Kamis, 22 Desember 2016

Bintang cintai ku

Cinta memang bukan hanya perkara bahagia. Cinta juga sakit, bahkan menyiksa. Tapi aku tidak tahu, mengapa sampai saat ini aku masih mampu bertahan untuk mendapatkan mu. Salah. Maksud ku mendapatkan cinta mu.

Aku tahu semuanya telah usai. Aku dan kamu telah berakhir, kata kita telah berganti sejalannya waktu. Perjanjian dan komitmen yang pernah kita buat hilang dengan begitu saja tanpa bekas. Namun aku tak tahu, mengapa hati ini tetap terisi penuh dengan dirimu. Maksud ku, kenangan bersama mu...

Dulu, yah dulu ketika pertama aku mengenal mu. Kau begitu mengagumkan.. aku ingin memiliki mu, namun aku telat. Dia yang pertama memiliki mu.

Lalu kau mendatangi ku, memberitahu kepada ku bahwa kau tak menicintainya lagi. Kau mendekati ku dan membuat ku mengingat semuanya. Semua rasa yang pernah ku simpan untuk mu. Rasa yang sempat ku kubur dalam-dalam untuk dapat melupakan mu.

Rasa itu kembali, rasa yang dulu pernah berkembang dengan begitu sempurna di seluruh tubuh ku kini mulai menyerusuk masuk lewat celah-celah yang kau ukir kembali. Ingin ku menolak. Kau miliknya. Namun lagi-lagi kau menjelaskan. Kau tak mencintainya.

Lalu kita bersama. Tanpa di ketahuinya. Aku tahu, kau salah, aku pun salah namun ingatlah bahwa cinta membuat kita buta akan kebaikan atau sengaja buta dengan kesalahan. Kita saling bahagia tanpa kita sadari kita telah menyakiti orang lain dalam diam.

Bukan hanya satu, tapi dua. Yah bukan hanya lelaki mu yang kau lukai, perempuan disampingku saat ini juga ikut bagian dalam pengkhianatan. Bukan mau ku untuk mengkhianatinya, bukan maksud ku menyakitinya aku hanya, hanya tidak tau bagaimana memutuskannya jika aku memberitahukan tentang kita kepadanya apa yang akan terjadi. Aku tidak bisa melihatnya menangis. Tidak. Aku tidak suka hal itu.

Kita bahagia, saling berbagi kebahagiaan. Canda, tawa, senyum mu, suara mu, bahkan raut wajah mu pun tak bisa aku lupakan dalam ingatan ku. Sekalipun aku berada di bawah alam sadar ku. Yah aku selalu memimpikan mu.

Aku mengecewakannya? Tentu, itu pasti. Setiap aku dengannya. Perempuan ku. Bukan dirimu sayang. Ia bernama Bintang. Perempuan yang begitu tangguh dan sabar dalam menemani sifat kekanak-kanakan ku. Ia selalu setia dengan diriku yang telah menyakitinya tanpa ia sadari. 

Kadang aku juga mengacuhkannya dengan gadget ku. Yah karna saat itu aku sedang bercakap dengan mu lewat chatingan. Dia mengetahuinya? Ku rasa tidak. Kau tau sayang apa yang ia kerjakan. Hanya memandangi ku.

Dia perempuan yang mampu bertahan berjam-jam tanpa membicarakan suatu hal pun. Dia yang tangguh ketika aku sedang mengabaikan dan mengacuhkannya. Kadang aku meninggalkannya sendiri. kau tau sayang, untuk membalas pesannya saja sebenernya aku malas namun apa boleh buat. Bagaimana pun aku harus mampu membuat nya bahagia sebisa ku.

Kau lah cinta ku, bukan Bintang. Aku bahagia dengan mu. Kau membuat ku memiliki segalanya tentang cinta. Kau berikan cinta yang indah untuk ku.

Namun saat itu tiba, kau mulai mengabaikan ku. Kau mulai mengacuhkan ku, kau mulai membagi jarak kepada ku.

Ada yang hilang dari hidup ku, selera hidup ku melemah. Aku tak tau apa yang terajadi, semuanya terlihat cepat. Kau berubah dengan begitu cepat. Hingga suatu hari aku mengerti suatu hal. Jika kau bisa selingkuh dengan ku ketika bersamanya mengapa tidak jika kau selingkuh dengan yang lain ketika bersama ku.

Aku kehilangan dirimu. Tapi tunggu. Bintang tetap masih milik ku. Dia selalu ada untuk ku. Sekalipun ketika aku terpuruk.

Aku menimui Bintang, seperti biasa senyumnya selalu terpancar ketika menemui ku. Dia duduk di depan ku, memandangi ku seperti biasa dan mengeluarkan sesuatu.

Sebuah surat, lalu ia tersenyum dan pergi meninggalkan ku. Dengan bahasa isaratnya ia mengatakan bahwa ia mencintai ku. Lalu pergi.

Aku membukanya..

Hai pangeran ku, alasan aku bahagia. Aku mencintai begitu sungguh, menyayangi mu dengan begitu tulus, menghargai setiap waktu yang kau butuhkan tanpa peduli dengan ku. Atau bahkan sesekali dengan mengabaikan ku.

Terimakasih telah menerima ku dengan kondisi apapun. Terimakasih karna kau telah mau bersusah-susah payah belajar bahasa isyarat hanya untuk ku.

Kau begitu menyenangkan dulu. Maafkan aku menggunakan kata dulu. Karna memang itu yang aku rasakan. Tapi kau tak perlu khawatir karna aku tau, bahwa cinta bukan hanya untuk bahagia saja tapi sakit, kecewa bahkan sebagainya harus bisa di terima oleh hati dan perasaan.

Kau mengajarkan ku, bahwa cinta tak selamanya indah, bahwa cinta pun bisa pudar seperti tulisan tinta di kertas yang terkena air, akan pudar lalu rusak dan berubah menjadi buruk.
Aku memang lemah, aku memang tak bisa bercanda mengeluarkan suara ku bersama mu, aku tau kita tak bisa saling telphonan ketika malam menyelimuti rindu kita satu sama lain. Maaf kan aku yang membuat mu harus video call ketika aku merajuk untuk melihat wajah mu. Maaf kan aku yang berbeda dengan yang lain.

Aku mencintai mu, tapi aku sadar bahwa seseorang yang tak menginginkan cinta kita, itu tanda untuk kita melepaskan. Aku mencintai mu tapi aku tau kau tak mencintai ku, lalu untuk apa aku bertahan? Maafkan aku, aku tidak bisa untuk lama-lama bertahan menahan ini semua sendiri.

Maafkan aku jika aku egois dengan meminta balasan cinta dari mu. Tapi ke egoisan ku itu membuat ku sadar bahwa jika kau tak bahagia bersama ku, untuk apa aku bertahan membahagiakan diriku sendiri.

Ketika aku tau kau mulai berubah, aku mencoba mencari kebahagiaan ku, aku mencoba mencintai hal lain selain dirimu. Bukan orang lain, aku bukan seperti mu. Aku hanya membiasakan diri ku untuk bahagia selain atas dirimu. Karna apa? Karna aku perlu membahagiakan diri ku pula.

Lalu ketika aku rasa aku telah mampu melepas mu, tiba saat nya aku akan melepas mu. Kau tak perlu khawatir, aku tidak akan menangis, tidak juga bersedih hati, karna aku telah menguatkan diri ku jauh dari sebelum kau mengetahuinya.

Terimakasih pangeran ku, kau telah mengajarkan ku, bahwa cinta bukan hanya perkara bahagia, tetapi kesedihan, kekecewaan, melepas dan keihlasan diajarkan disini.

Berbahagialah. Karna kau pun perlu bahagia atas dirimu sendiri. Seperti aku yang bahagia dengan cara ku sendiri selepas melepaskan mu..

Salam
Bintang

Kau benar bintang, aku menyadari itu. Aku salah. Bagaimana caraku untuk bahagia kembali? Ketika aku sungguh telah menghilangkan kebahagiaan ku sendiri tanpa aku sadari

Jumat, 25 November 2016

23 : 40 pm

Aku sangka aku sudah benar-benar terlepas dari bayang-bayangnya. Aku sangka sekelilingku sudah mampu menggantikan sosok dia, ternyata aku salah. Rasa itu masih ada, masih tumbuh dan masih beradaptasi dengan hati ini.

Aku sangka aku sudah mampu merelakan semuanya, aku sangka aku sudah mampu melupakannya. Ternyata lagi-lagi aku salah. Dia masih bersinggah di hati ini.

Kau rubah semuanya, rasa yang tak memiliki nyawa menjadi hidup. Rindu yang tak berarti menjadi pecandu. Dan hati yang kosong menjadi terisi. Penuh dengan hal tentang mu. Bukan hanya dirimu tapi kita. Penuh dengan kita.

Praaanggg !!!!

Sebegitu cepatkah.

Kau pecahkan segalanya...

Kekecewaan..
Kesedihan..
Amarah..

Kau begitu cepat merubahnya.. kau hancurkan segalanya..
Cinta itu tak berarti lagi.

Mengapa singgah? Bila kau memutuskan berlayar tanpa ada rasa ingin pulang. Mengapa kau menetap jika kau sempat berfikir ini semua salah. Cinta tak sebercanda itu. Cinta tidak se-sepele yang kau fikirkan. Ini soal hati, hati yang mungkin jika retak sulit untuk di benahi.

Semua telah berlalu. Semua hanya sebuah kenangan. Tapi hari ini, semua terulang kembali di ingatan ku, semua berjalan begitu sempurna dengan kronologi yang begitu tepat di setiap waktunya. Ternyata aku sadar,  Bayang-bayang mu belum terlepas dari memory ingatan ku.

Aku sangka aku kuat, aku sangka aku tegar, aku sangka aku hebat. Ternyata aku salah. Selalu salah. Karna tak ada yang benar dalam hal ini. termasuk mencintai mu.

Tepat pukul 23:40pm aku mengakui satu hal. Aku sama sekali belum beranjak dari tempat pertama kita terpisah. Aku masih berdiam dengan menutup kedua mata. seolah menjauh yang berharap kembali.

Bodoh!

Kau membuat cinta itu menjadi kecewa. Kau membuat ku mempercayai satu hal tentang cinta tapi kau juga yang membuat ku mempercayai bahwa cinta itu.. salah










Ins : pukul dua dini hari (mas-aih)

Rabu, 09 November 2016

cinta yang salah

Dia seseorang yang tak pernah benar-benar mengetahui apa itu cinta. Dia seseorang yang tak pernah percaya akan hal mengenai cinta. Dia perempuan yang unik, dia adalah perempuan yang begitu memiliki jiwa tegas seperti  warna kesukaanya ‘Merah’.

“Iya gitu Len. Kalo menurut lu gimana?” Tanya seorang perempuan disuatu tempat makan.

“Lu salah Rin kalo Tanya begituan ke Lena. Dia mana tau sih soal Cinta” saut seorang perempuan yang juga berada di tempat yang sama.

“Eh jangan macem-macem yah sama gw. Cinta itu ada banyak versi. Cinta kepada Sang Pencipta, Cinta kepada Keluarga dan Cinta antara Dua Insan. Tinggal cinta mana yang mau di bahas.” Sahut Lena sembari meminum sebuah Air Mineral yang sudah berada di meja tersebut.

“Versi yang terakhir” ucap perempuan lainnya. Lena hanya membalasnya dengan cibiran. Semua temennya sudah tahu bahwa Lena adalah perempuan yang begitu payah dengan cinta yang satu itu. Ia sama sekali tidak pernah percaya bahwa cinta ataupun cinta sejati di antara dua orang insan itu ada, ia sama sekali tidak mempercayainya.

“Kan bener apa kata gw, dia mah gatau” sahut temannya

“Udah ah gw ga mau bahas begituan” ucap Lena.

“Kan bener lagi apa kata gw. Dia mana mau sih bahas-bahas begituan” ucapnya lagi.

“Lu sekali lagi ngomong gw lempar nih botol ke lu yah” sahut Lena.

“Hahahaha, udah Len sabar, lu jangan marah-marah mulu” ucap temannya.

“Sangar lu, jangan sangar-sangar Len kapan mau punya pacarnya.” Ucap yang lain.

“Sial!” ujar Lena . dan seketika semua temannya pun tertawa menertawainya.

Namanya Lena permatasari. Anak pertama dari Tuan Sean dan Nyonya Sean. Ia memiliki 5 sahabat yang telah berjalin sejak masa-masa SMA. Mereka semua telah mengetahui sifat masing-masing. Namun jarang sekali mereka dapat berkumpul bersama layaknya seperti ini. Tujuan kampus yang berbeda salah satu alas an yang membuat mereka jarang sekali untuk bisa berkumpul bersama namun, tali persahabatan itu masih dapat dijalin dengan baik.

Walaupun pertengkaran sering terjadi di antara mereka, namun mereka berlima dapat bersama kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Semoga ini akan terus berjalan dengan semestinya.

***

“Hai, apa kabar Len?”

“Baik”

“Ceritakan sesuatu kepada ku, sebuah cerita saja. Aku ingin mendengarnya” ucap seorang perempuan yang baru saja tiba.

“Cerita apa?” Tanya Lena.

“Apa saja, cerita yang kau buat. Ayolah aku sedang suntuk ” ujarnya,

“Baik lah, dengar kan cerita ini saja” ujar Lena.



***

Ketika itu ada seorang lelaki yang begitu tampan, tapi Ia begitu pengecut. Ia membuat seorang gadis menunggu begitu lama. Bukan menunggu untuk di jemput di suatu tempat, melainkan menunggu lelaki itu untuk membuka hatinya untuk perempuan ini. Lelaki ini memiliki paras yang bukan hanya tampan, tetapi juga manis dan menarik. Tubuhnya yang tinggi dan tak begitu berisi membuatnya semakin terlihat keren.

Sebenarnya lelaki ini menyukai perempuan itu, hanya saja seperti yang ku bilang barusan, Ia begitu pengecut untuk mengungkapkannya. Memang sungguh aneh Mereka saling mencintai satu sama lain namun, mereka sama-sama diam menutupi perasaan mereka masing-masing.

Sampai suatu hari, lelaki ini benar-benar memberanikkan diri untuk mengungkapkan semua. Semua isi hatinya, setelah ia mencoba menaruh hati kepada perempuan lain Ia tak bertahan lama dan akhirnya Ia memutuskan untuk mencoba memberanikan diri untuk menjemput hati yang telah lama menunggunya.

“Aku ingin bicara dengan mu sebentar, bisa?” ujar lelaki ini yang memiliki nama lengkap Lukas pratama.

“Tentu” sahut perempuan ini dan berjalan kearah depan . Ia memiliki nama lengkap Meriana. Perempuan yang begitu manis parasnya dan begitu memiliki hati yang lembut

“Maaf kan ” ujar lelaki itu tiba-tiba.

“Untuk apa?” Tanya Ana, ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang lelaki di hadapannya ini bicarakan.

“Membuat mu menunggu” ujarnya. Ah tiba-tiba perempuan ini yang langsung menundukan pandangannya. Sekarang Ia mengerti apa yang sedang Lukas bicarakan.

“Lupakan saja” ujar Ana.

“Tidak bisa, Aku pun memiliki rasa yang sama seperti mu, hanya saja Aku terlalu pengecut untuk mengungkapkannya. Dan terus berlari menjauh seolah aku tak pernah mencoba menengok kebelakang dan melihat bahwa ada yang menunggu ku” ujar Lukas menatap Ana.

“Maaf kan Aku” ujar Lukas menyentuh lengan Ana.

“Bagaimana Aku bisa marah dengan mu. Kau tak perlu meminta maaf” sahut Ana.

“Maukah kamu menjadi kekasih ku?” Tanya Lukas. Dan Ana pun mengangguk menyetujui pertanyaan Lukas. Mulai semenjak itu mereka menjalin kasih.

Canda dan tawa pun mulai hadir di antara mereka berdua, Lukas begitu menyayangi Ana dan sebaliknya. Kebahagiaan mulai menyelimuti mereka. Mereka saling menghargai satu sama lain. Mereka selalu bersama, pergi berjalan bersama, bermain dan berkumpul dengan teman bersama. Intinya mereka sangat begitu bahagia. Sampai suatu hari sesuatu terjadi.

Mariana pergi menghilang. Ia pergi meninggalkan Lukas tanpa sepatah kata pun, ia pergi tanpa memberikan kabar kepada Lukas, bahkan Lukas sendiri tidak tau kemana Ana pergi. Ia seperti lelaki yang kehilangan arah, kenapa ketika Ia benar-benar menemukan perempuan yang dapat membuatnya mencintainya kenapa harus menghilang. Ana pergi begitu saja dan membuat Lukas kecewa.

Lukas menunggunya, 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun, Lukas masih menunggunya. Mencoba mencari obat untuk luka hatinya. Berharap Ana akan kembali menemuinya dan kebahagian menyelimuti mereka kembali tapi.. harapan itu musnah sampai tiba tahun ke-5. Ana tak kunjung juga datang. Lukas menjalani hari-hari tanpa Ana, Ia berkumpul dengan teman-temannya masih sama seperti dulu, hanya saja kali ini ada yang berbeda, Ia tak alagi bersama Ana, entahlah dimana gadis itu saat ini. Ia sangat-sangat merindukannya. Sampai ketika di tahun ke-6 dia hadir. Bukan Ana melainkan orang lain. Selama 6 tahun, dial ah yang mencoba menghibur Lukas mencoba mengobati hati Lukas dan butuh waktu 6 tahun untuk membuktikan bahwa Ia dapat menggantikan sosok Ana di hati Lukas.

Perempuan itu bernama veronica, ia yang mencoba menghibur Lukas selama 6 tahun. Ia tak benar-benar bermaksud untuk merebut Lukas, tidak. Sebagai teman, Ia hanya ingin menghibur Lukas dan membuat lelaki itu bangkit dari keterpurukannya. Ia geram melihat Lukas yang tiba-tiba menjadi pendiam dan mulai tak seasik dulu, itu sebabnya Ia mencoba menghibur Lukas dan Ia tidak bermaksud untuk menjatuhkan hatinya kepada Lukas, cinta ini datang dengan sendirinya tanpa ia sadari sebelumnya.

Sama halnya seperti yang dirasakan oleh Lukas, lelaki ini mulai mencintai perempuan lain, Ia tak tahu bagaimana Ia bisa mencintai perempuan lain selain Ana, rasa cinta ini sama halnya ketika ia mencintai sosok Ana. Ia tak tahu mengapa bisa. Ia hanya mulai terbiasa dengan situasi ini, lebih tepatnya rasa nyaman itu muncul dengan sendirinya tanpa ia sadari. Sampai Ia merasakan bahwa kali ini Ia tidak akan mengulang kesalahan untuk yang kedua kalinya. Teman-temannya telah mengetahui bahwa Lukas dan Veronica saling suka satu sama lain. Mereka juga tidak ingin melihat Lukas terus-terusan sakit karena kepergian Ana, dan mereka semua setuju dengan hubungan Lukas dan Veronica.

Awalnya Veronica menolaknya, Ia tidak ingin menjalin kasih dengan Lukas walaupun ia mengakui bahwa dirinya memang memilliki rasa kepada Lukas namun, ada sesuatu hal yang Ia takuti, bagaimana dengan Ana. Namun kisah Ana dan Lukas sudah selesai.

“Ica” panggil Lukas.

“Iya?” sahut Veronica.

“Gw tau mungkin gw salah punya rasa ini ke lu, tapi sumpah ini bukan hanya sekedar pelampiasan. Lu ngebuat gua  bener-bener move on dari Ana. Gw suka lu Ca” ujar Lukas mentap Veronica.

“Kalo lu ngerasa ini semua salah, yaudah gausah di tanggapi. Lupain semua nya daripada akhirnya sakit.” Ujar veronica.

“Enggak, gw gak akan melakukan hal yang bodoh lagi untuk kedua kalinya. Kali ini gw gamau kehilangan orang yang gw suka lagi, gw suka sama lu, gw sayang sama lu, gw cinta sama lu. Lu mau kan mulai semuanya dari awal sama gw?” ujar Lukas dengan menggenggam tangan Veronica.

“Gw pun merasakan hal yang sama” ujar Veronica pelan.

“Would you be my girlfriend?” Tanya Lukas.

“Yes I would ” sahut Veronica. Lukas pun segera memeluk Veronica. Kali ini Ia tidak akan melepaskan pemilik hatinya. Dan mulai saat itu kebahagiaan Lukas hadir kembali namun, kali ini dengan orang yang berbeda. Veronica wanita yang berhasil menggantikan posisi Ana di hatinya.

Semua berjalan begitu indah, lagi-lagi Lukas merasakan bahagia yang begitu mendalam, teman-temannya pun ikut bahagia melihat Lukas sudah mulai kembali seperti semula. 3 tahun pun berjalan begitu dengan indah, begitu penuh dengan kebahagiaan. Bungan, hadiah, boneka, semua yang begitu sangat special selalu di berikan Lukas kepada Veronica. Hatinya sudah penuh dengan nama Veronica.

Kali ini berbeda dengan yang ssebelumnya, jalinan hubungan kali ini dengan Veronica lebih terkesan santai namun asik, veronica adalah teman, musuh bertengkar, sahabat sekaligus pacar yang begitu sempurna untuk Lukas. Ia tak manja seperti layaknya perempuan lain. Ia cewe yang tegar, kuat, hebat, dan unik. Lukas sangat mencintainya. Sangat dan begitu sangat. Kali ini bahagianya begitu sangat bahagia.

Namun di tahun ke-4 setelah Mereka menjalin kasih, seseorang menemui Veronica. Dia adalah Ana, Ia datang kembali untuk bertemu dengan Lukas. Ketika Ia pergi meninggalkan Lukas, Ia tidak bermaksud untuk tak memberi kabar kepada Lukas. Di karena kan Ia tidak ingin membuat kekasihnya itu sedih. Sampai akhirnya Ia kembali kejakarta untuk menemui Lukas. Ana tidak tahu bahwa dia sedang berbicara dengan siapa, ia sedang berbicara dengan kekasih Lukas namun Ia  belum mengetahuinya bahwa Veronica adalah kekasih Lukas.

Akhirnya ketakutan Veronica pun terjadi, Ana kembali untuk menjemput Lukas, lalu bagaimana dengan dirinya? Ia hanya diam ketika Ana berbincang dan berucap. Ia hanya memikirkan bagaimana dengan dirinya dan hatinya.

***

“Tunggu”

“Ini kisah mu?”

“…”

“Jangan lepaskan dia”

“Maaf, aku telah melepaskannya”


“Bodoh!!”

Selasa, 11 Oktober 2016

Perbincangan Mengenai Robot

ketika itu saya sedang menonton sebuah Film yang dimana salah satu perannya di perankan oleh sebuah robot yang menyerupai manusia. Entahlah seketika saya begitu antusias dengan film tersebut. ada rasa mengagumkan dan.. sedikit rasa kesal. kesal? yah saya merasakan kesal dengan produser yang membuat film tersebut, karna itu sama saja memotivasi para remaja untuk membuat sebuah robot yang semakin canggih lagi-lagi-dan lagi.

Saya pernah berfikir bahwa, 'orang yang buat robot itu gaada kerjaan'. Yah, mereka tak pernah berfikir apa yang sedang mereka kerjakan atau apa yang sedang mereka buat. Bisa saja yang mereka kerjakan saat ini adalah bencana untuk beberapa tahun kemudian. Pembuatan robot itu memang sangat mengagumkan tapi bagaimana jika disuatu waktu nanti malah membuat perkara.

Robot di buat semakin lama semakin banyak, di buat semakin lama semakin canggih dan akan hampir menyerupai manusia dan akhirnya mereka menyempurnakan dirinya sendiri. Lalu bagaimana dengan manusia?

Belum lama ini saya berbincang mengenai hal ini. Kurang lebih seperti ini perbincangannya.

***

"Sekarang gini, dia nyiptain robot alasannya untuk membantu pekerjaan manusia, trus kalo semua kerjaan di kerjakan oleh robot, dan robot itu di buat semakin canggih dan hebat, apa kabarnya manusia?." Tanya ku kepadanya.

"Nah kalo misalnya dia buat robot yang menyerupai manusia, dia bikin semakin lama semakin canggih, trus lama-lama robotnya menyempurnakan dirinya sendiri semakin canggih, nanti lama-lama manusia bakal musnah, kalo di doraemon mah enak lawannya bisa pakai alat doraemon, lah kalo di dunia nyata? Mana ada alat kaya doraemon" ujar ku panjang lebar.

"Hahaha... lu nonton apaan sih bisa mikir gitu? Ciptaan itu ada 2macam, maksudnya 2macam pencipta. 1. Pencipta yang menciptakan dari sesuatu yang tidak bisa dilakukan siapapun (Allah SWT), 2. Pencipta yang menciptakan dari bahan yang ada (manusia/makhluk lainnya)." Ujarnya berhenti sejenak.

"Yang ke2 itu... manusia gak ada yang sempurna, dan ciptaan manusia pasti gak ada yang bisa mencapai batas dari manusia tersebut. Alias, ciptaan manusia gak bakal ada yang bisa melewati kesempurnaanya manusia. siapa yang bisa nandingi ciptaan Allah swt?.. gak ada lah.. " lanjutnya kembali.

"Ya sekarang engga, kalau ntar-ntar? Bikin manusia robot lah, apa lah, entar yang ada kaya dunia kaleng yang di doraemon" sahut ku kembali

"Mau ada dunia robot, pasti tidak bisa ngalahin kecanggihan manusia. Manusia itu makhluk yang sempurna di ciptainnya. 1 hal yang tidak bisa di ciptakan untuk robot... nafsu dan perasaan secara naluri" balasnya.

"Nah kalo robot ga punya perasaan, yaudah makin gampang ngebunuh manusianya, kan ga punya perasaan." Ujar ku.

Dia pun membalas ucapan ku "Iya mangkannya engga bisa. Lu nonton animasi robot perang gini nih..." ujarnya tertawa.

"Manusia belum bisa membuat Mata, Hidung, Mulut dia sendiri.. apa lagi jantung, paru-paru, dan lain-lain. manusia punya regenerasi yang hebat... dan robot gak punya itu..." ujarnya kembali.

"Secara teknis robot dibilang canggih... tapi manusia itu super canggih... bisa memilih kehendaknya sendiri... robot gak bisa.. dia pasti pakai sistem..." tambahnya.

"Nah kalo systemnya hebat, pasti entar robotnya juga hebat" sahut ku.

"Yah lu mah belum pernah liat sih pembuluh darah manusia.." ucapnya.

"Buat apa? Robot mana perlu begituan. Yang ada semua dalem tubuhnya system sama mesin." Balas ku.

"Nah itu kelemahannya.. Gk ada yang lebih hebat dari isi manusia itu sendiri. Pembuluh darah manusia kalau di bentangkan bisa sepanjang bumi. Ada yang lebih hebat dari itu?" Ucapnya kembali.

"Mata manusia normalnya bisa melihat 12miliyar warna... teknologi tercanggih hanya bisa 10ribu... Baca makanye... ensklopedia... jangan baca buku fiktif doang.. mata manusia bisa melihat 10ribu macam hal.. Teknologi tercanggih... cyber optical.. hanya bisa deteksi 3 macam... yaitu gerak, gambar dan warna" jelasnya.

"Manusia ada hati (fill) robot gak akan mungkin bisa... karna gak ada pembuluh darah... Manusia bisa punya insting... karna ada otak (brain) ada trilliun sel... robot punya otak (procy) gak ada sel sama sekali..." ucapnya kembali.

"Jadi?" Tanya ku.

"Manusia mana yang bisa membuat manusia juga? Secara fisik terlihat robot hebat... secara logic manusia yang hebat..." balasnya.

"Ini udah kejauan. Gimana kalau misalnya dia bikin sebuah robot emang ga percis kaya manusia tapi manusia kan lama kelamaan bakalan terus belajar dan ujung-ujungya nanti bakalan menyerupai sempurna. Trus bikin makin banyak. Kaya yang di doraemon, lu nonton ga sih yang di negri kaleng-kaleng itu? entar manusianya di jadiin pembantu semua" sahut ku.

"Ckckck... dibilanginnye.. robot gaada nafsu, gak ada fill, mana bisa di jadiin pembantu.. kalau manusia ada, yang nafsu untuk menguasai dunia... itu manusia.. gak ada cerita robot nafsu untuk menguasai dunia... itu weird." Balasnya.

"Yang nafsu menguasai dunia itu manusia.. disalurkan ke robot. Udah bener. Nonton geh yang ada robot-robotnya" ujar ku.

"Baahhh.... lu aja gk tau teknologi tercanggih saat ini... malah nyuruh gw nonton robot. Robot hanya bisa bergerak 5,1GHz. Manusia 1BillionHz" jelasnya.

"Ya emang gw gatau, yang gw tau, entar robot makin banyak. Trus gantiin manusia" sahut ku.

" Lol... gantiin manusia bukan berarti menguasai manusia... Sama aja kaya... gak sayang bukan berarti membencinya..." ujar nya.

"Iya kan gantiin manusia trus menguasai bumi" ucap ku.

"Mau 100tahun lagi... gak bakal bisa robot gantiin manusia..." ucapnya.

"Kata siapa?" Tanya ku.

"Kata gw" sahutnya.

"Tapi yang di tv gitu" sahut ku.

"Gitu gimana?" Tanyanya.

"Robotnya perang sama manusia, trus mau menguasai bumi" ucap ku.

"Lol.. film pembodohan. Makanye jangan nonton film fiktif doang,Yang real action juga nonton dong..." sahutnya.

"Jadi intinya gw salah?" Tanya ku.

"Lu hanya salah menilai informasi dari film aja kok..." balasnya kembali.

***

Kurang lebih seperti itu. So, how about u? apa yang ada di fikiran kalian tentang benda satu itu?

Minggu, 25 September 2016

Kepergian

Dia unik, tapi tunggu. Dia bukanlah sebuah benda, atau barang pada masa lampau. Dia pengisi hati ku saat ini, dia yang akhir-akhir ini melayang-layang di depan penglihatan ku, dia yang berlari-lari di pikiran ku, dia seperti udara yang aku butuh kan, dia nama yang selalu ingin ku ucap, dia.. ah sudahlah dia terlalu istimewa untuk ku.

Entah mengapa aku suka memperhatikannya. Tau kah kalian, aku suka ketika melihat dia sedang berbincang dengan yang lainnya, aku terpikat melihat tawanya, senyumnya bagaikan obat penat untuk ku, kerutan di keningnya membuat aku tersenyum ketika dia terlihat bingung dengan sesuatu hal, tangannya begitu lihai memainkan pena di antara jemari-jemari tangannya lalu tak lama akan ia selipkan di sela telinganya. Oh iya tunggu terkadang ia juga sering memukul-mukul kecil pena tersebut ke keningnya dan membuat ku tak bisa berpaling dari pandangannya. Ah lagi-lagi sudahlah terlalu banyak yang ku ucap kan jika harus ku ceritakan satu persatu.

Dia memiliki separuh hati ku, tapi bagaimana dengan hatinya? Hei kalian jangan berfikiran bahwa dia kekasih ku. Bukan. Dia hanya teman ku. Teman yang memiliki hati ku lebih dari yang lainnya.

Aku tak tau darimana asal ini semua. Semuanya mengalir seperti air dan mungkin akan hilang begitu saja seperti badai.

Bagaimana mungkin aku mendapatkannya, jika dia saja memiliki teman perempuan yang banyak, terlebih mungkin aku bukan tipe yang dia inginkan. Menjadi secret admirer mungkin itu yang lebih tepat.
Sampai suatu hari, aku benar-benar tidak bisa melepaskan hati ku untuk yang lain. Ruang hati milik ku sudah terlalu sesak dan pengap diisi olehnya.
Dia mengajarkan ku tentang hal menunggu. Dan aku pun baru merasakan dan mengetahuinya bahwa ternyata menunggu itu melelahkan. Kita harus punya hati yang baja untuk melawan semuanya. Terlebih sakit lagi jika kita menunggu untuk orang yang tidak seharusnya di tunggu.

Hey.. kau, iya dirimu. Pantas kah kau ku tunggu? Hahaha pertanyaan konyol.

Sampai kapan aku kan menanti, oh tuhan tolong kuatkan hati ini... hanya dia nafas ku, kembali kan pada ku, karna ... terlalu lelah jiwa ku menunggu..

Sepenggal lagu yang tak sengaja begitu saja keluar dari mulut ku ketika baru saja aku mendengar liriknya dari telinga ku, tiba-tiba ada yang menyentuh pundak ku. Aku pun melepas earphone ku.

"Iya?"

"Bisa bicara sebentar?" Ujar nya, aku pun mengangguk dan keluar dari kelas mengikuti dirinya.

"Gw tau apa yang lu lakuin selama ini ke gw" ujarnya memulai pembicaraan. Jantung ini serasa lomba maraton. Ia berdetak lebih dari biasanya dan udara, dimana udara yang selama ini bebas untuk di hirup oleh siapa saja? Ia seperti menghilang untuk ku sesaat.

"..."

"Gw seneng apa yang lu lakuin ke gw" kini dia menatap ku.

"Lu tau kenapa? " seketika aku pun menggelengkan kepala ku ketika dia bertanya seperti itu.

"Karna itu tandanya gw terlalu sayang untuk di lepas. Iya kan?" Ujarnya kembali, kali ini di selingi tawa. Aku hanya bisa mengerutkan kening ku.

"Gw cuma mau bilang, rasa lu bukan hanya sepihak, rasa lu bukan hanya lu yang punya, khususnya perasaan lu ke gw. Lu ga sendirian, perasaa yang lu punya, gw pun punya" ujarnya. Aku pun hanya bisa diam menatapnya. Tak percaya dengan apa yang ia bicarakan namun tatapannya begitu meyakinkan dan teduh, damai.

Semua orang pun keluar dari kelas masing-masing dengan menggendong tas masing-masing jam pulang telah menjemput. Tapi... kenapa harus sekarang.

Dia tersenyum kepada ku, senyuman yang begitu manis dan sejuk, senyuman yang ingin sekali aku miliki. Lalu dia pergi meninggalkan ku, kembali kelelas dan masuk ke dalam kerimunan orang berlalu lalang.

Tunggu.. apa yang ia bicarakan tadi? Dia menyukai ku juga? Benarkah? Oh astaga mimpikah ini? Aawwww.. sepertinya tidak. Tapi... mengapa ia tak menjadikan ku kekasih nya.. akan ku tanya esok.

Sehari..

Dua hari..

Tiga hari..

Kata izin selalu aku dengar ketika dosen menyebutkan namanya. Kemana dia, apa ia hanya mempermainkan hati ku saja? Ah seharusnya aku tak usah bertinggi hati setelah kejadian beberapa hari yang lalu. Akan aku pastikan.

"Eh ada yang tau rumahnya Langit? Ko dia izin terus yah" ujar seorang anak. Kebetulan sekali ada yang menanyakan alamatnya.

"Jl. Merdeka barat no. 25 komplek Mawar" jawab seorang teman ku. Aku pun segera mencatatnya. Aku harus kesana, sebelum mereka yang mendatangi rumah Langit. Atau jangan-jangan dia malu tak masuk kelas karna telah berbicara seperti itu kepada ku beberapa hari yang lalu.

Singkat cerita aku pun menemukan alamat rumahnya, terlihat begitu sepi namun ada seorang ibu-ibu paruh baya sedang menyiram sebuah tanaman.

"Permisi"

"Iya, Nyari siapa ya de?"

"Maaf bu, saya Niar, apa benar ini rumahnya Langit?"

"..."

"Saya teman sekampusnya"

"Silahkan masuk dulu de"

"Sebentar saya ambil kan minum dulu" ujarnya lalu masuk kedapur membuatkan sebuah minuman.

Aku melihat-lihat ruang tamu ini. Ternyata aku tak salah rumah, ini memang rumahnya Langit. Ada sebuah foto keluarga berukuran besar ada dua orang perempuan dan dua orang laki-laki. Salah satunya adalah Langit.

"Silahkan diminum de" aku pun meminum air yang dibawa oleh ibu tersebut, sepertinya ia pembantu di rumah ini.

"Adik ada perlu apa yah mencari den Langit?" Tanyanya.

"Kenapa Langit tak masuk akhir-akhir ini ya?"

"Den langit sedang ke luar negri bersama ibu dan bapak" ujar bibi tersebut.

"Ada acara keluargakah?" Tanya ku.

"Tidak bukan itu. Besok sepertinya mereja akan tiba di jakarta. Dan akan menguburkan jenazah den Langit di jakarta" ujar bibi ini lagi yang sontak langsung menatap ke arahnya. Mata ini seketika perih rasanya.

"Apa?" Tanyaku meyakinkan.

"Den Langit sejak kecil memiliki riwayat penyakit kanker, tapi dia termasuk lelaki yang hebat hingga bisa melawan sampai ia berumur saat ini. Namun hanya baru akhir-akhir ini saja den Langit ingin melakukan operasi. Ia bilang dia ingin segera di operasi karna ada seseorang yang sedang menunggunya, itu sebabnya mereka pergi ke malaysia buat melaksanakan operasi tersebut. Namun... pesawat yang di tumpangi den Langit mengalami kecelakaan.." ujar bibi tersebut menahan isak tangisnya.

Tiba-tiba terputar kembali siaran Tv yang belum lama ini aku lihat, sebuah pesawat jatuh tidak sempurna dan mengalami ledakan di bagian sayang baru-baru ini, tak ada korban yang selamat bahkan pilot pun tak selamat dan aku tidak tahu ternyata pemilik hati ku juga tak selamat...

"Lalu ibu dan bapak kesana menjemput den Langit untuk mengidentifikasi jenazah den Langit. Dan den Langit akan di kuburkan di jakarta" ujarnya kembali.

Aku benar-benar tak bisa berfikir jernih. Gelas yang di tangan ku tiba-tiba saja jatuh dan pecah berbarengan dengan air yang begitu saja mengalir melewati pipi ku.

Harus kah aku kehilangannya...

Virgoun- Surat cinta Untuk Starla

Minggu, 11 September 2016

Kisah Klasik Series

"Bisa sopan dikit ga kamu!" Seorang lelaki yang berdiri di belakang perempuan ini pun mulai melangkah maju namun di tahan oleh perempuan ini.
"Tenang Far" ucapnya.
"Saya rasa kamu tidak cacat. Tangan kamu juga masih bisa di gunakan" ujarnya lagi dengan memasang mimik wajah membalas sinis.
"Yah.. kaka cantik benar" sahutnya, Ia pun segera memasukan seragamnya dengan sedikit di sela-sela, namun pandangannya tak lepas dari wajah kaka kelas di depannya ini. lalu Dodit pun berbalik menuju tempat duduknya.
"Baiklah.. Surat akan dikumpulkan besok pagi, terimakasih" ucap perempuan ini.
"Dan tak ada kata tertinggal, apa lagi tidak membuat" tambah lelaki bernama Fardi ini. Diam-diam ada perempuan yang sedang mengutuk nya dalam hati.
Setelah para kaka kelas keluar meninggalkan kelas, mereka pun mulai ramai tentang tragedi yang baru saja terjadi. Namun sang empu yang di bicarakan tak peduli, sekalipun namanya menjadi topik terheboh setelah ini.
Tak lama kemudian, bel istirahat pun berbunyi. Entah mengapa seketika kantin adalah tempat tujuan yang memiliki pemikat paling banyak, kedua lapangan dan ketiga adalah Toilet.
Tiga orang ini memilih untuk ke kantin, memesan sebuah minuman dan makanan, dan duduk didalam satu meja.
"Parah!" Ucap Rio membuka pembicaraan, sembari mengaduk-ngaduk ice tea nya.
"Siapa yang sakit?" Tanya Dodit menengok ke arah Rio sembari menyendokan nasi goreng yang telah Ia pesan.
"Lu lah! Waras ga sih lu? Nama lu itu menjadi bahan gosip sekarang" kini giliran seorang gadis yang baru saja tiba dengan sebotol air mineral di tangannya yang berucap. Namun lelaki ini seolah tak mendengar ucapan temannya ini, ia malah asik menghabiskan makanan di hadapannya.
"Ko bisa-bisanya lu ngomong gitu sih Dit?" Tambahnya.
"Namanya juga Dodit" sahut Rio, membalas pertanyaan Maura.
"Nah tuh Rio aja tau, lagian gw itu kesel sama dia. Kalian liat ga sih dia narik baju gw ampe gw mau jatuh nyungsruk gitu. Kalo bukan cewe udah gw bales tuh pasti" ucap Dodit mengingat kejadian barusan. Rio hanya tertawa mendengar ucapan Dodit sedangkan Maura hanya geleng-geleng kepala.
"Oh yah gw gabiasa nulis surat cinta nih" ucap Maura sambil mengaduk-ngaduk sedotan yang berada di botol mineralnya.
Dodit yang mendengar ucapan Maura tersendak dan batuk seketika memberhentikan makannya dan mengambil minum yang di berikan oleh Rio.
"Cewe se-populer lu waktu SMP gabisa buat surat cinta? Hahahahaha" Dodit pun tertawa dan tak lama di susul oleh Rio namun tak sekencang Dodit.
"Ssttt! Berisik banget sih lu" sahut Maura dengan satu telunjuk yang di taruh di dekat mulutnya.
"Emang tadi kaka kelas itu semua nyuruh apa aja sih?" Tanya Dodit yang mulai memakan lagi makannya.
"Jadi tuh gini, kita disuruh buat surat cinta, tapi tidak di peruntukan untuk kaka kelas. Hanya untuk satu angkatan" ujar Rio menjelaskan kepada Dodit. Jelas saja Dodit tidak tau, dia saja baru tiba ketika kaka kelas telah usai meberitahukan pengumuman tersebut.
"Oh jadi gitu" sahutnya.
"Lu minta ajarin aja sama kaka lu" ucap Dodit memberi solusi.
"Gw anak tunggal" sahut Maura.
"Kalo gitu minta ajarin aja sama Nyokap lu, pastikan Nyokap lu bisa bantu. Siapa tau dulu Nyokap lu sama Bokap lu saling balas-balasan surat" kini giliran Rio memberikan solusi. Maura hanya diam, ia sedang memikirkan apa iya Dia harus meminta bantuan sama Maminya, tapi ah sepertinya itu sangat memalukan.
"Namanya Tiara Bro" ucap Dodit tiba-tiba. Maura yang mendengar ucapan Dodit hanya memasang wajah bingung. Sedangkan ia masih berusaha menghabiskan makanannya tanpa perduli pandangan teman-temannya. Rio pun segera menengok kearah Dodit ketika temannya itu menyebut kan sebuah nama.
Setelah Ia merasa bahwa teman-temannya begitu memperhatikannya ia pun segera mengangkat pandangannya menuju lurus ke jam duabelas, sedikit menyipitkan matanya menuju ke arah seorang gadis. Maura pun mengikuti arah pandangan Dodit, sedangkan Rio masih memandang Dodit dan mencerna kata-katanya setelah itu mengikuti pandangan Dodit.
"Kayanya dia kelas X-3 deh, dia temen gw dulu waktu SMP" Ucap Dodit lagi dan melanjutkan makannya.
"Lu mau nulis surat buat dia?" Tanya Maura.
"Bukan gw, tapi temen kita yang satu ini" sahut Dodit mengarahkan dagunya ke arah Rio. Sedangkan Rio masih memandangi gadis di ujung sana yang sedang berdiri memesan sebuah makanan sembari mengobrol dengan teman lainnya.
"Bener Yo lu mau nulis surat buat dia?" Tanya Maura kearah Rio.
"Ha?" Tanya Rio yang tiba-tiba saja mendapat pandangan aneh dari Maura.
"Apa?" Tanya Rio yang tak mengerti maksud pandangannya itu.
"Astaga" ucap Dodit sambil menepuk jidatnya.
"Dia cewe yang bakal lu tuju?" Kini giliran Dodit yang bertanya.
"Kayanya sih gitu" sahutnya. Maura berbalik badan mencoba memastikan lagi siapa gadis itu yang sebenarnya ia belum tau pasti. Masalahnya tujuan pandangan Dodit kemana-mana tadi.
"Yang mana sih orangnya" tanya Maura masih sambil berbalik badan.
"Jadi lu belum nemu yang mana orangnya?" Tanya Dodit yang di balas gelengan kepala olehnya.
"Liat ke arah jam sembilan" ucap Dodit.
"Sialan luh!" Sahut Maura sambil meninju lengan Dodit masalahnya yang Ia temukan malahan Ibu kantin yang sedang membawa nampan sebuah makanan. Dibalas tawa oleh Dodit sembari mengusap-usap lengannya yang di tinju oleh Maura.
"Itu loh yang di ujung sana, arah tepat jam duabelas" kini giliran Rio yang berucap.
"Mana sih?" Maura pun masih mencari gadis bernama Tiara yang di arahkan oleh Rio.
"Ra lu katarak yah? Pake sedotan makannya liatnya. Hahaha" ucap Dodit yang lagi-lagi mendapat tinjuan oleh Maura.
"Yeee namanya juga rame gimana sih lu, wajarlah kalo gw belum bisa liat ke arah tuh cewe" sahut Maura membela diri.
"Hahaha itu loh yang megang teh botol" ucap Rio kembali.
"Ooh itu" kini Maura telah menemukan siapa gadis yang dimaksud.
"Kalo lu mau nanti gw temenin cari kelas nya deh gimana?" Dodit pun menawarkan diri untuk membantu temannya ini.
"Kata lu barusan dia kelas X-3" tanya Rio bingung.
"Ya itu kan gw cuma mengira-ngira, buat mastiinnya kita cari tau" ucap Dodit.
"Okelah" balas Rio.
Setelah pembicaraan di kantin semuanya berjalan dengan lancar. Guru selang berganti masuk ke kelas mereka, memang tak lama, hanya sekitar 20menit setelah itu ganti guru baru. Ketika pergantian guru Dodit pun berjalan menuju tempat Rio.
"Ayo Yo" ucap Dodit.
"Kemana?" Tanya Rio.
"Nyari kelasnya Tiara" sahut Dodit.
"Nanti aja deh, sepulang sekolah" ucap Rio.
"Kelamaan Yo, nanti malahan ga ketemu. Waktunya mepet, lu harus tau kelasnya dia sekarang. Lagian kan suratnya besok udah di kumpulin" ucap Dodit. Mau tak mau Rio pun beranjak dari tempat duduknya.
"Mau ikut ga Ra?" Tanya Dodit yang melewati tempat Maura.
"Ga deh kalian aja" sahut Maura yang sedang asik mengobrol dengan teman sebangkunya. Lalu Dodit dan Rio pun berjalan ke arah luar dan hilang di pandangan Maura di balik pintu.
Dodit maupun Rio berjalan di koridor. Tak ada satu pun murid di koridor ini terkecuali mereka berdua. Pertama-tama mereka berjalan kearah X-2 yang berada di sebelah kelas nya. Dodit dan Rio mengintip lewat jendela namun mereka berdua tidak menemukan Tiara disana.
"Bukan disini Bro" ucap Dodit.
"Kayanya sih di X-3" ucapnya kembali.
"Lu kata siapa?" Tanya Rio.
"Kayanya waktu itu gw pernah liat dia masuk ke kelas X-3. Coba yu kita liat aja" ucap Dodit dan mulai kembali berjalan ke arah kelas di sebelahnya lagi, dan di susul oleh Rio.
Kali ini mereka lihat lewat sela pintu soalnya pintu kelas X-3 sedikit terbuka.
"Tuh kan Yo gw bilang juga apa" ucap Dodit yang menemukan Tiara sedang duduk manis di tempatnya.
"Coba mana?" Tanya Rio yang ikutan mengintip, namun tiba-tiba.
Bruuukk...
Tak Dodit maupun Rio nyungsruk ke dalam kelas. Dan seketika semua mata murid pun menengok ke arah mereka. Sang guru yang sedang menjelaskan sebuah materi ke semua murid pun ikut menengok ke arah mereka berdua.
"Mampus" ucap Dodit.
"Mati lu" ucap Rio.

Senin, 22 Agustus 2016

Puisi fini teruntuk fardi

Ketika aku mulai menyadari
Ketika rasa mulai menghampiri
Tak pernah aku duga akan jatuh kepadamu..

Aku tak bisa berkata jujur akan perasaan ku. Aku tak bisa mengungkapkan isi hati ku untuk mu. Aku tak bisa mengucapkan aku menyukai mu tapi... coba lah lihat aku, maka kau akan tau ada seseorang yang menunggu mu, ada seseorang yang mencintai mu dengan tulus. Aku.

Rasa ini tumbuh dengan sendirinya tanpa bisa aku bendung, tanpa aku tau bagaimana cara menghentikannya. Ia seperti air mengalir bahkan semakin deras  namun sayangnya ia selalu bermuara ke dataran rendah atau bahkan harus jatuh melewati terjunan.

Kau, fardi, atau Angin...

Apa perlu ku sapa kau Angin.

Ini semua seperti angin. Cinta ini seperti Angin dan kau seperti Angin.

Kau ada di sekeliling ku, aku bisa merasakan kehadiran mu, tapi aku tidak bisa sepenuhnya memiliki mu...

Angin seperti udara yang bukan hanya aku yang membutuhkannya..

Begitupun cinta...

Love is like air...

Cinta seperti udara, ia  dapat menerpa kita, ia bisa menyentuh kita, ia bisa kita rasakan, kehadirannya,  kedatangannya, namun ia tak bisa kita sentuh, tak bisa kita lihat, dan... ini lah yang paling aku benci, ia datang lalu pergi..

Harus kah aku jatuh kembali? Haruskah aku jatuh lagi? Lagi? Dan kembali?

Haruskah aku jatuh hati kepada orang yang salah lagi?
Haruskah aku jatuh hati kepada orang yang salah, kembali? 

Dear Fardi...

Aku gatau harus memulainya dari mana, entah apa yang telah kau buat sampai kau begitu mempunyai kharisma di pandangan ku.

Rasa suka, sayang yang ku punya untuk mu, mampu mengalahkan rasa yang begitu sakit aku rasakan.

Aku tau jika mencintai mu itu salah, namun jangan salahkan aku yang telah menjatuhkan hati ku kepada mu. Karna aku tau tak ada yang benar dalam ini semua.

Cinta.. Cinta.. Cinta.. dimana keadilan cinta itu.. katakan pada ku, beritahu kepadaku.

Pertama dia, lalu kau, dan siapa lagi? Siapa lagi yang akan menyakiti ku? Siapa lagi yang akan singgah lalu pergi meninggalkan ku.

Fardi... sadarlah, sadarlah, sadarlah, aku disini, membicarakan mu setiap hari, menyebut nama mu setiap hari, dan mengagumimu setiap detik.

Tak pernah jenuh menceritakan semua tentang mu, mencari tau tentang mu dan mencoba mendalami mu..

Kau.. kau.. kau.. buat aku seperti orang bodoh, percaya akan kekuatan cinta, percaya akan takdir cinta, percaya akan kebahagiaan cinta yang ku yakini aku tak akan mendapatkannya dari mu.

Lihatlah aku, anggap lah aku seperti mereka, dan.. cobalah mencintai ku. Setidaknya cobalah berdekatan dengan ku seperti yang ku lakukan kepada mu.

Tolong lah jangan membuat ku membuang-buang waktu untuk memikirkan hal yang gila dan meninggalkan yang telah aku mulai. Aku telah menjatuhkan hati ku untuk mu dan ku mohon jangan biarkan itu pecah kembali. Atau nanti akan ada yang hilang, senyum,  tawa, atau mungkin mati rasa..

Kau...
Aku mencintai mu dalam diam ku, dalam sepi ku, dalam lamunanku. Sadarlah atau enyahlah dari fikiran ku.

Teruntuk mu dari hati  ku

Fini

Kisah Klasik series

Mereka bernyanyi dengan penuh semangat, menyanyikan tiap bait-bait sembari berjoget ria. Para siswa siswi yang duduk di tengah lapangan juga ikut bernyanyi bersama mereka, bertepuk tangan sembari menggoyangkan bahu kekanan dan kekiri senada dan serentak. Siapa yang tak mengenal lagu ini, ditambah banyak yang menyukainya, sehingga tak sedikit dari mereka ikut bernyanyi, bahkan kaka kelas mereka pun ikut bernyanyi.
Mereka bertiga memang tak saling kenal satu sama lain, namun entahlah pertemuan singkat yang tak sengaja terjadi ini membuat mereka akrab satu sama lain, mungkin karna mereka bertiga juga memiliki kesamaan dalam menyukai lagu.
setelah lagu selesai mereka pun mendapatkan tepuk tangan dan sautan yang sangat meriah, seolah mereka adalah seorang penyanyi yang telah selesai berkonser di suatu panggung. Mereka juga tersenyum ke satu sama lain.
***
"Wooww, ternyata kita satu kelas" sahut lelaki yang bernama Dodit ketika selesai melihat daftar kertas nama yang tertera di Mading sekolah. Lelaki yang mempunyai nama sapa Rio pun ikut menimbrung melihat daftar nama itu untuk sekedar meyakinkan apa benar yang di ucapkan Dodit itu, dan ketika Ia telah menemukan namanya ternyata benar Ia sekelas dengan lelaki yang bernama Dodit Muhammad Septian ini. Ia pun menemukan nama Maura di satu kertas yang sama.
"Eh iya ini nama gw, ada nama lu juga Ra" ucap Rio
"Coba mana awas gw mau liat" sahut Maura dan ikut mencari namanya. Ia mengajukan jarinya ke sebuah kertas yang menempel di Mading, setelah mendekati huruf M Ia pun memperlambat jarinya dan berhenti di namanya.
"Berarti kita sekelas wooww" ucap gadis ini. Mereka pun bertos ria. Dan berjalan menuju kelasnya beriringan. Tak sedikit yang memperhatikan mereka. Padahal tak ada sesuatu hal yang baik yang telah mereka lakukan. Mereka sama-sama telat, sama-sama kesiangan, dan sama-sama terkena hukuman, namun itu semua malahan membuat nama mereka booming di hari pertama masuk pertama ini.
Ketika mereka telah sampai di ruangan kelas, mereka pun segera mencari tempat duduk, kebetulan kelas pun belum terlalu ramai jadi masih banyak bangku yang kosong. Maura mengambil posisi duduk di bangku ke dua deretan ke tiga dari pintu. Sedangkan Rio berada di bangku ke tiga di sebrang Maura dan Dodit memilih bangku belakang sebagai tempat duduknya di sebrang Rio, ia duduk  bersama lelaki yang dulu satu SMP bersamanya.
Setelah mendapatkan tempat duduk mereka pun mencoba berkenalan dengan teman sebangkunya. Maura sendiri duduk dengan seorang perempuan, ia berkenalan dan berbincang-bincang. Awalnya perempuan yang duduk dengan Maura ini berfikir bahwa ia perempuan yang sombong di lihat dari penampilannya ujarnya kepada Maura namun hanya Ia balas dengan tawaan.
"Lo bukan orang pertama yang ngomong seperti itu. lo adalah orang yang tersekian kalinya yang bilang gitu ke gw" ujar Maura dengan di selingi tawa.
"Tenang aja gw ga sejahat dan seburuk yang lo fikirin ko" sahutnya kembali.
"Engga gitu, gw ga berfikir kalo lu jahat atau buruk. Hanya saja persepsi orang yang liat lo pasti bakaln berfikir kalo lu itu pasti cewe yang angkuh. Tapi ternyata humble juga" ucap perempuan ini.
"Hahahaha oh yah gw Maura" ucap Maura dengan menjulurkan tangannya.
"Gw Rita" sahut Rita dengan membalas jabatan tangan Maura.
Sedangkan di tempat duduk Rio, Ia hanya membaca komik yang sengaja Ia bawa di dalam tasnya sembari mendengarkan musik. Belum ada yang mengajaknya ia ngobrol saat ini kecuali saat tragedi tadi. Bangku di sebelahnya pun masih kosong belum ada yang menempati. Sengaja ia mengambil posisi duduk di deretan ketiga karna jika di deretan pertama, entahlah dia merasa tak nyaman aja duduk di paling depan serasa semua teman-temannya memperhatikannya tanpa ia ketahui. Dan kenapa ia memilih deretan ketiga, karna ia juga terkadang merasa ngantuk yang menjalar kedirinya ketika sedang pembelajaran jadi srtidaknya dua deretan di depannya dapat membantunya untuk memejamkan matanya sejenak.
Berbeda dengan Dodit ia memilih bangku deretan belakang, karna memang posisi itulah yang menjadi tempat favorite nya. Ia paling ga suka duduk di deretan depan karna itu hanya membuatnya harus berkonsentrasi penuh yang akan membuatnya serius sedangkan ia sendiri tak suka dengan keseriusan karna baginya serius sama dengan seperti robot.
tak lama kelas pun semakin ramai. banyak siswa dan siswi mulai mencari bangku kosong yang masih tersedia. 
seorang lelaki tiba-tiba saja bertanya kepada Rio.
"Udah ada yang nempatin belum yah?" tanyanya dengan menyentuh bahu Rio karna lelaki ini tau jika ia hanya berbicara lelaki yang sedang asik membaca novel dengan telinga yang ditutupi oleh earphone ini tak akan mendengar suaranya. Rio pun segera melepaskan earphone yang terpasang cantik di telinganya. 
"Oh iya duduk aja, belum ada yang nempatin ko" balas Rio yang segera mengambil tasnya dan menaruhnya di atas meja.
"Gw Reyhan, " ucap lelaki ini dengan menjulurkan tangannya. 
"Gw Rio" balas Rio dengan membalas jabatan tangan Reyhan.
tak selang beberapa menit seorang Guru pun masuk kedalam kelas yang membuat kelas seketika hening dan berlarian kecil menuju tempat duduknya  masing-masing.
Sang Guru pun memberi sedikit pengarahan dan sedikit edukasi tentang akademik membuat para siswa dan siswi menyimak dan mengeluarkan buku untuk mencatat. 30 menit telah berlalu sebagian siswa masih menyimak dan sebagiannya lagi sudah menguap berkali-kali, padahal waktu masih menunjukan pukul 9;00 pagi namun entahlah ceramah guru di depan sana seperti layaknya seorang Ibu atau pun Ayah yang sedang mendongengi anaknya.

"Oke baiklah, sekian dari saya, selamat belajar di sekolah baru kalian, semangat dan terus ciptakan pestasi sebaik-baiknya. Dan jangan lupa ikuti peraturan sekolah ini dengan baik. Saya permisi" ucap sang Guru dan keluar meninggalkan kelas. Sebagian murid mulai  merenggangkan tangannya menjelas kan bahwa betapa pegalnya dirinya. 

"Yo, tadi lu nyatet ga?" tanya Maura yang berbalik ke arah Rio.

"Nyatet apaan?" tanyanya kearah Maura.

"Yang tadi guru itu jelasin" ujarnya menjelaskan.

"Oh nih" Rio pun melemparkan bukunya ke Maura. Maura yang telah sigap pun menangkap buku Rio dengan cantiknya.

"Maura, gw juga nyatet nih mau minjem juga ga?" tanya salah satu murid laki-laki yang duduk di sebelah Dodit. Maura pun hanya membalas dengan senyuman.

"Lu ga liat apa? " tanya Dodit yang melihat tingkah teman disampingnya.

"Liat apa?" tanya lelaki ini.

"Dia udah minjem punyanya Rio duluan" ujar Dodit memukul lelaki disampingnya dengan buku miliknya.

"Yah siapa tau Maura mau minjem punya gw juga" ujarnya.

"Dasar lu mah ngarep" sahut Dodit dan beranjak dari tempatnya. Muara yang mendengar percakapan mereka hanya senyum sedangkan Rio hanya geleng-geleng kepala. 

"Mau kemana lu Dit?" tanya lelaki yang duduk di sebelahnya.

"Gw mau ke kamar kecil, WC, Toilet. lu mau ikut?" ujarnya menyebutkan arti nama dari kamar kecil itu, dan bertanya kepada temannya itu yang di balas mimik muka jijik oleh temannya. Rio yang melihat hanya tertawa, sedangkan Maura, ia sibuk mencatat yang ada di buku Rio

Soal masalah mencatat-catat Maura tipikal perempuan yang malas, ia lebih memilih mencatat di rumah saja atau menyalin punya teman, karna ia sendiri lebih suka memperhatikan apa yang di jelaskan oleh guru di hadapannya di bandingkan mencatat apa yang sang guru terangkan. Berbeda dengan Rio ia lelaki tipikal yang rajin. Rajin dalam segala hal mencatat maupun memperhatikan. Sedangkan Dodit, Ia seperti Maura malas dengan acara mencatat-catat namun tak begitu suka juga dengan memperhatikan jadi Ia tipikal seseorang yang masa bodo namun memliki wawasan yang luas. Memang sedikit aneh namun yah itulah Dodit.

tak lama beberapa kaka kelas pun masuk ke kelas mereka. Membawa sebuah kertas. Maura yang melihat ke arah kaka kelas itu pun segera memasang muka masa bodo dan angkuh, masalahnya yang masuk ke kelasnya adalah kaka kelas yang membuatnya dongkol tadi pagi.

"Minta perhatiannya sebentar dong adik-adik." semua murid-murid pun duduk menghadap ke depan dan hening. Dapat di pastikan hanya suara kaka kelas itu saja yang dapat di dengar.

"Kana MOS kita akan berakhir dalam waktu dua hari lagi, disini saya dan teman-teman saya akan menjadi mentor kalian di kelas ini, dan salah satu kegiatan yang akan di lakukan di acara MOS ini adalah. Kalian harus membuat sepucuk surat cinta.." belum juga kaka kelas ini selesai berbicara, seisi kelas pun mulai ramai.

"Tapi.. tolong perhatikan dulu sebentar. Kalian menulis surat bukan untuk kita, ataupun kaka kelas lainnya. Kalian hanya boleh menulis surat itu untuk teman seangkatan kalian. Ingat yah tidak di peruntukan untuk kaka kelas. Hanya untuk satu angkatan. Kalian boleh menulis untuk siapa saja yang ada di angkatan kelas X ini dari ujung kelas sana sampai ke ujung kelas sana" ujar kaka kelas ini sembari menunjukan arah barat ke timur. Namun ucapannya sedikit terhenti ketika ada seorang lelaki masuk sembari bersiul.

"Eh" ucap lelaki ini ketika Ia kaget bahwa kelasnya hening dan ada beberapa kaka kelas yang berdiri di depan kelas. Seketika semua mata tertuju kepadanya.

"Darimana kamu?" tanya salah satu kaka kelas.

"Dari kamar kecil ka, eh ke WC, eh maksudnya Toilet" ujar dia, dan lelaki ini segera berjalan ke tempat duduknya.

"Kamu sini dulu !" ujar seorang perempuan yang berdiri di depan kelas.

"Saya ka?" tanya lelaki ini.

"Iya kamu, sini kamu!" ulang perempuan ini. Lelaki itu pun berjalan ke arah depan. Semuanya hanya dapat memperhatikan saja, tak ada yang berkomentar apapun dan siapa pun. Tak ada yang berani melawan ucapan perempuan ini ataupun membantahnya, sekalipun itu seangkatannya atau pun temannya, kecuali Fardi.

"Siapa nama kamu?" tanya perempuan ini.

"Dodit Muhammad Septian Ka" sahut lelaki ini dengan tampang polosnya.

"Kamu tau peraturan disini ga sih?" tanya perempuan ini lagi.

"Baju seragam itu di masukin, bukan di keluarin kaya gini" ujarnya kembali sembar menarik baju lelaki di depannya ini, Dodit kaget seketika sedikit menunduk karna tarikan di bajunya itu. Ia kesal, ia pun memasang wajah seraya ingin mencengkeram gadis di hadapannya ini.

"Apa?" tanya perempuan ini dengan nada tinggi yang tau akan perubahan mimik lelaki di depannya.

"Engga, ga papa ko ka, yaudah tolong bantu masukin dong" ujar Dodit dengan senyum yang begitu manis yang membuat perempuan di hadapannya membulatkan matanya bukan hanya perempuan ini tapi seisi kelas pun terkaget-kaget dengan ucapan Dodit

Minggu, 14 Agustus 2016

Edelwei untuk dandelion (5)

Pagi yang cerah untuk kerajaan Baterfli, sinar rembulan yang telah menyinari kegelapan kini telah di gantikan dengan indahnya matahari yang menyinari dan dengan senang hati memberikan sinarnya untuk Baterfli.
Sang Ratu telah menceritakan semuanya kepada putri Edelweis dan Ratu Maharani takut akan tekad Putri nya tersebut yang berniat untuk membalas dendam, lalu sang Ratu menceritakannya kepada sang Raja, Ia tak ada niat untuk membuka luka lama, ia hanya saja berfikir sudah waktunya Putri Edelweis mengetahuinya juga, mungkin dengan begitu sang Putri bisa menjaga diri dari ancaman lelaki itu, lelaki yang sebenarnya pernah berada di pelukan hangatnya dulu.
"Edelweis.." belum saja sang Raja menyelesaikan ucapannya sang Putri pun memotongnya.
"Tak baik Ayah jika berbicara di ruang makan" ucap Edelweis dan segera menghabiskan makanannya. Ia tahu pasti Ayahnya akan membahas soal ini, soal saudara tirinya yang ingin ia habiskan. Entahlah, awalnya Ia hanya penasaran dengan lelaki itu, tak ada rasa marah, atau dendam sekalipun lelaki itu telah menyakitinya namun setelah Ia mendenger cerita yang sang Bunda ceritakan, tiba-tiba rasa dendam ini muncul, Ia merasa ingin menghabisi lelaki itu, karna Ia tahu bahwa lelaki ini juga memiliki niat yang sama kepadanya. Ia yakin lelaki ini tak akan tinggal diam saja melihat kebahagiaan yang telah tercipta selama ini di keluarga kami. Dan Ia ingin menghancurkannya dengan cara melewati aku, dengan begitu Ayah akan mencarinya, meminta maaf kepadanya dan mengangkatnya sebagai pangeran sekaligus raja sebagai pengganti Ayah dan Ia juga akan menyakiti Bunda dan aku, tidak akan tinggal diam.
"Edelweis! Bunda mu telah menceritakan semuanya kepada Ayah. Ayah pertegas kepada mu agar melupakan semuanya" sahut sang baginda Raja dengan nada tinggi.
"Melupakan apa?" Tanya putri Edelweis dengan mimik wajah datar.
"Apa Bunda sudah melupakan rasa sakit itu? Apa Ayah bisa merasakan rasa sakit yang Bunda rasakan? Apa Bunda bisa melupakan semuanya? Apa kenangan itu dapat hilang dari ingatan kalian? Sejarah kalian? Kisah kalian?.." putri Edelweis terus saja bertanya dengan geram, kesal, kecewa, amarah, semua seolah menjadi satu yang membuatnya menggebu-gebu.
"Cukup Edelweis!" Kini sang Ratu yang mengangkat bicara dengan gertakan meja yang begitu keras. Dan itu mampu membuatnya seketika diam lalu pergi meninggalkan ruang makan. Dan tanpa sadar setetes air mata pun jatuh dari kelopak mata sang ratu.
"Maafkan Aku" ujar sang Ratu tanpa memandang sang Raja, lalu ikut bangkit pergi meninggalkan ruang makan.
Sang Raja hanya bisa diam menundukkan kepalanya. Ini semua salahnya, mengapa Ia tak pernah berfikir terlebih dahulu sebelum melakukannya. Kini luka lama harus terbuka kembali, bahkan dendam sudah mulai menguasai nya kini. Tak lama sang Raja pun pergi meninggalkan ruang makan.

Suara ketukan pintu pun mewakili terbukanya pintu, seorang lelaki yang gagah masuk mendekatinya, berdiri di sebelahnya, merangkulnya dengan erat.
"Maafkan Aku" ujar lelaki ini dengan lebih mengeratkan rangkulannya. Tak ada balasan yang di berikan oleh sang Ratu. Ia masih diam terpaku menatap kearah luar pemukiman. Begitu banyak aktivitas yang terjadi di luar sana.
"Seharusnya sedari dulu Aku men.." ujarnya lagi.
"Jadi Kau menyesal dengan keputusan mu untuk menetap dengan ku?" tanya sang Ratu.
"Dengar, Aku tak akan pernah marah dengan apa yang telah Kau perbuat. Itu hak mu. Aku tidak akan pernah melarangnya, dan jika Kau bertanya mengapa Aku tidak memilih untuk pergi meninggalkan ku ketika Aku menngetahui hal itu. Karna Aku tidak ingin melukai kedua Orang tua Ku dan mejatuhkan Harga diri Kerajaan Kita." ujar Sang Ratu dan memilih untuk pergi meninggalkannya sendiri, namun Sang Raja menahannya.
"Aku akan menebusnya." ucap Sang Raja.
"Aku hanya tidak ingin adanya pendedaman dan pertikaian" ucap sang Ratu berjalan kearah luar.
"Dan aku tidak ingin Putri ku celaka" ucapnya kembali dan melanjutkan jalannya.
"Tidak akan" lirih Sang Raja.

ketika itu fajar mulai terbenam, Sang Raja terus saja memacu kudanya lebih dalam kearah hutan, Ia tahu pasti perempuan itu dan anaknya tinggal di sana, terlebih, Edelweis sering mendatangi tempat ini.

"Valensia keluar Kau!" ujar Sang Raja.
"Aku tahu Kau disini" ujarnya kembali.
"Keluar Kau Valensia" teriaknya.
"Bisa kah kau lebih sopan untuk bertamu Sang Raja yang terhormat" seorang perempuan dengan rambut panjang ikal yang berwarna gray keluar menghampiri sang Raja. Sang Raja pun turun menghampiri perempuan tersebut.
"Untuk Apa Kau kemari?" tanyanya.
"Jauhi keluarga Kami" ujarnya.
"Dan beritahu kepada Putramu untuk tidak menyakiti putri ku" ujarnya kembali.
"Apa Kau lupa Raja yang terhormat jika Dia juga Putra mu" ujar perempuan ini dengan geram. Sang Raja hanya Diam menahan Amarah.
"Dia tak akan menjadi seorang penjahat jika saja Ayahnya menyayanginya dan menganggapnya seorang Anak tanpa mengusir dari rumah yang seharusnya ia tinggali saat ini" ujar perempuan ini.
"Apak Kau lupa sesuatu Valensia. Bahwa Kau yang menghancurkan semuanya. Kau ingin membunuh Maharani dan menghabisi nyawanya" ujar Sang Raja geram.
"Hey, mengapa Kau sebegitunya Marah? bukankah Kau tak mencintainya? untuk apa Kau merasa kehilangan dan marah ketika Aku ingin membunuhnya? bukankah jika dia Mati Kita akan bahagia bersama" ujar Valensia dengan merangkul sang Raja.
"Tutup mulutmu Bedebah!!" ujar sang Raja melepaskan rangkulan Valensia.
"Untuk apa harus Marah Randana. Kau tak mencintainya bukan. Sampai saat ini pun Aku tahu jika kau tetap tak Mencintainya dan kau tetap mencintai ku bukan"
"Kau salah" ujar Sang Raja.
"Aku mencintainya" ujarnya kembali.
"Kau pikir semuanya tidak akan berubah? Hei dengar baik-baik, cinta akan datang dengan sendirinya. dengan berjalannya waktu, dan dengan terbiasa. Ingat itu" ucap Sang Raja dengan meniaki kudanya.
"Dan aku tidak akan tinggal diam jika dia menyakiti Putri ku" ucapnya kembali dan pergi meninggalkan hutan tersebut.

Jumat, 05 Agustus 2016

kisah klasik series


“Pak.. Pak..Pak.. jangan di tutup dulu dong pa gerbangnya.” Ujar seorang lelaki kepada pa satpam.
“Kalian ini gimana, baru aja hari pertama masuk, masih anak baru juga tapi sudah terlambat” sahut pak satpam tersebut.
“Maaf deh pak, sebenarnya tidak mau telat tapi yah mau gimana lagi namanya juga Jakarta pa, macet” ujar seorang gadis dengan wajah yang seperti malaikat.
“Duh kamu ini mau ngibulin saya yah, mana ada Jakarta macet subuh-subuh, kecuali kalian ini kesiangan baru kena macet” ujar pak satpam masih dengan tak mau membukakan gerbang tersebut.
            Namun tiba-tiba saja seorang lelaki menabrak pak satpam tersebut.
“Matiurip” latah pak satpam sembari memegang perutnya, untung saja ia sampai tak jatuh, pak satpam tersebut segera berbalik arah dan akan segera mengomeli orang yang telah menabraknya dan membuatnya latah sehingga dua orang yang di depannya ini sampai menertawakannya.
“Maaf pak, maaf saya tak sengaja, suwer, saya benar-benar tidak bisa mengerem pak” ujar orang tersebut, dandanannya benar-benar berantakan, rambut yang tak rapi, baju seragam yang di keluarkan, tas selempang yang telah berubah tempat dan topi yang telah berubah bentuk dari yang sebelumnya. Namun entah mengapa, seberantakan apapun lelaki ini tetap saja wajahnya begitu tampan dan.. manis.
“Dasar kamu yah, kamu ini anak pelajar apa bukan sih? Lihat penampilan kamu! Benar-benar berantakan. Saya aja malu jadi satpam penjaga sekolah yang punya murid kaya kamu.” Tutur pak satpam ini dengan membenarkan tali pinggang yang telah berubah bentuk karna kejadian tabrakan tadi.
“Yaampun pak, maafkan saya, kan tadi saya sudah bilang tak sengaja, lagian saya kaya gini itu, karna kesiangan pak, kalau saya ga kesiangan juga pasti penampilan saya rapih ko, gak kalah gantengnya sama si tuh..” ujar lelaki ini sembari mengarahkan dagunya kearah lelaki yang tak jauh di sebrangnya, memang tampang lelaki tersebut lebih tampan darinya, lebih rapih juga dan lebih terlihat cool, berbeda jauh dengannya namun tetap saja baginya dirinya tetap lelaki tertampan nomor satu.
"Alah kamu ini banyak alasan. Kalian bertiga itu sama. Sama-sama ga disiplin. Hari pertama masuk saja sudah terlambat, bagaimana dengan esok, esok, dan esoknya" ujar pa satpam mencoba menceramahi semuanya. Gadis ini dan lelaki yang berada di sampingnya hanya diam dan menundukan kepalanya, namun berbeda dengan lelaki yang satu ini. Ia hanya memanfaatkan ceramah itu sebagai sedikit waktu yang ia gunakan untuk membenarkan tali sepatunya. 

"Ada apa ini yah pa?" Tiba-tiba seorang lelaki dengan seragam yang komplit dan rapi menjelaskan bahwa ia adalah siswa dari sekolah tersebut datang dan menghampiri pak satpam dan tiga orang tersebut. 

Pak satpam yang merasa ada seseorang yang bicara dengannya, ia pun menengok ke suara tersebut, bahkan bukan hanya pak satpam namun dengan tiga orang itu juga.

"Ini loh mereka telat" ujar pa satpam sembari menengok ke arah tiga orang tersebut. 

"Oh, yaudah pa biarkan mereka masuk" ujar lelaki ini dan tersenyum ke pada pak satpam itu. 

"Oh yaudah kalau begitu" pak satpam pun segera membuka gerbangnya dan memberikan jalan untuk mereka masuk.

"Untung kalian tidak di pulangkan" ujarnya kembali. Gadis yang paling cantik diantara mereka bertiga lah yang masuk duluan, kemudian di susul dengan lelaki yang tampan dan rapih penampilannya, ketiga lelaki yang begitu sangat berantakan, dan terakhir di susul oleh lelaki yang .memberikan izin agar mereka bertiga bisa masuk. 

"Hey kamu!" Lelaki ini pun menyentuh pundak lelaki ketika, sontak lelaki itu pun menengok ke belakang. 

"Iya ka?" Dia pun memanggil lelaki yang di berada di belakangnya dengan sebutan kaka. Karna ia tahu bahwa lelaki yang telah membantunya untuk masuk ini pasti kaka kelas. Mungkin kelas 11 atau mungkin kelas 12. 

"Nama kamu siapa?"ucap nya sembari mencoba memperhatikan lelaki yang memanggilnya dengan sebutan kaka ini.

"Dodit ka, dodit muhammad septian" sahutnya. 

"Rapikan dulu seragam kamu" ujar lelaki di hadapannya kembali. Dan lelaki yang bernama dodit ini pun segera membenarkan seragamnya. 

"Kamu" kali ini lelaki ini menunjuk satu-satunya gadis yang berada di antara mereka. 

"Nama saya Maura ka" ucapnya. 

"Saya tidak nanya nama kamu, mana topi kamu? Dan kenapa tidak mengikuti aturan yang telah di buat untuk MOS" ucap lelaki ini yang mampu membuat lelaki di sampingnya mengetawainya. Sedangkan perasaan yang dirasakan oleh gadis ini sekarang adalah dongkol. 

Gadis ini pun segera membuka tasnya dan mencoba mengeluarkan topi yang telah ia buat kemarin malam, namun tiba-tiba..kenapa tak ada di tasnya.

"Mana?" Tanya lelaki ini yang ternyata akan menjadi kaka kelasnya kelak. 

"Sebentar ka lagi di cari" ucap gadis jni dengan sedikit panik, masalahnya ia buat kemarin semalaman namun sepertinya topi itu tidak masuk ke dalam tasnya. 

"Alasan, bilang saja tidak buat" ucap kaka kelas ini.

"Saya buat ko ka, beneran deh, suwer, kemarin malam saya sudah buat tapi sepertinya ketinggalan" ujar gadis ini mencoba membela diri. 

"Banyak alasan, so bela diri" ujar kaka kelas ini. Batin si gadis benad-benar mengutuk kaka kelas yang berada di hadapannya saat ini. Awalnya ia kagum dan terpikat oleh kaka kelas ini, selain tampan, karna kaka kelas ini lah ia bisa masuk dan tak di kunciin di luar gerbang sekolah , namun ternyata kaka kelas di hadapannya ini tak beda jauh dengan se-seorang yang menyebalkan. 

"Kamu!" Kali ini kaka kelas ini menunjuk lelaki yang berada di samping kiri gadis yang awal. 

"Kaos kaki kamu mana? " tanya nya dengan gaya memasukan satu tangannya ke saku celananya. 

"Ini.." sahut lelaki ini sembari menunjuk ke bawah menunjukan kaos kakinya, namun kenapa tiba-tiba kaos kaki ini tidak terpasang cantik di kakinya. 

"Mana?" Tanya nya dengan nada melecehkan. 

"Sepertinya tertinggal dirumah" sahutnya dengan nada pelan. Ia merasa malu apa lagi dengan dua orang yang berada di sekitarnya. Dalam hati ia merutuk dirinya sendiri , mengapa ia sampai lupa memakai kaos kaki, pasti ini gara-gara ia berburu-buru makannya ia sampai lupa memakai kaos kaki. 

"Ayo kalian ikut saya. Sudah telat, pakaian seragam tak lengkap, dan tidak ikut upacara di hari pertama masuk SMA sini" ujar lelaki itu seraya berjalan terlebih dulu mendahului mereka bertiga dan ikuti dari belakang oleh mereka. 

Tak lama mereka ber-empat tiba di sebuah lapangan yang cukup luas, semua siswa-siswi duduk di lapangan tersebut dengan pakaian dan penampilan yang tak enak di lihat, semacam orang aneh yang rela untuk di tertawakan.

Kaka kelas yang membawa mereka ke pinggir lapangan ini sedang berbisik dengan temannya, entahlah apa yang mereka bisikan, namun sepertinya perasaan mereka bertiga benar-benar sudah tidak aman, sepertinya akan terjadi sesuatu yang memalukan. 

Kemudian teman kaka kelas ini berjalan kearah tengah lapangan dan  berbicara dengan micnya. 

"Hallo adik-adik, minta perhatiannya sebentar yah, ini ada kawan kita yang datang telat dan tidak memakai seragam yang lengkap. Sepertinya mereka akan menyumbangkam lagu untuk menghibur kita" ujar lelaki yang berada di tengah lapangan tersebut yang mampu membuat mereka bertiga membulatkan matanya. 

"Ayo kalian sini ketengah lapangan" panggil si kaka kelas yang berada di tengah lapangan, mau tak mau mereka pun berjalan ke tengah lapangan .Lelaki yang awal berjalan, berjalan dengan santai di susul dengan gadis yang bernama Maura, ia pun berjalan dengan santai dan tak menundukan pandangannya. Dan yang berjalan terakhir bernama Dodit, jalan dengan memasukan tangannya kedalam saku celananya.

Lelaki yang pertama berjalan bernama Mario atau yang biasa di sapa Rio, banyak yang memperhatikan lelaki satu ini, tak sedikit dari kaum wanita yang berbisik tampan, ganteng, dan cool, serta manis bahkan ada yang sudah tau namanya dan berbisik 'dia sekolah disini juga' 'itu Rio kan? Yaampun tambah ganteng aja' bahkan yang lelaki pun banyak yang berbisik namun dengan kalimat yang berneda dan berfariasi. 

Yang kedua adalah seorang gadis, ia adalah Maura. Kali ini para lelaki yang mengagumkan akan kecantikannya. Banyak lelaki yang siul-siul dan meneriaki namanya bagi yang telah mengetahuinya, dan Maura pun hanya senyum membalasnya. 'Gila cantik banget tuh cewe' 'Yaampun kayangan ada yang keilangan bidadari' 'Itu sih bidadari gw' bahkan para wanita pun banyak yang ikut mengagumi akan kecantikannya.

Dan yang terakhir disusul oleh lelaki bernama Dodit, jalan dengan santainya dengan rambut yang sedikit gondrong dan berantakan. Kali ini banyak yang kaget karna lelaki ini dapat masuk sekolah ini. 'Itu Dodit? Masuk sini juga dia' 'asik si Dodit masuk sini brother, regu bola kita ga bakal kehilangan andalan' tak sedikit juga yang memuji akan penampilannya karna untungnya ia juga memiliki wajah yang bisa di bilang tampan.  'Yaampun malaikat dari mana itu, ga kalah ganteng sama yang lelaki awal' 'yang ini ganteng weh ganteng' dan sebagainya yang mereka katakan. 

Kini mereka pun telah berada di tengah lapangan, tak merasa takut, risih dan sebagainya. Malahan mereka memberikan senyum terbaik mereka, seolah-olah mereka adalah seorang juara yang telah memenangkan sebuah perlombaan dari banyak peserta.

"Silahkan kalian bernyanyi" ujar salah satu kaka kelas. Mereka bertiga saling menengok, mencoba menanyakan lagu apa yang akan mereka nyanyikan bersama.

"Nyanyi apa kita?" Tanya Rio. 

"Kita" ujar Dodit.

"Kita?" Tanya Rio

"Iya bener. Kita" kali ini Maura yang mengeluarkan suaranya.

"SheilaOn7" sahut mereka berbarengan. 

"Suka SheilaOn7 juga?" Tanya Rio dan serentak Maura dan juga Dodit pun mengangguk. 

"Oke, kita nyanyi kita" ujar maura.

Dan mereka pun bernyanyi bersasama.

di saat kita bersama, di waktu kita tertawa
menangis merenung oleh cinta
kau coba hapuskan rasa
rasa dimana engkau melayang jauh dari jiwaku juga mimpiku
biarlah biarlah, hariku dan harimu
terbelenggu satu lewat ucapan janjimu
dan kau bisikkan kata cinta
engkau telah percikkan rasa sayang
pastikan kita seirama
walau terikat rasa hina
sekilas kau tampak layu
jika kau rindukan gelak tawa yang warnai lembar jalan kita
reguk dan teguklah mimpiku dan mimpimu
terbelenggu satu lewat ucapan janjimu
Dan kau bisikan kata cinta
kau telah percikan rasa sayang
pastikan kita seirama
walau terikat rasa hina
Dan kau bisikan kata cinta
kau telah percikan rasa sayang
pastikan kita seirama
walau terikat rasa hina