Ketika cinta itu tumbuh di antara dua lawan jenis disitulah arti dari kata cinta dan kebahagiaan yang sebenarnya.. Tuhan aku sangat berterima kasih karna engkau telah mempertemukan aku dengan dia lelaki yang sangat mencintai ku. Dia, yah dia yang membuat ku kembali seperti ini menghilangkan keterpurukan yang pernah ku alami. Tuhan aku sangat mencintai nya.. Mario Raditya Prangga
"Karina Natasya Saufika, kamu sedang apa? Tutup buku tulis mu dan perhatikan pelajaran ibu" sahut sang guru yang berada di depan.
"Baik bu, maaf" aku pun menutup buku yang berada di atas meja ku dan menengok ke seseorang yang baru saja kutulis namanya di dalam buku ku. Dia tersenyum kearah ku.
Bahagia sangat bahagia ketika seseorang yang kita cintai selalu ada di samping kita membuat kita tertawa karenanya dan berusaha menghapus kesedihan yang terpancar dari wajah kita kebahagian itu membuat ku bahagia.
"Rio, jangan pernah berubah yah" sahut ku menengok ke arahnya kini aku dan dia berada di tempat yang biasa kita kunjungi sebuah bukit dengan begitu banyak hamparan kebun teh di sepanjang mata memandang.
"berubah gimana? Kamu kira aku ini poweranger hhaha" ucap nya sembari memencet hidungku kebiasan dia dari dulu. Huff dia kira idung ku ini balon apa.
"iih Rio sakit tau, lama-lama hidung ku bisa bengkak nih gara-gara kamu" ujar ku
"ih Ify nya Rio marah, jelek ah kalo marah jangan marah dong" ujar Rio aku sengaja marah di depannya karna aku suka bila melihat wajah rio bila sedang merayuku.
"lagi suka iseng sih mencet-mencet idung aku" sahut ku dengan tangan yang di lipat di depan dada.
"Iyah deh iyah maaf" ucap nya.
" iyah deh aku maafin. Maksud aku, kamu jangan pernah berubah untuk tetap mencintai aku" ucap ku ke arahnya aku masih tetap menatapnya namun tatapannya hanya menuju ke hamparan kebun teh yang berhektar-hektar. Tak lama tatapan itu membalas tatapan ku.
Dia tersenyum kearah ku dan merangkul ku membawa ku di dekapannya lalu memeluk ku dengan erat. "Ajari aku untuk tetap mencintai mu Fy, karna aku terlalu sangat mencintai mu sehingga aku lupa bagaimana cara aku mencintai mu dengan sesungguhnya" astaga jawaban yang membuat ku tersenyum bahagia bukan hanya bibir ku yang tersenyum namun hati kupun kuyakini ikut tersenyum bahagia karenanya.
Setelah itu aku dan Rio pun menikmati hembusan-hembusan angin yang menerpa wajah kami satu sama lain. Tiduran di atas rumput menjadi kebiasaan kami sembari melihat awan dan menceritakan hal-hal yang kadang membuat kami tersenyum bahkan tertawa.
Tuhan... Sangat sempurna makhluk yang kau ciptakan yang saat ini berada di pandangan mata ku. Lelaki yang baik, sangat menyayangi ku dan sangat menjagaku jangan bertanya apakah dia mencintai ku karna semuanya telah menjadi satu kesatun yang menjadi arti cinta.
Setelah Rio pun mengantar ku pulang dengan motor kesayangannya itu. Aku pun memeluknya dengan erat memberitahukan kepadanya bahwa aku sangat bahagia bersama.
Taklama kami pun sampai. Aku turun lalu tersenyum kearahnya
"bye, i..loveu" ucap ku
"apa aku gak kedengeran ngomongnya cepet banget sih ulangin dong" ujarnya sambil membuka helm fullface nya itu aku gemas kalo Rio sudah bertingkah seperti itu membuat ku malu sendiri.
"okeh aku ulangin, bye" sahut ku sengaja tak mengucapkan kalimat yang terakhirnya.
"bukan bye nya yg kalimat terakhir nya" ucapnya sembari mengedipkan mata nya kearah ku iihh apaan sih Rio.
"yang mana sih" ujar ku pura-pura mengingat.
"yang, I..."
"Love u" ucap ku memotongnya dan seraya pergi meninggalkannya. Sekilas ku lihat dia tersenyum.
"Fy tunggu" aku pun mengehntikan langkahku dan berbalik ke arahnya.
"Love u too" setelah ku mendengar kalimat tersebut aku pun berbalik kembali dan segera melanjutkan langkahku. Sedangkan dia tertawa geli dan memakai helmnya dan menjalankan motornya.
Namun siapa sangka pertemuan itu adalah pertemuan terakhir ku dengannya. Dia tak pernah bilang bahwa dia harus pergi meninggalkan tanah air ini. Dan kalimat cinta itu adalah kalimat terakhir yang ku dengar darinya. Apakah dia tak percaya dengan cinta ku selama ini aku mampu aku abisa untuk tetap menjaga cinta ini walaupun harus berlawanan dengan jarak jauh.
Semua, semua hanya menjadi sebuah kenangan. Kenangan yang tak akan pernah untuk aku lupakan aku percaya aku yakin Rio melakukan ini karna Rio mencintai ku karna Rio tak ingin menyakiti ku. Aku yankin dan aku percaya dia akan kembali akan kembali kepada ku dan kembali mencintai ku menjalani hari-hari bersama ku.
Setahun, dua tahun, tiga tahun, aku tetap setia menunggu nya sampai suatu ketika dia kembali. Yah dia kembali kebahagiaan itu terpancar kembali di wajahku.
Aku bertemu dengannya di sebuah caffe dia sedang duduk dan meminum cofe yang berada di tangannya aku segera menghampirinya
"Rio" sapa ku
"h..hy Fy, apa kabar?" ucap nya tahan fy tahan ingin sekali aku menangis, menangis karna bahagia karna tuhan telah pertememukan kembali aku dengan dia lelaki yang selama ini aku tunggu-tunggu.
"Baik, kamu pergi kemana?" ucap ku sembari tersenyum dan berusaha menahan air mata ini.
Dia pun membalas senyuman ku, senyuman yang aku rindukan selama tiga tahun ini.
"aku pindah ke ausi fy" jawabnya.
"yo, siapa dia" sahut seseorang.
"oh yah Dis perkenalkan ini iFy dia teman ku" aku kaku, diam ketika dia sebut teman kenapa dengan Rio apa yg terjadi siapa perempuan ini.
"dan Fy, ini Gadis dia istri aku" aku kaget, syok apa yg tadi dia bilang istri Rio udah punya istri astaga apa arti penantian ku selama ini. Tak mengapa air mata ini turun dengan sendirinya kaki ku menyuruh ku pergi dri tempat ini aku lari. Aku mendengar Rio menyebut nama ku namun aku tak mengubrisnya. Tuhan inikah arti cinta yang selama ini aku banggakan.
Sakit,, sakit ketika aku mengetahui semuanya.. Mengapa semua terjadi saat aku telah lelah untuk menunggunya. Entah mengapa aku sudah berada ditempat dimana sering ku habisakan waktu ku bersamanya mengapa dia jahat seperti ini mengapa dia menyakitiku. Apa salah ku Tuhan mengapa kebahagian ini hanya datang sesaat mengapa rasa ini sungguh sangat sakit.. Kenapaa...
Aku benci aku benci aku benci sama kamu Rio... Aku benci... Kamu jahat kamu jahat..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar