Ga tau harus mulai darimana, harus cerita darimana, karna aku ingat sekali aku selalu menceritakannya kepadamu.
Sayang, kau bilang menjalin hubungan itu tidak perlu takut, ga boleh ragu. Kalau takut dan ragu udahan saja. Kalimat yang sering kau ucapkan.
Sayang, aku menyayangimu, selalu. Dan selalu begitu. Jujur, memang iya ada beberapa hal yang sedang menyangkut dalam pikiran ku akhir-akhir ini. Tidak mungkin kalau kau tidak mengetahuinya. Aku selalu menceritakannya dengan mu. Selalu, jika kau menolak mengatakan iya kau pasti tidak ingat.
Sayang, aku cemburu entah dengan siapa pun itu. Aku gelisah, dan selalu pemikiran buruk yang ada di pikiran ku. Ya memang itu semua ada di aku permasalahannya. Kau lelah dan cape untuk menjelaskannya berulang ulang kali kalau hanya ada aku satu satunya. Tapi maaf ingin sekali aku mempercayai hal itu tetapi tidak bisa. Entahlah ada pemikiran bahwa, aku akan selalu menjadi sebagian kecil dari hati kamu. Hanya sebagian kecil.
Sayang, bukankah di awal sudah ku ceritakan kalau ragu sudahi saja. Aku tidak bisa. Aku masih menunggu kamu untuk meyakinkan aku. Selalu, aku selalu menunggu kamu.
Kenapa? Kenapa selalu hal seperti itu yang ada di pikiran ku? Bukan hanya dirimu saja yang lelah, aku tau kau pasti bosan dengan alasan semua yang ku ceritakan. Aku pun cape, dan selalu bertanya tanya, kenapa hal ini lagi dan hal ini lagi.
Tentang lemahnya aku, pemikiran aku yang selalu menyatakan kau pasti punya yang lebih asik daripada aku. Tentang kekurangannya aku dan segala hal yang tak bisa ku lakukan untuk mu. Tetapi itu semua beralasan. Sebab dan akibat yang pernah ku ceritakan kepadamu pasti kau lupa atau bahkan tak pernah kau baca sedikitpun.
Sayang, kau pasti jenuh dan bosan dengan omongan konyol ku yang membuat mu geram. Aku hanyalah satu satunya, katamu. Tapi aku belum bisa melihat itu. Ku sakit, ku kecewa, ku cemburu, itu saja tak pernah bisa kau lihat. Aku bukan robot yang selalu baik. Aku juga bisa seperti mu.
Bukannya aku tak mempercayaimu dan meyakinkan mu, hanya saja itu yang sedang aku rasakan saat ini. Tak ingin pergi. Aku ingin bersama mu. Hanya saja, saat ini aku sedang membiasakan perasaan ku. Menerima Gelisah ini sendirian. Kau tak perlu tau, kau tak perlu merasakan hal yang asing biarin aja aku sendiri yang menyelesaikannya. Walau jujur terkadang sakit rasanya, aku memiliki kamu, tapi aku merasa sendirian.
Jika kau menyangkal bahwa aku tak pernah menceritakannya. Sudah ku jelaskan berulang kali. Coba lah ingat berapa kali aku chat dengan kalimat yang sangat panjang, aku tak yakin apakah kau membacanya ku rasa tidak, kau seakan lupa dan merasa semua baik baik saja. Kau sesekali hanya mengucap, "Aku ngerasa beda" Saat itu lah aku takut. Sangat takut. Kau tau apa yang ku takuti.
Ku takut kau jenuh, bosan dengan masalah yang ini ini terus, lalu mencari hal yang lain, hubungan kita akan berantem terus dan akhirnya kau akan mendiamiku untuk beberapa hari. Aku terima, mungkin aku yang salah karna tak bisa menahan perasaan sakit ini sendirian, sehingga membuat hubungan kita menjadi cekcok terus.
Ku takut kau akan nyerah, dengan sikap kekanak kanakan ku. Aku cuma perempuan biasa, yang baru pacaran sekali, dan memiliki hati yang sempit.
Jika kau tanya apa yang kurasakan saat ini. Sedih, kesepian, sakit, kecewa, sendirian, hampa, hambar, ragu, tetapi kau perlu tau satu hal. Selama kau merasa baik baik saja dengan ku, cara kita mengobrol baik baik saja dan kau merasa tak ada apa apa disitu lah aku bahagia.
Kau kebahagian ku sayang,
Sayang, terkadang aku berpikir, apa kurang ku? Aku tak begitu jelek jika di lihat, aku pintar, aku baik, aku penyayang, aku mandiri, aku tak banyak minta hal dari mu. Kecuali merubahmu menjadi lebih baik. Aku Terima kamu apa adanya. Tetapi kalimat itu semua seakan runtuh dengan pemikiran...
Aku tak bisa apa apa, tak bisa memberikan yang kamu mau, tak bisa menemanimu begadang, tak bisa menemani mu nongkrong, tak bisa menemanimu menyanyi, tak bisa menemani mu jalan jalan. Dan aku hanyalah perempuan rendah di banding mereka semua yang ajak ngobrol kamu.
Bukan aku berarti mengekangmu, tidak. Hanya saja mungkin jujur menjadi solusi untuk kita saat ini. Aku tidak melihat kejujuran di kamu. Pasti sakit membacanya bukan? . Aku tau apa yang ada di pikiran mu saat ini.
"Aku udah yakin sama kamu. Emak juga udah suka. Ga mungkin kalo aku tidak serius sama kamu, masa keseriusan aku kaya gini gabisa kamu liat sih. Aku kerja buat kamu"
Kamu pasti akan berbicara seperti itu.
Pacar kamu perempuan dengan hati yang lemah sayang. Perasaan aku berantakan rasanya, entah bagaimana cara memperbaikinya, aku juga bingung tapi aku akan coba menyelesaikannya sendiri. Aku bisa.
Kau tak perlu merespon apa apa tentang ini. Cukup pura pura tak tau membuatku merasa lebih baik. Karna aku tau. Ketika ini ku berikan ke padamu, respon mu akan berubah.
Hubungan kita akan semakin cekcok dan kita akan merasa asing satu sama lain. Aku tidak mau seperti itu, aku takut. Selalu takut. Anggap saja ini semua adalah dongeng pendek yang ku ceritakan kepadamu tentang pasangan lain.
Aku tak bisa menceritakannya langsung di hadapan mu, karna mungkin aku akan menangis. Kau tau kan, perempuan mu ini hatinya lemah, dan cengeng. Aku lebih baik chat dari pada harus ngomong ke kamu. Aku gabisa hehehe. Mungkin suatu hari kamu akan ngerti soal aku, tanpa perlu aku menjelaskannya seperti ini.
Rasa sayang aku tidak pernah berubah. Sama sekali tidak. Semua aku yang salah, biar aku memperbaikinya dan membiasakan perasaan aku yang seperti ini.
Sayang Seperti yang pernah sering ku bilang.
Kau tak perlu khawatir, aku disini. Sama kamu, nemenin kamu selalu.
Tiyas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar