Minggu, 14 Agustus 2016

Edelwei untuk dandelion (5)

Pagi yang cerah untuk kerajaan Baterfli, sinar rembulan yang telah menyinari kegelapan kini telah di gantikan dengan indahnya matahari yang menyinari dan dengan senang hati memberikan sinarnya untuk Baterfli.
Sang Ratu telah menceritakan semuanya kepada putri Edelweis dan Ratu Maharani takut akan tekad Putri nya tersebut yang berniat untuk membalas dendam, lalu sang Ratu menceritakannya kepada sang Raja, Ia tak ada niat untuk membuka luka lama, ia hanya saja berfikir sudah waktunya Putri Edelweis mengetahuinya juga, mungkin dengan begitu sang Putri bisa menjaga diri dari ancaman lelaki itu, lelaki yang sebenarnya pernah berada di pelukan hangatnya dulu.
"Edelweis.." belum saja sang Raja menyelesaikan ucapannya sang Putri pun memotongnya.
"Tak baik Ayah jika berbicara di ruang makan" ucap Edelweis dan segera menghabiskan makanannya. Ia tahu pasti Ayahnya akan membahas soal ini, soal saudara tirinya yang ingin ia habiskan. Entahlah, awalnya Ia hanya penasaran dengan lelaki itu, tak ada rasa marah, atau dendam sekalipun lelaki itu telah menyakitinya namun setelah Ia mendenger cerita yang sang Bunda ceritakan, tiba-tiba rasa dendam ini muncul, Ia merasa ingin menghabisi lelaki itu, karna Ia tahu bahwa lelaki ini juga memiliki niat yang sama kepadanya. Ia yakin lelaki ini tak akan tinggal diam saja melihat kebahagiaan yang telah tercipta selama ini di keluarga kami. Dan Ia ingin menghancurkannya dengan cara melewati aku, dengan begitu Ayah akan mencarinya, meminta maaf kepadanya dan mengangkatnya sebagai pangeran sekaligus raja sebagai pengganti Ayah dan Ia juga akan menyakiti Bunda dan aku, tidak akan tinggal diam.
"Edelweis! Bunda mu telah menceritakan semuanya kepada Ayah. Ayah pertegas kepada mu agar melupakan semuanya" sahut sang baginda Raja dengan nada tinggi.
"Melupakan apa?" Tanya putri Edelweis dengan mimik wajah datar.
"Apa Bunda sudah melupakan rasa sakit itu? Apa Ayah bisa merasakan rasa sakit yang Bunda rasakan? Apa Bunda bisa melupakan semuanya? Apa kenangan itu dapat hilang dari ingatan kalian? Sejarah kalian? Kisah kalian?.." putri Edelweis terus saja bertanya dengan geram, kesal, kecewa, amarah, semua seolah menjadi satu yang membuatnya menggebu-gebu.
"Cukup Edelweis!" Kini sang Ratu yang mengangkat bicara dengan gertakan meja yang begitu keras. Dan itu mampu membuatnya seketika diam lalu pergi meninggalkan ruang makan. Dan tanpa sadar setetes air mata pun jatuh dari kelopak mata sang ratu.
"Maafkan Aku" ujar sang Ratu tanpa memandang sang Raja, lalu ikut bangkit pergi meninggalkan ruang makan.
Sang Raja hanya bisa diam menundukkan kepalanya. Ini semua salahnya, mengapa Ia tak pernah berfikir terlebih dahulu sebelum melakukannya. Kini luka lama harus terbuka kembali, bahkan dendam sudah mulai menguasai nya kini. Tak lama sang Raja pun pergi meninggalkan ruang makan.

Suara ketukan pintu pun mewakili terbukanya pintu, seorang lelaki yang gagah masuk mendekatinya, berdiri di sebelahnya, merangkulnya dengan erat.
"Maafkan Aku" ujar lelaki ini dengan lebih mengeratkan rangkulannya. Tak ada balasan yang di berikan oleh sang Ratu. Ia masih diam terpaku menatap kearah luar pemukiman. Begitu banyak aktivitas yang terjadi di luar sana.
"Seharusnya sedari dulu Aku men.." ujarnya lagi.
"Jadi Kau menyesal dengan keputusan mu untuk menetap dengan ku?" tanya sang Ratu.
"Dengar, Aku tak akan pernah marah dengan apa yang telah Kau perbuat. Itu hak mu. Aku tidak akan pernah melarangnya, dan jika Kau bertanya mengapa Aku tidak memilih untuk pergi meninggalkan ku ketika Aku menngetahui hal itu. Karna Aku tidak ingin melukai kedua Orang tua Ku dan mejatuhkan Harga diri Kerajaan Kita." ujar Sang Ratu dan memilih untuk pergi meninggalkannya sendiri, namun Sang Raja menahannya.
"Aku akan menebusnya." ucap Sang Raja.
"Aku hanya tidak ingin adanya pendedaman dan pertikaian" ucap sang Ratu berjalan kearah luar.
"Dan aku tidak ingin Putri ku celaka" ucapnya kembali dan melanjutkan jalannya.
"Tidak akan" lirih Sang Raja.

ketika itu fajar mulai terbenam, Sang Raja terus saja memacu kudanya lebih dalam kearah hutan, Ia tahu pasti perempuan itu dan anaknya tinggal di sana, terlebih, Edelweis sering mendatangi tempat ini.

"Valensia keluar Kau!" ujar Sang Raja.
"Aku tahu Kau disini" ujarnya kembali.
"Keluar Kau Valensia" teriaknya.
"Bisa kah kau lebih sopan untuk bertamu Sang Raja yang terhormat" seorang perempuan dengan rambut panjang ikal yang berwarna gray keluar menghampiri sang Raja. Sang Raja pun turun menghampiri perempuan tersebut.
"Untuk Apa Kau kemari?" tanyanya.
"Jauhi keluarga Kami" ujarnya.
"Dan beritahu kepada Putramu untuk tidak menyakiti putri ku" ujarnya kembali.
"Apa Kau lupa Raja yang terhormat jika Dia juga Putra mu" ujar perempuan ini dengan geram. Sang Raja hanya Diam menahan Amarah.
"Dia tak akan menjadi seorang penjahat jika saja Ayahnya menyayanginya dan menganggapnya seorang Anak tanpa mengusir dari rumah yang seharusnya ia tinggali saat ini" ujar perempuan ini.
"Apak Kau lupa sesuatu Valensia. Bahwa Kau yang menghancurkan semuanya. Kau ingin membunuh Maharani dan menghabisi nyawanya" ujar Sang Raja geram.
"Hey, mengapa Kau sebegitunya Marah? bukankah Kau tak mencintainya? untuk apa Kau merasa kehilangan dan marah ketika Aku ingin membunuhnya? bukankah jika dia Mati Kita akan bahagia bersama" ujar Valensia dengan merangkul sang Raja.
"Tutup mulutmu Bedebah!!" ujar sang Raja melepaskan rangkulan Valensia.
"Untuk apa harus Marah Randana. Kau tak mencintainya bukan. Sampai saat ini pun Aku tahu jika kau tetap tak Mencintainya dan kau tetap mencintai ku bukan"
"Kau salah" ujar Sang Raja.
"Aku mencintainya" ujarnya kembali.
"Kau pikir semuanya tidak akan berubah? Hei dengar baik-baik, cinta akan datang dengan sendirinya. dengan berjalannya waktu, dan dengan terbiasa. Ingat itu" ucap Sang Raja dengan meniaki kudanya.
"Dan aku tidak akan tinggal diam jika dia menyakiti Putri ku" ucapnya kembali dan pergi meninggalkan hutan tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar