Selasa, 02 Agustus 2016

Kisah Klasik Series

Gadis ini terus saja memoles wajahnya dengan sedikit bedak yang tertata rapih di atas meja riasnya, baginya setelat apapun ia harus tetap tampil menawan di hari pertama sekolahnya. SMA.. iam ready yippiiii!

"Mampus gue harus cepetan nih" gadis ini pun mengambil ransel nya dan segera turun menuju meja  makan yang ia tahu pasti Papihnya telah pergi terlebih dahulu meninggalkannya.

Gadis ini bernama Maura Maharani Adriana Putri, atau yang biasa di sapa Maura. Maura gadis yang cantik, tubuhnya terlihat skinny dengan rambut yang sepunggung membuatnya terlihat lebih menarik dan menawan, gadis yang populer di sekolahnya dulu. Sejak masa-masa SMP dulu jangan ditanya berapa lelaki yang menyatakan cinta kepadanya, jangan ditanya pula berapa mantan yang pernah singgah di hatinya. Kepintarannya juga yang menambah kharisma di dalam dirinya, begitu banyak perlombaan yang ia menangkan nama sekolah pun menjadi alasan salah satunya untuk membuatnya terus semangat memenangkan perlombaan yang ia ikuti. Baginya itu sudah kewajiban bahkan persembahan yang layak ia berikan kepada tempat yang telah membuatnya terus bertambah pengetahuan di setiap harinya.

kepintaran, Kecantikan, popularitas tak membuatnya  menjadi gadis yang sombong yang begitu di segani oleh banyak orang, bahkan ia malah menjadi seseorang yang begitu banyak memiliki teman di antero sekolahnya. Baik, rendah hati, pintar, cantik, siapa yang tak menyukainya. Namun jika sudah berada dirumah sifatnya pun mulai berubah, menjadi gadis yang manja, cerewet, bawel layaknya seperti gadis pada umumnya namun itu hanya bisa di lihat oleh orang-orang terdekatnya.

Berbeda dengan lelaki yang satu ini, ia begitu tergesa-gesa merapikan barang-barang yang harus ia bawa untuk MOS. setelah ia telah merasa bahwa semua perlengkapannya telah ia bawa ia pun segera kelur kamar, namun ada sesuatu hal yang membuatnya semakin dongkol untuk hari ini.

"Bu... ko sepi banget sih nih meja makan?" sahutnya duduk dan meminum segelas susu yang  hanya tinggal segelas di meja makan tersebut.

"Yah gimana ga mau sepi, orang rumah semuanya sudah berangkat, tinggal kamu doang yang masih di rumah. cepat gih sana kamu berangkat sebelum makin terlambat kamu tiba ke sekolah" ujar sang ibu sembari mengupas sebuah apel di tangannya. Lelaki ini pun segera berangkat ke sekolah, Namun ketika ia melihat ke garasi..

"Bu..... ko motor Dodit engga ada?" tanya lelaki ini sedikit berteriak ketika melihat motor ninja berwarna merahnya tak berada di tempat yang sudah di sediakan. tak lama seorang ibu dengan wajah yang belum terlihat tua itu walaupun telah memiliki 3 orang anak yang telah beranjak dewasa datang menghampiri anak lelakinya itu.

"Hey, kamu lupa yah?" tanya sang ibu yang telah berdiri di depan pintu, Sang anak pun hanya memasang wajah bingung.

"Motor kamu kan masih di gadein ke ibu" sahut sang Ibu dengan santainya sembari melipat kedua tangannya di depan dada.

"Iya bu, Dodit tau, tapi kan dodit cuma mau minjam buat ke sekolah, masalahnya Dodit udah kesiangan banget ini." ujarnya prustasi. yah sebelumnya ia telah mengadaikan motor kesayangannya itu kepada sang ibu, awalnya ia ingin mengadaikan nya dengan teman satu sekolahnya namun sang ibu tak mengizinkannya dan akhirnya sang ibu lah yang membeli motornya, dan jika ia telah memiliki uang yang cukup ia akan menebus kembali motor kesayangannya itu. Lelaki itu pun tak pernah memberi tahu siapapun mengapa ia mengadaikan motor kesayangannya itu dan ketika waktu itu tiba semua orang rumah pun tau ternyata uang gadai motor tersebut di belikan untuk sebuah perhiasaan yang begitu cantik nan indah yang ia persembahkan untuk sang ibu ketika ulang tahun ibunya.

"Kamu telat sih bangunnya, motor mu itu sudah di bawa sama kakamu ke kampus" ujar sang ibu.

"Apa? memangnya motor ka Mawar kemana?" lelaki ini pun mulai kesal mendengarnya, masalahnya ia benar-benar butuh transportasi saat ini. Dan ia pun kesal dengan kakanya satu itu, susah sih kalau punya kaka perempuan tapi jiwanya seperti laki-laki, Cantik tapi tomboy yah gitu lah.

"Katanya sih masuk bengkel, kamu masih mau bertanya apa mau berangkat? waktunya makin nipis loh" ujar sang ibu mengingatkan anak lelakinya itu yang telihat mulai kesal.

"Oh iya, Dodit berangkat bu..." lelaki ini pun segera berlari menuju gerbang rumahnya, yah mau gimana lagi tak ada transportasi yang bisa ia gunakan saat ini selain ia harus berlari sekencang-kencangnya berharap masih memiliki waktu dan dewi fortune pun masih mau berpihak kepadanya.

jangan ditanya kenapa tak naik kendaraan umum, karna itu akan memakan waktu yang lumayan banyak belum lagi beberapa angkot yang harus me-ngetem untuk mendapatkan penumpang yang memenuhi angkotnya. karna kebetulan tak begitu jauh antara rumah lelaki ini dengan jarak sekolah jika ia lewat jalan pasar dan sedikit gang yang hanya berjarak tiga orang saja jika di jajarkan, maka ia memilih untuk berlari, dan karna kebetulan ia telah sering melakukan hal ini jika posisi keadaannya seperti tadi pagi ditambah kesiangan seperti ini.

"Heyyy, anak kutukuprettt, lari gak liat-liat. pakai mata mangkannnya" ujar seorang laki-laki yang mengarahkan telunjuk tangannya kearah orang yang menabraknya.

Namanya Dodit muhammad septian. lelaki yang begitu sangat sulit untuk bangun pagi. Lelaki yang selalu saja kesiangan dan lelaki yang selalu saja mendapatkan sayuran dari abang tukang sayur yang telah ia tabrak. Lelaki yang begitu badung, nakal, iseng, dan tak pernah terlihat rapih walaupun sebenarnya, sifatnya begitu lembut dan begitu menyayangi keluarga terlebih sang ibu. Lelaki yang sering membawa sang ibu ke sekolah karna kesalahan dan kegaduhan yang ia buat. Namun jangan ditanyakan bagaimana rupa lelaki ini, karna lelaki yang memiliki nama lengkap Dodit Muhamad Septian ini memiliki wajah yang begitu tampan, manis dan juga.. berantakan. Yah walaupun berantakan tak sedikit wanita yang menghampirinya, begitu banyak wanita yang ingin menjadi kekasihnya namun tak ada satupun yang mampu memikat hatinya, maksudnya yang benar-benar mampu memikat hatinya. Memang sudah ada beberapa wanita yang ia kenalkan ke ibunya namun yah sekedar kenlkan saja, mungkin bagi para wanita itu menganggap dodit itu serius atau benar-benar menyukai mereka atau menganggap mereka adalah kekasihnya namun bagi dodit sendiri tidak. Dodit hanya menganggap mereka teman biasa tak lebih, jika mereka menganggapnya lebih yasudahlah itu hak mereka, selama itu bisa membuat mereka bahagia kenapa engga.

"Bang... baaang.... awas baangg" dodit terus berlari sembari memberikan isyarat kepada bapak-bapak paruhbaya dengan tangannya agar segera menyingkir, karna ia tidak memungkin untuk memberhentikan larinya yang telah kencang. Dan akhirnya pun.

Bruuuk...

"Dasaaaaarr bocah sableng.. kebiasaan selalu nabrak gerobak ku ini" ujar bapak-bapak tersebut sembari melempar sebuah mentimun ke arah dodit. Dodit yang kebetulan hanya menyenggol gerobak sang bapak hanya nyengir mengengok kearah belakang sembari memberikan gaya meminta maaf dan sekaligus menangkap mentimun yang bapak tersebut lempar.

"Maaf pak, terima kasih yah pa timunnya" ujarnya dan berlari kembali sembari memakan mentimun tersebut. 'Lumayan buat itung-itung sarapan temennya susu' sahutnya dalam hati.

Berbeda dimeja makan tempat lain. Sang adik melihat heran kepada kakanya, perasaan baru 10menit yang lalu ia kekamar sang kaka, kenapa sekarang kakanya sudah rapih dan tiba di meja makannya.

"Iiiiii dasar ka Rio joroook" ujar seorang anak perempuan yang memiliki nama lengkap Nova Dwiputri cahya Wangsih.

"Gausah bawel" sahut lelaki yang di panggil kaka ini sembari memakan roti yang telah ia buat. Ia memiliki nama lengkap Rio Raditya Putra Manik. Anak pertama dari tuan dan nyonya Sean. Sebenarnya ia bukanlah tipikal lelaki yang jorok, hanya saja waktu yang kurang tepat yang membuatnya memilih jalan untuk -tak mandi- saat ini. Namun walaupun lelaki yang memiliki wajah tampan ini tak mandi, ia tetap terlihat tampan bahkan ketampanannya sulit untuk di lunturkan.

Wajahnya yang tampan, postur tubuh yang atletis, tata rambut yang pas membuatnya makin terlihat tampan. Jangan salah banyak yang telah mengantri untuk menjadi kekasihnya, namun entahlah sampai saat ini ia masih saja belum membuka pendaftaran untuk mencari kekasih. Tak ada satu orang pun wanita yang ia bawa sekaligus di perkenalkan kepada orang tuanya. Bahkan ia merasa itu belum saatnya, belum ada wanita yang benar-benar mampu menggeserkan pikiran yang tak sinkron dengan hatinya. Dan perkataan adiknya yang semalam itu lah yang membuatnya kesiangan saat ini. Lelaki yang hobby bermain basket ini telah mengantongi banyak piala yang telah ia persembahkan untuk sekolahnya dulu, jabatan ketua osis pun menambah ia begitu banyak di kenali oleh seantero sekolah dan kepintarannya juga yang membuat ia makin di kagumi oleh para kaum hawa, namun entahlah lelaki ini masih saja sendiri. Tapi tentunya ia bukanlah lelaki yang 'homo' ia hanya saja belum menemukan yang pas, lagi pula pemikirannya masih begitu panjang, ini adalah awal memasuki SMA, masih begitu panjang untuk menemukan satu wanita apalagi dengan ketampanan dan kepintarannya ia pasti akan menemukan wanita itu. Yah pasti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar