Hari yang melelahkan, banyak hal yang harus di bereskan. Seketika getaran handphone membuyarkan pikiran ku.
Renata
La, lu putus sama bang Reka?
Begitulah isi pesan yang kubaca. Seketika ku menghela nafas. Dan mengingat kejadian itu. Namun lagi lagi ada suatu hal yang membuyarkan pikiran ku.
Tok tok tok
"Iya sebentar"
tak ada orang batin ku, aku pun kembali masuk namun pandangan ku tertuju kepada secarik amplop putih yang berada tidak jauh dari hadapan ku. Aku pun mengambilnya, melihat sekeliling ku, tidak ada siapapun lalu membawanya masuk.
Amplop apa ini gumam ku. Aku pun segera membukanya, dan terlihat sepucuk kertas yang sepertinya, seperti surat. Aku pun segera membacanya.
Tak ada yang berbeda, semuanya masih dengan sama. Hanya saja, hati ini yang sudah tak lagi dimiliki siapa pun. Aku terlalu sibuk dengan apa yang sedang aku kerjakan. Aku bagaikan manusia yang kekurangan waktu di tiap harinya. Rasanya aku tak bisa menikmati diriku sendiri hanya untuk sekedar mengistirahatkan tubuh yang aku punya. Aku tak lagi dengan lelaki itu. Aku hanya memiliki rasa sayang yang sepertinya tak cukup jika hanya itu yang di berikan dalam suatu hubungan. Tak pernah ku memberi suatu hal yang dimana perempuan lain dengan mudah memberikan nya. Layaknya seperti waktu yang cuma untuk bercengkrama. Liburan menghilangkan penat, bahkan bertemu sebentar pun tak bisa kuberikan. Entahlah apa yang sedang ku cari sehingga aku seperti pelari yang terus saja berlari namun tak sampai di garis finish. Kini tak ada lagi yang menarik. Hidupku hanyalah sekedar bernafas, bekerja, dan bersyukur masih di berikan nafas kembali. Hanya itu. Tidak menarik bukan? Ya memang, aku pun berfikir seperti itu. Siapa yang bisa nerima seorang perempuan yang hanya memiliki rasa sayang saja, sebesar apapun itu rasa sayang itu, tetap saja dia tidak merasa berguna dalam hubungannya. Aku menyuruh nya pergi dan dia tak kembali seperti di film edelweis untuk dandelion
Seperti itu isi surat dalam amplop putih . Mengapa surat ini seperti kisahnya, menurutnya hanya dia dan mantan kekasih lah yang tau alasan mereka berpisah. Aku pun berjalan ke sofa lalu mengambil ponselku, mengetik beberapa kalimat dan membrowsing film yang dimaksud oleh surat itu. Tak lama munculah beberapa artikel mengenai film tersebut. Aku pun segera mencari tau.
Setelah selesai membaca beberapa review atas film tersebut. Aku pun tertegun, Ternyata yang tertera di tulisan tersebut merupakan isi dari film tersebut. Yang dimana ia merasa aneh dengan kisahnya.
Di akhir film tersebut. Sang perempuan pemain utama menuliskan sebuah surat yang iya tulis untuk dikenang suatu hari nanti. Surat untuk dirinya sendiri. Di buat dan akan di berikan serta dibaca oleh dirinya sendiri. Sebagai arti perluapan apa yang sedang ia rasakan saat ini.
Hm menulis surat gumam ku. Sepertinya aku butuh melakukan seperti itu untuk melepaskan sedikit rasa sesak ku.
Aku pun mulai menulis surat dengan sebuah pena kesayangan ku. Paragraf demi paragraf mulai menjalin menjadi sebuah cerita yang berkelit.
Ketika telah selesai menulis aku pun membacanys ulang. Namun ada yang aneh rasanya. Surat ini, surat yang baru saja aku tulis. Sama seperti surat yang aku baca dan temukan di depan rumah. Aku pun menyamai kalimat demi kalimat. Tata letak titik, koma dan tanda tanya yang ada dalam surat yang aku buat sama seperti surat yang aku temukan. Mengapa bisa seperti itu, aku pun bertanya-tanya. Jika aku bisa mengingat apa yang aku baca lalu menulisnya, tidak dengan paragraf yang begitu banyak dan tata letak tanda yang sama bukan.
Jadi apakah surat ini, dibuat, dikirim, dan dibaca kan oleh aku. Diriku sendiri kah?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar