Minggu, 19 Juni 2016

Edelweis untuk dandelion (1)

Seketika asap lebat mulai mendominan di sekitar perbatasan dan dengan di disusul oleh sedikit ledakan. Setelah asap itu mulai hilang lelaki itu pun ikut menghilang, putri edelweis pun segera berlari menghampiri kesatria. Lengannya terluka, darah segar mulai mengalir dan auangan srigala pun mulai terdengar. Sial ia harus membawa satria segera menjauh dari tempat ini atau mereka akan menjadi santapan malam bagi para kaum wolf itu.

Tapi bagaimana mungkin? Bagaimana ia membawa satria dan kudanya.

"Kau tak perlu khawatir putri edelweis, aku bisa menungganginya"  ujar kesatria lalu berdiri dan beranjak kearah kudanya tersebut.

Putri edelweis pun mengikutinya dari belakang. Ia menungganginya lalu segera pergi meninggalkan tepat ini.

NGIIIKKK

NGIIIKKKK

sepanjang perjalanan pikirannya terus tertuju kepada lelaki itu, lelaki yang sampai saat ini belum ia ketahui namanya dan asal usulnya. Seharusnya putri edelweis membenci lelaki itu, memaki lelaki itu, atau dendam lelaki itu. Karna ia tak pantas untuk di sebut lelaki, ia telah melukai putri edelweis, seorang putri, seorang wanita, apa pantas.. namun rasa ingin tahu putri edelweis begitu besar. Siapa sebenarnya lelaki tersebut.

malam kian pekat. Dingin menembus, melawati kulit. Namun tetap saja sepi menghakimi seluruhnya. Mencoba pergi namun tak kunjung usai.

"Maafkan aku, karna ku, kau seperti ini"

"Aww, putri tak perlu meminta maaf, hamba beruntung hanya hamba yang terluka"

"Perwira.."

"Satria"

"Baiklah, satria aku mohon kau tak perlu membicarakan hal ini kepada ayahanda ku. Aku tak ingin ia tau jika aku pergi ke perbatasan"

"Baiklah putri edelweis, hamba tidak akan memberitahu kepada baginda, asalkan putri tak akan pergi ke perbatasan kembali" ujarnya

"Aku tidak bisa satria. Ada sesuatu hal yang harus ku cari tahu. Apa kau tak lihat wajah lelaki itu? Ia mirip dengan ku hanya saja ia seorang lelaki berbeda dengan diriku"

"Hahaha.. putri edelweis ini bisa saja bercandanya. Itu tidak mungkin putri. Lagi hamba tak melihat bahwa lelaki itu mirip dengan tuan putri. Lagi.. tempat itu sangat berbahaya tuan putri.. jika ia membuat tuan putri terluka seperti saya dan para wolf mengetahuinya itu akan sangat berbahaya"

"Tapi bagaimana jika lelaki tersebut saudara ku?"

"Itu tidak mungkin. Karna saudara tidak akan menyakiti saudaranya sendiri, sekarang lebih baik tuan putri beristirahat. Ini sudah larut malam. Hamba permisi" ujarnya seraya pergi dengan tangan kanannya memegangi lengan kirinya yang telah di perban oleh putri edelweis.

"Satria.." panggil putri edelweis, lalu satria pun berbalik.

"Jika aku pergi dengan mu, apa kau akan tetap merahasiakanya?"

"Jika itu yang putri edelweis inginkan, akan saya lakukan"

"Terimakasih.. dan selamat malam"

Putri edelweis pun segera memasuki kamarnya dan beranjak ke tempat tidur. Namun tiba-tiba ada secarik surat diatas tempat tidurnya

'Siapa yang mengirimkannya surat'

Edelweis,

Ada satu hal yang harus selalu kau ingat, bahwa kau tak akan seabadi layaknya namamu... sepi, dingin, sendu, kapan kebahagiaan akan memilih ku. Takan ku biarkan kau berlama-lama menikmati semuanya.

'Tanpa nama'

Putri edelweis pun mengedarkan pandangannya namun ia tak menemukan seseorang pun yang berada di kamarnya. Lelaki itu kah? Tapi, apa maksudnya..

Fajar pun tiba, putri edelweis pun segera mencari satria, mungkin saja ia tau apa yang dimaksud dari surat ini dan apa maksudnya abadi dengan nama ku.

"Satria apa kau tau artinya"

"Tuan putri, maaf hamba tak begitu tau apa maksud dari surat ini"

"Lalu apa hubungannya nama ku dengan abadi"

"Apa tuan putri tau.. bahwa edelweis itu adalah nama dari sebuah bunga. Bunga itu hanya bisa mekar dan tumbuh di puncak gunung di sekitar pegunungan dan apa hubungannya dengan abadi.. hamba tak tau pasti namun yang hamba ketahui bahwa bunga tersebut tidak akan mati sekali pun kering karna itu bunga keabadian. Entahlah tuan putri yang hamba bicarakan benar atau tidak namun begitulah yang hamba tau"

Putri edelweis pun hanya diam memandangi surat di depannya, tak ada yang mengirimkannya surat sebelumnya. Lelaki itu kah...

"Putri edelweis, ingin berlatih pedang?"

"Dengan senang hati"

SREEETTTT....

SRERRTTT....

PRAAANGG... PRAAANGG... PRAAANGG... PRAAAAANGG..

"Mau kah kau menemani ku lagi perwira?"  Ujar putri edelweis dengan pedang yang masih berlawanan dengan pedang sang lawan.

"Dengan senang hati tuan putri"

SRERETTT...SSREERTT....PRAAANG PRAAANG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar