"Maaf, sudah tutup" Suara lelaki itu pun seolah menyauti alunan lonceng yang berbunyi.
"Ini aku, Aura" Ujar seoarang wanita yang langsung mencari tempat favoritnya.
"Namamu Aurora, bukan Aura" Balas suara pria ini, segera ia menghampiri gadis tersebut.
"Ada apa?" Lelaki ini pun duduk di hadapannya.
"Hahaha dasar, sudah ku bilang kembalilah ke langit" Lelaki ini pun tertawa renyah sembari melemparkan serbet dari bahu ke meja kasir yang tak jauh darinya.
"Aku manusia"
"Setengah Dewi" Sambung lelaki ini.
"Berhentilah bergurau" Perempuan ini pun mulai kesal.
"Kau yang seharusnya sadar, seberapa lama pun kau di bumi, tak akan bisa mengubahmu menjadi manusia seutuhnya Aurora" Lelaki ini pun mulai menatap gadis di hadapannya dengan nanar.
"Dulu, kau turun di perintahkan oleh Maha Dewa untuk membantu seorang lelaki yang malah kau jatuh kan hati mu kepadanya. Kau berhasil memang, tapi lihatlah dirimu ketika itu, kau bahkan tak dianggap olehnya. Berpuluh tahun kemudian kau jatuh kembali ke orang yang.. Menganggap mu adakah saat ini?" Lelaki ini pun mulai mengingat kan kembali dimana saat semua nya bermula.
"Saat kau diocehkan oleh atasan mu, dia malah membuat mu untuk menyemangatinya. saat kau mendapatkan masalah, kau malah harus tersenyum untuk nya. Saat hari mu sial dia malah menyuruh mu untuk mengerti nya. Saat kau merasa tak enak badan, bahkan saat itu dia menghilang dan menyuruh mu untuk mengerti. Saat kau membutuhkannya bahkan dia tak tau itu, apa kaka mu ini tak tau kau menangis? Mau Mengumpat dimanapun, aku akan bisa mendengar tangisan mu. Lalu bisa apa kaka mu ini? Bahkan untuk mencabut nyawanya pun ku tak di izinkan sedikit pun"
"Maha Dewi sakit, dia tak tega melihat mu di bumi" Tutup nya dan meninggalkan gadis ini sendirian.
"Aku menyayanginya ka" Balas gadis ini.
"Jika aku kembali ke langit aku takan terlihat lagi di bumi, apakah itu baik menurut mu?"
"Sebaik-baik nya suatu tempat, rumah lah yang paling baik." Sahutnya.
"Rumah" Gumam gadis ini.