Bumi begitu menyedihkan untuk seseorang yang sepertinya. Cinta hanya lah sebuah permainan yang memainkan hati di dalamnya, siapa yang tidak sanggup menahannya akan terbawa arus kedalam jurang yang pengap dan begitu sesak. Namun seseorang yang menjelma menjadi manusia seutuhnya tak akan sanggup menerima bahwa manusia lah yang benar-benar sulit untuk mendapatkan cinta yang benar-benar tulus, karna kaumnya (manusia) terlalu mudah untuk memecahkan hati yang tumbuh begitu tulus. Namun dia akan tetap berusaha. Menjaga apa yang telah dia mulai.
"Putri, kamu di panggil Ayah" ujar sang Bunda yang datang dari arah timur menghampirinya. Dan mengantarkan Putri nya untuk menemui Suaminya.
"Anak ku, kau mendapat tugas. Kau lihat dia? " tiba-tiba sosok seorang lelaki muncul di cermin besar yang di jadikan salah satu dinding di ruang tersebut.
"Kau bisa membantunya?" tanya sang Ayah.
"Kau tak perlu bertanya lagi Ayah. Akan Aku lakukan" ujarnya dengan memberikan senyuman yang terbaik di hadapan kedua orang tuanya. Ayah dan Ibunya tau bahwa Putrinya ini begitu hebat dalam menjalankan tugas-tugas nya dan selalu berhasil tanpa ada rasa kecewa.
"Turun lah, dan laksanakan tugas itu Anak ku, seperti yang selalu kau laksanakan dengan baik" ujar sang Ayah.
"Baik lah" ucapnya.
***
Sebuah kedai Coffee ini selalu saja ramai akan pengunjung entah orang darimana saja yang ada di dalamnya, begitu banyak bahasa asing yang di gunakan di kedai ini. Yah memang sejak beberapa tahun silam, kedai ini begitu ramai di datangkan pengunjung, sang barista yang begitu lihai memainkan racikan coffee nya membuat pengunjung betah berlama-lama menikmati aroma coffee dengan mengajak orang terdekat mereka. Mulai dari mulut ke mulut lah yang membuat kedai ini ramai sampai saat ini.
"Hay Rey, makin ramai saja" ujar seorang gadis.
"Hay Ed, apa kabar? Aku rasa sepertinya aku butuh barista satu lagi. Kau mau mencoba melamar?" tanya nya sambil memberikan secangkir coffee ke pelayannya.
"Ah Aku rasa tidak, coffee buatan ku tidak se-enak buatan mu Rey" ucap ku kepadanya.
"Kata siapa? Buatan mu juga enak ko" ujarnya.
"Ah terakhir kali aku buat saja rasanya aneh begitu, sudah lebih baik sekarang kau buatkan aku satu seperti biasa" ucap ku sembari memamerkan jari telunjuk kanan ku kearahnya.
"Baiklah, kau duduk dimana? Biar ku antar ke table mu" sahutnya.
"Tidak-tidak. Aku ingin langsung pergi" ujar ku.
"Kau ingin kemana lagi?" tanya nya sontak ke arah ku dan seraya memberhentikan aktifitasnya membuat coffee untuk ku.
"Aku, ingin bertemu dengan Dio hari ini, Aku ada janji dengannya" ucap ku bersemangat.
"Oh, baiklah" ucapnya dan melanjutkan membuat coffee untuk ku. Dan memberikannya ke arah ku. "Ini untuk mu"
"thank you Rey" aku pun segera mencoba coffee buatannya. "Ah coffee buatan mu tak terkalahkan, aku pergi dulu. Bye Rey" ucap ku seraya melambaikan tangan ke arahnya.
"Bye Ed" balasnya.
Sebenarnya hari ini tidak ada agenda ku untuk bertemu dengan Dio tapi Aku rasa itu satu-satunya alasan ku yang bisa Aku berikan, karna alasan bertemu dengan Dio adalah satu-satunya alasan yang tidak dapat di ganggu gugat oleh siapa pun. Termasuk Rey. Karna dia telah mengerti soal ini.
Entahlah hari ini Aku harus kemana, Aku hanya mengandalkan insting ku untuk membawa ku pergi ketempat yang kutuju.
Dio, ah ya, sudah beberapa hari ini Aku belum mendapatkan kabar darinya, kemana dia, Aku merindukannya. Begitu menyebalkan sekali memiliki perasaan ini lebih lagi teruntuk manusia.
Dan seketika Bruukk.. Tumpahlah coffee itu ketanah dengan Sempurna.
"Maaf aku benar-benar tak sengaja" ucap nya dengan menatap coffee yang telah jatuh ke tanah.
"Maaf? " tanya ku.
"Aku benar-benar tak sengaja" ulangnya lagi.
"Kamu fikir dengan mengatakan maaf coffee ku akan kembali? Aku ingin coffee ku kembali" ucap ku.
"Sesuatu yang sudah jatuh berantakan mana mungkin bisa kembali utuh, terkecuali kau menggantinya" ucapnya tepat ke arah ku.
"Tepat! Aku ingin coffe ku kembali, Aku ingin kau membelikannya lagi dengan coffee yang sama dan rasa yang sama di tempat yang sama" ujar ku ke arahnya.
"Baiklah" ucapnya. Lalu aku pun berjalan dengan di ikuti olehnya di belakang ku. Aku berjalan ke arah kedai coffee Rey. Setelah aku sudah berada di sebrang kedai tersebut aku menunjuk ke tempat itu.
"Aku beli disana, Kau tinggal pesan Coffee pearl" ucap ku mengarahkan ke arah sana.
"What? Coffee.. Tadi coffee apa? " tanyanya ulang dengan menampilkan mimik wajah bingung.
"Pearl, coffee pearl" ulang ku.
"Emang ada? Coffee apa itu? " tanyanya lagi.
"Sudahlah Aku ingin segera coffee ku kembali, kau hanya tinggal memesan coffee itu" ucap ku kesal.
"Oke-oke baiklah" ucapnya. Lalu Ia pun menyebrang ke kedai tersebut.
***
Aku pun berjalan ke arah kedai tersebut. Aku tak tahu kalau ternyata kedai ini sangatlah ramai.
"Mas saya pesen Coffee pearl nya satu" ucap ku.
"Bisa anda ulang pesanan anda? " sang barista pun menanyakan hal yang membuat ku sedikit agak kikuk.
"Coffee pearl" ulang ku lagi.
Barista hanya diam menatap ku, aku yang merasa risih karna dilihat seperti itu yang aku yakin pasti banyak pertanyaan yang ingin di tanyakan olehnya.
"Jadi gini mas, saya tadi menabrak seorang perempuan lalu coffee yang di tangannya tumpah. Dia bilang coffee yang Ia pesan tadi namanya coffee pearl. Saya juga bingung emang ada yah coffee nama seperti itu" ucap ku bertanya kepadanya. Lalu dia tersenyum dan membuatkan coffee tersebut.
"Berikan ini kepadanya dan sampaikan kalo jalan agar lebih berhati-hati lagi" ucapnya memberikan coffee tersebut ke pada ku setelah aku membayarnya aku pun kembali menemui gadis itu.
"Ini coffee mu. Dia titip pesan agar kau lebih berhati-hati lagi kalau berjalan" ucap ku dengan memberikan coffee kepadanya.
"Aku tau" ucapnya.
"Edelweis, kau bisa memanggilku Ed atau Edel" ucapnya sembari menjulurkan tangan ke arah ku.
"Ali, Al or Li" sahut ku membalas jabatan tangannya.
Setelah itu aku dan dia berjalan beriringan membicarakan banyak hal terlebih seseorang yang terlihat di mata kita saat itu. Entah seseorang yang terburu-buru dengan buku banyak di tangannya atau seseorang yang menabrak bahu orang lain satu sama lain. Hingga kita berhenti di sebuah taman.
"Al, kamu memiliki kekasih?" tanyanya. Aku hanya bisa memperlihatkan mimik wajah bingung ku, mengapa Ia bertanya seperti itu.
"Memangnya kenapa?" tanya ku.
"Kau percaya akan cinta pandangan pertama? " tanya kembali. Ya Tuhan apa jangan-jangan perempuan yang kini di sampingku menyukai ku? Tapi itu tidak mungkin.
"Entahlah, kau menyukai ku?" tanya ku. Lalu dia pun tertawa.
"Hahaha, mana mungkin aku bisa menyukai dua orang sekaligus. Mana mungkin aku menyukai lelaki yang jelas-jelas tempat terkhusus sudah di tempatkan oleh orang lain. Aku sudah memiliki kekasih" ucapnya sambil tertawa. Oh leganya ternyata pikiran ku salah.
"Bagaimana dengan mu? Kau sudah memiliki kekasih?" tanyanya ulang.
"Tidak. Aku tidak memiliki kekasih" ujar ku.
"Kenapa? " tanya perempuan itu.
"Hati ku masih tertinggal di tempat lain" ujar ku dengan tatapan kosong seperti menerawang entah kemana.
"Dia perempuan yang beda, aku menyukai dan mencintainya bukan karna fisik yang ada pada dirinya. Tapi karena hatinya dan sikapnya. Dia perempuan yang apa adanya. Aku sangat menyayanginya" sambung ku kembali.
"Yasudah kalo seperti itu nyatakan saja perasaan mu kepadanya" ujar nya dengan meminum coffee nya
"Sudah sering ku lakukan" ucap ku.
"Lalu? " tanyanya ke arah ku.
"Dia selalu menolaknya, lagi pula saat ini dia telah memiliki seorang kekasih" ujar ku.
"Dan aku hanya bisa mengenangnya" sambung ku.
"Yasudahlah lagi pula mereka hanya berpacaran saja, siapa tau mereka putus nanti" ucapnya.
"Tidak mungkin. Aku tau seperti apa Dia, dia perempuan yang setia dengan kekasihnya. Mereka tidak mungkin putus" ucap ku seketika bayangan sosoknya muncul di hadapan ku. Semua tawa dan senyumnya begitu sangat aku rindukan.
"Ah aku merindukannya, sebenernya salah aku juga sih. Seharusnya aku udah bisa bahagia dengan dia saat ini kalau saja waktu itu aku tidak membohonginya" sambungku.
"Membohongi gimana maksud mu? " tanya nya.
"Awalnya dia hanya teman curhat ku ketika aku ada masalah dengan kekasih ku. Dan lambat laun entah sejak kapan aku menyukainya, rasa ini tumbuh dan aku nyaman dengannya. Dia merespon ku, dia membalas rasa suka ku. Tapi salahnya aku mengaku kepada dirinya bahwa aku telah memutuskan kekasih ku padahal, sebenarnya kami belum putus tapi memang hanya tinggal putus. Setelah dia tau kalau ternyata kami belum putus dan aku membohonginya, dia menjauh dari ku, memutuskan semua kontak dengan ku. Sejak saat itu aku mulai kehilangan dia. Walaupun mungkin saat ini semuanya sudah lebih membaik tetapi tetap saja aku takan pernah bisa memilikinya" aku mencoba mengingat semuanya. Rasanya pengap dan sesak.
"Kau merindukannya? " tanya nya.
"Tentu saja" sahut ku.
"Apa dia mengetahuinya?" tanyanya lagi.
"Yap, aku selalu memberitahu kepadanya ketika aku merindukannya" ucap ku.
"Lalu apa responnya?" tanya perempuan ini seperti sedang mengintrogasi ku.
"Biasa aja, Tak ada" sahut ku. Dan tiba-tiba saja dering ponsel di sebelahku berdering kencang.
"Maaf sebentar aku harus pergi sekarang, Sampai jumpa Al" ucap gadis itu lalu pergi ketika selesai berbicara dengan seseorang yang menelfonnya.
***
"Kamu mau makan apa Yo? " tanya ku ke arahnya.
"Aku ga mau makan apa-apa karna merhatiin kamu aja itu udah cukup buat lapar aku hilang" ucapnya memasang wajah manis ke arah ku.
"Ah Dio saat ini aku sedang tidak ingin mendengar gombalan mu, aku lapar" ucapku kesal.
"Iya, iya darl" ucapnya, tak lama ponsel yang berada di meja berdering. Dio pun mengangkatnya. Aku tau dari siapa telfon tersebut. Setelah Dio memutuskan telfon tersebut aku segera bertanya kepadanya.
"Kau ingin menemuinya?" tanya ku kepadanya
"Tidak, aku sedang banyak urusan" ujarnya. Lalu aku pun tersenyum dan memesan beberapa makanan yang mampu nembuat mimik mukanya terlihat kaget.
"Asalkan kau menghabiskannya yah" ujarnya.
"siap kapten" sahut ku
Sedangkan di sisi lain, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka berdua, sepasang mata yang mungkin sudah begitu tangguh mengalahkan air mata yang akan keluar. Yah dia sudah terlalu kebal dengan semua ini. Hatinya sudah terlalu tangguh untuk menerima ini semua. Pergi? Untuk nya menetap adalah hal yang lebih baik. Karna ia percaya bahwa rasa sayang yang tulus akan membuahkan hasil walaupun harus melewati kepedihan. Jika seandainya ia adalah manusia seutuh nya mungkin ia tidak bisa setangguh seperti saat ini. Lalu sepasang mata itu pun pergi meninggalkan tempat dimana ia menyaksikan sesuatu hal yang membuatnya semakin tegar.
***
"Ed..?" suara lelaki membuat langkahnya terhenti sejenak. Lalu lelaki itu melangkah mundur mendekatinya.
"Al..? Eh hai"
"Sendirian? Lain kali kalo jalan jangan liat kebawah terus memangnya lagi nyari apa sih?" tanya Al.
"Ha..? Hehehe engga ko" jawab Edelweis.
Lalu mereka pun berbincang dan memutuskan untuk mengobrol.
"Kau masih menyukai nya?" tanya Edelweis.
"Siapa?" tanyanya.
"Kau dengan perempuan dambaan mu" ujar Edelweis.
"Tentu" ujarnya.
"Astaga.. Kau perlu sadar Al, kau punya pilihan. Menetap atau pergi. Tapi untuk apa kau menetap jika dia saja sudah mengacuhkan mu. Kau perlu mengasihi dirimu sendiri"
"Kau suka dengan dia, dan dia suka sama yang lain. Hey hidup tidak se-usseles itu kali" ujar Edelweis.
"Ah engga biasa aja. Jalanin aja yang ada. Ngga terlalu musingin sih" ucapnya.
"Kau tak mau mencoba mencari yang lain? " tanya Edelweis.
"Sudah tapi yah walaupun aku sudah menjalin kasih dengan yang lain dia tetap punya tempat disana" ujar Al.
"What? Itu sih namanya kamu jahat. Kalau kamu emang ga suka atau apa lah itu, ga seharusnya kamu mainin perasaan gitu. Kamu tau ga sih gimana perasaan pacar kamu ha. Coba kalau seandainya kamu jadi dia. Ternyata pacar kamu masih menyimpen rasa sama cewe lain. Kamu boleh tulus tapi ga nyakitin gitu ish jahat itu namanya" tutur Edelweis memukul-mukuli lengan Al.
"Hai wait wait wait, namanya perasaan yah gabisa ilang gitu aja. Aku normal kali bukan orang yang punya penyakit amnesia yang bisa ilang ingatan gitu aja"
"Yah walaupun Aku tau dia bukan untuk aku tapi ngilangin perasaan ini tuh ga mudah. Kadang dia juga masih sering ngubungin aku duluan. Kalo mau jalan juga bukan pas aku yang mau tapi pas dia yang mau"
"What? Hey kamu itu harus sadar Al. Dia itu udah kaya artis yang ga mau kehilangan fans nya. Dan seharusnya dia tau kalo terkadang fans juga bisa meninggalkan idolanya" ujar Edelweis.
"Engga Ed, dia bukan perempuan kaya gitu"
"Terserah deh Al percuma aku ngomong apapun tentang dia. Toh dia juga udah menetap baik di fikiran kamu"
"Tapi yah kalo ada perempuan yang sayang sama aku ya kali aku masih tetep nengok ke dia terus, ya ga juga kan. Kalo dia mau berjuang untuk aku ya aku akan berjuang juga sama dia siapa tau dia itu penuntun aku nantinya" ujar Al.
"Siapa juga yang mau merjuangin orang yang merjuangin orang lain. Aku malah kasian Al yang nanti jadi pacar kamu. Sayang sama orang yang orangnya itu sayang sama orang lain. Menyedihkan" ujar Edelweis.
"Yah ga gitu juga kali Ed" ucap Al.
"Aku juga dalam pencarian ko, aku mau nerima siapapun yang sayang dengan tulus sama aku. Aku gaakan selalu berpatokan sama dia"
"Yakin? Coba ngomongnya sambil ngaca" ucap Ed.
"Okay, okay"
"Al kau percaya akan manusia jadi-jadian? Maksud ku dia ga sepenuhnya manusia seutuhnya" ucap Ed. Wajah mimik Al pun bingung.
"Ya engga lah Ed, mana ada seperti itu" ujar Al.
"Kau tau Al penulis Ben bara saja pernah menuliskan sebuah buku yang salah satu tokohnya seorang malaikat dari langit yang ingin menjadi manusia dan turun ke bumi lalu jatuh cinta, penulis Dewi lestari juga menceritakan di buku serialnya supernova tentang manusia yang tidak seutuhnya seperti infiltran sarvara dan peretas itu sendiri" ujar Ed menjelaskan.
"Oh ya? Aku tidak tau soal itu, lalu kau mempercayainya. Hey itu hanya karangan fiksi Ed, itu hanya imajinasi mereka semua sudah ah Aku haus ikut aku sebentar yu" Al pun mengajak Ed kesebuah kedai.
Ya aku mempercayainya dan kau pun seharusnya begitu karna aku adalah contohnya Al
"Aku baru tau loh kalau ternyata coffee disini enak. Untung kamu nyuruh aku ke kedai ini waktu pertama kita ketemu" ucap Al.
"Hahaha yang punya kedai ini temen Aku" ujar Ed dan mereka pun mencari table yang kosong.
Sepasang mata menangkap hal yang tak mengenakan, tiba-tiba dadanya terasa sesak.
"Ed.. Ed helloooooo" lambaian tangan Al tepat di depan wajah Ed.
"Kau kenapa?" tanya Al.
"Ah tidak, aku baik-baik saja" ucap Ed.
"Kau sakit? Wajah mu terlihat pucat" tanya Al.
"tidak, aku baik-baik saja" ucap Ed.
Tiba-tiba ponsel milik Ed berbunyi. Ia pun segera mengangkatnya. Setelah sambungan terputus ia segera beranjak pergi.
"Al, aku harus pergi" ujar Ed lalu ia pergi.
"Ed ?" tiba-tiba seseorang menyapanya.
"Hai Rey" yah lelaki itu adalah Rey.
"Kau.. " belum sempat Rey menyelesaikan ucapannya Ed segera beranjak pergi dan Rey tau apa alasannya.
"Aku harus pergi Rey, bye" Ed pun pergi dari kedai itu.
"Aku Al " ujar Al mencoba bersalaman.
"Aku Rey pemilik kedai ini" balas Rey.
"Aku tidak tau tiba-tiba Ed aneh seperti itu" ucap Al.
"itu semua karna lelaki itu" Rey pun menunjuk sebuah table di ujung sana tepat sepasang kekasih dengan senyum dan tawa yang merekah.
"Lelaki itu kekasih Ed" ucap Rey.
"Pacar Ed tapi ko dia dengan wanita lain" tanya Al bingung.
"Yah, sudah beberapa tahun ini Ed di selingkuhin oleh nya, beruntungnya Ed begitu sangat menyayangi lelaki itu jadi Ed sudah kebal dengan semuanya. Baginya cinta yang tulus adalah cinta yang tetap utuh dan terjaga dan Ed sedang menjaga semuanya, ingin rasanya menonjok lelaki itu tapi itu hanya akan membuat Ed terluka dan gw gaakan melakukan itu" ujar Rey.
"Brengsek banget itu cowo" Al pun menghampiri table tersebut dan menarik kerah baju lelaki itu dan menonjok tepat di wajahnya.
"Lelaki ga ngotak. Cewe sebaik Ed lu sia-siain gitu aja. Brengsek lu!" lalu Al beranjak pergi mengejar Ed.
Al berlari begitu kencang menengok kesana kemari untuk menemukan Ed. Setelah ia merasa yakin bahwa itu adalah Ed ia pun menarik lengan gadis tersebut.
"Kamu ngapain harus pergi dari sana sih Ed" ujar al menarik lengannya.
"Apa? " tanya Ed.
"Aku sudah tau semuanya Ed, kamu ga seharusnya melarikan diri tadi. Buat apa kamu bertahan buat lelaki brengsek kaya gitu. Kamu harus lepasin dia. Dia ga baik buat kamu Ed. Dia lebih memilih perempuan itu dibanding kamu jadi buat apa kamu bertahan. Kamu sendiri yang bilang sama aku buat move on dari Nia, dan kamu juga seharusnya bisa." ucap Al, dan Ed hanya diam. Semua tidak semudah seperti yang di ucapkan.
"Kamu gabisa terus-terusan nyiksa diri kamu seperti ini. Kamu perlu bahagia pula Ed" ucap Al.
"Stop, stop Al cukup. Sekarang aku hanya perlu tanya sama kamu. Nia sudah milik orang lain, apa kamu masih tetap sayang sama dia? Apa kamu tetap memiliki rasa ingin memilikinya? Apa kamu masih merindukannya? Jawab!" ucap Ed.
"Baik akan ku jawab. Ya, aku masih sayang dengannya. Aku masih berharap memilikinya. Dan aku masih merindukannya sampai detik ini" ucap nya.
"Baik lah" ucap Ed.
"Aku harus pergi" Ed pun berjalan menjauh baginya tugasnya telah selesai. Tak ada penahanan yang di lakukan Al baginya, gadis ini butuh sendiri saat ini.
***
"How do you can it? " tanya seseorang.
"No, i can't do it" ucapnya.
"But, u said, u will make.. "
"i can't, i gave up now" ujarnya datar.
"Okay, i know the period was end" ucapnya.
"Good" balas perempuan ini.
"So, what are you doing now?"
"Lost" ucapnya singkat.
"It's not good answered" balasnya.
"Yeah i know. But it's good for me"
"Tapi gimana sama orang tua mu Ed?" tanyanya. "Mereka sangat berharap besar kepadamu"
"Aku ga bisa Rey, seseorang yang memiliki perasaan utuh dan tulus kepada seseorang sulit untuk merubahnya. Aku akan mengatakan kekalahan ku kepada ayah dan bunda kalau untuk kali ini aku gagal. Dan aku akan menetap disana untuk beberapa waktu"
"Aku pasti akan merindukan mu Ed. Lalu Dio? " tanya Rey.
"Aku akan melepaskan dia. Aku ga bisa milikin dia. Jika wanita itu adalah pilihannya aku akan mundur. Walaupun perasaan ini masih utuh miliknya" ujar Ed.
Setuluskah itu kau mencintainya Ed
"Baiklah jika itu keputusan mu" ujar Rey memeluk Ed.
"Aku pergi dulu" lalu Ed pun beranjak pergi meninggalkan Rey sendiri.
Seandainya kau tau Ed bukan hanya dirimu yang tak bisa memiliki dengan utuh. Aku pun tak bisa memiliki mu dengan utuh. Se rumit ini kah? Hingga aku harus tau kau pergi membawa sepenggal hati yang ku miliki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar