Senin, 22 Agustus 2016

Puisi fini teruntuk fardi

Ketika aku mulai menyadari
Ketika rasa mulai menghampiri
Tak pernah aku duga akan jatuh kepadamu..

Aku tak bisa berkata jujur akan perasaan ku. Aku tak bisa mengungkapkan isi hati ku untuk mu. Aku tak bisa mengucapkan aku menyukai mu tapi... coba lah lihat aku, maka kau akan tau ada seseorang yang menunggu mu, ada seseorang yang mencintai mu dengan tulus. Aku.

Rasa ini tumbuh dengan sendirinya tanpa bisa aku bendung, tanpa aku tau bagaimana cara menghentikannya. Ia seperti air mengalir bahkan semakin deras  namun sayangnya ia selalu bermuara ke dataran rendah atau bahkan harus jatuh melewati terjunan.

Kau, fardi, atau Angin...

Apa perlu ku sapa kau Angin.

Ini semua seperti angin. Cinta ini seperti Angin dan kau seperti Angin.

Kau ada di sekeliling ku, aku bisa merasakan kehadiran mu, tapi aku tidak bisa sepenuhnya memiliki mu...

Angin seperti udara yang bukan hanya aku yang membutuhkannya..

Begitupun cinta...

Love is like air...

Cinta seperti udara, ia  dapat menerpa kita, ia bisa menyentuh kita, ia bisa kita rasakan, kehadirannya,  kedatangannya, namun ia tak bisa kita sentuh, tak bisa kita lihat, dan... ini lah yang paling aku benci, ia datang lalu pergi..

Harus kah aku jatuh kembali? Haruskah aku jatuh lagi? Lagi? Dan kembali?

Haruskah aku jatuh hati kepada orang yang salah lagi?
Haruskah aku jatuh hati kepada orang yang salah, kembali? 

Dear Fardi...

Aku gatau harus memulainya dari mana, entah apa yang telah kau buat sampai kau begitu mempunyai kharisma di pandangan ku.

Rasa suka, sayang yang ku punya untuk mu, mampu mengalahkan rasa yang begitu sakit aku rasakan.

Aku tau jika mencintai mu itu salah, namun jangan salahkan aku yang telah menjatuhkan hati ku kepada mu. Karna aku tau tak ada yang benar dalam ini semua.

Cinta.. Cinta.. Cinta.. dimana keadilan cinta itu.. katakan pada ku, beritahu kepadaku.

Pertama dia, lalu kau, dan siapa lagi? Siapa lagi yang akan menyakiti ku? Siapa lagi yang akan singgah lalu pergi meninggalkan ku.

Fardi... sadarlah, sadarlah, sadarlah, aku disini, membicarakan mu setiap hari, menyebut nama mu setiap hari, dan mengagumimu setiap detik.

Tak pernah jenuh menceritakan semua tentang mu, mencari tau tentang mu dan mencoba mendalami mu..

Kau.. kau.. kau.. buat aku seperti orang bodoh, percaya akan kekuatan cinta, percaya akan takdir cinta, percaya akan kebahagiaan cinta yang ku yakini aku tak akan mendapatkannya dari mu.

Lihatlah aku, anggap lah aku seperti mereka, dan.. cobalah mencintai ku. Setidaknya cobalah berdekatan dengan ku seperti yang ku lakukan kepada mu.

Tolong lah jangan membuat ku membuang-buang waktu untuk memikirkan hal yang gila dan meninggalkan yang telah aku mulai. Aku telah menjatuhkan hati ku untuk mu dan ku mohon jangan biarkan itu pecah kembali. Atau nanti akan ada yang hilang, senyum,  tawa, atau mungkin mati rasa..

Kau...
Aku mencintai mu dalam diam ku, dalam sepi ku, dalam lamunanku. Sadarlah atau enyahlah dari fikiran ku.

Teruntuk mu dari hati  ku

Fini

Kisah Klasik series

Mereka bernyanyi dengan penuh semangat, menyanyikan tiap bait-bait sembari berjoget ria. Para siswa siswi yang duduk di tengah lapangan juga ikut bernyanyi bersama mereka, bertepuk tangan sembari menggoyangkan bahu kekanan dan kekiri senada dan serentak. Siapa yang tak mengenal lagu ini, ditambah banyak yang menyukainya, sehingga tak sedikit dari mereka ikut bernyanyi, bahkan kaka kelas mereka pun ikut bernyanyi.
Mereka bertiga memang tak saling kenal satu sama lain, namun entahlah pertemuan singkat yang tak sengaja terjadi ini membuat mereka akrab satu sama lain, mungkin karna mereka bertiga juga memiliki kesamaan dalam menyukai lagu.
setelah lagu selesai mereka pun mendapatkan tepuk tangan dan sautan yang sangat meriah, seolah mereka adalah seorang penyanyi yang telah selesai berkonser di suatu panggung. Mereka juga tersenyum ke satu sama lain.
***
"Wooww, ternyata kita satu kelas" sahut lelaki yang bernama Dodit ketika selesai melihat daftar kertas nama yang tertera di Mading sekolah. Lelaki yang mempunyai nama sapa Rio pun ikut menimbrung melihat daftar nama itu untuk sekedar meyakinkan apa benar yang di ucapkan Dodit itu, dan ketika Ia telah menemukan namanya ternyata benar Ia sekelas dengan lelaki yang bernama Dodit Muhammad Septian ini. Ia pun menemukan nama Maura di satu kertas yang sama.
"Eh iya ini nama gw, ada nama lu juga Ra" ucap Rio
"Coba mana awas gw mau liat" sahut Maura dan ikut mencari namanya. Ia mengajukan jarinya ke sebuah kertas yang menempel di Mading, setelah mendekati huruf M Ia pun memperlambat jarinya dan berhenti di namanya.
"Berarti kita sekelas wooww" ucap gadis ini. Mereka pun bertos ria. Dan berjalan menuju kelasnya beriringan. Tak sedikit yang memperhatikan mereka. Padahal tak ada sesuatu hal yang baik yang telah mereka lakukan. Mereka sama-sama telat, sama-sama kesiangan, dan sama-sama terkena hukuman, namun itu semua malahan membuat nama mereka booming di hari pertama masuk pertama ini.
Ketika mereka telah sampai di ruangan kelas, mereka pun segera mencari tempat duduk, kebetulan kelas pun belum terlalu ramai jadi masih banyak bangku yang kosong. Maura mengambil posisi duduk di bangku ke dua deretan ke tiga dari pintu. Sedangkan Rio berada di bangku ke tiga di sebrang Maura dan Dodit memilih bangku belakang sebagai tempat duduknya di sebrang Rio, ia duduk  bersama lelaki yang dulu satu SMP bersamanya.
Setelah mendapatkan tempat duduk mereka pun mencoba berkenalan dengan teman sebangkunya. Maura sendiri duduk dengan seorang perempuan, ia berkenalan dan berbincang-bincang. Awalnya perempuan yang duduk dengan Maura ini berfikir bahwa ia perempuan yang sombong di lihat dari penampilannya ujarnya kepada Maura namun hanya Ia balas dengan tawaan.
"Lo bukan orang pertama yang ngomong seperti itu. lo adalah orang yang tersekian kalinya yang bilang gitu ke gw" ujar Maura dengan di selingi tawa.
"Tenang aja gw ga sejahat dan seburuk yang lo fikirin ko" sahutnya kembali.
"Engga gitu, gw ga berfikir kalo lu jahat atau buruk. Hanya saja persepsi orang yang liat lo pasti bakaln berfikir kalo lu itu pasti cewe yang angkuh. Tapi ternyata humble juga" ucap perempuan ini.
"Hahahaha oh yah gw Maura" ucap Maura dengan menjulurkan tangannya.
"Gw Rita" sahut Rita dengan membalas jabatan tangan Maura.
Sedangkan di tempat duduk Rio, Ia hanya membaca komik yang sengaja Ia bawa di dalam tasnya sembari mendengarkan musik. Belum ada yang mengajaknya ia ngobrol saat ini kecuali saat tragedi tadi. Bangku di sebelahnya pun masih kosong belum ada yang menempati. Sengaja ia mengambil posisi duduk di deretan ketiga karna jika di deretan pertama, entahlah dia merasa tak nyaman aja duduk di paling depan serasa semua teman-temannya memperhatikannya tanpa ia ketahui. Dan kenapa ia memilih deretan ketiga, karna ia juga terkadang merasa ngantuk yang menjalar kedirinya ketika sedang pembelajaran jadi srtidaknya dua deretan di depannya dapat membantunya untuk memejamkan matanya sejenak.
Berbeda dengan Dodit ia memilih bangku deretan belakang, karna memang posisi itulah yang menjadi tempat favorite nya. Ia paling ga suka duduk di deretan depan karna itu hanya membuatnya harus berkonsentrasi penuh yang akan membuatnya serius sedangkan ia sendiri tak suka dengan keseriusan karna baginya serius sama dengan seperti robot.
tak lama kelas pun semakin ramai. banyak siswa dan siswi mulai mencari bangku kosong yang masih tersedia. 
seorang lelaki tiba-tiba saja bertanya kepada Rio.
"Udah ada yang nempatin belum yah?" tanyanya dengan menyentuh bahu Rio karna lelaki ini tau jika ia hanya berbicara lelaki yang sedang asik membaca novel dengan telinga yang ditutupi oleh earphone ini tak akan mendengar suaranya. Rio pun segera melepaskan earphone yang terpasang cantik di telinganya. 
"Oh iya duduk aja, belum ada yang nempatin ko" balas Rio yang segera mengambil tasnya dan menaruhnya di atas meja.
"Gw Reyhan, " ucap lelaki ini dengan menjulurkan tangannya. 
"Gw Rio" balas Rio dengan membalas jabatan tangan Reyhan.
tak selang beberapa menit seorang Guru pun masuk kedalam kelas yang membuat kelas seketika hening dan berlarian kecil menuju tempat duduknya  masing-masing.
Sang Guru pun memberi sedikit pengarahan dan sedikit edukasi tentang akademik membuat para siswa dan siswi menyimak dan mengeluarkan buku untuk mencatat. 30 menit telah berlalu sebagian siswa masih menyimak dan sebagiannya lagi sudah menguap berkali-kali, padahal waktu masih menunjukan pukul 9;00 pagi namun entahlah ceramah guru di depan sana seperti layaknya seorang Ibu atau pun Ayah yang sedang mendongengi anaknya.

"Oke baiklah, sekian dari saya, selamat belajar di sekolah baru kalian, semangat dan terus ciptakan pestasi sebaik-baiknya. Dan jangan lupa ikuti peraturan sekolah ini dengan baik. Saya permisi" ucap sang Guru dan keluar meninggalkan kelas. Sebagian murid mulai  merenggangkan tangannya menjelas kan bahwa betapa pegalnya dirinya. 

"Yo, tadi lu nyatet ga?" tanya Maura yang berbalik ke arah Rio.

"Nyatet apaan?" tanyanya kearah Maura.

"Yang tadi guru itu jelasin" ujarnya menjelaskan.

"Oh nih" Rio pun melemparkan bukunya ke Maura. Maura yang telah sigap pun menangkap buku Rio dengan cantiknya.

"Maura, gw juga nyatet nih mau minjem juga ga?" tanya salah satu murid laki-laki yang duduk di sebelah Dodit. Maura pun hanya membalas dengan senyuman.

"Lu ga liat apa? " tanya Dodit yang melihat tingkah teman disampingnya.

"Liat apa?" tanya lelaki ini.

"Dia udah minjem punyanya Rio duluan" ujar Dodit memukul lelaki disampingnya dengan buku miliknya.

"Yah siapa tau Maura mau minjem punya gw juga" ujarnya.

"Dasar lu mah ngarep" sahut Dodit dan beranjak dari tempatnya. Muara yang mendengar percakapan mereka hanya senyum sedangkan Rio hanya geleng-geleng kepala. 

"Mau kemana lu Dit?" tanya lelaki yang duduk di sebelahnya.

"Gw mau ke kamar kecil, WC, Toilet. lu mau ikut?" ujarnya menyebutkan arti nama dari kamar kecil itu, dan bertanya kepada temannya itu yang di balas mimik muka jijik oleh temannya. Rio yang melihat hanya tertawa, sedangkan Maura, ia sibuk mencatat yang ada di buku Rio

Soal masalah mencatat-catat Maura tipikal perempuan yang malas, ia lebih memilih mencatat di rumah saja atau menyalin punya teman, karna ia sendiri lebih suka memperhatikan apa yang di jelaskan oleh guru di hadapannya di bandingkan mencatat apa yang sang guru terangkan. Berbeda dengan Rio ia lelaki tipikal yang rajin. Rajin dalam segala hal mencatat maupun memperhatikan. Sedangkan Dodit, Ia seperti Maura malas dengan acara mencatat-catat namun tak begitu suka juga dengan memperhatikan jadi Ia tipikal seseorang yang masa bodo namun memliki wawasan yang luas. Memang sedikit aneh namun yah itulah Dodit.

tak lama beberapa kaka kelas pun masuk ke kelas mereka. Membawa sebuah kertas. Maura yang melihat ke arah kaka kelas itu pun segera memasang muka masa bodo dan angkuh, masalahnya yang masuk ke kelasnya adalah kaka kelas yang membuatnya dongkol tadi pagi.

"Minta perhatiannya sebentar dong adik-adik." semua murid-murid pun duduk menghadap ke depan dan hening. Dapat di pastikan hanya suara kaka kelas itu saja yang dapat di dengar.

"Kana MOS kita akan berakhir dalam waktu dua hari lagi, disini saya dan teman-teman saya akan menjadi mentor kalian di kelas ini, dan salah satu kegiatan yang akan di lakukan di acara MOS ini adalah. Kalian harus membuat sepucuk surat cinta.." belum juga kaka kelas ini selesai berbicara, seisi kelas pun mulai ramai.

"Tapi.. tolong perhatikan dulu sebentar. Kalian menulis surat bukan untuk kita, ataupun kaka kelas lainnya. Kalian hanya boleh menulis surat itu untuk teman seangkatan kalian. Ingat yah tidak di peruntukan untuk kaka kelas. Hanya untuk satu angkatan. Kalian boleh menulis untuk siapa saja yang ada di angkatan kelas X ini dari ujung kelas sana sampai ke ujung kelas sana" ujar kaka kelas ini sembari menunjukan arah barat ke timur. Namun ucapannya sedikit terhenti ketika ada seorang lelaki masuk sembari bersiul.

"Eh" ucap lelaki ini ketika Ia kaget bahwa kelasnya hening dan ada beberapa kaka kelas yang berdiri di depan kelas. Seketika semua mata tertuju kepadanya.

"Darimana kamu?" tanya salah satu kaka kelas.

"Dari kamar kecil ka, eh ke WC, eh maksudnya Toilet" ujar dia, dan lelaki ini segera berjalan ke tempat duduknya.

"Kamu sini dulu !" ujar seorang perempuan yang berdiri di depan kelas.

"Saya ka?" tanya lelaki ini.

"Iya kamu, sini kamu!" ulang perempuan ini. Lelaki itu pun berjalan ke arah depan. Semuanya hanya dapat memperhatikan saja, tak ada yang berkomentar apapun dan siapa pun. Tak ada yang berani melawan ucapan perempuan ini ataupun membantahnya, sekalipun itu seangkatannya atau pun temannya, kecuali Fardi.

"Siapa nama kamu?" tanya perempuan ini.

"Dodit Muhammad Septian Ka" sahut lelaki ini dengan tampang polosnya.

"Kamu tau peraturan disini ga sih?" tanya perempuan ini lagi.

"Baju seragam itu di masukin, bukan di keluarin kaya gini" ujarnya kembali sembar menarik baju lelaki di depannya ini, Dodit kaget seketika sedikit menunduk karna tarikan di bajunya itu. Ia kesal, ia pun memasang wajah seraya ingin mencengkeram gadis di hadapannya ini.

"Apa?" tanya perempuan ini dengan nada tinggi yang tau akan perubahan mimik lelaki di depannya.

"Engga, ga papa ko ka, yaudah tolong bantu masukin dong" ujar Dodit dengan senyum yang begitu manis yang membuat perempuan di hadapannya membulatkan matanya bukan hanya perempuan ini tapi seisi kelas pun terkaget-kaget dengan ucapan Dodit