Senin, 20 Juni 2016

Edelweis untuk dandelion (2)

Siang yang begitu sejuk, putri edelweis berniat untuk berjalan-jalan ke pasar hanya untuk melihat keramaian pasar. Setiap beberapa hari sekali putri edelweis memang sering mengunjungi pasar, hanya untuk sekedar menyapa tukang pembuat roti, ibu toko bunga ataupun para seniman yang berada di pasar.

Yah itu yang paling di sukai putri edelweis, berlama-lama berada di pasar hanya untuk melihat kreasi para seniman. Pasar? Seniman? Yah banyak sekali para seniman dunia yang merantau ke daerah kerajaannya. Untuk mengadu nasib atau hanya sekedar untuk tinggal. Kenapa pasar? Kenapa tak buat kan saja sebuah galeri. Pameran galeri yang mengkhususkan semua para seniman dapat menaruh hasil karyanya di satu tempat khusus itu. Intinya simple, tak semua orang akan mengunjungi galeri, tapi pasar tak akan pernah sepi oleh para pengunjung. Itulah yang di butuhkan para seniman.

Putri edelweis juga akan selalu mampir kesebuah permainan musik yang begitu indah, yang di mainkan oleh beberapa orang pemuda paruh baya. Dan ia tak akan segan untuk menari dengan lantunan melodi yang indah itu yang membuat pasar seketika ramai karna tak sedikit orang yang akan mengikuti gerakan sang putri.  Ia begitu di cintai oleh rakyatnya. Putri edelweis.

Kaki itu begitu piawai menari dengan begitu indahnya, gaunnya yang sederhana membuatnya terlihat begitu anggun nan cantik. Namun tiba-tiba..

BRUUKKKK!!

"Tuuaaannn putrii.."

"Arrghhh.." tangan putri edelweis tak diam begitu saja, ia mencoba menarik lengan yang telah menabraknya itu.

"Kau..!"

"Lepaskan!" Orang tersebut pun segera berlari dan memakai kembali kundungan yang berada di punggungnya. Matanya begitu sendu dan bola matanya, maksudnya lensa matanya. Berubah menjadi kemerahan.

Putri edelweis tidak akan melepaskannya begitu saja. Ia segera mengejar orang tersebut. Namun sepertinya ia tau jika putri edelweis mengejarnya. Lariannya semakin cepat dan tiba-tiba saja ia langsung menaiki kuda dan beranjak dengan cepat. Putri edelweis tidak mungkin bisa mengejarnya hanya dengan berlari. Tapi Tak jauh dari tempat ia berdiri, ia melihat seekor kuda bersama ibu paruhbaya.

"Bolehkah jika saya meminjam kuda mu, nyonya"

"Dengan senang hati putri edelweis"

Sang putri pun segera mengejar orang tersebut.

NGIIIKKKK

tanpa sadar ia telah memasuki kawasan perbatasan. Tak ada cahanya sedikit pun. Gelap. Gelap. Gelap. Pekat. Padahal saat ini siang hari namun tak ada sedikitpun sinar mentari yang berhasil menerobos masuk melewati celah rambut-rambut pepohonan nan lebat ini.

Ia segera turun dari kuda tersebut. Dan mulai berjalan, entahlah putri edelweis tak tau harus berjalan ke arah mana. Baginya semua jalan sama. Hanya ada pohon dan pohon.

Kosongkan pikiran mu..

Siapa kau..

Tenang kan pikiran mu..

Ku bilang kau siapa..

Ikuti perkataan ku.. dan kau akan merasakan sesuatu hal yang akan mendekat.

Putri edelweis pun mulai mengikuti arahan suara tersebut, entahlah semuanya tiba-tiba saja terjadi. Padahal putri edelweis hanya berbisik dalam hati namun kenapa suara tersebut masih dapat membalas ucapannya.

Pejamkan mata mu..

Tak usah meny...

Ikuti perkataan ku!

Putri edelweis pun mulai memejamkan matanya, menenangkan pikirannya namun tak bisa mengosongkannya. Tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang mendekat kearahnya. Gerakannya sangat lambat namun lama-kelamaan gerakannya makin percepat.

Tenangkan fikiran mu, bodoh!

'Ah sial sekali pemilik suara ini!' Umpat putri edelweis.

"Aaaaaaa...."

Bleessssss

AAAUUUNNGGGGG....

Putri edelweis segera membuka matanya, entahlah jantungnya berdetak semakin cepat, setelah putri edelweis mencoba untuk mengkosongkan pikirannya. Instingnya semakin tajam bahwa ada sesuatu yang mendekat tepat di serong kanannya dan dengan cekatan putri edelweis pun segera mengeluarkan pedang kesayangannya dan mengarahkannya kearah yang telah di beritahu instingnya tersebut dan satu wolf pun telah tertancap cantik pada pedangnya.

Nafasnya begitu memburu.

Gadis yang pintar..

Kali ini hanya dibalas dengan senyuman simpul oleh putri edelweis.

Sudah hampir satu jam putri edelweis mengitari perbatasan ini namun tetap saja ia tak mendapatkan jalan keluar, tiba-tiba ia mendengar sesuatu yang putri edelweis sadari itu adalah suara perutnya yang terasa lapar.

putri edelweis beristirahat sejenak, duduk dibawah pepohonan yang rindang. Ia berfikir sejenak mengapa ia tidak sama sekali menemukan orang itu disini.

Tak lama ada buah kecil jatuh tepat di sampingnya berbentuk oval dengan warna merah. Putri edelweis menengok ke atas ternyata diatas lebat dengan buah yang sama percis jatuh di sampingnya itu.

Warnanya terlihat menunjukan bahwa buah itu manis. Putri edelweis pun segera mengambil buah itu dan segera ingin memakannya, setidaknya untuk mengganjal perutnya yang lapar.

Buah iti beracun bodoh

Putri edelweis kaget dan segera melepaskan buah itu dari genggamannya.

Siapa kau, jangan seperti orang bodoh yang selalu mengumpat dan mengatai ku bodoh

Kau putri tapi kau tak tau buah apa itu, kemana saja kau. Tak pernah kah kau mampir ke perpustakaan istana mu itu. Semua orang tau itu buah beracun. Dasar putri bodoh.

Astaga putri edelweis pun mulai geram di buatnya. Purti edelweis pun berjalan kembali dan tak mengubris ucapan suara tersebut lagi.

Berhati-hatilah putri edelweis, dan tetap tenang. Dengan cara itu kau bisa mengetahui hal yang tak kau duga.

Aku tak peduli.

Putri edelweis tetap terus berjalan entah ke arah utara, barat laut, atau timur laut. Ia tak tau.

Namun..

AAAARRRGGHH

Sial!.

"Untuk apa kau masih datang kesini putri cantik!"  Lelaki ini lagi. Ia menerkam putri edelweis dengan menyikut bagian leher putri edelweis dengan lengannya. Dan mengapit lengan putri edelweis ke belakang.

"Tak pernah kah kau di ajarkan oleh keluargamu tentang sopan terhadap orang baru ha!"

"Kau tak perlu membawa keluarga ku!"

Dengan sisa tenaga yang ia punya. Putri edelweis mencoba memencet tombol yang berada di sebuah tongkat kecil. Dan kemudian putri edelweis pun menyikut perut lelaki itu dan melepaskan diri dari cengkramannya.

Putri edelweis mengarahkan pedangnya tepat ke wajah lelaki tersebut, sembari terbatuk-batuk karna lelaki itu terlalu kuat menyikut bagian tenggoroknya.

"Tak akan ku biarkan kau hidup bahagia"

"Hiiaaaaa..." SRERRRTTTTTT...

PRAAANNGGG.... PRRAAANGGGG PRRAAAANGGG PRRAAAANGGG
PRAAAANGGGGG...

"mengapa kau begitu marah kepada ku" ujar putri edelweis di sela dentingan suara pedang satu sama lain yang saling beradu.

BRUUUKKKK!!

putri edelweis pun menendang lelaki tersebut tepat di wajahnya. Ia terlempar tak begitu jauh dan Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Jujur sesungguhnya putri edelweis tak ingin melakukan hal ini, ia hanya membela diri.

Lalu lekai itu pun bangkit kembali dia berlari ke arah putri edelweis, reflek putri edelweis mundur dan ia gagal karna tepat pohon besar di belakangnya.

"HiiiAaaaaaaaaaaa.." lelaki itu pun berlari sangat kencang dan diarahkannya pedang itu tepat ke arah putri edelweis.

Sreeeettttt blleesssss

Putri edelweis hanya bisa diam. Detak jantungnya seraya berhenti. Nafasnya semakin cepat beradu. Tak ada rasa sakit yang ia rasakan. Lelaki itu tepat berada di hadapannya. Dengan nafas yang tak beraturan. Detak jantunya masih bisa di dengar oleh putri edelweis, jarak yang begitu dekat.

Satu pandang yang membawa putri edelweis dan lelaki ini melihat tepat di bola mata mereka masing-masing. Tatapan yang tak mempunyai makna dan arti namun begitu berat, kemiripan yang tak ada beda membuat mereka saling takjub satu sama lain.

"Putri Edelweis...."

SREEERTTT...

Pedang itu pun dicabutnya dari kayu yang tertusuk dan pergi berlari meninggalkan putri edelweis yang melihat kepergiannya. Tak lama satria pun datang dan memberikannya jubah untuk di kenakan oleh putri edelweis.

Gaun yang putri edelweis kenakan robek di bagian pundak mungkin sedikit kena tusukan ketika pedang lelaki tersebut menancap ke batang pohon di belakan punggungnya tepat beberapa mili dari pundaknya.

"Maafkan aku.."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar