Rabu, 01 November 2017

kepergian mu


Kepergian mu

Sejak kau memilih ku untuk menjadi salah satu seseorang yang akan membuat mu bahagia, aku menerimanya. Sejak kau memilih ku untuk selalu memberikan warna di dalam hidup mu aku menerimanya. Sejak kau memilih untuk siap singgah di hati yang rapuh ini kau berhasil membuat ku bahagia.

Ay, ingatkah ketika kau berjalan dengan begitu santainya dan berkata “aku ingin seperti balon yang bisa terbang bebas” aku hanya tertawa mendengarnya. Dan aku pun berkata “balon mah fisiknya doang yang gendut tapi isinya Cuma angin kosong  tau” dan kau pun membalas “tapi setidaknya aku banyak membagikan kebahagiaan untuk sebagian anak-anak kecil” dan jawaban itu berhasil membuat ku tersenyum memandang mu.

Ay, ingat tidak ketika aku minta untuk di belikan es krim? Kenapa kau malah membelikannya sebuah bunga matahari? Ah kau ini terkadang suka tak masuk akal. Dan dengan santainya kau bilang “bunga matahari itu tanda kebahagiaan tau, itu tandanya aku mau hari ini kau ceria dan bahagia terus seperti bunga matahari ini” ah jawaban mu sontak membuat ku jadi ingin membeli eskrim lebih dari satu lagi untuk saat itu.

Ay, ingat kan ketika beberapa hari kita baru kenal, kau me-ngechat  menanyakan aku sedang dimana lalu kujawab “dimana saja boleh” dan tak lama kau pun datang di depan rumah ku dengan membawakan ku sebuah coklat kau bilang “habiskan pokoknya” lalu kau pulang dengan begitu saja, yang aku anehkan kenapa kau bisa tau aku sedang ingin makan coklat sedangkan aku tidak menge-post apapun yang memberitahukan bahwa aku ingin coklat saat itu.

Ay, ingat tidak saat kau menemaniku untuk ke toko kaset sebrang story book kedai di jalan Moh, Yamin. Kau selalu mengoceh memberitahukan ku lagu-lagu yang kau suka dan tak jauh jauh dari lagu westlife, dan saat itu ada satu lagu yang baru kau dengar di toko tersebut dan kau bilang kau suka lagu tersebut dan kau akan menyanyikannya nanti khusus untuk ku “if I’am james dean youre Audrey Hepburn” begitulah judulnya.

Ah Ay, begitu banyak kenangan yang jika ku sebutkan satu persatu tidak akan ada habisnya, tapi mengapa kau memilih untuk pergi? Mengapa tak tetap untuk tinggal?

“kita udah gabisa jalanin ini bareng- bareng lagi, aku minta kita putus, lupain semuanya, semua yang udah pernah terjadi. Aku, kamu, kita, udah bukan siapa-siapa lagi”


Entahlah aku gatau apa yang ada di fikiran mu saat itu, semudah itukah? Bagaimana dengan perasaan ku?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar