Kepergian mu
Sejak kau memilih ku untuk menjadi salah satu seseorang yang
akan membuat mu bahagia, aku menerimanya. Sejak kau memilih ku untuk selalu
memberikan warna di dalam hidup mu aku menerimanya. Sejak kau memilih untuk
siap singgah di hati yang rapuh ini kau berhasil membuat ku bahagia.
Ay, ingatkah ketika kau berjalan dengan begitu santainya dan
berkata “aku ingin seperti balon yang bisa terbang bebas” aku hanya tertawa
mendengarnya. Dan aku pun berkata “balon mah fisiknya doang yang gendut tapi
isinya Cuma angin kosong tau” dan kau pun
membalas “tapi setidaknya aku banyak membagikan kebahagiaan untuk sebagian
anak-anak kecil” dan jawaban itu berhasil membuat ku tersenyum memandang mu.
Ay, ingat tidak ketika aku minta untuk di belikan es krim? Kenapa
kau malah membelikannya sebuah bunga matahari? Ah kau ini terkadang suka tak
masuk akal. Dan dengan santainya kau bilang “bunga matahari itu tanda
kebahagiaan tau, itu tandanya aku mau hari ini kau ceria dan bahagia terus
seperti bunga matahari ini” ah jawaban mu sontak membuat ku jadi ingin membeli
eskrim lebih dari satu lagi untuk saat itu.
Ay, ingat kan ketika beberapa hari kita baru kenal, kau
me-ngechat menanyakan aku sedang dimana
lalu kujawab “dimana saja boleh” dan tak lama kau pun datang di depan rumah ku
dengan membawakan ku sebuah coklat kau bilang “habiskan pokoknya” lalu kau
pulang dengan begitu saja, yang aku anehkan kenapa kau bisa tau aku sedang ingin
makan coklat sedangkan aku tidak menge-post apapun yang memberitahukan bahwa
aku ingin coklat saat itu.
Ay, ingat tidak saat kau menemaniku untuk ke toko kaset
sebrang story book kedai di jalan Moh, Yamin. Kau selalu mengoceh
memberitahukan ku lagu-lagu yang kau suka dan tak jauh jauh dari lagu westlife,
dan saat itu ada satu lagu yang baru kau dengar di toko tersebut dan kau bilang
kau suka lagu tersebut dan kau akan menyanyikannya nanti khusus untuk ku “if I’am
james dean youre Audrey Hepburn” begitulah judulnya.
Ah Ay, begitu banyak kenangan yang jika ku sebutkan satu
persatu tidak akan ada habisnya, tapi mengapa kau memilih untuk pergi? Mengapa tak
tetap untuk tinggal?
“kita udah gabisa jalanin ini bareng- bareng lagi, aku minta
kita putus, lupain semuanya, semua yang udah pernah terjadi. Aku, kamu, kita,
udah bukan siapa-siapa lagi”
Entahlah aku gatau apa yang ada di fikiran mu saat itu,
semudah itukah? Bagaimana dengan perasaan ku?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar