Suara deringan telah berulang kali berbunyi, namun sang empunya pun tak kunjung juga membuka kedua matanya. Lupa atau kah memang masih terlelap dalam jagaan sang pencipta mimpi.
"Sayang..."
Tok tok tok suara ketukan pintu pun sudah berulang kali di lantunkan namun tetap saja tak ada
balasan dari dalam kamar tersebut.
"Maura sayang... bangun.. ini udah jam berapa loh, hari ini kan pertama kamu masuk sekolah
sayang..." masih tetap tak ada jawaban.
"Mauraa.. Maura.. bangun sayang.." kini nada yang di keluarkan pun semakin di pertinggi.
Tok.. tok...tok..
"Hoaamm.. mami.." matanya kini mulai terbuka, uapan pun mulai ia lakukan, sayup-sayup ia mendengar suara mami memanggil namanya. Dan ketika pandangan ini jatuh tepat kehadapan jam yang menggantung indah di dinding kamarnya, matanya pun mulai membulat..
"Mamii aku telaaaatt" gadis ini pun segera loncat dari tempat tidurnya dan segera menuju kamar mandi.
"Sepuluh menit Maura turun Mih" ujarnya membalas sahutan sang mamih yang berada di balik pintu
kamarnya.
Berbeda dengan keluarga yang satu ini, semua anggota keluarga mulai sibuk membereskan berkas masing-masing, jam telah menunjukan pukul 6:15 semua pun telah mengumpul di ruang makan.
"Loh, Mah Rio kemana? ko tumben belum turun?" ujar seorang lelaki paruhbaya dengan pakaian yang begitu formal yang membuatnya terlihat begitu gagah.
"Iya, yah Pah, ko tumben banget. Mario.. kamu ga sarapan nak?" wanita yang duduk tepat di sebelah lelaki itu pun segera memanggil nama anaknya tersebut, namun tetap saja tak ada balasan dari sang empu nama tersebut.
"Bentar deh Pah, Mah, biar Nova panggil ka Mario ke atas" kini gadis yang begitu duduk di sebrang
wanita yang ia sebut dengan sebutan Mama pun mulai beranjak dari kursinya dan berjalan kearah tangga untuk memanggil sang kaka.
Tok..tok tok tok....
"Ka Rio.. ka udah di tungga sama Mama Papah tuh di bawah" tetap saja tak ada balasan.
"Ka Rio..." suara ketukan pintu masih saja terdengar namun pintu tersebut belum juga terbuat.
Tok..tok..tok..
"Ka..." belum selesai mengetuk pintu tiba-tiba sang kaka pun muncul dari balik pintu.
"Apa sih Nova, berisik banget" laki-laki dengan dibalut celana boxer dan kaos polos berwarna putih pun keluar sambil menguap. sang adik yang melihat kondisi kakanya saat ini pun hanya bisa diam dengan tampang kagetnya sedangkan sang kaka hanya memperlihatkan wajah bertanya namun tak lama kemudian mimik muka tersebut berubah menjadi panik dan.. "Sekarang pukul 6:15" ujar sang adik dengan gaya melihat jam yang terpasang cantik di pergelangan tanganya.
"Mampus telat!" ujar lelaki ini dan segera berlari kearah kamar mandi, meninggalkan sang adik yang masih berdiri cantik di depan pintu kamarnya. Nova pun hanya menggelengkan kepalnya dan turun ke lantai bawah untuk memberitahukan kepada kedua Orangtuanya bahwa kakanya yang tampan satu itu kesiangan.
"Ah gara-gara kepikiran yang semalem sih" gumam lelaki ini dan segera masuk ke kamar mandi.
Ditempat yang lain seorang lelaki masih dengan nyenyak dan berjalan-jalan di alam mimpinya, tak mengubris suara panggilan, ketokan bahkan gedoran pintu sekalipun, Ia hanya akan bangun bila mendengar suara deringan alarm yang telah ia setel tadi malam tepat pukul 5: 30 am, jadi, Ia yakin kali ini Ia pasti tidak akan telat.
"Dodit bangun..." suara seorang ibu memanggil nama anaknya memang lah sangat merdu bila ibu tersebut memanggilnya dengan lembut, namun harus selembut apa lagi jika Ia telah memanggil nama anaknya berulang kali namun tak pernah ada balasan dari sang anak.
Dari Ayah, Ibu, Adik bahkan sang kakanya pun telah membantu membangunkannya dengan cara memanggil namanya dan mengetuk pintu kamarnya, namun tetap saja seperti tidak ada kehidupan di balik pintu sana.
"Dodit bangun..." ujar sang ayah, tak lama kemudian sang ibu pun ikut memanggilnya.
"Dit, bangun dit.." setelah sang ibu yang memanggil namanya sang adik pun ikut membantu membangunkannya dengan cara memanggil nama Abangnya tersebut.
"Bang, bangun bang. Bang Dodit bangun... tok..tok..tok.." masih tetap saja tak ada balasan
"Tok..tok..tok.. Dit bangu... emangnya ga mau masuk sekolah? ini ajaran baru loh, pertama kali masuk SMA" dan hasilnya pun nihil tetap saja tak ada sautan. Dan saat itu juga orang rumah pun lelah untuk membangun kannya. Jika Ia nanti bangun berarti Ia akan telat, Namun jika Ia akan bangun tetapi pukul 9;00 am itu tandanya Ia akan tidak masuk di hari pertama ia SMA.
KRRIIINGGGGGGG !!!
"Buset dah, nih suara alarm nyaring amat ya, Hooaamm, akhirnya gue bisa bangun pagi juga, ga sia-sia gue pasang alarm hp make aerphone, hahaha untung kaga jatoh nih dari telinga gue" lelaki ini pun mengucek kedua matanya dan ingin segera bangun untuk berapih-rapih karna hari ini, Ia siap memulai hari baru, namun ketika ia melihat layar ponselnya.
"Ko jam 6:30 am yah" wajahnya yang awalnya ceria kini menjadi heran.
"Perasaan gue setelnya jam 5;30 deh, wah hp gue eror nih kayanya" ujarnya kembali dan menaruh ponselnya kembali di sebelahnya, lalu ia berdiri menghadap ke jendela luar namun siapa sangka kalau pandangannya tertuju kepada jam dinding yang berbentuk bola yang terpasang cantik di dinding kamarnya.
"Mati luh, hp gue ga eror" brak bruk gedubrak gedubruk suara tersebut tercipta begitu saja ketika sang empu menyadari bahwa ia telah kesiangan untuk kesekian kalinya, dan sebentar lagi harapannya untuk datang pagi ke sekolah sudah pudar. Yang ada di fikirannya sekarang, Ia berharap kalau Ia masih ada sedikit waktu agar tak telat.
"Mampus telat!" ujar lelaki ini dan segera berlari kearah kamar mandi, meninggalkan sang adik yang masih berdiri cantik di depan pintu kamarnya. Nova pun hanya menggelengkan kepalnya dan turun ke lantai bawah untuk memberitahukan kepada kedua Orangtuanya bahwa kakanya yang tampan satu itu kesiangan.
"Ah gara-gara kepikiran yang semalem sih" gumam lelaki ini dan segera masuk ke kamar mandi.
Ditempat yang lain seorang lelaki masih dengan nyenyak dan berjalan-jalan di alam mimpinya, tak mengubris suara panggilan, ketokan bahkan gedoran pintu sekalipun, Ia hanya akan bangun bila mendengar suara deringan alarm yang telah ia setel tadi malam tepat pukul 5: 30 am, jadi, Ia yakin kali ini Ia pasti tidak akan telat.
"Dodit bangun..." suara seorang ibu memanggil nama anaknya memang lah sangat merdu bila ibu tersebut memanggilnya dengan lembut, namun harus selembut apa lagi jika Ia telah memanggil nama anaknya berulang kali namun tak pernah ada balasan dari sang anak.
Dari Ayah, Ibu, Adik bahkan sang kakanya pun telah membantu membangunkannya dengan cara memanggil namanya dan mengetuk pintu kamarnya, namun tetap saja seperti tidak ada kehidupan di balik pintu sana.
"Dodit bangun..." ujar sang ayah, tak lama kemudian sang ibu pun ikut memanggilnya.
"Dit, bangun dit.." setelah sang ibu yang memanggil namanya sang adik pun ikut membantu membangunkannya dengan cara memanggil nama Abangnya tersebut.
"Bang, bangun bang. Bang Dodit bangun... tok..tok..tok.." masih tetap saja tak ada balasan
"Tok..tok..tok.. Dit bangu... emangnya ga mau masuk sekolah? ini ajaran baru loh, pertama kali masuk SMA" dan hasilnya pun nihil tetap saja tak ada sautan. Dan saat itu juga orang rumah pun lelah untuk membangun kannya. Jika Ia nanti bangun berarti Ia akan telat, Namun jika Ia akan bangun tetapi pukul 9;00 am itu tandanya Ia akan tidak masuk di hari pertama ia SMA.
KRRIIINGGGGGGG !!!
"Buset dah, nih suara alarm nyaring amat ya, Hooaamm, akhirnya gue bisa bangun pagi juga, ga sia-sia gue pasang alarm hp make aerphone, hahaha untung kaga jatoh nih dari telinga gue" lelaki ini pun mengucek kedua matanya dan ingin segera bangun untuk berapih-rapih karna hari ini, Ia siap memulai hari baru, namun ketika ia melihat layar ponselnya.
"Ko jam 6:30 am yah" wajahnya yang awalnya ceria kini menjadi heran.
"Perasaan gue setelnya jam 5;30 deh, wah hp gue eror nih kayanya" ujarnya kembali dan menaruh ponselnya kembali di sebelahnya, lalu ia berdiri menghadap ke jendela luar namun siapa sangka kalau pandangannya tertuju kepada jam dinding yang berbentuk bola yang terpasang cantik di dinding kamarnya.
"Mati luh, hp gue ga eror" brak bruk gedubrak gedubruk suara tersebut tercipta begitu saja ketika sang empu menyadari bahwa ia telah kesiangan untuk kesekian kalinya, dan sebentar lagi harapannya untuk datang pagi ke sekolah sudah pudar. Yang ada di fikirannya sekarang, Ia berharap kalau Ia masih ada sedikit waktu agar tak telat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar