Sabtu, 18 Juni 2016

Edelweis untuk dandelion

Suata ketika di sebuah kerajaan yang berada di ujung timur gunung baterfli , tinggalah seorang putri yang begitu cantik dari raja randana dan ratu maharani. Ia bernama edelweis mahora randana, yang biasa di sebut putri edelweis. Wajahnya begitu cantik dan sikapnya pun bijaksana.

Ketika itu ia berulang tahun ke 20, angka pertama yang akan membawanya kemasa dewasa. Tak seperti kisah putri lainnya yang pernah ia baca di perpustakaan istana.

Tidak ada penyihir yang datang, atau pun sesuatu hal yang akan mencelakakannya. Namun entahlah perayaan ulang tahun kali ini seperti ada yang kosong. Ayah dan sang bunda memang ada di sekelilingnya bahkan rakyatnya pun ikut bahagia merayakan pesta ulang tahunnya. Namun rasanya ada yang hilang.

Pertemuannya dengan lelaki di danau perbatasan itu sedikit menyita  waktunya. Pasalnya lelaki itu percis seperti dirinya hanya saja dengan jenis kelamin yang berbeda dengan dirinya.

"Edelweis..."

"Iyah, ayah"

"Ayah ingin memperkenalkan seorang perwira kepadamu, ia akan menjaga mu, dan membantu mu jika kau membutuhkan sesuatu"

"Perkenalkan putri edelweis, hamba perwira kesatria. Anda bisa memanggil hamba dengan sebutan satria" ujar lelaki gagah nan tampan ini dengan sedikit membungkukan sedikit badannya.

Perwira ini memang tak seperti perwira pada umumnya. Wajahnya yang telihat begitu masih muda dan postur tubuh yang sempurna membuatnya memiliki kharisma tersendiri. Tampan, sempurna. dua kata yang akan diucapkan para gadis kepadanya.

Putri edelweis hanya membalas dengan senyum kepada perwira tersebut. Lalu ia kembali menatap lurus ke arah menara luar.

Malam yang begitu pekat, malam yang begitu sendu, malam yang begitu penat, kepada siapa aku harus menaruh rasa rindu ku.

Lalu putri edelweis mengingat kembali akan lelaki di perbatasan itu, dan ia pun berniat untuk mencoba kembali ketempat itu. Siapa tau ia bertemu kembali denganya. Langkahnya begitu lembut menuruni anak tangga satu demi satu. Tak ada yang boleh melihat jika ia pergi ke daerah perbatasan. Sang baginda begitu keras untuk melarangnya. Atau ia akan tak segan-segan mengurung putri edelweis selama 1 bulan penuh jika ia melanggar perintah itu. Namun kali ini berbeda, ayah tak akan mengetahuinya. Lalu bagaimana dengan perwira satria.. ah tenang lah saja ini sudah tengah malam ia tak akan terus menerus menjaga ku sampai larut malam bukan.

Putri edelweis pergi menuju kandang kuda kerajaan. Ia berjalan menuju kuda satu demi satu dan berhenti tepat di depan kuda cantik berkulit putih dengan dua garis abu-abu di bagian samping kanan badannya dan ekor yang begitu panjang berwarna senada dengan kulitnya.

"Haii.. rosse" ujarnya seraya mengusapnya dengan lembut.

"Nghiiikk..."

"Tenanglah cantik.."

Putri edelweis pun menaikinya dan membawanya keluar istana. Aku akan menemui mu lagi. Ujarnya.

Setelah ia telah sampai, ia segera turun dan berjalan lebih dekat menuju perbatasan. Matanya berjalar menyelusuri setiap pepohonan yang berdiri tegak dengan rambut yang begitu lebat.

"Untuk apa kau kembali" suara lelaki pun terdengar olehnya, ia segera mencari sumber suara tersebut. Dan tak jauh dari depannya ada seorang lelaki yang sedang beristirahat di bawah pohon dengan sebuah apel di tangannya.

Putri edelweis berjalan mendekat. Lebih dekat dan semakin dekat hingga jaraknya hanya tiga langkah dari lelaki tersebut, lelaki itu hanya diam namun ketika sang putri edelweis tepat berdiri di hadapannya ia pun bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di hadapan putri cantik ini. Tiga langkah memang tak begitu jauh, tak begitu dekat juga namun satu sama lain dapat melihat wajah mereka. Ya tuhan... dia begitu mirip dengan ku.

"Aku putri Edelw.."

SREEETTTTT......

seketika pedang begitu tajam berada tepat lurus tepat ke arah sang putri.

"Aku tak pernah mengundang mu untuk datang dan menginjak ketempat ini" sahut lelaki ini dengan tetap tak menjatuhkan arah pedangnya.

Putri Edelweis tak mengubrisnya. Ia mencoba melangkahkan kakinya untuk mundur namun lelaki di hadapannya memilih untuk maju dan pedang itu pun tetap tak beranjak dari hadapannya.

SREERTTTT... PRaaaanggg !!..

Putri Edelweis pun mengambil sebuah tongkat kecil yang berada di punggung belakangnya dan menekan sebuah tombol dan ketika benda itu telah berubah bentuk ia pun segera mengusir pandangan tajam yang mengusik di hadapannya.

"bukan seperti itu tuan menjamu seorang putri secantik saya" ujar putri edelweis dengan sedikit senyum miring dan membuat pedang mereka mengarah ke tanah.

"seorang putri mana yang berani berkeliaran di perbatasan. Persetan dengan iblis"  PRAAANGG...

PRAAANGGGG.. SREEETTTT.. PRAAANG... PRAAANGGG.. PRAAANGG..

Sentuhan pedang satu sama lain terdengar begitu nyaring. Tak ada pengalahan dari sang lawan. Lelaki di hadapannya begitu piawai memainkan pedangnya namun kecerdikan putri Edelweis mampu melawan walaupun dengan sedikit kewalahan.

Tak ada belas kasihan yang terpancar di wajah lelaki itu, ada apa dengannya. Layaknya seperti iblis.

"Jangan harap aku memberi mu kesempatan untuk mengindari pedang ku ini"

"Lelaki persetan, aku datang dengan baik-baik" ujar putri edelweis dengan tetap membalas sentuhan-sentuhan kasar yang di berikan oleh pedang sang lawan.

NGIIIIIKKKKK.....

Terdengar suara kuda yang begitu nyaring di sekeliling mereka. Putri edelweis pun mengarahkan pedang lelaki tersebut ke arah tanah dan menengok ke belakang untuk memastikan siapa yang tiba di sekelilingnya, namun kesempatan tersebut di manfaatkan oleh lelaki di hadapannya dengan menendangnya dan mengarahkan pedang tepat di wajahnya.

"Arrgghhh.." putri edelweis pun terlontar ketanah dengan memegang perut bagian yang lelaki ini tendang. Begitu nyeri rasanya sampai ketulang rusuk.

PRAAANGGG..... BRUUUKKKK.

"Tak akan ku beri ampun kau psikopat" ujar perwira satria seraya berlari kearah lelaki itu yang tengah tersungkur atas tendangan satria.

Namun lelaki tersebut kembali berdiri dan perang pedang pun terjadi.

BRUUKK..

Tendangan terakhir yang di berikan oleh satria kepada lelaki ini. Ia gerah melihat lelaki yang kini telah tersungkur tak berdaya telah menyakiti putri bagindanya.

Satria berjalan menuju ke arah putri edelweis untuk ia ajak kembali ke istana. Ia telah lalai menjaganya kini ia harus segera kembali membawanya ke istana.

"Awass"

SREEEETTTTTT....

"Aarrgghhh..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar