnya masa bodo, kali ini bungkus rokok yang berada di sampingnya sudah habis tak ada satu pun batang yang tersisa. 'shit' umpatnya lalu dia pun membuang bungkus tersebut dan mengambil bungkus lain di kantong saku jaketnya. Ia pun membuka bungkus rokok tersebut dan mengambil sebatang dari bungkus tersebut dan menaruhnya di sela bibirnya, tangan kanannya mengambil korek yang berada di saku celananya dan menyalakannya di ujung batang tersebut.

"Lo tega ninggalin gw sendirian? Tega lo nyakitin diri lo sendiri!" ucap gadis tersebut tanpa menengok ke arah lawan bicara.

"Lo gaakan ngerti, ini tuh namanya hidup. Saat lo jenuh lo bakal ngelakuin hal yang sama seperti gw
!" sahutnya sembari mengapit benda kecil itu di sela jarinya dan mengepus asap kearah atas sembari ia melihatnya, melihahat asapnya sampai hilang bersatu dengan udara bebas.

"Tapi engga dengan benda itu!" gadis itu mulai muak dengan lelaki pecandu di sampingnya ini dengan geram dia pun merebut bungkus rokok yang di pegang oleh lelaki muda itu dan membuangnya sejauh mungkin. Setelah itu gadis ini tak peduli dengan tatapan tajam yang di berikan oleh lelaki di sampingnya ini.

"Gw gamau mati hanya gara2 jadi perokok pasif!" ucap gadis ini tersenyum ke arahnya. "Kalo emang lo lagi ada masalah lo punya gw, gw akan selalu ada buat lo, gw bakal selalu dengerin cerita lo, lo anggap gw apa sih ha? Apa gw lebih rendah ketimbang benda kesayangan lo itu!"

"Lo gak ngerti!"

"Iyah gw emang ga ngerti sama jalan hidup lo, sama jalan fikiran lo. Gw bisa menerima lo seburuk apapun lo, tapi buat apa ada gw kalo gw gabisa ngerubah sifat buruk lo itu" ucap gadis ini lalu pergi meninggalkan lelaki muda ini.

Aarrgghh.. Masalah apalagi sih yang lo kasih ke gw, sekarang lo ngebuat dia marah sama gw trus apa lagi kejutan yang bakal lo kasih ke gw ha! Apa lagi!. Ucapnya sembari membungkamkan kepalanya di kedua lututnya yang ia rengkuh. Setelah ia sadar ia pun segera beranjak dan mengejar gadis kesayangannya. Ia sedikit berlati untuk agar sampai mengejarnya namun langkah itu berubah menjadi perlahan dan bahkan hampir terlihat seperti berhenti sejenak.

"Hay kamu kalo udah besar mau jadi apa?"

"Aku mau jadi pramugari dong"

"Iih emangnya kamu mau meninggalnya di udara"

"Ko di udara?"

"Iyah kalo pesawat ilangkan berarti kamu meninggal di udara"

"Kamu jangan doain seperti itu dong, lagian kan ada kamu yang jadi pilotnya iya kan?"

"Kata siapa aku mau jadi pilot?"

"Loh kan kamu sendiri yang bilang kalo kamu akan selalu ada di samping aku, akan selalu jagain aku. Nah kalo aku jadi pramugari itu artinya kamu jadi pilotnya"

"Iyah sih, tapi kan menjaga seseorang bukan berarti selalu ada di sampingnya setiap saat"

"Emang kamu mau jadi apa?"

"Aku mau jadi orang kaya!"

"Orang kaya?"

"Iyah orang kaya, nanti kalo aku udah jadi orang kaya aku bakal bebas mau makan apa aja tanpa perlu memikirkan besok dan seterusnya akan makan apa, aku bakal jalan-jalan kemanapun yang aku mau sama bapa dan ibu, aku akan beli mainan yang banyak, baju yang bagus, beli eskrim, kumpul nonton tv bareng bapak sama ibu. pokoknya semuanya deh. Jadi orang kaya itu kan enak pasti menyenangkan. Ga kaya gini tiap hari harus nyari botol bekas panas-panas, mana dapet uangnya cuma cukul buat hari ini makan."

"Udah-udah kamu harus tetep bersyukur setidaknya kamu masih di beri nafas sama pencipta mu. Ayo kita jalan lagi sebelum siang mulai menghakimi kita kebih ganas"

Dua anak kecil itu pun lalu beranjak pergi dengan membawa karung yang mereka pikul di belakang punggungnya oleh tangan kirinya sedangkan tangan kanannya membawa sebuah tongkat yang lancip di ujugnya untuk mengambil botol-botol yang berserakan.

Mereka tak tau bahwa terkadang menjadi orang kaya itu menyebalkan. Tak ada toleransin di dalam kekeluargaan yang ada hanya kekerasan dan keegoisan. Bahkan aku akan memilih bertukar posisi dengan anak itu bila aku dapat bahagia dengan keluarga ku tak seperti saat ini. Gumam lelaki muda ini.

"Oh yah? Harusnya lo bersyukur lo di beri kenikmatan yang orang lain belum tentu bisa menikmatinya tinggal bagaimana cara lo menghidupkan itu semua!"

"Loh ko lu ada disini?" tanya lelaki ini yangbtiba-tiba saja gadis yang ingin di kejarnya berada tepat di sebelahnya.

"Lagi lo lama ngejar gw nya yaudah gw balik lagi, eh ternyata malah diem disini!" ucap gadis itu tanpa memperdulikan raut wajah lelaki kesayangannya yang mungkin akan menggodanya.

"Gw emang lelaki pecandu benda brengsek itu, sulit bagi gw buat meninggalkan mereka. Tapi gw janji gw bakal berusaha ngejauhinnya walaupun dengan waktu yang cukup lama Asalkan lo masih akan tetap bersama gw, di samping gw, membantu gw buat jadi yang lebih baik." ucapnya ke arah gadis di hadapannya. Pandangannya begitu tukus dan damai lalu di balas dengan senyuman oleh gadis di hadapannya ini.

"Peganglah janji mu lelaki kesayangan ku" balasnya.

Tamat~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar