"Hai namaku Marcelia, biasa di panggil Lia. Aku kelas 3 sd, umur ku 8thn. Aku gak tau apa yang sedang terjadi dengan Bunda dan Ayah ku. Kalian mau mendengar cerita ku tidak? Aku akan bercerita tentang keluarga ku. Masih teringat jelas dalam ingatan ku saat Bunda dan Ayah mengajak ku ber-rekreasi, tertawa berasama, bercanda sesekali Ayah menggoda Bunda. Menggoda ku juga. Kami pergi ke Ragunan walaupun hanya ke Ragunan, aku senang sekali kami saling menyayangi satu sama lain. Aku bahagia melihat senyum Bunda dan tawa Ayah, aku sayang sama mereka.
Kami juga pernah makan bersama di salah satu rumah makan Padang, waktu itu aku kepedesan dan Bunda panik karna melihat wajah ku yang memerah dan ayah hanya tersenyum. Ayah menyebalkan.
Kami juga sering pergi ke Mall, Bunda yang sering belanja aku dan Ayah sampai cape ngikutin Bunda. Tapi sekarang... Aku gak tau apa yang sedang terjadi di antara mereka, aku kangen mereka yang dulu. Mereka hanya berdiam walaupun berada di lingkungan yang sama, yang lebih anehnya mereka seperti orang asing yang tak mengenal satu sama lain. Tak ada tawa, tak ada canda, semuanya menjadi sepi tak jarang aku di tinggal sendirian dirumah. Aku tau ko mereka mencari uang untuk ku tapi aku kesepian kalau mereka tak pernah ada waktu lagi untuk ku. Mereka pergi pagi sebelum aku bangun atau bahkan saat aku baru saja bangun dan pulang saat aku sudah terlelap nyenyak dalam mimpi ku. Ayah... Bunda... Lia kangen kalian" ujar Lia di depan semua teman-temannya, air matanya mulai turun begitu pun dengan teman-temannya mereka sedih mendengar cerita lia. Lia orang yang selama ini tertawa dan ceria tak menyangka bahwa ia kangen akan kasih sayang kedua orang tuanya. Sang ibu guru pun terharu akan mendengar cerita nya.
"Aku kangen pelukan Bunda, Aku kangen di bacain dongeng sama Ayah, Aku kangen duduk di pangkuan Bunda, kapan Ayah akan mencari ku lagi sepulang dari kantor seperti dulu, kapan Ayah gendong aku lagi, kenapa Ayah gak bantuin Lia ngerjain Pr lagi, oh yah teman-teman, aku sendirian loh dirumah kenapa kalian gak pernah main kerumah aku,?" tanya lia kepada teman-temannya sambil mengusap air matanya dengan kedua telapak tangannya. tingkahnya sungguh sangat lugu.
"emangnya ada apa di rumah mu?" tanya salah satu temannya.
"Ada banyak mainan loh, ada piano juga aku sering mainin pianonya, aku bisa" sahutnya dengan senyuman.
"Lia beneran bisa? kalo bener bisa ayo keruang musik, kalian mau kan anak-anak melihat lia bermain piano?" tanya sang guru yang beranjak dari kursinya.
"Mau bu...." jawab murid-murid serempak. lalu mereka pun ke ruang musik bersama-sama.
***
Lia mulai menekan tuts-tuts itu satu demi satu hingga menghasilkan nada-nada yang indah dan suara khas anak kecil itu pun mulai terdengar, memang tak sebagus seperti penyanyi aslinya namun ia sudah cukup berami untuk bernyanyi dan bermain piano di depan teman-temannya.
Hanya satu pintaku tuk memandang langit biru dalam dekap seorang ibu...
hanya satu pintaku tuk bercanda dan tertawa di pangkuan seorang ayah..
apabila ini hanya sebuah mimpi ku selalu berharap dan tak pernah terbangun..
hanya satu pintaku tuk memandang langit biru di pangkuan ayah dan ibu..
setelah selsesai Lia menangis dengan mengucek matanya
"Lia kenapa nangis?" tanya sang guru.
"Lia kangen Bunda sama ayah, Lia mau kaya dulu, Lia mau ayah sama Bunda baikan, Lia mau ketawa, bercanda sama bunda sama ayah, lia mau liat senyum bunda. Kalo itu semua bisa tercapai walaupun dalem mimpi lia juga mau ko, gapapa lia gak mau bangun malah hhuhuhu...." ucap lia dengan penuh isakan entah mengapa sang guru pun ikut menangis.
"Lia jangan nangis kan ada kita" ucap teman-temannya.
"Kan ada ibu guru juga" ucap sang guru sambil mengusap pucuk rambut lia.
"Mkasih yah teman-teman, makasih juga ibu guru." ucapnya, Lia pun tersenyum dan membalas pelukan sang guru serta teman-temannya yang lain...
Yyeeyyy kelar, gimana menurut kalian?? Yah maaf-maaf aja yah kalo masih ada kekurangannya.. Happy enjoy next time
Tidak ada komentar:
Posting Komentar