Senin, 24 April 2017

The world

Kau tau ketika seseorang begitu tak mempercayai satu hal,  hal tersebut akan selalu buruk di matanya.

Ketika itu kau datang,  aku tak memintanya.. Kau pun tau jika aku tidak percaya akan hal itu, karna aku telah menceritakannya kepadamu. Aku bukan takut,  bukan tak ingin. Aku hanya sadar jika itu tidak dapat bertahan lama bersama ku..  Aku berbeda dengan 'mereka' aku menyadari itu.

Kau mencoba meyakinkan ku,  membuat seolah ini begitu indah. Seolah aku harus mempercayai bahwa ini nyata keberadaannya.  Kau membuat bahwa ini tak seburuk yang ada dalam fikiran ku. Kau terus mencoba.. Dan membuatnya semakin indah. 

Aku ingin menerimanya, membukanya,  sesuatu hal yang selama ini aku jauhi, sesuatu hal yang selama ini begitu bagai medan magnet yang sekutub dengan arah tolak menolak.

Tapi ini salah,  jika aku menerimanya aku akan melenceng dari arah yang seharusnya. Lalu..  Aku memberikan keputusan penuh kepadamu.. Pergi..  Atau tetap.  Aku tak mencegahmu jika kau memilih pergi,  pergi lah sesuka mu. 

Kau memilih tetap,  kau membantah setiap perkataan ku terkhusus 'sesuatu yang akan datang, akan pergi.  Masa itu akan berakhir' lalu kau akan menjawab.  Jika itu tak berarti untuk mu.

Kau mengucap kan kata yang seolah aku milik mu.  Salah kah aku jika aku memiliki fikiran lebih tentang hal itu?  Jika iya,  dimana letaknya?

Hingga aku menyadari itu salah...  Kau menjelaskan semua jika kau hanya bersikap biasa dengan hal yang wajar.  Dimana batas wajar?  Ketika kau terus menerus membuat ku betah berlama-lama menatap layar ponsel ku. 

Aku menjauh.. 

Aku seperti ikan,  yang di pancing oleh seseorang..  Kau mencoba memancing,  dengan memberi umpan berharap akan ada yang terjerat. Sialnya itu aku.  Setelah kau mendapatkan ku,  lalu kau melepas ku.  Dan aku memilih pergi..  Namun..  Mengapa kau menyerok ku kembali dengan sebuah ember?

Yah kau kembali,  lagi dalam kalimat penyesalan yang kau ucapkan untuk ku.  Harus kah ku percaya?  Sayangnya tidak.  Lambat laun kau melemah. 

Ketika aku mengenal mu warna mu ibarat merah,  lalu berubah coklat,  dan sekarang berubah menjadi merah kembali.  Apa mau mu? 

Kau seperti artis yang takut kehilang fansnya.  Tapi kau perlu ingat bahwa seorang fans pun bisa meninggalkan idolanya. 

Kau baik kembali.  Semuanya kembali seperti awal tapi tak berangsur lama,  warna itu berubah kembali menjadi coklat bahkan semakin pekat.  Dan aku memutuskan menjauh.  Sejauh-jauhnya. 

Tapi..  Ada satu hal yang membuat ku kecewa..  Sesuatu yang membuat ku terlihat bodoh di mata diriku sendiri.  kau membuat ku sadar jika ternyata aku salah mengenal mu.  Kau seperti seseorang yang tak punya hati.  Kau membuat seolah-olah aku yang salah,  seolah-olah aku yang mengejarmu.  Seolah-olah aku yang cinta sendirian.  Permainan macam apa ini?  Dan mengapa tak kau ucapkan langsung di hadapan ku?  Karna takut kehilangan fans mu?  Kau perlu sadar,  sejak kau kembali lagi, Aku tak lagi sama hingga sampai saat ini pun, ketika hal bodoh itu menampar keras untuk ku aku bahkan semakin aneh melihat mu. 

Kau.. Pecundang! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar