Selasa, 21 Juni 2016

Edelweis untuk dandelion (3)

Satria membawanya kembali keistana. Setelah memasuki kawasan kerajaan. Putri edelweis melihat sang ayah dan bunda sudah menunggunya di ruang tamu. Putri edelweis sudah bisa menebak apa yang nantinya akan terjadi. Sang raja akan marah besar. Putri edelweis pun hanya diam sebisa mungkin ia harus bersikap tenang.

"Edelweis untuk apa kau pergi keperbatasan sayang, tempat itu berbahaya" ujar sang bunda sembari mengusap-ngusap di kedua pundaknya.

Putri edelweis hanya diam dan menunduk. Sekarang tak ada lagi yang bisa ia umpat-umpatkan kepada ayah dan bundanya. Kini mereka telah mengetahuinya.

"Edelweis! Ayah sudah bilang kepada mu. Ayah juga sudah melarang mu. Agar menjauh dari tempat itu. Kenapa kau masih melanggar perintah  ayah juga!" Kini ayahnya pun ikut mengeluarkan suaranya namun berbeda dengan sang bunda, nada suara ayah lebih tinggi di banding bunda. Dan entah mengapa hal ini membuat putri edelweis merasa takut, tak pernah sebelumnya ia di marahi seperti ini.

"Tapi ayah, bunda. Edelweis kesana untuk menemui seseorang yang mirip dengan.."

"Cukup edelweis! Apa kau sadar hal ini dapat mencelakakan diri mu sendiri!" Sang baginda raja pun memotong ucapan putri edelweis.

"Ayah, edelweis belum selesai bicara. Bunda dengarkan ucapan edelweis. Edelweis tak berbohong bunda. Edelweis melihat sendiri bahwa lelaki itu mirip sekali dengan edelweis. Apa dia saudara ku bunda?"

"Edelweis tutup mulut mu! Jangan buat ayah marah. Apa kau sadar dengan apa yang telah kau lakukan. Ayah dan bunda mu mengkhawatirkan mu tapi apa? Kau malah tetap kekeh mempermasalahkan lelaki tak jelas itu!" Bentak sang raja.

"Aku hanya ingin mengetahui kebenarannya ayah"

"Kebenaran apa yang ingin kau cari tahu? Sama saja kau mencelakakan diri mu sendiri"

"Aku bisa jaga diri ayah. Untuk apa selama ini aku berlatih"

"Ayah bilang cukup! Pergilah ke kamar mu sekarang dan kau akan mendapatkan hukuman sesuai apa yang telah di tentukan" baginda raja pun pergi meninggalkan ruang tengah dan disusul oleh sang ratu.

Edelweis berdiri di depan jendela kamarnya. Dari kamarnya dapat terlihat perbatasan, tempat yang akhir-akhir ini sering ia kunjungi. Entahlah mengapa ayahanda begitu marah sekali atas apa yang ia lakukan. Putri edelweis tau memang sangat berbahaya sekali berada di perbatasan. Bukan hanya karna wolf namun banyak iblis yang berkeliaran disana.

"Edelweis sayang, bunda membawakan buah untuk mu" edelweis menengok ke sumber suara dan berjalan menuju ranjang tempat tidurnya.

"Bunda, edelweis tidak bohong. Lelaki itu mirip dengan ku." Ujar putri edelweis mencoba membuat sang ratu mempercayainya. Sang bunda pun hanya tersenyum ke arahnya. Sembari memberikan potongan apel kepada anaknya tersebut.

"Bunda, bunda percayakan sama edelweis" tanya putri edelweis.

Sang ratu hanya diam. Entahlah sikapnya mulai berubah, putri edelweis tau ada sesuatu yang di sembunyikan oleh orang tuanya tapi apa.

"Iya bunda percaya" sahut sang ratu.

"Bunda, aku tak bercanda.."

"Bunda juga tak bercanda sayang" ujar sang bunda. Tangannya mulai memotongi apel itu dengan perlahan menggunakan pisau kecil.

"..."

"Dia saudara tiri mu.." ujar sang ratu dengan nada lirih.

"Apa?"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar